BAYANGAN HITAM

2933 Words
"Bagaimana jika Celine tidak mau ikut dengan kita? Dia tidak tahu kenyataan yang sebenarnya tentang kita." Tanya Otista.  "Paksa saja dia! Tinggalkan saja rumah kumuh itu! Kita bisa membeli perlengkapan untuknya tinggal di istana." Sahut Tuan muda. "Kenapa anda ingin melindungi Celine? Bukankah Anda menolak bahwa Celine adalah takdir anda?!" Tanya Otista lagi. "Menolak keberadaannya, bukan berarti aku harus membiarkan gadis yang tidak berdosa menjadi korban sihir hitam itu juga kan?" Sahut Tuan muda selalu memiliki alasan untuk berkelit dan menolak Celine.   Otista sungguh kesal, menyerah dengan kerasnya hati tuan muda untuk menerima Celine sebagai gadis takdirnya. "Aku tak mungkin bersamanya Otista, sungguh dia terlalu sempurna bagi monster berbulu sepertiku. Jadi lebih baik aku menolaknya, karena aku sudah tak mampu menerima penolakan lagi dari gadis itu, setelah sekian banyak penolakan pada masa kecilku, karena monster berbulu dalam diriku ini." Ucap Tuan muda dan Otista merasa teriris hatinya mendengar kalimat itu. Otista sangat menyayangi tuan muda, dia telah menjaga Tuan muda sepenuh hidupnya dan hatinya sejak Tuan muda bayi, rasanya ikut sakit melihat Tuan muda lebih memilih menyendiri daripada ditolak. "Dia tak akan menolak anda Tuan muda, saya bisa pastikan itu. Sungguh! dia tetap bisa memperhatikan diri anda meskipun dia barusaja dibuat kesal dan marah oleh anda." Sahut Otista. "Otista dia tak mungkin menolakku, tapi dia juga tak mungkin mencintaiku. Dia hanya akan merasa kasihan padaku. Aku tak mau akan hal itu."ucap Tuan muda. "Baiklah Tuan muda, kita sudah sampai, anda yang akan menjemputnya atau aku?" Sahut Otista saat tiba kembali di depan rumah Celine. "Lebih baik dirimu yang menjemputnya, dia lebih menurut dengan ucapanmu daripada ucapanku." Ucap Tuan muda.   Otista pun segera turun dan menuju ke rumah Celine. Tak lama kemudian Otista dan Celine sudah masuk kembali ke dalam mobil. "Terbukti kan?! Lebih mudah kamu yang bicara daripada diriku." Batin Tuan muda bicara pada Otista. "Tolong pejamkan mata anda Tuan muda, lebih baik anda tidur selama perjalanan, daripada membuatnya kesal." Batin  Otista sambil tersenyum penuh arti dan segera menjalankan mobil pergi dari lingkungan itu. Celine menoleh ke belakang dan melihat Tuan muda yang hanya diam dengan mata terpejam, lalu menghadap ke depan lagi. "Tidakkah sebaiknya kita membawa Tuan muda ke rumah sakit?" Tanya Celine pada Otista. "Tuan muda sudah memiliki dokter pribadi, tak perlu ke rumah sakit." Sahut Otista. "Apakah dia sering mendadak menjadi lemah seperti ini? Penyakit apa sebenarnya yang ada dalam diri Tuan muda?" Tanya Celine lagi. "Hanya penyakit yang biasa dimiliki oleh pria single." Sahut Otista sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tuan muda melalui kaca tengah.   "Kamu membohonginya Otista?! Sial! Kenapa kamu membuatku jadi pria yang lemah dan penyakitan dihadapannya?!" Batin Tuan muda protes pada Otista. "Terbukti nyata, dia selalu mencemaskan anda Tuan muda." Batin Otista dan ada rasa senang juga hangat dalam hati Tuan muda saat ini. "Itu karena dia belum mengetahui monster berbulu dalam diriku ini."  Batin Tuan muda menyanggah ucapan Otista. "Bagaimana jika kita menunjukkan padanya malam ini? Saya tahu betul anda sangat ingin menyentuh dan menidurinya. Kita akan ciptakan suasananya dan anda yang meneruskan berikutnya." Sahut Otista dalam batinnya. "Kamu pasti akan membenciku besok, karena kamu harus mengubur mayatnya di esok hari." Ucap Tuan muda melalui pikirannya. "Aku berani bertaruh bahwa dia akan dalam keadaan baik-baik saja besok pagi." Sahut Otista "Otista, apakah Grisella tak akan cemburu jika aku yang merawat Tuan muda?" Tanya Celine mendadak menghentikan telepati Otista dan Tuan muda. "Tidak mungkin! Grisella itu menyayangi Tuan muda sebagai adiknya saja. Kami bertiga sudah bersama sejak Tuan muda berusia 10 hari." Sahut Otista. "Ou...senang ya bisa memiliki saudara, jadi meski tak ada orang tua tapi kalian masih memiliki saudara untuk berbagi kisah juga saling menjaga dan menyayangi." Ucap Celine sedikit bersedih. "Sudahlah jangan bersedih, kamu bisa menganggap kami saudaramu juga." Sahut Otista. "Apa Tuan muda mau menganggapku saudaranya? Sepertinya dia sangat tidak menyukai diriku." Ucap Celine. "Dia??? Kita coba dengan sabar dan perlahan ya, dia pasti bisa menyukaimu." Sahut Otista menghibur Celine. Celine menghela napas panjang dan mengangguk tersenyum. "Celine, bagaimana dengan dirimu? Apa kamu menyukai Tuan muda?" Tanya Otista "Eh! aku?! Hmmm....secara wanita aku menyukainya, fisiknya sangat bagus, tapi sayang sekali dia angkuh dan sering membuatku kesal!" Sahut Celine mengira bahwa Tuan muda memang pingsan di belakang sana. "Kalau dia memintamu untuk jadi istrinya, apa kamu mau?" Tanya Otista lagi. "Haisshh!!! Otista! Dia tidak menyukaiku! jadi kamu jangan bertanya yang aneh-aneh! Tidak mungkin lah dia akan menjadikanku istrinya! menjadi sekretarisnya saja ditolak dari awal!" Sahut Celine "Otista, apa Tuan muda sering membawa wanita sexy pulang untuk menginap?" Tanya Celine dan Otista mengangguk "Apa mereka tidur bersama?" Tanya Celine lagi, dan Otista mengangguk lagi. "Apa Tuan muda pernah menghamili salah satu dari wanita itu?" Tanya Celine lagi, dan Otista hanya menggelengkan kepala. "Apa?! Tidak pernah ada satupun yang hamil?! Apa Tuan muda memiliki masalah dengan kesuburannya??" Tanya Celine lagi dan kali ini Otista mendadak terbatuk-batuk. uhuk! uhuk! uhuk!   "Sial! Beraninya dia meragukan kejantananku! Baiklah! Aku akan membuatmu hamil anakku secepatnya!" Batin Tuan muda dengan tersinggung, dan Otista tersenyum mendengar suara batin Tuan muda. "Tuan muda selalu memakai pengaman setiap melakukan dengan wanita-wanita itu. Dia sangat menjaga kebersihan dirinya, supaya tidak terkena penyakit kelamin." Jawab Otista dan Celine mengangguk paham. "Celine, apakah kamu pernah tidur dengan kekasihmu?" Tanya Otista dan Celine hanya menggelengkan kepala. "Kenapa?" Tanya Otista. "Aku tak pernah berani menjalin hubungan kekasih dengan seseorang. Waktuku habis untuk membagi perkuliahan ku dengan pekerjaanku juga merawat ibuku." Sahut Celine. "Apa kamu pernah jatuh cinta dan menyukai seseorang pria?" Tanya Otista lagi. "Tentu saja pernah, aku wanita normal! Tapi aku tak berani mengungkapkannya, dia pasti menolakku! jadi lebih baik aku menyukainya dari jauh saja." Sahut Celine. "Apa kamu pernah berciuman dengan seorang pria?" Tanya Otista. "Tadinya belum pernah, hingga beberapa waktu lalu ada yang mencuri first kiss ku."sahut Celine, Otista langsung menoleh menatap Celine disampingnya dan mengernyitkan keningnya. "Aku kah first kissnya?" Batin Tuan muda tanpa sadar karena begitu bahagianya.   Otista yang mendengar pun segera menoleh ke belakang, Tuan muda menjadi gugup dan langsung menatap ke jendela disampingnya, tak ingin menatap Otista. "Apakah Tuan muda yang mencuri first kiss mu?" Tanya Otista langsung tembak di titik utama. "Eh! Ehm...i.itu...ssstttttt....!!! Kumohon jangan cerita pada Grisella ya, tadi itu hanya tidak sengaja, terjadi begitu saja. Kumohon jangan cerita pada Grisella ya." Sahut Celine dengan memohon. "Katanya tidak menyukai??? Tapi malah jadi first kiss nya!!!" Goda Otista pada Tuan muda. "Kamu tidak dengar dia bicara?! Itu tidak sengaja!" Sahut Tuan muda mengingkari yang sebenarnya.   Mereka pun akhirnya tiba di istana Freonheart. Bibi Milly dan Grisella menatap bingung pada ketiganya saat mereka masuk ke dalam istana. "Apa yang terjadi pada Tuan muda?" Tanya Grisella cemas karena Otista harus memapah tubuh Tuan muda yang terlihat lemas. "Nanti aku ceritakan padamu." Sahut Otista. Otista merebahkan Tuan muda di atas sofa. "Celine, tolong jaga Tuan muda sebentar ya, aku akan menghubungi dokter Hilda." Ucap Otista pada Celine, Celine pun mengangguk lalu duduk di sofa yang satu lagi.   Otista memberi kode pada Grisella dan bibi Milly supaya mengikutinya ke belakang. "Apa yang terjadi sebenarnya Otista?" Tanya Grisella tak sabar. "Aku dan Tuan muda melihat sesosok bayangan hitam di lingkungan rumah Celine. Kami tak tahu apa maksudnya, karena dia langsung menghilang saat kami mendekatinya. Tuan muda khawatir dengan keselamatan Celine, jadi dia membawa Celine ke istana. Aku harus membuat drama Tuan muda sakit, sehingga Celine mau ikut dengan kami ke istana." Jelas Otista. "Bayangan hitam?" Tanya bibi Milly dan Otista mengangguk. "Dia pasti penyihir hitam yang mengirim kutukan pada Tuan muda. Dia pasti sudah mengetahui tentang keberadaan nona Celine. Bahaya! Jika nona Celine sampai tertangkap olehnya." Ucap bibi Milly lagi. "Aku tak mengerti bibi." Sahut Grisella. "Penyihir hitam itu sama seperti kita, dia menjadi abadi saat kutukannya belum hilang dari tubuh Tuan muda. Dia pasti tak ingin Tuan muda lepas dari kutukannya, karena itu berarti dia akan musnah bersamaan dengan kekuatan sihir hitam dalam diri Tuan muda." Jelas bibi Milly. "Sial! Kita harus segera membuat Tuan muda bersatu dengan Celine dan membuat Celine hamil!" Ucap Otista. "Tapi bagaimana caranya? Bibi bisakah menggunakan tongkat sihirmu untuk menyatukan mereka?" Tanya Grisella. "Ingat nona Grisella bahwa keturunan yang lahir haruslah keturunan dari cinta suci seorang wanita berdarah suci. Jadi tak mungkin memakai tongkat sihirku." Sahut bibi Milly. "Mereka sudah berciuman tadi, Celine sudah mengakuinya. Itu berarti dalam diri mereka mulai ada sebuah perasaan. Kita harus membuat mereka terbuka dan saling mengakui perasaan mereka." Ucap Otista. "Apa?! Mereka berciuman?! WOW!!! Tuan muda ternyata bergerak cepat." Ucap Grisella berbinar senang. "Iya, tapi mereka mengatakan bahwa itu tidak sengaja terjadi." Sahut Otista. "Apa ada orang tidak sengaja berciuman? Aku tak percaya!" Ucap Grisella. "Aku juga berpikir seperti itu, mereka pasti saling menutupi perasaan masing-masing." Sahut Otista. "Selama kita bisa menahan nona Celine untuk tinggal di istana lebih lama lagi, pasti mereka akan lebih menjadi dekat lalu saling mencintai." Ucap bibi Milly. "Bibi benar." Sahut Otista dan Grisella bersamaan.  ****   Sementara yang lain berada di bagian belakang istana. Celine menatap wajah Tuan muda. Ada sebuah desir yang mencengkeram hatinya dan berputar-putar di perut saat dirinya kembali teringat pada ciuman mereka sore tadi. Celine bingung dan tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, dan itu membuat inti bawahnya melelehkan cairan. "Mengapa aku ingin merasakannya lagi? Dia begitu lembut, beda sekali dengan cara bicaranya yang angkuh. Mungkinkah bisa begitu? Bibir yang selalu membuatku kesal itu, bisa menjadi bibir yang lembut saat mencium??? Tak masuk akal." Ucap Celine merenung sendiri. Suara Celine meski pelan namun mampu di dengar oleh tuan muda. "Apakah dia akan marah jika aku menciumnya lagi saat dia pingsan seperti ini? Ah! Tidak! Mengapa aku jadi sangat murahan seperti ini?! Tapi sungguh aku ingin merasakan bibirnya lagi. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Celine lagi pada dirinya sendiri. Celine mulai melorot dari sofanya dan perlahan mendekati wajah Tuan muda yang terbaring di sofa. Celine menatap wajah itu dengan sangat dekat, dia menjilat bibirnya sendiri, dadanya bergemuruh kencang, sangat ingin merasakan bibir itu lagi pada bibirnya. Celine pun akhirnya memberanikan diri mengecup bibir Tuan muda sesaat, namun saat dirinya hendak menjauh, tangan Tuan muda telah menahan tengkuknya. Celine merasa terkejut dan sedikit takut kalau Tuan muda akan marah.   Tuan muda menarik tengkuk Celine dan kembali membuat bibir mereka menyatu lagi. Tuan muda memang masih memejamkan matanya, tapi bibirnya terus melumat dan menghisap bibir Celine, begitu juga dengan Celine. Keduanya hanyut dalam kenikmatan ciuman itu. Tuan muda melepas bibir mereka dan menatap wajah Celine yang merona tersipu malu. Tuan muda tersenyum pada Celine.   "Terima kasih." Bisik Tuan muda. Sebuah getaran mengalir di seluruh tubuh Celine mendengar suara Tuan muda yang berbisik lembut padanya. Celine hanya mengangguk dan tersipu malu, lalu duduk kembali ke sofanya. Tuan muda pun beranjak duduk dari rebahannya. Keduanya saling menatap dan tersenyum, apalagi Celine dia bercampur merona tersipu malu-malu.   "Anda sudah sadar tuan muda?" Tanya bibi Milly yang kembali masuk bersama dengan Otista dan Grisella. "Iya bibi, saya sudah lebih baik." Sahut Tuan muda. "Syukurlah, anda membuat kami cemas tadi." Ucap Grisella duduk di samping Tuan muda. "Tenanglah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku ingin beristirahat di kamarku. Bibi Milly tolong tunjukkan kamar bagi Nona Celine." Ucap Tuan muda lalu berdiri dan menuju ke tangga untuk menuju ke kamarnya. " Iya Tuan muda." Sahut bibi Milly.   Celine hanya menatap bingung, tak mengerti, juga galau pada Tuan muda yang hanya melangkah pergi naik ke atas tanpa berkata apapun pada dirinya. "Ayo nona Celine." Ajak bibi Milly menyadarkan Celine dari tatapannya pada Tuan muda. "Iya bibi, ayo! Grisella, Otista, aku ke kamar dulu ya." Sahut Celine pada bibi Milly sekaligus berpamitan pada Grisella dan Otista. "Apa kamu lihat tatapan Celine pada Tuan muda barusan?" Tanya Otista pada Grisella saat mereka tinggal berdua saja.  "Iya, Celine sepertinya mulai menyukai Tuan muda dan berharap lebih padanya." Sahut Grisella. "Semoga saja Tuan muda tidak terlalu mengeraskan hatinya dan menolak Celine." Ucap Otista. "Semoga saja." Sahut Grisella. ****   Hari sudah sangat larut malam, makan malam telah selesai dan masing-masing kembali ke tempat mereka. Celine sedang berdiri di dekat jendela besar di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Tuan muda. Dia menatap keluar pada pohon-pohon tinggi yang ada di hutan sana, meski malam hari namun hutan itu tidak terlalu gelap, ada sinar rembulan yang menerangi hutan itu. Celine kembali teringat pada ciuman tadi, sambil mengusap bibirnya sendiri.   "Mengapa Tuan muda justru mengatakan terima kasih padaku? Bukankah biasanya setelah ciuman itu akan menjadi romantis? Setidaknya katakan bibirmu manis, aku suka bibirmu, kamu cantik, atau apalah itu, bukannya malah berterima kasih!" Keluh Celine bingung dengan sikap Tuan muda. "Bukankah dia sering tidur dengan banyak wanita?! Jadi tidak mungkin kalau dia tidak bisa merayu wanita atau berkata manis kepada wanita kan?!" Celine membuang napas berat. Saat dia tengah memikirkan ciumannya dan mengeluh tentang sikap Tuan muda, seketika matanya melihat sekelebat bayangan hitam yang terbang meloncat-loncat berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Celine mengucek matanya berkali-kali memastikan lagi penglihatannya.   "AAAAAAAA!!!!! HAAANTUUUUUUU!!!" teriak Celine sangat keras sambil naik ke tempat tidur dan menutup dirinya penuh dengan selimut. Tuan muda segera melesat masuk ke dalam kamar Celine, di susul oleh Otista dan Grisella juga bibi Milly. "Hiiiii....hantu..ada hantu...tolong, tolong aku..." Ucap Celine dari balik selimut dengan ketakutan. Tuan muda segera menarik selimut itu, sempat tertahan karena Celine menggenggam erat ujung selimut di tubuhnya. "Hei! Ini aku! Ada apa?! Lepaskan selimutnya!" Seru Tuan muda.   Grisella hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Tuan muda yang justru membuat Celine semakin menggigil ketakutan. Grisella mendekati tempat tidur dan naik  ke atasnya lalu memeluk tubuh Celine. "Celine, tenanglah, ini aku Grisella." Panggil Grisella. Celine membuka dirinya dari selimut, menoleh ke arah Grisella lalu memeluknya erat, matanya terpejam. "Ada hantu! Aku melihat hantu! Dia disana! Dia terbang di pohon-pohon itu!" Ucap Celine sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan Grisella namun tangannya menunjuk ke arah keluar jendela. Tuan muda segera memeriksa ke arah yang dimaksud oleh Celine,melihat keluar, tapi tak ada apapun. "Tak ada apapun, kamu melihat apa sebenarnya?!" Ucap Tuan muda, dan Celine perlahan keluar dari pelukan Grisella. "Eh! Tidak ada apapun??? tapi...tadi aku melihat bayangan hitam seperti seorang manusia yang memakai jubah tertutup terbang kesana kemari meloncat dari pohon ke pohon." Sahut Celine menjelaskan. Semua hanya diam saling menatap penuh arti.   "Penyihir hitam" Batin keempat orang disekitar Celine.   "Sungguh! Aku tidak berbohong! Aku sungguh melihat hantu itu terbang kesana kemari! Grisella, kumohon percayalah padaku, aku tidak bohong!" Ucap Celine lagi menyakinkan semuanya. Celine turun dari tempat tidurnya dan mendekati Otista. "Aku tidak berbohong! percayalah Otista!" Ucap Celine lagi "Iya Celine kami percaya padamu, kamu tenang saja ya, kamu tutup saja jendelanya dengan rapat, dan jangan pernah membukanya." Sahut Grisella. "Grisella, aku tidur bersamamu saja ya. Aku takut tidur sendirian." Pinta Celine. Semua disana bingung, karena Grisella setiap malam selalu bertugas menemani Tuan muda berburu ataupun diam di dalam kamarnya, saat Tuan muda dalam wujud singa.   "Ijinkan saya yang menemani nona Celine, saya akan tidur di sofa sana Tuan muda." Ucap bibi Milly menawarkan diri. "Tidak! Tidak! Bibi, tidurlah di atas tempat tidur bersamaku. Aku tidak masalah berbagi tempat tidur denganmu." Sahut Celine menyela Tuan muda yang hendak berucap. Semua langsung menatap ke arah tuan muda. "Gadis sebaik ini masih akan anda tolak Tuan muda?!" Batin Otista melalui batinnya. "Otista benar, anda akan menyesal jika menolak gadis ini. Sang pencipta sungguh sangat berbaik hati pada anda Tuan, mengirimkan gadis takdir anda dalam rupa gadis yang cantik rupanya juga hatinya." Grisella ikut menyahut dalam batinnya.   Tuan muda menatap dalam pada Celine dan menghela napas panjang. "Baiklah bibi Milly, temanilah dia malam ini." Ucap Tuan muda. "Baik Tuan muda, sebaiknya anda segera beristirahat, karena sudah hampir tengah malam." Sahut bibi Milly mengingatkan waktu. "Maafkan saya Tuan muda, Grisella, Otista, juga bibi Milly, karena sudah mengganggu istirahat kalian." Ucap Celine menundukkan kepalanya pada semua orang. "Sudahlah, lebih baik kamu mencoba untuk tertidur, lagipula sudah larut malam begini untuk apa kamu masih melamun di dekat jendela?!" Sahut Tuan muda sambil melangkah menuju pintu. "Andai dirimu tahu, aku sedang memikirkan ciuman kita hari ini dan sikap acuhmu setelah ciuman itu. Aku tak mengerti mengapa kamu begitu acuh padaku setelah ciuman romantis kita??? Apa arti dari ciuman itu bagimu??? Mengapa kamu justru mengucapkan terima kasih atas ciuman itu???" Batin Celine berucap dan langsung membuat Tuan muda menghentikan langkahnya, disertai tatapan Grisella, Otista dan bibi Milly langsung tertuju pada Tuan muda.   Celine tidak mengetahui bahwa semua orang di sekitarnya mampu mendengar suara batin dirinya. Tuan muda menoleh dan menatap Celine dengan mendalam, lalu melangkah mendekati Celine.   "Tuan muda, sudahlah." Ucap Grisella menahan langkah Tuan muda. Grisella takut Tuan muda akan marah pada Celine.  Tuan muda tetap melanjutkan langkahnya mendekati Celine dan tetap menatapnya. "Tuan muda, maafkan dia, dia tak tahu tentang kita." Ucap Otista berusaha mencegah Tuan muda menyakiti Celine. Tuan muda tetap melangkah hingga tepat berdiri dihadapan Celine. Celine mendongak ke atas menatap tuan muda yang menjulang tinggi dihadapannya. Bibi Milly sudah menyiapkan tongkatnya berjaga jika Tuan muda akan menyakiti Celine.   "Aku mengucapkan terima kasih supaya kamu lebih semangat untuk melakukannya lagi, bukankah kamu yang berkata bahwa ucapan terima kasih itu membuat seseorang lebih bersemangat lagi???." Ucap Tuan muda lalu menangkup wajah Celine dalam dua tangan kokohnya dan mengecup kening Celine dengan lembut.   Semua disana bernafas lega dan tersenyum melihat sikap lembut Tuan muda pada Celine. Celine menatap bingung, tak percaya dan berbagai perasaan lainnya. "Tidurlah, besok kamu harus bangun pagi untuk berangkat bekerja." Ucap Tuan muda lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu. Grisella dan Otista juga ikut keluar dari kamar itu, hanya tertinggal Celine dan bibi Milly.   "Sungguh pria yang tidak bisa ditebak. Kadang membuat kesal, kadang lembut, kadang baik." Ocehan Celine manyun hingga membuat bibi Milly tersenyum.   Hari sudah lewat tengah malam, Tuan muda sudah menjadi singa, dan malam ini dia ingin berburu di hutan. Grisella membawa Tuan muda keluar menuju ke hutan, dan melepasnya berburu disana. Dhuaar!!! Bluuubb!!! Suara gemuruh dari arah istana menimbulkan cahaya yang sangat terang. Kebakaran. Grisella menoleh ke arah istana dan melihat asap gelap sudah mengepul di udara. Grisella segera memanggil Tuan muda yang sedang berburu liar. Mereka segera melesat cepat kembali ke istana. Semua pepohonan di sekeliling istana telah terbakar, Grisella dan Tuan muda tidak dapat melewatinya.   "OTISTA!!!! BIBI MILLY!!!! CELINE!!! DIMANA KALIAN?!" teriak Grisella memanggil para penghuni istana. Terlihat beberapa pelayan berlarian keluar dari istana, namun mereka tidak bisa melewati api yang membesar di sekeliling istana.   "OTISTA!!! CELINE!!! BIBI MILLY!!! KUMOHON BERSUARA LAH!!" Grisella terus berteriak memanggil ketiganya, Tuan muda tak bisa tinggal diam, dia berusaha melepaskan diri dari kekangan Grisella. "Jangan Tuan muda! Anda bisa terluka! Apinya sangat besar!" Seru Grisella menahan singa itu tetap pada kekangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD