CEMAS

4108 Words
Grisella sangat kewalahan menahan singa besar itu, dengan sekuat tenaga dia menahan singa itu. Secara mendadak ada sebuah cahaya putih besar dari dalam istana tegak lurus naik ke atas dan mengumpulkan sebuah awan gelap besar, lalu turunlah hujan mengguyur istana itu dan memadamkan api di sekelilingnya. Grisella dan singa itu segera menerobos masuk saat melihat ada sebuah celah untuk masuk. Singa itu langsung melesat cepat menerobos kepulan asap dan ke atas menuju kamar Celine.   Seluruh istana telah dipenuhi dengan asap tebal, membuat para penghuni itu terbatuk-batuk. Grisella melihat para pelayan. "Kalian baik-baik saja?" Tanya Grisella pada mereka. "Kami baik-baik saja nona, semua pelayan dapat terselamatkan." sahut salah satu pelayan. "Syukurlah, dimana Otista? Apa kalian melihatnya?" Tanya Grisella "Aku disini, aku baik-baik saja. Cepatlah kejar Tuan muda! Jangan sampai Celine melihatnya!" Sahut Otista. Grisella segera melesat naik ke atas, dia melihat singa itu sedang mengaum keras sambil mencakar- cakar pintu kamar dimana Celine berada. Singa itu terus berusaha untuk membuka pintu kokoh itu.   GRRROOOOAAAARRRR!!!!! Grisella ikut merasa pilu melihat Tuan muda yang sangat ingin menolong Celine di dalam sana. Grisella membukakan pintu kamar Celine itu, singa itu pun segera masuk dan mengaum keras saat melihat kamar itu terlihat hancur berantakan dan tak mampu menemukan Celine juga bibi Milly.   GROOOOOAAAARRRRR!!!!! "BIBI MILLY!!! CELINE!!! DIMANA KALIAN?! TOLONG JAWAB AKU!!!" teriak Grisella.   BRRAAAKKK! "Kami disini nona Grisella" sahut bibi Milly dengan lemah berusaha keluar dari reruntuhan atap kamar, sambil merangkak dan memeluk Celine yang tak sadarkan diri.   Grisella dan singa itu segera menghampiri dan berusaha menyingkirkan reruntuhan itu dari atas tubuh bibi Milly dan Celine. Otista datang membantu untuk mengeluarkan keduanya. "Apakah dia masih hidup?" Tanya Grisella cemas pada kondisi Celine yang tak bergerak. "Dia masih bernapas nona, tapi entahlah dengan kondisinya, semoga dia tidak terluka parah." Sahut bibi Milly. "Apa yang sebenarnya terjadi? Bersyukur api itu hanya membakar sekeliling istana." Tanya Grisella. "Sepertinya ini ulah penyihir hitam yang ingin mencelakai nona Celine, tapi karena istana ini telah dibatasi dengan kekuatan sihir putih, maka dia tak mampu masuk ke dalam istana ini, tapi aku takut jika dia pada akhirnya mampu melewati batas yang aku buat, maka nona Celine akan dalam bahaya." Jelas bibi Milly. "Apa yang harus kita lakukan bibi?" Tanya Otista. "Kita harus mampu membuat nona Celine segera melahirkan keturunan bagi Tuan muda." Sahut bibi Milly sambil menoleh ke arah Celine.   Mereka bertiga menyaksikan bagaimana singa besar itu terus berusaha membangunkan Celine. Singa itu mendengus wajah Celine, menggoyang-goyangkan tubuh Celine dengan kaki depannya, bahkan mereka melihat air mata yang menetes dari mata singa besar itu. Semuanya merasakan pilu yang ada di hati Tuan muda saat ini. Mereka juga takut jika Celine tak lagi terbangun.   "Tuan muda, biarkan saya membawanya untuk beristirahat di kamar lain, kamar ini sungguh hancur berantakan." Ucap Otista. GRRROOOOAAAARRRR!!!!  Singa itu mengaum dan menahan tangan Otista. "Anda ingin saya membawanya ke kamar anda? Apa anda yakin? Bagaimana jika dia tersadar dan melihat anda dalam wujud seperti saat ini?" Tanya Otista yang mengerti bahasa binatang.   GRRROOOOAAAARRRR!!! "Baiklah, saya akan meletakkannya di kamar Tuan muda. Berjanjilah anda tidak akan mencabiknya!" Sahut Otista. GRRROOOOAAAARRRR!! Otista akhirnya menggotong tubuh Celine dan membawanya menuju ke kamar Tuan muda. Grisella juga singa besar itu mengikutinya dari belakang. Otista kembali keluar dari kamar itu dan menemui bibi Milly. Grisella menjaga singa besar itu di dalam kamarnya, berjaga-jaga supaya singa itu tidak mencabik Celine. Di luar dugaan, singa besar itu justru merebahkan dirinya di atas tempat tidur itu disamping Celine. Singa besar itu tertidur dengan tenang di samping Celine. Grisella tetap tak mau tertidur, dia terus berjaga hingga pada akhirnya Tuan muda kembali dalam wujud manusia, saat matahari mulai menyinarkan sinar jingganya.   "Tuan muda, saya akan keluar. Saya akan menghubungi dr. Hilda supaya memeriksa kondisi Celine." Ucap Grisella.  "Terima kasih Grisella, kamu juga harus beristirahat, pulihkan kekuatanmu Grisella." Sahut Tuan muda. "Baik Tuan muda, tapi anda bisa memanggil saya kapanpun anda membutuhkan bantuan." Ucap Grisella lalu melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan sangat perlahan. "Terima kasih Grisella." Sahut Tuan muda sebelum pintu itu benar-benar tertutup.   Tuan muda menghadap ke samping dan menatap wajah Celine yang belum juga membuka matanya. Tuan muda melihat detail wajah Celine dalam jarak yang sangat dekat. Tuan muda menyadari baru kali ini dia sangat takut kehilangan seseorang yang bukan keluarganya, bahkan saat dalam wujud singa pun dia tak mau kehilangan gadis ini. Hal ini sangat berbeda dengan biasanya selama seribu tahun ini, selama ini singa dalam dirinya hanya mengenali keluarganya saja, namun jika ada orang asing di hadapannya maka naluri pemburunya akan memangsa orang asing itu. Tak lama kemudian datanglah dr. Hilda bersama Otista untuk memeriksa kondisi Celine.   "Bagaimana keadaannya? Mengapa dia belum sadar juga setelah sekian jam lamanya?" Tanya Tuan muda. "Jika dilihat dari tanda-tanda vitalnya, bisa dikatakan kondisinya cukup stabil saat ini, tapi kita harus tetap melakukan pemeriksaan secara mendetail saat dia terbangun nanti.." Sahut dr.Hilda. "Mengapa dia belum tersadar juga?" Tanya Tuan muda. "Bersabarlah Tuan muda, mungkin sebentar lagi dia akan sadar, tapi jangan terlalu banyak diajak bicara dan berpikir keras dulu." Sahut dr. Hilda. "hm...baiklah. Terima kasih Hilda. Apakah ada obat untuknya? supaya Otista dapat membelikannya." Tanya Tuan muda. "Tidak perlu, saya sudah memberikan suntikan tadi. Kita harus menunggu hingga dia sadar untuk pemeriksaan lanjutannya." Ucap dr.Hilda, Tuan muda hanya mengangguk. "Tuan, kalau boleh saya tahu siapa sebenarnya gadis ini? Aku belum pernah melihat Tuan muda sangat cemas seperti ini pada wanita manapun kecuali nona Grisella dan bibi Milly." Ucap dr.Hilda lagi. "Lakukan saja tugasmu Hilda! Lagipula dia adalah sekretarisku, sangat susah menemukan sekretaris bagi kesibukanku, jadi aku ingin dia segera sehat!" Sahut Tuan muda ketus. "Maafkan saya Tuan muda, baiklah kalau begitu saya akan menunggu di ruang tamu hingga dia tersadar." Ucap dr.Hilda.   Otista mengantarkan dr.Hilda keluar dari kamar pribadi tuan muda. Tuan muda mengusap wajahnya dan menghela napas berat menatap Celine. "Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu mampu membuatku bahkan makhluk berbulu dalamku ini sangat mencemaskan keselamatanmu?" Ucap Tuan muda pelan.   Otista masuk kembali ke dalam kamar itu. "Tuan muda, apakah kita akan berangkat ke kantor hari ini?" Tanya Otista "Tentu saja Otista, banyak yang harus kita selesaikan hari ini." Sahut Tuan muda. "Menurut jadwal di catatan Celine, jadwal anda hari ini kosong, anda sudah menyelesaikan segala laporan yang harus ditandatangani kemarin. Apa yang ingin anda lakukan hari ini?" Tanya Otista. "Apapun! Ayo cepat berangkat! Katakan pada bibi Milly untuk menjaga gadis ini!" Sahut Tuan muda dan melangkah ke pintu. "Celine! Namanya Celine! Apakah susah bagi anda hanya mengucapkan satu kata nama itu?!" Keluh Otista bersungut-sungut. Tuan muda tetap diam, acuh terhadap ocehan Otista.   Sesampainya mereka dibawah, mereka bertemu dengan bibi Milly dan Grisella yang sedang mengobrol bersama dr.Hilda. "Bibi, tolong lakukan tugasmu, karena aku harus berangkat ke kantor. Tolong bibi jaga gadis itu, dia masih belum sadarkan diri." Ucap Tuan muda. Bibi Milly dan Tuan muda segera masuk ke dalam dapur, supaya tersembunyi dari dr.Hilda. "Tuan muda, ada suatu hal yang harus kukatakan pada Tuan muda, ini mengenai nona Celine." Ucap bibi Milly seusai melakukan ritual pagi harinya pada tuan muda. "Kita akan bicarakan nanti saat aku pulang." Sahut Tuan muda. "Tuan, kumohon jangan terus menghindari segala hal yang berhubungan dengan nona Celine." Ucap bibi Milly. "Aku tidak menghindari apapun bibi. Gadis itu tak ada hubungan apapun denganku selain pekerjaan di kantor, jadi tak ada yang perlu aku ketahui lebih lagi tentangnya selain hasil kerjanya." Sahut Tuan muda, lalu memeluk bibi Milly dan berterima kasih padanya.   Tuan muda segera berbalik melangkah untuk keluar dari dapur. "Nona Celine memiliki kekuatan yang besar, yang dia sendiri tidak menyadarinya." Ucap bibi Milly dan langsung menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu bibi?" Tanya Tuan muda setelah berbalik kembali menatap bibi Milly. "Kekuatan yang semalam menyelamatkan kita semua adalah berasal dari dirinya bukan saya, tapi dia melakukannya dengan tidak sengaja. Itulah mengapa saya sangat yakin bahwa dia tidak menyadari jika memiliki kekuatan besar itu." Sahut bibi Milly. "Siapa gadis itu sebenarnya bibi?" Tanya Tuan muda. "Saya belum tahu dengan pasti dan jelasnya, tapi saya dapat pastikan bahwa dia memanglah gadis takdir anda. Bahaya telah mengancam hidupnya, karena penyihir hitam telah mengetahui identitas nona Celine justru sebelum kita mengetahuinya." Sahut bibi Milly. "Kalau begitu, jauhkan gadis itu dariku. Kalian tak ingin dia dalam keadaan bahaya? maka jauhkan dia dariku jadi penyihir hitam tak akan mampu menemukannya." Ucap Tuan muda. "Jauh ataupun dekat dengan anda, nona Celine telah dianggap sebagai ancaman bagi keabadian penyihir hitam. Jadi tak akan ada lagi yang mampu melindunginya kecuali bersatu dengan anda." Sahut bibi Milly. "Bibi, yang benar saja?! Dia justru yang memiliki kekuatan luar biasa daripada aku! Mengapa jadi aku yang harus melindungi gadis itu?! Sungguh tak masuk akal! Sudahlah bibi, aku harus berangkat sekarang, sampai ketemu petang nanti." Ucap Tuan muda lalu berbalik melanjutkan langkahnya keluar dari dapur. Bibi Milly sungguh tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya saat ini, berbicara dengan Tuan muda justru sangat membuat segalanya menjadi lebih sulit.  ****   Petang hari. Tuan muda kembali bersama Otista ke istana. "Aku bersyukur Tuan muda kembali dengan selamat." Sapa bibi Milly saat melihat kedua pria itu masuk ke dalam istana. Grisella hanya acuh seakan sedang menunjukkan rasa kesalnya pada Tuannya. "Mengapa kamu memasang wajah cemberut mu?! Biasanya kamu sedang mengobrol dengan gadis itu jika dia ada disini." Tanya Tuan muda saat duduk di sofa samping Grisella. "Dia! Dia! Dia! Namanya itu Celine! Dia sudah pergi sejak siang tadi bersama dr.Hilda!" Omel Grisella dan membuat Tuan muda tersentak kaget. Ada sebuah rasa yang mencelos melompat keluar dari dalam hatinya, sakit dan nyeri hingga ke dalam tulang rusuknya. "Apakah dia sudah dalam keadaan baik? Bukankah aku meminta bibi Milly untuk menjaganya?" Tanya Tuan muda "Tak ada alasan baginya untuk tinggal menetap di istana ini! jadi dia putuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri!" Sahut Grisella. "APA?!! Dia kembali ke rumahnya?!!! Apakah dia tahu bahwa itu sangat berbahaya?!!! Oh sial!!! Otista, cepat jemput dia kembali kemari!" Seru Tuan muda dengan raut wajah cemas, langsung berdiri dan melangkah hendak pergi. "Tidak perlu! Untuk apa memaksanya tinggal disini?! Bukankah Anda yang menyuruh bibi Milly untuk menjauhkan dia dari anda?!!!" Seru Grisella dan seketika membuat langkah Tuan muda terhenti. Tuan muda teringat pada kalimatnya sendiri pagi tadi. "Dia akan tinggal disini, karena dia adalah sekretarisku! Aku tak mau membahayakan sekretarisku, karena sangat susah mendapatkan sekretaris yang bisa mengimbangi kesibukanku, cepatlah Otista!" Ucap Tuan muda lalu melangkah lagi menuju ke pintu. "Maaf tuan muda, Grisella benar. Maaf, aku tak bisa mengantarkan anda menjemput Celine kemari lagi. Jangan permainkan dia Tuan muda, jika Tuan muda tidak menginginkannya maka lepaskanlah dia bebas." Sahut Otista.   Tuan muda hanya menghela napas besar, berbalik dan menadahkan tangannya pada Otista. "Berikan kuncinya! Aku akan menjemputnya sendiri!" Ucap Tuan muda. Otista pun memberikan kunci itu padanya, dan Tuan muda bergegas pergi. Grisella, bibi Milly dan Otista dengan kompaknya saling tersenyum penuh kemenangan. "Masih saja tak mau mengakui bahwa Celine memanglah sangat penting baginya! Dasar keras kepala!" Ucap Grisella. "Mungkin kita salah dalam mendidiknya sehingga dia menjadi keras kepala dan angkuh seperti sekarang." Sahut bibi Milly lalu ketiganya tertawa bersama. "Apa yang sedang kalian tertawakan?" Sapa sebuah suara dari arah tangga. Ketiganya segera menoleh dan tersenyum. Celine. "Kamu sudah selesai mandi?" Grisella bertanya balik, Celine pun mengangguk. "Otista, kamu sudah pulang? Dimana Tuan muda?" Tanya Celine. "Dia barusaja pergi, dia sangat mencemaskan wanitanya." Sahut Otista sengaja menggoda Celine. "Wanitanya? Tuan muda sudah memiliki kekasih?" Tanya Celine dengan raut wajah terkejut bercampur kecewa dan sedih. "Belum menjadi kekasihnya, tapi kupastikan mereka akan menjadi sepasang kekasih malam ini." Sahut Otista lagi dengan menahan senyumannya. Celine menundukkan wajahnya, hatinya terasa diremas mendengar ucapan Otista. "Sudahlah, ayo kita makan saja, lalu beristirahat." Ucap bibi Milly. Merekapun makan malam tanpa Tuan muda.   "Jadi Tuan muda sedang mendekati seorang wanita? Kalau seperti itu untuk apa dia menciumku? bahkan lebih dari satu kali. Hhhuuuuhhhhhhffftttt!! Dia pasti hanya menganggapku gadis murahan... hhhuuufftttt!!!"   Pikiran Celine melayang saat makan malam.   Celine masih belum mengetahui bahwa tiga orang di sekitarnya mampu mendengar suara batinnya. "Nona Celine, apakah anda tidak menyukai makanan malam ini?" Tanya bibi Milly. "Eh! Tidak apa bibi, maaf, saya hanya merasa sedikit tidak enak badan, perut saya sedikit sesak." sahut Celine tersenyum dipaksakan. Ketiganya hanya saling menatap, mereka jadi merasa tak enak karena telah ikut mengorbankan perasaan Celine.  ****   "Ck! Dimana gadis itu?! Di rumahnya tak ada! Di apartment juga tak ada!" Keluh Tuan muda mulai putus asa dan bercampur rasa cemas karena tak juga menemukan Celine. Hari sudah hampir larut malam. Tuan muda tak juga menemukan Celine dimanapun. "Apa yang terjadi sebenarnya?! Mengapa aku tak bisa menemukan keberadaan gadis itu?! Sial! Cermin ajaib itu ada di istana. Aku harus kembali ke istana dan melihatnya melalui cermin ajaib!" Keluh Tuan muda frustasi. Tuan muda pun segera melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke istana. Hari menjelang tengah malam, dan dirinya hampir berubah wujud. "Aku harus bisa menemukannya sebelum tengah malam!" Ucap Tuan muda.  ****   Tuan muda tiba di istana, sepi tak ada siapapun yang menyambutnya. Tuan muda segera naik ke atas menuju kamarnya untuk mengambil cermin ajaib demi menemukan Celine. "Tuan muda, anda sudah pulang?" Tegur sebuah suara gadis yang sangat dicemaskan sedari tadi. Suara itu berasal dari bawah dan yang sangat membuatnya terkejut saat dia melihat siapa gadis itu. Tuan muda menatap gadis itu. Dia menatapnya sekian detik, ada sebuah ketenangan dalam hatinya melihat keberadaan gadis itu di istana nya. Tuan muda lalu melangkah turun dengan cepat dan memeluk gadis itu dengan erat. "Kamu sungguh membuatku gila!" Ucap Tuan muda berbisik. Celine sedikit melonggarkan jarak mereka dan mengernyitkan keningnya. "Apa yang telah kulakukan?" Tanya Celine.   Tuan muda tak menjawab, dia menatap sejenak kemudian melumat bibir yang setengah terbuka itu. Celine sempat kewalahan dengan ciuman rakus Tuan muda yang tiba-tiba. Tuan muda terus menciumnya, bahkan lidahnya mulai merasuk ke dalam dan membelit lidah Celine. Celine pun mulai diliputi gairah akibat ciuman Tuan muda, dia mulai membalasnya namun tidak rakus, hanya mengimbangi pergerakan bibir Tuan muda. Ciuman rakus, perlahan menjadi lembut dan semakin meningkatkan gairah panas dalam diri keduanya.  Tuan muda melepaskan bibir itu dan menatap wajah gadis dihadapannya sejenak, lalu Tuan muda mengangkat tubuh itu di depan dadanya dengan gaya pengantin. Celine hanya melingkarkan kedua tangannya di leher tuan muda. Tuan muda mulai membawa Celine naik ke atas menuju kamar pribadinya. Tuan muda menurunkan Celine di depan pintu kamar pribadinya, membuka pintu dan mengajaknya masuk lalu langsung mengunci kamarnya dari dalam. Tuan muda terus menatap Celine yang kini menengadah keatas karena jarak tinggi badan mereka lumayan jauh. Tuan muda lalu menarik tengkuk Celine dan mencium bibirnya lagi. Celine pun ikut membalas ciuman Tuan muda. Bibir Tuan muda mulai pindah ke rahang Celine, lalu turun ke lehernya.   Eugh... Celine terkejut dengan desahannya sendiri, dan berusaha menahan tubuh tuan muda, kembali membuat jarak diantara tubuh mereka. "Tuan muda, anda mabuk?" Tanya Celine, Tuan muda hanya menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipi Celine. "Maaf Tuan muda, apakah anda tidak berhasil menemukan wanita yang akan menjadi kekasih anda?" Tanya Celine lagi "Wanita? Menjadi kekasih?" Tuan muda balik bertanya dengan mengernyitkan keningnya. "Iya, tadi Otista bercerita bahwa anda sedang mencemaskan wanita anda yang malam ini akan menjadi kekasih anda." Jelas Celine. "Sial! Mereka sengaja mengerjai ku!" Batin Tuan muda. "Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku sangat mencemaskan dirimu karena mereka mengatakan bahwa kamu pergi meninggalkan istana? Apa kamu akan percaya?" Tanya Tuan muda. "Eh! Aku..?! Aku tidak meninggalkan istana.." Sahut Celine bingung. "Tapi mereka telah mengatakan hal sebaliknya padaku." Bisik Tuan muda.   Tuan muda kembali melumat bibir itu, waktu terus berlalu dan tengah malam hampir tiba sekitar dua jam lagi. Tuan muda sangat ingin menyelesaikan gairahnya pada Celine saat ini. Dia tak peduli lagi dengan apapun yang akan terjadi nanti. Tuan muda hanya ingin meluapkan sebuah perasaan terhadap Celine yang dia tak mengerti saat ini. Tuan muda kembali mengangkat tubuh Celine sambil terus melumat bibir Celine. Perlahan dia merebahkan tubuh Celine ke atas tempat tidurnya, dan menindih tubuh Celine. Mulai mencium leher Celine, menghisapnya hingga meninggalkan beberapa jejak disana, dengan tangan yang mulai membuka gaun tidur Celine. Celine sadar sepenuhnya, namun tubuhnya tak ingin menolak sentuhan Tuan muda.   "Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku sedang menyakiti kekasih Tuan muda, tapi aku juga tak mau Tuan muda berhenti menyentuhku, bagaimana ini?" Batin Celine yang tanpa dia ketahui dapat didengar oleh Tuan muda. "Aku pria bebas, aku tak memiliki kekasih siapapun." Bisik Tuan muda sambil menjilat cuping telinga Celine. Celine tersentak kaget. "Mengapa dia seolah dapat mengerti apa yang sedang aku pikirkan?" Batin Celine lagi, Tuan muda hanya tersenyum di ceruk leher Celine. "Apakah saat ini Tuan muda sedang memandangku sebagai w************n? Bagaimana ini? Apakah sebaiknya aku mengakhiri ini? Tapi aku tak ingin kehilangan sentuhannya di tubuhku?" Batin Celine terus berperang dalam dirinya.   Tuan muda akhirnya mengakhiri semua perbuatannya, dia berdiri dari atas tubuh Celine dan duduk di tepi tempat tidurnya. Celine juga duduk dan membenahi gaun tidurnya yang sudah terbuka itu. Tuan muda mengusap kasar wajahnya lalu berdiri dan berbalik menatap Celine. Celine merasa sangat canggung dengan tatapan Tuan muda yang dirasa sangat lekat mendalam.   "Apa ini yang pertama kali untukmu?" Tanya Tuan muda. Celine menganggukkan kepala. "Mengapa kamu tidak menolak?" Tanya Tuan muda lagi. "Maaf, aku...aku...entahlah aku sendiri tak mengerti, mungkin karena aku mulai menyukai Tuan muda." Sahut Celine ragu-ragu dan lirih di kalimat terakhirnya. Celine sungguh tak menyadari bahwa Tuan muda masih sanggup mendengar selirih apapun suaranya. "Kamu masih ingin melanjutkannya?" Tanya Tuan muda, Celine mengangguk namun tak berani mengangkat wajahnya. "Kamu tidak takut akan kehilangan kesucianmu?" Tanya Tuan muda lagi. "Tidak, pada akhirnya mungkin kesucian ini memang hanya untuk anda, baik sekarang ataupun esok atau kapanpun waktunya." Sahut Celine masih menunduk, Tuan muda tersenyum bahagia. "Apa yang akan kamu tuntut setelah memberikan kesucianmu padaku? Aku jelas tak bisa memberimu sebuah pernikahan, karena aku pria yang menyukai kebebasan." Tanya Tuan muda. "Aku...aku.... Aku tak akan menuntut apapun, ya aku tidak akan melakukannya, karena aku dengan sadar memberikannya pada anda." Sahut Celine tetap saja masih menunduk.   Tuan muda kembali mendekati Celine yang terduduk di tengah tempat tidur. Tuan muda mengangkat dagu Celine untuk menatapnya. "Aku ingin kamu membuka matamu dan menatapku selama permainan kita. Ingat! Panggil aku Devon selama permainan kita." Ucap Tuan muda dan Celine hanya mengangguk. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas panas mereka, hingga tubuh mereka menjadi polos seluruhnya. Malam ini Tuan muda bagai seorang dominan berada diatas tubuh Celine, mengangkat tubuh Celine menjadi berdiri, jongkok, duduk, tengkurap hingga memakai sebuah tali dan mengikat tangan Celine ke ujung tempat tidur, memposisikan Celine bagai seorang submisif. Celine terlanjur terbawa gairah yang menyengat seluruh pembuluh darahnya, panas, nikmat, dan tak ingin berhenti, hingga dia menuruti begitu saja segala yang Tuan muda perintahkan dan lakukan pada dirinya. Celine tak mampu berpikir apapun karena Tuan muda terus membawanya pada puncak kenikmatan yang belum pernah dia rasakan selama ini. Leher, gunung kembarnya, kedua pucuk merah muda di dadanya, perut, pinggang, punggung, gundukan kenyal dibagian belakang, paha, betis, s**********n, area inti dan sekitarnya, semua sudah disentuh oleh tangan Tuan muda, semua sudah di jilat dan dihisap oleh lidah Tuan muda.   Banyak jejak yang ditinggalkan Tuan muda pada seluruh tubuh Celine. Kenikmatan terus membanjiri inti Celine. Lelah??? Tuan muda tak membiarkan Celine merasakan kelelahan, tapi hanya kenikmatan dan kenikmatan terus menjalari Celine. "Celine, lihatlah saat aku memasukimu!" Perintah Tuan muda dan Celine menatapnya, menatap inti Tuan muda yang telah berdiri kokoh di depan liang intinya, siap menghujam masuk ke dalam dirinya.   Sssshhhhhh.....aaahhhhhh!!! Celine kesakitan, napasnya memburu cepat, mengatur dirinya sendiri untuk dapat menahan rasa sakit di bagian intinya. Tuan muda menambah lagi bagian intinya yang masuk ke dalam lubang inti Celine yang telah banjir.   Sa..kit..! Aaahhhhhh!! Air mata mulai mengalir di pipi Celine, perih sungguh segala kenikmatan yang tadi sekejap menghilang karena rasa sakit yang terlalu di bagian intinya. "Kamu ingin berhenti?" Tanya Tuan muda dan Celine hanya memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya, napasnya memburu karena dia sangat berusaha menahan rasa sakitnya. Celine merasa bagai dirinya dibilah dengan menggunakan pisau tajam dibawah sana.   Jleb! AAAAHHHHH!!!!!! Celine berteriak saat seluruh inti Tuan muda masuk menyatu dengan inti dirinya. Tuan muda membungkuk dan menjilat air mata yang mengalir di pipi Celine. "Aku akan membuatmu segera melupakan rasa sakitnya." Bisik Tuan muda. Celine mencengkram kencang ujung tempat tidur dimana tangannya diikat oleh Tuan muda. "Aku percaya padamu Devon. Lakukanlah." Ucap Celine. Tuan muda merasa inti Celine sudah cukup mampu menerima dirinya, dia lalu bergerak perlahan maju mundur, keluar masuk. Tuan muda sungguh menepati janjinya, mengganti kesakitan Celine dengan kenikmatan yang lebih lagi dari yang sebelumnya.   Eugh... Sssshhhhh... Aaaahhh.... Ouuhhh... Terus bersahutan desahan kenikmatan dari keduanya.   Tuan muda menatap langit diluar sana, waktunya sudah hampir tiba, dia tak ingin membuat Celine ketakutan. Tuan muda mempercepat tempo pergerakan nya di dalam inti Celine, membuat dirinya dan Celine bersamaan mencapai puncak tertinggi dari gunung gairah yang telah mereka daki satu jam ini.   AAAHHHHH!!!! Keduanya berteriak bersamaan, Tuan muda ambruk ke atas tubuh Celine. Perlahan mulai melepaskan ikatan pada tangan Celine. Napas yang masih memburu di d**a keduanya akhirnya mulai mereda dan membawa mereka pada kantuk yang sangat tak tertahan karena lelah baru mereka rasakan saat ini. Tuan muda membawa tubuh mungil Celine masuk dalam dekapannya. Celinepun memeluk tubuh kokoh Tuan muda dan tertidur. Tuan muda merasa kecemasannya di hari lalu terbukti tidaklah benar. Celine telah terbukti kuat menahan besar tubuhnya dan tak ada luka apapun pada tubuh Celine, hanya jejak kepemilikannya yang tertinggal di seluruh tubuh Celine, membuat Tuan muda tersenyum lebar. Tuan muda sedikit bergeser dari tubuh Celine, perlahan beranjak meninggalkan tempat tidurnya dan memakaikan selimut pada tubuh polos Celine. Tuan muda segera membersihkan dirinya dan memakai pakaian tidurnya lalu menatap sejenak pada Celine yang tertidur lelap. Tuan muda lalu melangkah keluar dari kamarnya.    Diluar kamar Grisella telah berdiri menunggu dirinya dengan senyuman yang sangat lebar. Grisella baru saja akan membuka mulutnya untuk berbicara. "Jangan membahas kejadian di dalam kamar pribadiku! Itu privasiku!" Sanggah Tuan muda seolah dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan Grisella katakan padanya. "Baiklah, aku ikut merasa senang mengetahuinya." Sahut Grisella lalu hanya mengikuti langkah Tuan muda menuju kamar yang ada di sebelahnya. Grisella lalu mengunci kamar itu dari dalam saat Tuan muda telah berubah wujud. ****   "Pagi bibi Milly." Sapa Celine. Bibi Milly melonjak kaget karena ini belumlah benar-benar pagi. Matahari saja baru akan mengeluarkan sinar jingganya sesaat lagi. "Nona Celine, apakah anda sulit tidur?" Tanya bibi Milly. "Aku sangat tidur nyenyak bibi, aku hanya terbangun karena kedinginan dan haus." Sahut Celine sambil mengisi segelas air minum. "Apakah bibi selalu bangun di saat semua masih terlelap?" Tanya Celine. "Banyak hal yang harus aku lakukan sebelum semua terbangun nona Celine." Sahut bibi. "Boleh aku menemani bibi disini? Sepertinya aku sudah tidak mengantuk lagi." Ucap Celine. "Bagaimana jika mengobrol sambil duduk di ruang tengah?" Usul bibi Milly dan mereka pun melangkah menuju ruang tengah dan duduk di sofa, mengobrol tentang segala sesuatu.   "Celine? Bibi Milly? Apa yang sedang kalian lakukan sepagi ini?" Tanya Grisella yang masih berada di tengah tangga. "Grisella? Kamu darimana? Bukankah kamar tidurmu ada di bawah?" Tanya Celine sedikit curiga dengan Grisella. "Eh! Ehm..a..aku..aku..hanya ingin duduk di balkon saja, aku sulit tidur semalam. Tanpa sadar aku malah tertidur di balkon." Sahut Grisella tersenyum canggung dan turun ke bawah. "Grisella! gadis itu menghilang!" Seru sebuah suara sebelum sang empunya suara menampakkan dirinya. "Tuan muda?" Sebut Celine dengan lirih.   Hatinya langsung terasa sangat nyeri dan sakit, dengan dugaan yang tiba-tiba disimpulkan oleh kehadiran dua orang itu secara bersamaan dari atas. Tuan muda menatap ke arah Celine yang ada di bawah, begitu juga dengan Grisella dan bibi Milly yang diam menatap reaksi Celine.   "Ouh Tuhan, jangan katakan bahwa pria itu barusaja keluar dari kamar yang sama dengan Grisella! Apa yang mereka lakukan dari semalam? berada di satu kamar hanya berdua? Lalu apa yang dia lakukan padaku malam tadi? Ouh tidak! Tidak! Tidak! Ini semua salahku! Aku yang bodoh! Aku yang secara sadar mau menyerahkan kesucian ku padanya tanpa menuntut apapun! Ya akulah yang bodoh! Akulah yang menjadi gadis murahan, gadis penggoda disini. Ini semua salahku, terlalu berharap lebih pada pria yang telah jujur mengatakan tak mau terikat dalam pernikahan."  Batin Celine dengan sangat nyeri dan sakit menatap ke atas pada Tuan muda, tanpa sadar air mata kembali mengalir di pipinya.   Ketiga orang disekitarnya merasa tersentak mendengar suara batin Celine yang tersakiti. "Nona Celine, anda baik-baik saja?" Tanya bibi Milly. Celine buru-buru menghapus airmatanya. "Iya bibi, maaf sepertinya aku kembali mengantuk dan ingin tertidur di kamarku, di kamar tamu." Sahut Celine seolah menekankan dalam kalimatnya bahwa dia hanyalah tamu disini yang tak boleh menuntut apapun pada Tuan rumahnya.   Celine lalu naik ke atas melewati tubuh tuan muda tanpa menatapnya. Tuan muda mencekal tangan Celine saat gadis itu hendak melewatinya begitu saja . "Tenanglah Tuan muda, aku sudah berjanji tak akan menuntut apapun dari anda. Tak perlu merasa bersalah karena akulah yang menyerahkannya dengan kemauanku sendiri tanpa paksaan." Ucap Celine lalu menarik tangannya dan segera berlari masuk ke kamar tamu dimana seharusnya dia tertidur.   Celine menangis dengan derasnya dibalik pintu yang terkunci itu sambil menutup mulutnya supaya tak terdengar keluar. Gadis itu tak menyadari bahwa Tuan muda bahkan Grisella juga bibi Milly masih mampu mendengar suara isak tangisnya. Tuan muda hanya menatap pintu tertutup itu, tak ada yang mampu dia lakukan meskipun dia sangat ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan tangisan gadis itu. "Bibi, bagaimana ini? Celine pasti telah salah paham terhadap aku dan Tuan muda." Tanya Grisella cemas. Bibi Milly tersenyum "Cemburu adalah salah satu wujud bahwa dia sudah mencintai Tuan muda. Kabar baiknya semalam nona Celine telah memberikan kesuciannya pada Tuan muda karena cintanya pada Tuan muda. Kita hanya bisa berharap bahwa semalam mereka berdua tak ada yang memakai pengaman, sehingga nona Celine bisa segera hamil." Sahut bibi Milly "Tapi bagaimana jika dia jadi membenci Tuan muda dan diriku?" Tanya Grisella lagi. "Kita lihat nanti, saat dia keluar dari kamarnya, sekarang nona Grisella harus segera beristirahat." Sahut bibi Milly. Grisella hanya menghela napas berat dan mengangguk lalu melangkah menuju ke kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD