KENYATAAN

3896 Words
"selamat pagi Tuan muda." Sapa Otista saat memasuki ruang makan. Disana sudah ada Tuan muda, Grisella dan bibi Milly disana, tapi semua hanya diam, hanya bibi Milly yang tersenyum padanya. "Eh, dimana Celine?" Tanya Otista pada bibi Milly. "Mungkin dia belum bangun atau sedang mandi." Sahut bibi Milly. "Aku akan memanggilnya, supaya kita tidak terlambat ke kantor." Ucap Otista. "Tidak perlu. Selamat pagi semuanya." Sahut seorang gadis yang dari tadi menjadi pembicaraan. Semua mata menatap padanya, mata bengkak itulah yang masih tersisa dari peristiwa pagi tadi, meski gadis itu terlihat segar setelah mandi dan sedikit make up tipis.    Celine menarik sebuah kursi berhadapan dengan bibi Milly, sedangkan Otista berhadapan dengan Grisella, dan Tuan muda ada di ujung meja di antara Grisella dan Otista. Tuan muda kembali menyantap makanannya, tak peduli. Grisella menoleh ke arah Tuan muda dan merasa kesal. "Tuan muda!" Seru batin Grisella menegur sikap Tuan muda pada Celine. "Selesaikan saja sarapanmu Grisella! Aku tak ada waktu membahas hal yang tidak penting!" Sahut Tuan muda dalam batinnya sambil tetap menyantap makanannya. "Bibi, bagaimana ini?"  Batin Grisella bertanya pada bibi Milly karena sangat cemas. "Ikuti saja ucapan Tuan muda, nona Grisella." Sahut bibi Milly dengan sabar.   Otista merasa sangat aneh dengan sikap semua orang disekitarnya pagi ini. Otista memang tak mengetahui kejadian pagi tadi, dia hanya mengetahui bahwa semalam Tuan muda berhasil membawa Celine ke dalam kamar pribadinya. "Hallo, adakah yang bisa menjelaskan padaku? Ada apa sebenarnya ini?" Tanya Otista dan membuat semua mata menatapnya. "Tidak ada apapun Otista, habiskan saja sarapanmu, supaya kita tidak terlambat." Sahut Celine dengan tenang. "Kenapa mereka bisa menjawab dengan sama?" Batin Otista bingung.   Celine sarapan dengan sangat cepat. "Aku sudah selesai, aku akan menunggu di dalam mobil. Bibi, aku pergi dulu, terima kasih untuk semuanya selama aku disini, maaf aku sudah merepotkan bibi." Ucap Celine sambil berdiri, menghampiri bibi Milly dan memeluknya seolah berpamitan pada bibi Milly namun mengacuhkan yang lainnya. "Anda tidak merepotkan nona Celine, saya senang anda disini. Selamat bekerja nona Celine, sampai bertemu petang nanti." Sahut bibi Milly. "Maaf bibi Milly, petang nanti saya harus kembali ke rumah saya. Banyak yang harus saya lakukan karena telah meninggalkan rumah beberapa hari ini." Ucap Celine, dan kali ini membuat semua mata yang lainnya menoleh pada Celine karena terkejut, termasuk Tuan muda. "Tapi nona Celine, kenapa? Apakah pelayanan saya dan pelayan disini tidak memuaskan anda?" Tanya bibi Milly menutupi kebenaran yang dia sudah tahu. "Tidak bibi, saya memang harus pulang ke rumah dan berada disana malam ini. Bye bibi Milly." Sahut Celine lalu melangkah menuju pintu keluar.   "Aku sudah selesai, sebaiknya kamu cepat habiskan sarapanmu Otista! Aku menunggu di mobil. Bibi Milly, tolong lakukan tugasmu." Ucap Tuan muda sambil berdiri dan menghampiri bibi Milly. Bibi Milly pun berdiri dan melakukan ritual mereka di setiap pagi hari.   Tuan muda lalu keluar dan menuju masuk ke dalam mobil. Celine sudah duduk di bangku penumpang depan di samping bangku sopir, sedangkan Tuan muda duduk di bangku penumpang belakang. "Kuharap kamu tidak salah paham terhadap aku dan Grisella. Jangan membencinya, dia hanya berusaha menjadi kakak yang baik untuk diriku." Ucap Tuan muda, membuat Celine terkejut. "Aku tidak membencinya, aku hanya menyadarkan diriku sendiri dimana seharusnya aku berada." Sahut Celine. "Kamu tak tahu apapun tentang kami dan istana ini, jadi darimana kamu tahu dimana kamu seharusnya berada?" Ucap Tuan muda. "Tuan muda, sudah kukatakan aku tidak akan menuntut apapun, jadi kuharap anda juga tidak menuntut apapun dari saya. Kejadian semalam biarlah menjadi yang awal dan terakhir bagi kita. Anda pria bebas, silahkan anda mencari wanita lain, aku tidak peduli." Sahut Celine. Barusaja Tuan muda hendak berucap lagi, tapi Otista telah membuka pintu mobil. Keduanya hanya terdiam sepanjang perjalanan, tanpa pikiran apapun. Otista sungguh bingung dengan keadaan yang dingin ini.  ****   Sedari pagi tiba di kantor, hingga beberapa jam kemudian, semua sibuk di meja kerja masing-masing.  "Aku harus bisa membawa gadis itu kembali ke istana petang nanti, aku tak ingin Grisella terus sedih karena merasa bersalah." Ucap Tuan muda sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya. "Bagaimana caranya?" Tanya Tuan muda pada dirinya sendiri.   Tok.Tok.Tok. "Masuk!" Seru Tuan muda heran, dan semakin heran saat yang masuk adalah Celine. Tuan muda menatap dengan mengernyitkan keningnya menatap Celine yang melangkah masuk mendekat ke mejanya. Tidak biasanya Celine mengetuk pintu terlebih dahulu. "Tuan muda, ini adalah laporan dari tiap bagian, mereka membutuhkan tanda tangan anda. Juga ada proposal dari bagian pemasaran untuk anda pelajari." Ucap Celine menunduk tidak ingin menatap boss nya itu. Celine berdiri di seberang meja Tuan muda. "Tolong, bisa kamu letakkan saja di dekat saya sebelah sini?" Pinta Tuan muda sambil menunjuk supaya Celine meletakkan berkas-berkas itu di samping Tuan muda yang lebih dekat dengan bangkunya. Celine menghela napas panjang lalu melangkah memutari meja menuju ke samping tuan muda dan meletakkannya disana.  "Apa kamu sudah mempelajari proposal ini?" Tanya Tuan muda seraya mengambil proposal yang dibawa Celine. "Sudah Tuan muda, tolong anda periksa dan tanda tangani dulu berkas-berkas yang ini." Sahut Celine, Tuan muda sesekali menatap Celine.   Tuan muda selesai memeriksa sekaligus menandatangani berkas-berkas yang dibawa Celine. Dia memutar kursinya ke sampin untuk menghadap pada Celine dan menatap Celine yang sedang merapikan berkas-berkas itu kembali ke dalam map. Tuan muda sedikit menyibakkan rambut Celine ke samping dan mendadak menyusupkan wajahnya mengecup pipi Celine. "Tuan muda!" Celine terperanjat kaget dengan perlakuan Tuan muda barusan. "Tuan muda! Apa yang anda lakukan?! Ini kantor!! Bagaimana jika ada yang melihat kita?!" Protes Celine dengan kesal. "Kenapa?"tanya Tuan muda. Tuan muda hanya tersenyum menatap wajah kesal Celine. "Kamu tahu? Kamu lebih cantik jika kesal seperti ini, daripada pendiam dan pemurung seperti tadi, wajahmu sangat terlihat tua pagi tadi." Ucap Tuan muda menggoda Celine.    Celine kembali sibuk dengan berkasnya sambil menyembunyikan wajahnya yang tersenyum. "Aku ingin mengajakmu makan siang, jangan menolak! karena aku tak suka penolakan!" Ucap Tuan muda. Celine menoleh dan menatap Tuan muda sambil menghela napas besar. "Dalam rangka apa?" Tanya Celine. "Bagaimana jika aku mengatakan ini sebuah kencan?" Tuan muda bertanya balik. Celine terlihat menahan senyumnya, merasa bahagia. "Kita lihat nanti saat siang tiba." Sahut Celine dan langsung berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan kerja Tuan muda. Tuan muda tersenyum menggelengkan kepalanya. "Dasar gadis angkuh!" Ucap Tuan muda tersenyum.  ****   Celine terus menghela napas besar dan berat sedari tadi. Dia sungguh kesal karena Tuan muda tetap memaksanya untuk ikut makan siang berdua dengannya. Tuan muda hanya tersenyum melihat wajah kesal Celine. "Apa yang ingin kamu pesan?" Tanya Tuan muda saat pelayan telah menunggu di samping meja mereka. "Aku tidak lapar! Aku minum orange juice saja." Sahut Celine ketus. "Tidak! Kamu harus makan! Aku tak mau kamu sakit, karena itu artinya aku akan disibukkan dengan banyak berkas selama kamu sakit!" Ucap Tuan muda. "Terserah! Aku pemakan segala jadi anda pilihkan saja!" Sahut Celine masih dengan kesal. Tuan muda akhirnya memesan dua menu untuk mereka berdua, lengkap dengan dessert dan minumannya. "Kamu cantik jika sedang kesal." Goda Tuan muda tersenyum. "Apa anda sedang merayuku?!" Tanya Celine sinis. "Aku bicara kenyataan. Bisakah kamu tidak memanggilku Tuan muda saat kita berkencan?" Sahut Tuan muda. "Anda juga tidak pernah memanggil namaku! Jadi masih lebih baik aku memanggilmu Tuan muda!" Ucap Celine   "Celine, tolong panggil aku Devon."sahut Tuan muda dan Celine terkejut sambil menahan tawanya, tapi dia tak mampu menahan senyumnya. "Kenapa kamu selalu membuatku kesal?! Kalau tidak suka padaku, sudah jangan ganggu aku terus!" Ucap Celine. "Karena aku suka, aku suka membuatmu kesal. Itu berarti kamu akan selalu ingat padaku." Sahut Tuan muda. "Dasar perayu!" Omel Celine. "Apa kamu merasa jika aku sedang merayumu?" Tanya Tuan muda semakin menggoda Celine. "Sudahlah! Lebih baik aku diam! Bicara denganmu sungguh membuatku lelah!" Omel Celine. "Bagaimana jika kita melakukan seks saja? Sepertinya semalam kamu tidak merasa lelah meski kita bergulat selama satu jam." Sahut Tuan muda dengan tatapan dan senyuman mesumnya. "Sssttttt!!!!! Kecilkan suaramu! Semua orang bisa mendengarmu!" Omel Celine semakin kesal. "Kenapa? Biarkan saja mereka terinspirasi oleh kita berdua." Sahut Tuan  muda dengan santai. Celine pada akhirnya menunduk dan meletakkan keningnya ke atas meja. Dia merasa sangat kesal berbicara dengan tuan muda. Tuan muda tersenyum menatapnya.   "Permisi, pesanan anda telah siap Tuan." Ucap seorang pelayan membuat Celine mengangkat kepalanya dari atas meja. Mereka pun makan dalam diam, Tuan muda hanya mencuri pandang sambil tersenyum. "Akhirnya, makan siang ini selesai." Ucap Celine merasa lega saat keluar dari restoran dan siap masuk ke dalam mobil. "Makan siang memang sudah selesai, tapi kencan kita belum selesai." Sahut Tuan muda yang kini telah duduk di kursi kemudi di samping Celine. "Apa?! Ouh tidak! Tidak! Tidak! Ini sudah selesai dan kita harus kembali ke kantor sekarang!" Ucap Celine menolak. "Apa kamu lebih suka menghabiskan kencan kita dengan seks di meja kerjaku? Mengapa kamu sungguh memaksa untuk kembali ke kantor?" Sahut Tuan muda bertanya menggoda Celine. "Astaga! Devon! Apa di otakmu itu selalu berisi hal m***m! Hah?!" Seru Celine.   Tuan muda mendadak terdiam bagai orang yang terkena shock attack. Tuan muda hanya menatap Celine dengan lekat. Celine mendadak bingung dan salah tingkah. "Eh! Kenapa dia jadi diam begitu? Apa ucapanku barusan menyinggung harga dirinya?"  Batin Celine. Tiba-tiba tuan muda mendekatkan wajahnya pada telinga Celine. "Terima kasih, sudah memanggil namaku." Bisik Tuan muda lalu mengecup pipi Celine dengan lembut. Celine merasa disengat getaran tinggi yang menjalar ke seluruh tubuhnya, dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju suatu tempat hiburan umum.    Tuan muda mengajak Celine ke taman yang terletak di pinggir pantai. Mereka berjalan berdua beriringan namun tidak bergandengan tangan. Tuan muda memilih sebuah tempat duduk kosong di pinggir pantai. Mereka duduk bersama menatap ke arah laut lepas. "Celine, ada sebuah peristiwa besar yang terjadi saat aku baru lahir, hal itulah yang selalu membuat aku marah-marah di setiap malam hingga pagi hari, tak ada seorangpun yang mampu menenangkan aku. Saat itu Grisella sedang bernyanyi dan setiap aku mendengar suaranya, maka aku mampu menjadi tenang. Sejak saat itu setiap malam dia selalu terjaga sepanjang malam untuk menjaga diriku. Dia mengorbankan waktu tidurnya untukku, dan menggantinya saat siang hari. Kuharap kamu tidak marah, tidak cemburu dan tidak membenci Grisella. Seutuhnya dia hanyalah menjadi kakakku, dia hanya menjalankan pesan kedua orang tuaku sebelum meninggal, bahkan mereka bertiga memilih untuk tidak menikah hanya demi menjaga diriku. Mereka adalah keluarga intiku sekarang." Cerita Tuan muda lalu menatap Celine disampingnya.   Celine menatap dalam pada Tuan muda. "Mengapa kamu menceritakan ini padaku?" Tanya Celine. "Entahlah, aku hanya tak sanggup melihat Grisella dan bibi Milly merasa sedih karena dirimu meninggalkan istana. Aku tahu mereka telah menyayangimu juga, karena aku tahu kamu pasti salah paham tentang kejadian pagi tadi, maka aku hanya ingin menjelaskannya padamu." Sahut Tuan muda. "Haruskah aku percaya? Apakah kalian tak pernah melakukan apapun sepanjang malam selama beberapa tahun lamanya? Kalian sama-sama dewasa, dan tidak ada ikatan darah. Apakah sekalipun kalian tidak pernah melakukannya?" Tanya Celine. Tuan muda menatap lekat pada Celine lalu tersenyum.   "Aku adalah seekor singa sepanjang malam, mana mungkin kami melakukan perbuatan m***m?!"  Batin Tuan muda. "Kamu percaya atau tidak, kami tidak pernah melakukan apapun sepanjang malam selama bertahun-tahun." Sahut Tuan muda. Celine menghela napas panjang. "Entahlah, terasa begitu sulit bagiku untuk memahami ceritamu, tapi aku tidak membenci Grisella, justru aku diam karena aku merasa bersalah pada Grisella, aku merasa menjadi sahabat yang telah menggoda pria nya." Ucap Celine. "Aku pria bebas Celine, aku bukanlah milik siapapun. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah pada wanita manapun. Ya, tapi kamu hanya perlu merasa bersalah karena telah memberikan kesucianmu pada pria yang bukan suami mu." Sahut Tuan muda tersenyum. "Ouh Tuhan, jangan berikan senyuman itu padaku, kamu sungguh membuatku luluh dengan senyumanmu itu."  Batin Celine menatap Tuan muda.   Tuan muda meraih tangan Celine dan mengecupnya lembut. "Ouh Tuhan bagaimana bisa aku tidak memaafkannya? Jika dia begitu lembut memperlakukan aku seperti ini?" Batin Celine. "Maafkan kami Celine." Ucap Tuan muda, dan tersenyum lebar saat Celine mengangguk dengan senyuman.   Mereka lalu berdiri dan melangkah bersama, kali ini tuan muda menggandeng tangan Celine. Celine menatap ke atas memandang Tuan muda yang berjalan di sampingnya lalu melihat ke arah tangan mereka yang bergandengan. "Ya Tuhan, andaikan aku boleh  berharap lebih darinya...., Tidak! Aku tidak boleh berharap apapun dari semua ini. Aku sudah berjanji tidak akan menuntut apapun darinya, dia pria yang mencintai kebebasan dan tak mau terikat pada pernikahan."  Batin Celine lalu menghela napas panjang. Tuan muda memilih berpura-pura tidak mendengarnya. "Aku memilih menjadi pria bebas, karena takdir yang memaksa aku untuk tak bisa terikat pada pernikahan." Sahut Tuan muda dalam batinnya sendiri.   Mereka telah berada dalam perjalanan pulang ke rumah Celine. Ya, Tuan muda akhirnya mengalah dan mengantarkan Celine pulang ke rumahnya sendiri. Tuan muda mengantarkan Celine masuk ke gedung rumah susun itu, naik tangga hingga sampai di depan pintu rumah Celine. "Sebaiknya anda langsung pulang, hari sudah malam, mereka pasti sudah menunggu anda untuk makan malam." Ucap Celine. "Iya, aku akan pulang setelah kamu masuk ke dalam. Kunci pintunya dan tutup jendelanya." Sahut Tuan muda, Celine mengernyitkan keningnya bingung, namun akhirnya mengangguk dan tersenyum. Celine masuk ke dalam rumah dan berdiri bersandar di balik pintu itu. Hatinya berdebar bahagia, perhatian dan kelembutan tuan muda sedari tadi membuatnya sungguh melayang ke langit. Celine berbalik menghadap pintu. "Apakah dia sudah pergi? Kenapa aku berharap dia masih menunggu di depan?aaahhh!!! Haruskah aku mengajaknya masuk? Tapi bagaimana jika aku ingin lebih dari dia sekedar mampir dan minum teh?" Batin Celine dan akhirnya membuka pintu kembali untuk melihat apakah Tuan muda masih ada disana. Sosok pria itu masih berdiri menjulang tinggi di depan pintu rumahnya, bahkan kini sedang tersenyum padanya. Celine terkejut membuatnya salah tingkah, namun langsung berhambur ke pelukan Tuan muda.   Tuan muda memeluk erat tubuh mungil itu, lalu sedikit mendorong dan memberi jarak diantara mereka. Tuan muda menatapnya dengan senyum dan menangkup wajah Celine dengan kedua tangannya mengusap lembut pipi Celine. "Ikutlah bersamaku ke istana." Ucap Tuan muda berharap. Celine diam sesaat lalu tersenyum dan mengangguk. Tuan muda langsung mencium bibir merah itu, melumat dan menghisapnya, hanya sejenak lalu melepaskannya. "Terima kasih." Ucap Tuan muda. "Aku ambil tasku dulu." Sahut Celine.  ****   "Tuan muda, nona Celine, syukurlah kalian sudah kembali dengan selamat. Kami sudah menanti kalian di meja makan." Sambut bibi Milly saat melihat Tuan muda dan Celine memasuki istana. Grisella segera berlari ke ruang tamu, seketika berhenti dan menatap Celine dengan mata berbinar bahagia. "Celine, kamu datang kemari?" Ucap Grisella. "Apakah itu membuatmu senang atau..... Aku harus pergi lagi???" Tanya Celine tersenyum menggoda. Grisella lalu berlari memeluk Celine. "Tentu saja aku senang, aku sangat senang kamu berada disini. Maaf aku dan Tuan muda...." "Sudahlah, dia sudah menjelaskan semuanya padaku, ya meski aku masih merasa sedikit aneh dengan ceritanya, tapi ya....aku menerima saja ceritanya. Maaf ya, aku sedikit cemburu padamu.." Sahut Celine menyela ucapan Grisella. "Aaahhh!!! kamu cemburu padaku?! Apa itu tandanya kamu...????" Tanya Grisella dan Celine langsung menutup mulut Grisella supaya tidak melanjutkan kalimatnya. "Bibi, aku sangat lapar. Biarkan saja mereka! Kita bisa mati kelaparan jika harus menunggu dua wanita ini!" Ucap Tuan muda melangkah menuju ke ruang makan setelah melepaskan jas nya. Ketiga wanita dari segala usia itupun tersenyum lebar menatap punggung Tuan muda. Ketiganya hanya saling merangkul dan berjalan di belakang Tuan muda menuju ruang makan.   "Whooo!!! Lihat siapa yang dibawa Tuan muda malam ini!" Seru Otista segera berdiri dari kursinya dan memeluk Celine dengan bahagia. "Jangan berlebihan Otista! Kembali ke kursimu!" Ucap Tuan muda ketus, tak senang melihat Celine dipeluk Otista. "Hmmm.....baru kupeluk! bagaimana jika sampai kucium? Seperti ini misalnya???" Sahut Otista menggoda Tuan muda sambil mengecup pipi Celine. "Cium lagi, kupenggal kepalamu!" Ancam Tuan muda sewot. Celine terkejut dan memukul Otista, namun keduanya lantas tertawa bersama dengan Grisella dan bibi Milly karena ucapan Tuan muda.   Semua kini telah duduk di kursi masing-masing dan sedang menyantap makan malam bersama sambil bercanda. Tuan muda menatap Celine dari bangkunya, hanya dia yang tidak ikut bercanda bersama empat orang lainnya, Tuan muda sibuk memperhatikan Celine. "Hanya bertambah satu gadis, tapi istana ini terasa lebih hidup dan banyak kegembiraan." Batin Tuan muda dalam diamnya. Bibi Milly, Grisella dan Otista mendadak berhenti dari canda tawanya dan menatap pada Tuan muda. Tuan muda segera menunduk dan menyibukkan dirinya dengan makanan di piringnya, seolah tak ingin membicarakan suara batinnya barusan.   "Jadi kapan pernikahan kalian?" Tanya Otista melalui suara batinnya. "Aku tak mungkin menikahinya Otista! Jadi jangan bahas apapun!" Sahut Tuan muda melalui batinnya. "Hmmm..kalau begitu biarkan aku yang menikahinya, supaya dia terus tinggal disini." Ucap batin Otista lagi, sengaja menggoda perasaan Tuan muda. "Nikahi saja dia! maka kupastikan kematianmu jatuh di hari yang sama dengan hari kamu menikahinya!" Sahut Tuan muda juga melalui batinnya.   Celine merasa bingung dengan diamnya keempat orang disekitarnya. "Ehem! Aku sudah selesai, kurasa aku ingin langsung beristirahat." Ucap Celine merasa terasing diantara keempat orang itu.  "Aku juga sudah selesai, selamat malam semuanya." Sahut Tuan muda. Keduanya naik ke atas bersama, namun tidak bergandengan tangan. Celine melangkah terlebih dahulu, sedangkan Tuan muda ada di belakangnya. Celine tiba di depan pintu kamarnya dan menoleh pada Tuan muda sebelum membuka pintunya.   "Ada apa? Apa kamu ingin kembali tidur di kamar ini?" Tanya Tuan muda menunjuk pada pintu kamar pribadinya. "Haisshh!!! Sudah kukatakan malam kemarin adalah yang pertama dan terakhir bagi kita! Jangan berlebihan!" Sahut Celine manyun. Tuan muda hanya tersenyum lebar. "Terima kasih sudah mau kembali ke istana." Ucap Tuan muda. Celine mengangguk tersenyum. "Sejujurnya aku ingin tahu seberapa besar amarahmu sepanjang malam yang hanya mampu diredakan oleh Grisella."  Batin Celine yang mampu didengar oleh Tuan muda. "Baiklah, kalau kamu berubah pikiran, datanglah ke kamarku, aku siap memuaskanmu lagi." Ucap Tuan muda sambil mengedipkan sebelah matanya genit pada Celine. Celine tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar tamu yang disediakan baginya.  ****   "Grisella, malam ini aku ingin keluar dan berburu." Ucap Tuan muda saat Grisella sudah masuk ke dalam kamarnya. "Baiklah, aku akan bersiap, anda tunggu disini." Sahut Grisella kemudian keluar dan kembali ke kamarnya sendiri. Mereka lalu pergi ke hutan setelah Grisella kembali lagi ke kamar Tuan muda. Mereka keluar dari istana dengan cepat dan tanpa suara.  Celine keluar dari kamarnya dan masih sempat melihat Grisella dengan seekor singa yang sangat besar keluar dari istana. Diapun segera mengikuti Grisella dan singa itu, namun mereka berjalan sangat cepat ke dalam hutan itu, sehingga Celine kehilangan jejak mereka. "Kemana perginya Grisella? Mengapa cepat sekali? Singa, Grisella pergi bersama singa besar, tapi mengapa aku tak pernah  melihat singa besar itu di dalam istana?" Banyak pertanyaan dalam benak Celine sambil terus masuk ke dalam tengah hutan.   "AAAAAAAA!!!!!! SIAPA KAMU?!!!! APA KAMU HANTU?!!!!" teriak Celine terkejut saat dihadapannya mendadak berdiri sosok berjubah hitam yang tertutup seluruhnya. "HAHAHAHAHAHHAA! aku lebih ditakuti daripada hantu Celine Wilder!" Sahut sosok hitam itu. "Apakah kamu yang muncul malam itu?! Siapa kamu?! Mengapa kamu menghadang ku?!" Tanya Celine. Secara mendadak sosok hitam itu mengeluarkan sebuah sinar dan mengikat tubuh Celine, mengangkatnya ke atas sambil tertawa keras. HAHAHAHA!!!! "aku adalah mimpi burukmu Celine Wilder! Karena kamu telah terlahir sebagai pemusnahku, maka aku harus memusnahkanmu terlebih dahulu." Ucap sosok hitam itu. Celine terus berusaha meronta melepaskan diri, namun cahaya pengikat itu justru semakin kencang membelit tubuhnya.   aaacchhh!!! "Le...lepaskan.... a..ku.... tak.... mengenalmu." Pinta Celine mulai merasa sulit bernapas.   Bruukkk!!!  Aaacchhh!!! tubuh Celine seketika jatuh terbanting ke bawah.   GRRROOOOAAAARRRR!!! sebuah auman keras singa besar ada di antara Celine dan sosok hitam itu.   Singa besar itu ternyata berhasil menyerang sosok hitam itu, sebelum dia menyakiti Celine lebih lagi. Celine berusaha merangkak menjauh dari tempat itu. "HAHAHAHAHAHHAA! RUPANYA KAMU SUDAH BERANI MENYERANGKU! HAH! DASAR PENGKHIANAT!!! RASAKAN INI! LIHATLAH BAGAIMANA AKU MEMBUNUH GADIS INI!" Seru sosok hitam itu pada singa besar dihadapannya. Saat sosok hitam itu sedang mengarahkan tongkat sihirnya pada Celine, singa besar itu kembali menerjang sosok hitam itu dan membuat tongkat sihirnya patah. "Sial! Aku pasti akan kembali lagi! INGAT ITU SINGA PENGKHIANAT!!! AKU PASTI AKAN MEMBUNUHNYA SAAT KAMU TIDAK SADAR!!! HAHAHAHAHAHHAA!" ancam sosok hitam itu sebelum akhirnya menghilang.   Singa besar itu menatap ke arah Celine dan perlahan berjalan mendekati Celine. GRRROOOOAAAARRRR (apa kamu baik-baik saja?) Singa itu mengaum pada Celine, namun Celine justru lebih merasa ketakutan dan berdiri lalu berlari dari singa itu. GRRROOOOAAAARRRR (Dasar bodoh! Mengapa dia lari dariku?!) Singa besar itupun ikut berlari mengejar Celine.   "TOLONG! TOLONG!! SIAPAPUN TOLONG AKU! ADA SINGA INGIN MENERKAMKU! TOLONG!" Teriak Celine sambil terus berlari.   GRRROOOOAAAARRRR (Berhenti gadis bodoh!)   AAAAAAAA!!!!!!!  Celine terus berteriak ketakutan.   Dibelakang singa itu ada sebuah suara yang juga mengejarnya. "Tuan muda! Tunggu tuan muda! Tuan muda! Kumohon berhenti!" Teriak suara Grisella. Krosaaakkk!!!!! Buughh!!!   GRRROOOOAAAARRRR!!! (Ach! Sial!) Singa itu terjatuh dalam sebuah lobang perangkap yang dibuat oleh Grisella bagi hewan buruan singa itu sendiri.  Celine pun akhirnya berhenti berlari dan mencoba mendekati lubang itu dengan takut-takut.   "Tuan muda! Dimana anda?! Tuan muda!" Teriak Grisella. Grisella sangat terkejut dan berhenti saat melihat Celine sedang melongok ke bawah dalam sebuah lobang. "Celine?! Apa yang kamu lakukan disini pada tengah malam seperti ini?!" Tanya Grisella dengan cemas. "Grisella, singa yang kamu bawa tadi ada di dalam sana. Dia terus mengejar hendak menerkam ku, tapi akhirnya dia jatuh terperosok ke dalam lobang ini." Sahut Celine.   Grisella segera mendekati lobang itu dan terkejut melihat singa besar itu memang ada disana dalam keadaan kaki depan yang kelihatannya terluka. "Astaga Tuan muda!" Ucap Grisella tanpa sadar karena terkejut. "Tuan muda???" Tanya Celine bingung. Grisella segera menutup mulutnya dan merutuk dirinya sendiri. "Ah sial! Bodoh! Maafkan aku Tuan muda! Kita akan meminta bibi Milly untuk membuatnya lupa pada kejadian ini." Batin Grisella menyesal.   GRRROOOOAAAARRRR!!!! GRRROOOOAAAARRRR!!!! (Sudahlah! Tolong bantu aku keluar dari sini! Tanganku sepertinya mengalami pergeseran tulang!")   Grisella lalu mengikat dirinya dengan tali yang selalu dibawanya saat berburu,lalu mengikat ujung satunya lagi pada sebuah pohon besar. "Celine, kamu harus membantuku menarik kami ke atas!" Ucap Grisella. "Tapi Grisella , apakah dia tidak akan menerkam ku saat sudah diatas nanti?" Tanya Celine. "Seingatku dia sudah pernah menerkammu di malam sebelumnya, dan kamu sangat menikmatinya!" Sahut Grisella lirih. "Hah?! Apa yang kamu katakan Grisella?!" Tanya Celine dengan bingung. " Sudahlah! Bantu menarik talinya saja ya!" Sahut Grisella dan segera melompat turun kebawah sebelum Celine lebih bertanya lagi. "Ayo Tuan muda, bantu aku naik ke atas dengan kakimu." Ucap Grisella pada singa besar itu sambil memeluk tubuh singa besar itu. "TARIK TALINYA CELINE!" teriak Grisella dari dalam lobang, Celine pun berusaha keras menarik tali itu.   Bruukkk!! Akhirnya Grisella dan singa besar itu bisa sampai ke atas lagi. Hhhhhhh!!!! Hhhhhhh!!!! Hhhhhhh!!!! Ketiganya bernapas memburu dengan cepat karena kelelahan. "Terima kasih Celine, sekarang aku akan memanggil Otista untuk membawa truknya kemari." Ucap Grisella sambil berdiri dan mengambil ponselnya.  Celine menatap singa besar itu. Sorot tajam dari Mata biru itu sepertinya dia mengenalnya, tapi Celine tak paham. Singa besar yang terbaring itupun  menatap Celine. Celine mencoba memberanikan dirinya mendekati singa besar itu. Celine mencoba menyentuh kaki depan singa itu. Singa itu spontan menarik kakinya dan menggeram karena kesakitan.  "Maafkan aku, aku hanya ingin membantumu mengobatinya." Ucap Celine lembut. Singa itu diam saat Celine kembali menyentuh kakinya yang berdarah. Celine memejamkan matanya dan mengusap luka itu lembut beberapa kali, membuat luka itu berhenti mengeluarkan darah dan menutup kembali daging yang robek itu.  Diam-diam Grisella menyaksikan kejadian ajaib itu. Singa itu tidak mencabik Celine, padahal singa itu selalu mencabik siapapun orang di dekatnya yang selain keluarga dan orang-orang di istana. Grisella juga takjub bahwa Celine mampu menyembuhkan luka pada kaki singa itu hanya dengan menyentuhnya. "Siapa gadis ini sebenarnya?" Batin Grisella. Bruuummm! Brruummm!! Mobil mini truk Otista sudah tiba di dekat mereka. Otista merasa bingung, karena singa besar itu nampak sehat dapat berjalan sendiri, padahal tadi Grisella mengatakan bahwa singa itu terluka parah tulang pada kaki depannya. Otista menatap Grisella dengan penuh tanya. "Nanti kuceritakan di rumah." Ucap Grisella setengah berbisik. Bibi Milly telah menunggu di depan pintu istana dengan cemas, namun saat melihat singa itu turun dari mini truk dengan berjalan sendiri dan dalam keadaan sehat, maka bibi Milly pun ikut menatap Grisella dengan bingung. "Gadis itu yang menyembuhkannya." Ucap Grisella saat berjalan melewati bibi Milly. Bibi Milly terkejut begitu pula dengan Otista yang juga mampu mendengarnya.   Grisella membawa singa itu naik ke atas dan masuk menuju kamar Tuan muda, tak peduli lagi dengan Celine yang menatap mereka dengan bingung.  "Tadi Grisella memanggil singa besar itu Tuan muda, dan sekarang Grisella membawa singa besar itu ke kamar Tuan muda. Apa yang sebenarnya terjadi? Ach! Mata biru singa itu juga sangat mirip dengan yang dimiliki oleh Tuan muda. Apa jangan-jangan singa itu adalah.......ah! Gila! Tidak mungkin!"  Batin Celine berpikir sendiri, dan dapat di dengar oleh bibi Milly dan Otista.   Bibi Milly dan Otista sangat terkejut sekaligus bingung. "Apakah aku harus menghilangkan ingatannya?" Tanya bibi Milly melalui batinnya pada Otista "Sebaiknya kita tanyakan pada Tuan muda dan Grisella besok pagi." Sahut Otista dalam pikirannya dan bibi Milly mengangguk. "Nona Celine, sebaiknya anda kembali beristirahat, besok anda harus bekerja." Ucap bibi Milly. "Ah, bibi benar, sebaiknya aku kembali ke kamarku." Sahut Celine lalu naik ke atas menuju kamarnya. Celine menatap pintu kamar pribadi Tuan muda saat melewatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD