HILANG

6011 Words
Celine menatap pintu kamar pribadi Tuan muda. "Apa yang terjadi sebenarnya di dalam sana sepanjang malam? Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Tuan muda, Grisella, singa besar. Ah! Aku sungguh penasaran!" Batin Celine lalu mendekatkan langkah kakinya pada pintu itu.   Ceklek. Pintu itu mendadak terbuka, dan Grisella keluar dari dalamnya. Celine menjadi canggung. "Celine, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa kita ke kamarmu saja?" Tanya Grisella. Setelah Celine mengangguk, Grisella pun mengunci pintu kamar itu dari luar. Celine mengernyitkan keningnya   "Biarkan Tuan muda dan singa besar itu tetap di dalam sana." Ucap Grisella seakan  menjawab raut wajah Celine. Mereka pun berjalan masuk ke kamar Celine. "Celine, aku tadi melihatmu menyembuhkan luka singa besarku, apa yang telah kamu lakukan padanya?" Tanya Grisella. "Aku sebenarnya juga tidak mengerti mengapa aku bisa melakukan itu, saat aku berusia 8 tahun aku pernah menyembuhkan kucing liar yang terluka hanya dengan menyentuh lukanya. Aku sangat berharap bahwa aku juga bisa menyembuhkan ayah dan ibuku, namun beberapa kali kucoba tak pernah berhasil. Tadi adalah kali kedua aku melakukan hal itu." Sahut Celine. "Apa kamu pernah mempelajari sebuah mantra atau ilmu kesembuhan?" Tanya Grisella. "Tidak, seingatku aku tidak pernah mempelajarinya, aku juga tidak mengucapkan mantra apapun saat melakukan hal itu. Aku hanya menyentuhnya dan memejamkan mataku dan semua terjadi begitu saja." Sahut Celine. "Grisella, dimana Tuan muda? Mengapa aku belum pernah melihat singa besar itu sebelumnya? Bahkan ketika aku tertidur di kamar pribadi Tuan muda, aku juga tidak melihatnya. Dimana sebenarnya kamu memelihara singa itu?" Tanya Celine. "Istirahatlah Celine, kita bicarakan lagi besok." Sahut Grisella lalu melangkah menuju pintu. "Apakah singa besar itu adalah wujud lain dari Tuan muda?" Tanya Celine dan menghentikan langkah Grisella yang sudah hampir membuka pintu kamar itu untuk keluar. "Mengapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Grisella tanpa berbalik. "Karena aku melihat sorot mata singa itu sangatlah mirip dengan sorot mata Tuan muda." Sahut Celine. "Aku juga ingin percaya hal itu Celine, tapi sangat sulit untuk bisa mempercayai hal itu. Benar bukan?!" Ucap Grisella lalu keluar dari kamar Celine. Celine masih diam dan nampak berpikir seorang diri. "Grisella benar, tidak mungkin manusia menjelma menjadi singa besar." Ucap Celine pada dirinya sendiri lalu menghela napas besar. Celine memilih untuk melewatkan malam ini dengan tidur.  ****   Euuughhhh! Celine menggeliat saat sinar matahari masuk ke kamar dan menyilaukan matanya. Celine masih berusaha menyesuaikan matanya terhadap cahaya yang masuk itu. "Selamat pagi nona Celine." Sapa bibi Milly yang sudah duduk di sofa samping tempat tidurnya setelah membuka gorden di kamar Celine. Celine terkejut namun tersenyum kemudian. "Selamat pagi bibi Milly." Sahut Celine balas menyapa. "Anda bisa tidur nyenyak nona Celine?" Tanya bibi Milly. "Iya bibi, meski sedikit mimpi buruk, tapi ya, aku bisa tidur nyenyak." Sahut Celine sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. "Mimpi buruk? Apa itu nona?" Tanya bibi Milly. "Aku melihat hantu yang ingin membunuhku, lalu aku melihat Grisella memiliki singa yang sangat besar, singa tersebut berlari mengejarku bibi. Ah! Sungguh mimpi yang melelahkan, karena aku harus terus berlari dari hantu dan singa besar yang mengaum itu." Sahut Celine dengan raut wajah serius bercerita, sedang bibi Milly hanya tersenyum mendengarnya. "Iya, mimpi yang sangat melelahkan nona. Semoga mimpi buruk semalam tidak menghilangkan semangat anda hari ini, karena hari ini adalah hari libur." Ucap bibi Milly tersenyum penuh arti. "Ah! Iya, hari ini adalah hari libur, rasanya aku ingin beristirahat sepanjang hari di dalam kamar. Aku merasa sangat lelah bibi, mimpi semalam sangat menguras tenagaku, seperti benar-benar nyata." Sahut Celine. "Kalau begitu biar saya panggilkan pelayan untuk melayani anda selama di kamar." Ucap bibi Milly. "Ah! Tidak perlu merepotkan mereka bibi, aku hanya ingin menikmati kamar ini sendiri saja." Sahut Celine. "Baiklah nona Celine, anda bisa memanggil saya jika membutuhkan bantuan." Ucap bibi Milly. Celine beranjak berdiri dari tempat tidur dan memeluk bibi Milly. "Terima kasih bibi, aku merasa memiliki seorang ibu saat ada dirimu. Bibi sangat memperhatikan aku." Sahut Celine dalam pelukannya. "Sama-sama nona, sekarang saya akan keluar dan menyiapkan sarapan untuk anda. Saya akan membawakannya kemari." Ucap bibi Milly dan Celine mengangguk tersenyum senang. "Bibi, dimana Tuan muda, Grisella dan Otista? Apa yang biasa dilakukan mereka saat libur begini?" Tanya Celine. "Mereka juga belum keluar dari kamar masing-masing nona, biasanya mereka juga menghabiskan waktu libur hanya di rumah saja, menonton sebuah film bersama, atau berenang dan berkebun bersama, karena memang mereka hanya bisa berkumpul di saat libur saja." Sahut bibi Milly. Celine hanya ber "O" saja dan tersenyum. Bibi Milly akhirnya keluar dari kamar itu.   "Bibi Milly." Sapa Tuan muda yang kebetulan barusaja keluar dari kamarnya. "Selamat pagi Tuan muda, ada yang perlu saya bantu?" Tanya bibi Milly. "Apakah gadis itu sudah melupakan kejadian semalam?" Tanya Tuan muda. "Sudah saya pastikan dia hanya menganggap itu sebuah mimpi Tuan muda." Sahut bibi Milly. "Terima kasih bibi, aku selalu bisa mengandalkanmu bibi." Ucap Tuan muda. "Apakah Tuan muda akan pergi di hari libur ini?" Tanya bibi Milly melihat Tuan muda yang telah rapi dengan pakaian santainya. "Aku ingin ke pelataran samping istana, aku merindukan ibuku, tolong katakan pada Grisella, jangan menungguku, dia bisa mengajak gadis itu untuk menemaninya di libur akhir pekan ini." Ucap Tuan muda. "Nona Celine hanya ingin berada di kamarnya sepanjang hari ini Tuan muda, dia merasa sangat kelelahan." Sahut bibi Milly. "hmmmm....." Gumam Tuan muda. "Baiklah, kalau begitu aku hanya akan sebentar disana." Ucap Tuan muda melangkah turun tangga, lalu bibi Milly pun mengikuti langkah Tuan muda ke bawah untuk mengambil sarapan bagi nona Celine.  ****   Celine berdiri di dekat jendela menatap keluar, dia menangkap sosok Tuan muda berjalan di pelataran samping istana. "Dia sungguh enak dipandang mata, sayang sekali sikapnya sangat angkuh. Mau kemana dia? Bukankah bibi Milly mengatakan bahwa dia selalu di rumah saat libur?"  Batin Celine, membuat Tuan muda menoleh padanya dari bawah.   Celine diam tak bergerak, tatapan itu mengunci dirinya di tempat dia berdiri. Celine membeku tak mampu bergerak dari tatapan tuan muda. Tuan muda hanya tersenyum dan kembali melangkah, memasuki sebuah pintu rahasia yang tertutup banyak tanaman merambat, lebih terlihat pagar tanaman daripada sebuah pintu. "Nona Celine, sarapan anda telah siap." Ucap bibi Milly. "Eh, iya bibi, terima kasih. Bibi, kemana Tuan muda? Aku melihatnya memasuki seperti pintu rahasia di pelataran samping istana ini." Sahut Celine sekaligus bertanya pada bibi Milly. "Itu adalah pemakaman orang tua Tuan muda, tadi Tuan muda mengatakan bahwa dia merindukan ibunya." Ucap bibi Milly. Celine mengangguk. "Bibi,bolehkah aku menyusulnya kesana?" Tanya Celine ragu. "Boleh saja, apa anda ingin saya antar kesana nona Celine?" Sahut bibi Milly. "Ehm...kurasa aku akan menyusulnya sendiri." Ucap Celine. "Baiklah, kalau begitu saya akan turun terlebih dahulu." Sahut bibi Milly lalu melangkah keluar kamar.   Celine segera berganti pakaian dan turun ke bawah, tanpa mandi dan tanpa sarapan. Celine mengendap-endap masuk ke sebuah pintu yang tersamarkan oleh tanaman merambat. Celine melihat sebuah taman yang sangat indah, banyak mawar merah yang berkembang cerah disana. Celine tersenyum saat melihat sosok yang dia cari sedang duduk di samping makam. Dua makam yang bersebelahan. Celine melangkah perlahan mendekati tuan muda.   "Tuan muda.." Panggil Celine lembut. "Apa yang membawamu mengikutiku kemari?" Tanya Tuan muda tanpa menoleh. "Ehm....entahlah." sahut Celine polos dan ikut duduk di sebelah Tuan muda. "Apa kamu ingin mengulang permainan panas kita disini?" Tanya Tuan muda menggoda. "Apa anda sering mengajak wanita untuk m***m di depan makam orang tua anda?" Celine bertanya balik dengan kesal. Tuan muda tertawa terkekeh. "Seperti apa wajah ibu anda? Aku tidak melihat fotonya di dalam istana." Tanya Celine. "Dia sangat cantik." Sahut Tuan muda singkat. "Haiissshh!!!! Dia wanita, tentu saja cantik!" Ucap Celine kesal. "Lalu mengapa kamu protes?!" Tanya Tuan muda. Celine mendengus kesal. "Kenapa tidak ada tanggal kelahiran maupun tanggal kematian di batu nisannya?" Tanya Celine lagi. "Untuk apa? Lagipula ini pemakaman pribadi, terserah aku ingin menuliskan apapun di batu nisan orangtua ku!" Sahut Tuan muda ketus. Celine kembali mendengus, malas berdebat. "Apa anda sering merindukannya?" Tanya Celine. "Setiap kali aku merasa kesepian, dan membutuhkan seseorang, aku selalu merindukan sosoknya. Dia wanita yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Aku selalu nyaman berada di sampingnya." Sahut Tuan muda sambil menatap nisan itu. "apa itu berarti anda saat ini sedang merasa kesepian?" Tanya Celine. Tuan muda menoleh dan menatap Celine yang duduk di sampingnya. "Aku sedang menanyakan apa sebenarnya yang harus kulakukan padamu? Karena aku tak pernah bisa mengerti diriku terhadap dirimu."  Batin Tuan muda   Tuan muda meraih tengkuk Celine dan mendekatkan wajah mereka. Tidak! Bukan wajah, melainkan bibir mereka. Tuan muda menghisapnya dengan lembut dan mendalam, Celine bagai merindukan bibir itu, dia pun mulai bergerak melumat bibir Tuan muda. Hanya sesaat, ya ciuman itu hanya sesaat. Tuan muda lebih dulu menjauhkan bibirnya, Celine merasa kehilangan bibir itu, namun tak berani menuntut lebih lagi. "Mengapa kamu selalu mau setiap aku cium?" Tanya Tuan muda melepaskan tangannya dari tengkuk Celine. "Eh! Memangnya aku boleh menolaknya? Baiklah, kalau begitu lain kali aku akan menolak anda!" Sahut Celine sedikit nada kesal dan kecewa, memalingkan muka dari Tuan muda.   Tuan muda hanya tersenyum menatap Celine, lalu kembali menarik tengkuk Celine dan menciumnya lagi. Celine yang terkejut hanya diam melotot, namun tak menolak dan menit berikutnya justru memejamkan matanya dan ikut melumat bibir Tuan muda. Ciuman yang lembut dan mendalam juga lama, bahkan  entah sejak kapan Celine kini sudah berada di atas pangkuan Tuan muda, mengangkangi kedua pahanya dan menghadap Tuan muda. Keduanya terlalu larut pada ciuman itu, seolah mereka tak bisa hidup jika ciuman itu terlepas dan berakhir, melebihi kebutuhan mereka akan oksigen.   "Ehem!" Suara Otista mengejutkan keduanya. Seketika Celine melompat menjauh dari tubuh Tuan muda dan menunduk malu. "Apakah kamar di dalam istana tidak ada yang bisa kalian gunakan? Hingga harus melakukannya di tempat seperti ini?!" Tanya Otista menyindir. "Ada apa?" Tanya Tuan muda dengan santai mengacuhkan pertanyaan Otista. "Mr. Okinawa sedang berada di Eropa, dia ingin bertemu dengan anda dan Celine." Sahut Otista. "Untuk apa aku harus membawa gadis ini?!" Ucap Tuan muda lalu berdiri dari samping makam itu. "Celine! namaku Celine! Huuuhhh!!" Sahut Celine kesal. Tuan muda hanya menatapnya sejenak lalu membuang mukanya lagi menghadap ke Otista. Otista tersenyum melihat interaksi itu. "Dia merasa cocok dengan Celine. Saya takut dia akan memberi Celine penawaran yang jauh lebih baik dari yang kantor kita berikan padanya." Jelas Otista. "Berani mengambil milikku! Siap-siap saja dia kehilangan segalanya bahkan nyawanya sekaligus!" Oceh Tuan muda.   Tuan muda melangkah pergi begitu saja, tanpa menghiraukan Celine, bahkan menatapnya lagipun tidak. Celine menghela napas besar, kesal dan kecewa kembali dia dapatkan. "Aku bukan milikmu! Seenaknya saja bicara!" Seru Celine namun Tuan muda seolah tak mendengarnya dan tetap berjalan. "Enak saja mengatakan aku ini miliknya! Miliknya sebagai apa?! Hah! Celine, Celine sadarlah kamu ini hanya b***k nafsunya! Kamu tidak boleh berharap apapun darinya! Iya benar! Aku hanya b***k nafsunya saja, saat dia sudah tidak membutuhkanku dia akan membuangku begitu saja. Kalau memang aku ini miliknya, setidaknya dia menggandeng tanganku dan mengajak bersamanya masuk ke istana.  hhuuuuhhhhhhffftttt! Semoga saja Mr. Okinawa memberiku penawaran yang jauh lebih baik, sehingga aku tak perlu berlama-lama menjadi b***k nafsunya!"   Batin Celine, yang mampu di dengar oleh Otista dan Tuan muda.   Otista memperhatikan Tuan muda yang sesaat terlihat menghentikan langkahnya saat mendengar suara batin Celine barusan. Tuan muda menarik napas dalam dan menghela napas dengan besar. Dia berbalik badan, melangkah menghampiri Celine, lalu secara mendadak meraih satu tangan Celine dan menggandengnya untuk melangkah bersama masuk ke istana. "Heh?!" Celine merasa bingung. "Kenapa dia seperti bisa membaca pikiranku lagi???"  Batin Celine bingung. Tuan muda berhenti di hadapan Otista saat melewatinya. "Hentikan senyumanmu itu! Katakan pada Mr. Okinawa, gadis ini tidak akan ikut dengan kita!" Ucap Tuan muda pada Otista. "Celine! Gadis ini namanya Celine!" Protes Celine karena Tuan muda kembali tak mau menyebut namanya. Tuan muda menoleh dan menatap Celine sesaat lalu mendengus kesal, dan menoleh pada Otista lagi. "Katakan pada Mr. Okinawa bahwa Celine tidak akan ikut dengan kita." Ucap Tuan muda meralat ucapannya tadi. Otista hanya mengangguk sambil menahan tawa yang akan meledak. "Terima kasih." Ucap Celine sambil tersenyum senang. Tuan muda kembali melanjutkan langkahnya, masih dengan menggandeng  tangan Celine. "Membuatku malu saja!" Rutuk Tuan muda dan Celine mendengarnya. "Kenapa?! Kenapa menyebut namaku bisa membuat anda malu?!" Protes Celine. "Sudahlah! Mulai sekarang berhentilah berpikir negatif tentangku!" Sahut Tuan muda dengan santai menanggapi protes Celine.   Saat mereka telah memasuki istana, Tuan muda mengangkat tangan mereka yang bergandengan, lalu mengecup punggung tangan Celine. Tuan muda sedikit membungkuk. "Mandilah, karena kamu sangat bau! Atau kamu ingin kumandikan?" Bisik Tuan muda di telinga Celine. "Tidak! Tidak perlu! Aku bisa sendiri! Hiiihhh!!" Sahut Celine bergidik. Tuan muda hanya tersenyum lalu naik ke atas meninggalkan Celine dibawah. Celine menatap punggung Tuan muda. "Aaahhh....pria yang tidak bisa ditebak, sangat tidak mudah ditaklukkan bahkan di atas ranjang sekalipun dia tetap tidak bisa ditaklukkan. Hhhhhhhuuuufftttt!! Apakah aku bisa bertahan dengannya?" Ucap Celine sambil melamun menatap ke atas padahal Tuan muda sudah tidak terlihat lagi dari bawah.   "Nona Celine." Panggil bibi Milly sambil menepuk pundaknya. "AAAA!!!" Seru Celine melonjak kaget. "Maafkan saya nona, saya tidak bermaksud membuat anda terkejut." Ucap bibi Milly. "Ah, maafkan aku bibi, aku tidak bermaksud meneriakimu, aku hanya sedang....." Ucapan Celine berhenti karena seketika dia merasa malu, sadar bahwa bibi Milly pasti mendengar ucapannya barusan tentang Tuan muda. Celine menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aaahhh!!! Memalukan! Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!" Ucap Celine merutuk dirinya sendiri. "Anda baik-baik saja nona?" Tanya bibi Milly lagi. Celine membuka tangannya dan menatap bibi Milly dengan wajah merona merah. "Aku harus segera mandi bibi." Sahut Celine dan berlari kabur naik ke atas dengan segera. Bibi Milly hanya tersenyum melihat tingkah lucu nona Celine. "Gadis muda yang sedang jatuh cinta." Ucap bibi Milly tersenyum.  ****   Celine barusaja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobenya. Dia kaget melihat Tuan muda sudah berada di dalam kamarnya dengan pakaian rapi, dan menatapnya. "Ada apa? Bukankah aku tidak perlu ikut bertemu dengan Mr.Okinawa?" Tanya Celine sambil berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti. Tuan muda melesat cepat dan kini sudah berdiri di belakang tubuh Celine, memeluk perut Celine dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak Celine. "Aroma tubuhmu membuatku selalu ingin mengulang permainan panas kita." Bisik Tuan muda dan mengecup leher Celine. Ada yang meleleh di tubuh bawah Celine saat mendengar ungkapan hasrat Tuan muda pada dirinya. "Bukankah Anda harus segera pergi menemui Mr.Okinawa?" Sahut Celine mengingatkan. Tuan muda menghela napas berat, lalu melepaskan dirinya dari tubuh Celine dan memberi jarak lagi diantara mereka. "Aku hanya sebentar bertemu dengan Mr. Okinawa, kurasa dia juga tidak akan bertahan lama mengobrol denganku jika tak ada dirimu. Jadi aku berencana untuk mengajakmu dan Grisella pergi berlibur setelah pertemuan ini. Apa kamu mau?" Ucap Tuan muda. "Mau! Tentu saja aku mau! Berlibur gratis, siapa yang bisa menolak? Lagipula aku memang butuh berlibur, aku merasa penat." Sahut Celine tersenyum lebar karena senang. Tuan muda menatap Celine dan tersenyum.   "Begitu senangnya diajak berlibur. Apakah kamu juga akan merasa sebahagia ini jika aku tadi mengajakmu untuk melanjutkan kegiatan panas kita di makam tadi?" Tanya Tuan muda menggoda Celine. Celine merasa wajahnya merona merah, tubuhnya kembali merasa bergetar saat mengingat ciuman mereka di makam tadi. Tuan muda kembali mendekati Celine, berdiri di hadapan Celine, membuat Celine mendongak ke atas  menatap  Tuan  muda. Tuan muda mengelus pipi Celine dengan lembut, terus turun kebawah dan telunjuknya menyusuri leher Celine terus turun ke bawah menuju ke celah V belahan Bathrobe itu, berhenti tepat di atas belahan d**a Celine. Celine seolah tak berani bernapas, menahan dirinya dari sentuhan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Mata mereka saling mengunci dalam tatapan.   "Apa kamu berharap aku terus menurunkan tanganku hingga terus ke bawah tubuhmu?" Bisik Tuan muda sedikit membungkuk, membuat wajah mereka sejajar.  Celine hanya diam, dia sendiri tak tahu apa yang dia inginkan saat ini. Dia ingin tangan Tuan muda terus melanjutkan ke bawah, tapi dia tak berani memintanya karena itu membuatnya semakin menjadi murahan di hadapan Tuan muda. Celine dengan susah payah menelan salivanya. "Di luar kantor, aku ini hanya b***k nafsu mu, aku tak bisa menuntutmu apapun, aku hanya bisa menerima semua perlakuanmu. Bukankah begitu Tuan muda?" Ucap Celine terdengar bergetar.   Tuan muda tersenyum. Dia hanya menghisap dan melumat bibir Celine sesaat saja. Celine hanya diam menerima, tidak membalasnya. Tuan muda lalu melepaskan bibir merah itu dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. "Kita akan lanjutkan setelah berlibur, jangan mencoba menghindariku."bisik Tuan muda lalu melangkah keluar dari kamar Celine. "Heh?! Hanya seperti itu?! Hah! Sungguh mengesalkan! Rasanya aku benar-benar seperti b***k nafsunya saja. Hhhuuuuhhhhhhffftttt!" Keluh Celine.   Celine sadar, dia juga salah karena tidak pernah bisa tegas menolak terhadap perlakuan tuan muda, dia terlalu lemah terhadap sentuhan tuan muda pada tubuhnya. Celine membanting tubuhnya ke atas tempat tidur, masih dengan bathrobenya. Celine menatap langit-langit kamar itu sesaat lalu memejamkan matanya.  ****   "Euughh!!!" Desah Celine menggeliat dari tidurnya. "Ah! Aku ketiduran rupanya." Ucap Celine saat melihat dia masih dalam balutan bathrobe putihnya. "Aneh! Kenapa aku bisa pindah ke sisi atas tempat tidur? Padahal tadi aku di...... ping...gir..." Celine menemukan sosok pria yang sedang duduk di sofa menatapnya. Tuan muda Devon. "Anda sudah kembali?" Tanya Celine pada Tuan muda. "Akhirnya kamu bangun juga, apa kamu tahu sekarang jam berapa?" Sahut Tuan muda dengan nada kesal. Celine melihat ke jam dinding, dan terkejut.   "Hah?! Jam 1 siang?! Astaga! aku tertidur lama sekali! Eh, apakah kita jadi pergi berlibur?" Ucap Celine merasa tidak enak hati pada Tuan muda. "Grisella dan Otista sudah berangkat terlebih dahulu, kita akan menyusul segera jika kamu cepat bersiap!" Sahut Tuan muda. Celine segera bergegas bangun, mengambil pakaian dari dalam lemari, namun segera tersadar saat hendak melepas bathrobe itu begitu saja. Celine menoleh pada Tuan muda. "Bisakah anda menunggu di luar? Saya harus berganti pakaian." Ucap Celine.  "Lepas saja, aku sudah pernah melihatnya, apa kamu sudah lupa? Atau aku harus mengulanginya lagi hingga kamu teringat?" Sahut Tuan muda.   Celine mendengus kesal. Dia akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian disana. Celine merasa lebih kesal lagi saat keluar dari kamar mandi ternyata Tuan muda sudah keluar dari kamarnya. "Dasar m***m! Matanya ingin terus melihat tubuh telanjangku!" Omel Celine kesal. ****   "Kenapa kalian lama sekali? Kami sampai bosan menunggu kalian!" Keluh Grisella saat akhirnya Celine dan Tuan muda berhasil menyusul mereka untuk berlibur.  "Tanyakan saja pada gadis kesayanganmu ini!" Sahut Tuan muda tanpa rasa bersalah melewati Grisella dan memasuki sebuah private yacht yang mewah itu. Celine hanya tersenyum "Maafkan aku Grisella, aku ketiduran hingga jam 1 siang. Entahlah aku merasa sangat kelelahan sekali, seolah semalam aku tidak tidur." Ucap Celine menjelaskan. Grisella dan Otista saling memandang penuh arti, lalu Grisella kembali menoleh pada Celine. "Iya sudahlah, yang penting kalian sudah sampai, jadi kita bisa berangkat sekarang." Sahut Grisella tersenyum lalu mengajak Celine masuk ke dalam private yacht itu. "Lihatlah Celine, matahari yang hampir tenggelam itu warna jingga nya sangat indah ya." Ucap Grisella menatap keluar jendela. "Iya, sangat indah sekali, andaikan kita bisa menikmatinya dengan pasangan kita pasti sangatlah romantis." Sahut Celine. "Celine, boleh aku tahu tentang perasaanmu terhadap Tuan muda?" Tanya Grisella penasaran. "Eh, aku....aku.....hhhhhhhuuuufftttt!" Celine tak mampu menjawab, hanya mampu menghela napas panjang dan besar. "Kenapa?" Tanya Grisella. "Sejak awal aku sudah berjanji padanya bahwa aku tak akan menuntut apapun darinya. Aku menyerahkan kesucianku padanya karena itu kemauanku sendiri secara sadar. Tuan muda juga sudah mengatakan bahwa dia adalah pria bebas yang tidak suka terikat pada pernikahan. Jadi kurasa, bagaimanapun perasaanku padanya, tetap aku tak boleh berharap apapun. Kadang aku ingin menjauh darinya, tapi aku terlalu lemah terhadap sentuhannya, dan parahnya kelemahanku sangat diketahui oleh Tuan muda. Ya mungkin ini sudah takdirku menjadi b***k nafsu Tuan muda." Sahut Celine dengan bulir air mata yang sudah siap menetes.   Grisella merangkul Celine dan membawa kepala Celine bersandar pada bahunya. Air mata Celine tumpah dalam pelukan Grisella.  "Takdirmu bukanlah menjadi b***k nafsunya Celine. Takdirmu adalah menjadi pasangan hidupnya. Kupastikan bahwa Tuan muda juga tak akan sanggup hidup jauh darimu Celine."  Batin Grisella sambil mengusap kepala Celine menenangkan.   "Apa yang terjadi pada kalian? Mengapa dia menangis?" Tanya tuan muda saat melihat Grisella dan Celine. Celine segera menunduk dan menghapus airmatanya. Grisella menatap Tuan muda dengan tajam. "Tidak bisakah anda sedikit memberikan perhatian padanya?! Dia sangat ingin anda menyebut namanya!" Grisella berbicara pada Tuan muda melalui batinnya. "Apakah dia menangis karena hal itu? Kekanakan sekali!"  Sahut Tuan muda dalam pikirannya yang justru membuat Grisella menjadi lebih geram lagi.  "Astaga! Anda ini sungguh keterlaluan! Rasakan saja sendiri jika nanti dia pergi menjauh dari anda!" Batin Grisella lagi. "Dia tak akan bisa pergi kemanapun! Kamu tahu pasti bahwa aku akan selalu bisa menemukannya dimanapun dia bersembunyi." Sahut Tuan muda dengan sombong, karena memiliki cermin ajaib. Grisella semakin kesal mendengar keangkuhan tuan muda.   "Grisella, bisa tinggalkan kami berdua?" Batin Tuan muda meminta ruang pada Grisella. "Ingat! Jangan menyakiti perasaannya!" Batin Grisella sambil beranjak berdiri dan melangkah keluar dari sana. Tuan muda duduk di samping Celine. "Mengapa kamu menangis? Apa aku penyebab tangisan itu?" Tanya Tuan muda. "Tidak, aku hanya sedang meratapi nasib burukku saja." Sahut Celine masih menunduk. "Celine..." Panggil Tuan muda dengan lembut, dan Celine mendongak kaget mendengarnya. Celine menatap tuan muda. "Bersiaplah, sebentar lagi kita akan sampai di tujuan berlibur kita." Ucap Tuan muda lalu berdiri dan meninggalkan Celine kembali sendiri.   Celine hanya menatap punggung Tuan muda hingga hilang di balik pintu. Celine menghela napas berat. Tuan muda berhenti sesaat di depan pintu, sedikit bersembunyi dari pandangan Celine. "Maaf, aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padaku setiap kali berada di dekatmu."  Batin Tuan muda ikut terluka, merasa bersalah karena telah membuat Celine menangis. Sejujurnya Tuan muda telah mendengar semua pembicaraan Grisella dan Celine tadi.  ****   "WOW!!!! INDAH SEKALI TEMPAT INI!" seru Celine berteriak bahagia. Ada suatu perasaan lega dalam hati Tuan muda saat kembali melihat tawa di wajah Celine. Tanpa dia sadari senyuman terbentuk di wajahnya saat melihat kegembiraan Celine saat ini. "Anda sungguh tahu bagaimana menghibur gadis ini." Puji Otista yang berdiri di samping Tuan muda. "Dia sangat mudah ditebak." Sahut Tuan muda tersenyum. Otista dan Tuan muda memandang Grisella dan Celine yang begitu gembira menikmati keindahan pulau itu, terlebih mereka tiba disana saat matahari benar-benar hampir tenggelam.    "Otista, apa kamu sudah mengeluarkan mobil kita dari dalam yacht?" Tanya Tuan muda. "Sudah, aku sudah membawanya ke tempat parkir." Sahut Otista. "Grisella! Celine! Aku lelah! Cepatlah! Kita harus menuju ke hotel!" Seru Otista pada dua wanita itu. "Baiklah!" Sahut Grisella berseru juga karena posisi mereka memang berjauhan. Tuan muda melihat Grisella dan Celine  berlari ke arahnya sambil tertawa dan bergandengan tangan. Tuan muda tersenyum lebar pada dua wanita itu lalu memilih mengikuti langkah Otista menuju mobil mereka. Grisella dan Celine pun mengikutinya dari belakang.  ****   Tiba di hotel, ternyata Tuan muda telah menyewa sebuah Penthouse mewah di lantai teratas hotel itu. Penthouse itu terdapat empat kamar. Masing-masing mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat sebelum makan malam. Celine sedang merebahkan dirinya ke atas tempat tidur itu. Tempat tidur yang lembut dan empuk serta udara kamar yang sejuk, mendadak membuat Celine teringat pada ucapan Tuan muda saat mereka di istana pagi tadi.   "Kita akan lanjutkan setelah berlibur, jangan mencoba menghindariku." Suara Tuan muda terngiang kembali di telinga Celine, dan membuat tubuhnya menggelenyar serta meleleh.   Celine memejamkan matanya, dia mengingat setiap permainan s*x Tuan muda di malam itu, malam pertama mereka melakukannya. Celine mulai meraba sendiri bagian-bagian sensitif dari tubuhnya.   "Ach!!! Gila! Mengapa aku sangat ingin merasakan sentuhannya lagi?! Gila! Aku pasti sudah gila!" Rutuk Celine pada dirinya sendiri dan segera beranjak menuju ke kamar mandi. "Lebih baik aku bersiap untuk makan malam. Tempat tidur hanya membuatku menjadi m***m!" Ucap Celine sendirian.   Mereka berempat makan malam bersama. Namun Grisella dan Otista sengaja makan dengan cepat dan beralasan mengantuk lalu meninggalkan Celine berdua dengan Tuan muda. Celine merasa canggung dan salah tingkah saat tuan muda terus menatapnya. Perutnya yang sedari tadi bersemangat makanpun sekarang mendadak terasa sangat penuh dan sesak, padahal dessert yang dia pesan belum disentuh. "Celine.." panggil Tuan muda. "Ya!" Sahut Celine lantang dan menoleh pada Tuan muda, karena terkejut namanya dipanggil Tuan muda. Tuan muda hanya tersenyum melihat tingkah lucu Celine. "Mukamu memerah.." ucap Tuan muda menggoda. "Iiiich!" Sahut Celine sebal. Tuan muda semakin tertawa kecil. "Apa kamu sedang berpikir melakukan permainan panas kita di tempat ini?" Tanya Tuan muda yang selalu suka menggoda Celine. "Tidak! Sudah kukatakan itu adalah yang pertama dan terakhir bagi kita!" Sahut Celine menolak dengan lantang. "Tapi wajahmu yang merona merah menunjukkan hal sebaliknya?" Goda Tuan muda lagi. "Haiissshh!!! Dasar m***m!" Sahut Celine kesal. "Tapi kamu juga selalu mengharapkan aku m***m padamu kan?" Tuan muda masih saja menggoda Celine. "Devon! Berhenti menggodaku! Aku tidak akan lagi menjadi lemah dan mengikuti m***m mu!" Sahut Celine dengan geram. "Buktikan!" Tantang Tuan muda beranjak berdiri dari kursinya dan mendekati Celine.   Tuan muda seketika membalik kursi Celine menghadap ke samping, dan dia berlutut dihadapan Celine. Tangan Tuan muda menyentuh pipi Celine, membelai lembut pipi itu dan menatap ke dalam mata Celine. Telunjuknya semakin turun ke leher, ke belahan d**a Celine yang memang terbuka dengan dress midinya. Celine diam dan susah payah menelan salivanya saat Tuan muda berhenti di belahan d**a itu. "Kamu ingin aku meneruskannya?" Tanya Tuan muda. Celine menggelengkan kepalanya, lidahnya terasa menempel rekat didalam mulutnya tak mampu berbicara, tapi telunjuk Tuan muda tetap meneruskannya turun ke bawah hingga menuju paha Celine. Celine hanya diam tidak menolak juga tidak bereaksi apapun. Telunjuk Tuan muda berhenti pada ujung dress midi itu. "Kamu ingin aku menuju ke bagian dalam atau terus turun hingga ke kaki?" Tanya Tuan muda memberikan pilihan. Celine menatap ke dalam mata biru tosca itu, tetap diam.   Tuan muda membelai paha Celine di dalam dress midinya, dan menemukan celana dalam Celine yang ternyata telah basah. Senyum lebar langsung mengembang di wajah tuan muda menatap Celine yang semakin merona wajahnya. Celine menarik tangan Tuan muda keluar dari dressnya dan merapatkan kedua pahanya. "Aku tidak masalah jika dirimu hanya menganggapku sebagai b***k nafsumu saja, tapi kumohon jangan semakin merendahkan diriku dengan melakukannya di tempat umum seperti ini." Ucap Celine bergetar dan air mata mengalir di pipinya.    Tuan muda sekali lagi merasa terluka saat melihat air mata mengalir dari mata Celine. Tuan muda segera berdiri dan mengangkat tubuh Celine, menggendongnya di depan bagai pengantin perempuan. "Maaf." Bisik Tuan muda sambil melangkah masuk ke lift menuju Penthouse mereka. Celine melingkarkan tangannya ke leher Tuan muda, dan menyusupkan wajahnya bersembunyi di d**a Tuan muda.   Mereka berdua tak melihat Grisella dan Otista dalam Penthouse. Tuan muda segera membawa Celine menuju ke kamar Celine. Tuan muda menurunkan Celine di tepi tempat tidur, jarinya mengangkat dagu Celine supaya menatap dirinya. Tuan muda membungkuk dan meraih pinggang Celine, sedikit mengangkat tubuhnya, lalu mencium Celine. Lagi dan lagi Celine tidak pernah bisa menolak sentuhan Tuan muda. Dirinya terlalu lemah bahkan mendamba sentuhan itu. Tuan muda melihat Celine telah memejamkan matanya dan ikut bergerak membalas ciuman Tuan muda. Tuan muda semakin merasakan gairahnya membesar dan mengeras. Dia dengan sengaja menggerakkan tubuh bawahnya semakin merapat pada tubuh Celine.   Euuughhh... Celine melenguh merasakan benda keras itu bergesekan dengan miliknya meski pakaian mereka masih menempel lengkap.   "Aku ingin berada di dalammu." Bisik Tuan muda mengirim sinyal yang menggelenyar tubuh Celine. Celine menatap Tuan muda lalu mendorong tubuh Tuan muda, memberi jarak di antara mereka. Tuan muda mengernyitkan keningnya menatap Celine dengan bingung dan sedikit cemas, takut Celine akan menolaknya. Celine masih mendongak ke atas menatap Tuan muda, lalu menunduk. "Aku ingin mencobanya di kamar mandi." Ucap Celine lirih sambil menunduk, dia malu sekaligus takut, tak seharusnya dia meminta apapun pada Tuan muda. Tuan muda tersenyum lega mendengarnya. Dia kembali mendekat pada Celine, mengangkat dagu Celine lagi. "Bersiaplah, aku akan menyiapkan airnya untuk kita." Ucap Tuan muda di depan wajah Celine. Celine terkejut saat Tuan muda melepaskan dirinya, duduk di tepi tempat tidur, melepaskan sepatunya, melepaskan jasnya juga menggulung ke atas lengan kemejanya. Tuan muda lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dan bunyi gemericik air mulai terdengar. Celine segera bersiap, mengganti dress mininya dan menggantinya dengan kaos longgar dan hotpants yang sangat mini hingga tersembunyi di balik kaos longgar itu. Celine lalu masuk ke kamar mandi menyusul Tuan muda. Dia terkejut karena Tuan muda telah melepaskan segala pakaiannya dan polos berada di dalam bathup yang berisi air dan busa sabun.   "Kemarilah." Panggil Tuan muda seraya mengulurkan kedua tangannya terbuka bagi Celine. Celine pun melepaskan pakaiannya sengaja di hadapan Tuan muda, perlahan dan menggeliat menggoda. Celine lalu masuk ke dalam bathup dan langsung duduk diatas paha Tuan muda mengangkanginya menghadap Tuan muda. "Aku belum pernah seperti ini Devon." Ucap Celine. "Aku tahu, bukankah aku yang pertama bagimu di tempat tidur?" Sahut Tuan muda. Celine menganggukkan kepala.  "Aku juga akan menjadi yang pertama bagimu di kamar mandi." Bisik Tuan muda lagi, lalu mulai melumat bibir Celine, menghisapnya, menggigit bibir bawah Celine dengan lembut. Tangan Celine melingkar di leher tuan muda, bermain di rambutnya. Tangan Tuan muda terus bergerak membelai tubuh Celine dalam pelukannya. Punggung, b****g, paha, dan mulai ke pucuk d**a Celine. Celine mendongak ke atas dan melenguh mendesah, menekan kepala Tuan muda mengarahkannya pada pucuk dadanya yang sudah mengeras menggoda.   Aaahhhhhh..... Tuan muda menjilat pucuk itu dengan lidah, menjepit pucuk satunya dengan jari, membuat gairah Celine semakin membuncah meledak. Celine duduk tepat diatas kejantanan tuan muda, sengaja bergerak maju mundur menggesekkan miliknya pada inti Tuan muda.   Sssshhhhhh....aaahhhhhh... Euuughhhh.....ssssshhhhhh... Keduanya saling mendesah bersahutan. Gesekan dibawah semakin membakar nafsu Tuan muda. Tuan muda mendorong tubuh Celine ke sisi bathup satu lagi dan mulai menjadi dominan di atas tubuh Celine. Tuan muda membuka kaki Celine dan menaikkannya ke kanan kiri tepian bathup, lalu dia menyelam ke dalam air, menemukan  inti Celine sangat terbuka baginya. Tuan muda menyentuhnya, mencubitnya, membuat Celine berjengit. Tuan muda lalu menjilat inti berwarna merah fanta itu, menghisapnya sesaat. Tuan muda kembali menyembul ke permukaan air, melihat Celine memejamkan matanya dan merebahkan kepalanya ke belakang. Tuan muda dengan cepat mendorong batang kerasnya masuk ke dalam inti Celine.   AAAHHHH..... seru Celine mendesah. Tuan muda mendekati wajah Celine. "Aku tahu kamu suka bermain dalam air, tapi aku tak ingin kamu sakit di waktu liburan kita." Ucap Tuan muda dan menghujam cepat maju mundur, membawa mereka berdua ke puncak gairah bersama.   Tuan muda menggendong Celine dengan gaya koala didepan tubuhnya, membawa mereka ke bawah shower untuk membersihkan diri. Celine merasa sangat melayang ke langit dengan perlakuan Tuan muda padanya. Mereka kembali masuk ke dalam kamar, dengan bathrobe masing-masing. "Aku harus ke kamarku dan mengambil pakaian ganti." Ucap Tuan muda mengecup puncak kepala Celine. Celine mengangguk dan tersenyum. Hatinya terasa hangat saat ini.   Tuan muda keluar dari kamar Celine, dan tidak menunggu lama, Tuan muda kembali masuk ke dalam kamar itu. Celine pun telah memakai kaos longgar dan mini hotpantsnya lagi. Mereka mengobrol dan bahkan bercanda, saling menggoda di atas tempat tidur, di atas sofa, berdiri, duduk. Mereka begitu dekat malam ini. Mereka menjadi lebih dekat dan saling bercerita tentang segala hal dalam hidup masing-masing. Suka dan dukanya dalam kehidupan mereka, kecuali rahasia besar dalam diri Tuan muda. Tuan muda masih merasa takut untuk terbuka tentang rahasia besarnya itu pada Celine. Ada perasaan takut kehilangan dan takut penolakan dalam diri Tuan muda. Kembali terbawa suasana kedekatan diantara keduanya, merekapun kembali melakukan permainan panas mereka. Celine kembali menjadi b***k submisif bagi Tuan muda sang dominan. Sedikit kekerasan dalam s*x namun Celine tidak menolaknya, bahkan saat Tuan muda melakukan anal s*x padanya, Celine juga hanya menurut dan menikmatinya. Malam semakin larut, Tuan muda semakin mempercepat permainan panas mereka, karena memburu waktu sebelum tengah malam tiba.   AAAAHHHHHHH..... keduanya kembali berteriak lega merasakan kenikmatan yang sangat dahsyat. Tuan muda meraih tubuh Celine dalam pelukannya, mengecup kening Celine lembut.   "Tidurlah. Besok kita masih akan berlibur." Ucap Tuan muda, Celine mengangguk lalu memejamkan matanya dan terlelap. Tuan muda perlahan beranjak turun dari tempat tidur, saat dirasa Celine telah tertidur lelap. Crep! Tuan muda salah perkiraan, Celine belum tertidur, tangannya ditahan oleh genggaman tangan Celine. Tuan muda terkejut dan menoleh pada Celine. "Jangan, jangan pergi, kumohon...jangan tinggalkan aku sendiri lagi setelah semua ini." Pinta Celine dengan mata berkaca-kaca, air matanya telah menumpuk di pelupuk matanya. "Maaf, tapi aku harus pergi. Aku tidak boleh tetap berada disini sepanjang malam, karena itu akan membuatmu meninggalkan aku." Sahut Tuan muda. Celine menangis, menggelengkan kepalanya. "Apapun akan kulakukan untukmu, aku tidak akan meninggalkanmu, tapi kumohon tetaplah disini malam ini, aku butuh pelukan mu malam ini." Ucap Celine memohon lagi.   Tuan muda perlahan melepaskan tangan Celine dari tangannya, hari semakin mendekati tengah malam, dia harus segera pergi dari hadapan Celine. Tuan muda segera memakai pakaiannya. "Maaf, aku tetap tidak bisa berada disini sepanjang malam." Sahut Tuan muda lalu melangkah pergi meninggalkan Celine, seorang diri dalam kamar itu. Tuan muda segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dirinya sendiri dalam kamar. Tuan muda harus mampu mengendalikan amarahnya saat ini. Ya, Tuan muda merasa sangat marah saat ini, marah terhadap dirinya sendiri karena telah menyakiti Celine lagi, tak bisa memenuhi permintaan Celine. Tuan muda merasa gagal menjadi seorang pria bagi Celine. Dirinya tak bisa membuat Celine tetap bahagia. Amarah itu harus segera dikendalikan sebelum berubah menjadi singa, karena amarah yang ada akan membuat singa dalam dirinya juga menjadi ganas dan memangsa, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Tuan muda berusaha memadamkan amarahnya, mengguyur tubuhnya dibawah shower hingga akhirnya Grisella datang dan mengetuk kamar itu. Tuan muda mengakhiri kegiatan di kamar mandi dan berganti pakaian, lalu membuka pintu bagi Grisella. "Apa yang telah terjadi?" Tanya Grisella. "Aku telah menyakitinya lagi." Sahut Tuan muda tenang. "Anda marah?" Tanya Grisella. "Bukan sekedar marah, aku membenci diriku sendiri dan kutukan ini." Sahut Tuan muda. "Anda ingin berburu? Di ujung pantai tadi aku melihat ada hutan yang masih alami. Anda butuh kesana?" Tanya Grisella. "Tidak, aku sudah mengendalikan amarah ini, aku hanya ingin tidur." Sahut Tuan muda. "Baiklah." Ucap Grisella lalu mengunci kamar itu dari dalam, berjaga dari hal diluar dugaan. Grisella menatap singa besar itu yang tampak murung dan memilih memejamkan matanya seolah tidur padahal tidak.  Seorang gadis merasa sangat terpuruk sepanjang malam ini. Dia terus berdiri memandang kota sepanjang malam itu. Dia merasa sangat tidak berharga. Dia tahu bahwa dia tak boleh menuntut apapun dari pria itu, tapi hanya sekedar pelukan sepanjang malam bersama di atas tempat tidur, apakah susahnya? Celine terus menangis dalam kesendiriannya. Celine mengingat kebahagiaan mereka sebelum kejadian menyakitkan ini. Bercanda, mengobrol, saling menyuapkan cemilan, saling menggoda dan menertawakan, bahkan saling mencumbu. Begitu dekat, saling berbagi cerita sambil menatap keindahan kota di pinggir pantai ini. Bagai sepasang kekasih yang sangat bahagia.  Tak ada yang salah diantara mereka, tapi mengapa Tuan muda kembali meninggalkannya??? Mengapa harus selalu seperti itu pada akhirnya??? Tidak pantaskah dirinya untuk mendapat sebuah pelukan hangat tanpa nafsu??? Celine terus merasa nyeri, hatinya terasa diremas kuat. Air mata terus mengalir di pipinya hingga pagi tiba. Celine duduk di atas tempat tidur, menatap keluar dengan tatapan kosong. Tok.Tok.Tok. Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Celine hanya diam tidak menyahut dan tidak membukakan pintu.  Ceklek. Pintu kamarnya dibuka seseorang dari luar. Seseorang masuk ke dalam kamarnya. "Celine, ternyata kamu sudah bangun, Aku dan Otista akan sarapan di bawah, apa kamu mau ikut?" Tanya Grisella. "Tidak Grisella, aku tidak lapar. Terima kasih." Sahut Celine dengan suara serak tanpa menoleh. "Apa kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar tidak baik." Tanya Grisella. "Aku baik-baik saja." Sahut Celine lagi. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi, aku dan Otista akan pergi sarapan berdua, karena Tuan muda juga tidak merasa lapar." Ucap Grisella lalu dengan ragu melangkah keluar menutup pintu itu. Celine hanya menghela napasnya panjang. Celine memejamkan matanya, mencoba membuat dirinya untuk lebih kuat saat nanti harus bertemu lagi dengan Tuan muda.   Malam hingga pagi hingga siang tiba bahkan hampir sore, Celine masih tetap tidak keluar dari kamarnya. Dia lebih memilih menatap pantai dan kota di luar sana. Bahkan  beberapa kali Grisella dan Otista masuk bergantian untuk menengoknya, tapi hanya diacuhkan oleh Celine, makanan dan jus yang mereka bawakan juga tidak disentuh oleh Celine.  Ceklek. Pintu kamar Celine kembali dibuka oleh seseorang dari luar. Celine berpikir itu pasti Grisella atau Otista seperti sebelumnya, jadi dia tidak menoleh sedikitpun.  "Grisella mengatakan bahwa kamu tidak mau makan ataupun minum. Apa kamu sedang mengancamku dengan melakukan semua itu?" Tegur sebuah suara yang sangat membuat Celine kaget. Celine sempat merasa senang saat awal mendengar suara Tuan muda, namun dia menjadi tersinggung dengan kalimat akhir Tuan muda. Celine memilih untuk tetap diam, dia sangat malas meladeni ucapan Tuan muda. "Baiklah, terserah padamu saja! Sebentar lagi kita akan kembali ke istana, karena liburan telah selesai. Bersiaplah jika kamu tidak mau ketinggalan." Ucap Tuan muda lagi dan melangkah keluar dari kamar Celine. Tuan muda menghela napas beratnya, dia sangat mencemaskan gadis itu, tapi tak ada yang bisa dia lakukan, karena dialah yang telah membuat gadis itu terluka. Tuan muda berdiri sejenak di balik pintu, berharap mampu mendengar suara batin Celine, tapi hingga beberapa saat dia tak mendengar apapun juga. ****   Mereka telah kembali ke tempat semula dimana yacht mewah itu berangkat hari kemarin. "Grisella, aku akan ke kamar mandi, kalian berjalanlah dulu ke mobil." Ucap Celine saat mereka tiba di pantai semula. "Aku akan mengantarmu." Sahut Grisella cemas dengan kondisi Celine. "Ah! Tidak perlu merepotkanmu Grisella, aku bisa sendiri, tenanglah." Ucap Celine tersenyum. "Baiklah, aku akan menunggu disini." Sahut Grisella. Celine melangkah menuju ke kamar mandi.   Grisella mulai cemas dan resah, karena setelah setengah jam Celine tak kunjung kembali dari kamar mandi. Otista yang datang menyusul Grisella pun kini ikut cemas. Mereka segera menyusul Celine ke kamar mandi, tapi kosong. Kamar mandi itu kosong, sekitar tempat itu juga kosong. "Otista, kita harus memberitahu Tuan muda!"ucap Grisella lalu keduanya berlari menuju ke mobil. "Tuan muda, Celine menghilang!" Ucap Otista. "Apa?! Apa maksud kalian?! Bukankah dia bersamamu Grisella?!" Tanya Tuan muda dengan panik. "Tadi dia ingin ke kamar mandi, aku sudah mau mengantarnya tapi dilarang olehnya. Dan saat kami memeriksa kamar mandi itu, ternyata kosong. Kami tidak mampu menemukan Celine dimanapun di sekitar sini." Ucap Grisella. "Sial! Kemana dia?! Otista cepat kembali ke istana! Aku akan mencarinya dari cermin ajaib!" Ucap Tuan muda, dan ketiganya bergegas masuk ke dalam mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD