"Itu karena saya yang memborgol nona Lisa. Ia mencoba kabur saat pejagaan lengah. Tapi ia memberontak dan membuat lengannya tergores."
Bugh!
Tinjuan keras dilayangkan Allegra begitu cepat hingga membuat Romeo ambruk seketika. Lisa sudah memelik melihat Romeo jatuh tersungkur.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"pekik Lisa pada Allegra yang menahan rasa cemburunya.
"Iya! Bela saja dia. Aku memukulinya karena dia berani memperlakukanmu seperti ini. Hukuman yang berlaku harus adil. Dan dia seenaknya menghukummu seperti ini."
"Aku memang salah. Tapi-"
"YA. BELA SAJA DIA LISA. BELA KEKASIHMU INI. "
"Dia bukan kekasihku. Kenapa kau begitu tak percaya?"
"Dengan segala kedekatanmu? Pembelaanmu padanya? Kemesraanmu? Buktinya sudah nyata Lisa. "
"Terserah apa katamu. Aku lelah. Badanku terasa sakit semua."ucap Lisa menghentikan perdebatannya.
Allegra menggeram kesal sebelum ia meninggalkan mansionnya dan pergi ke kantor.
Lisa sudah menangis merasakan sakit yang paling dalam. Romeo menggelengkan kepalanya dan menghampiri Lisa.
"Nona Lisa yang saya kenal tidak seperti ini. "Ucap Romeo membuat Lisa mendongakkan kepalanya.
"Lalu? Aku harus bagaimana? Dia bersikap seolah olah aku kekasihnya. Sedangkan kenyataannya aku hanyalah seorang pelayan baginya."
"Nona, ini semua sandiwara. Kenapa tidak diteruskan saja?"
"Apa maksudmu?"bingung Lisa.
"Kenapa anda tidak membuat tuan Alle merasakan apa yang anda rasakan? Bukannya anda sangat suka dengan balas dendam? Mana Monalisa Thalia Devano? Nona Lisa bukan wanita biasa. Ia berbeda."ucap Romeo yang membuat Lisa merekahkan senyum penuh arti.
"Aku paham. Aku merasakan cemburu dan sakit hati saat ia bersama wanita itu. Lalu mengapa aku tidak bisa membalas hal yang sama? Mengapa tidak melakukan apa yang sering ia tuduhkan? Benar bukan?"
"Why not?"ucap Romeo menaik turunkan alisnya.
"It's show time."
Allegra memporak porandakkan meja kerjanya. Ia meluapkan emosinya dengan meninju ninju dinding. Ketiga temannya hanya bisa meringis menyaksikan kebrutalan Allegra. Mafia didepannya ini sedang jatuh cinta dan terbakar api cemburu.
"Akan aku buktikan. Kalau kau membutuhkanku Lisa. Aku akan membuatmu cemburu dan mengakui kalau kau juga mencintaiku."
"Sebaiknya kita berkunjung kerumahnya bagaimana?"tanya Daniel diangguki setuju ketiganya.
Dilain sisi, Lisa tengah menggebuki Romeo karena obat yang ia pakai sangat perih, panas dan gatal.
"Hua.... sialan! Lebih baik kau injeksi aku daripada seperti ini. Badanku sakit semua."
"Apa nona tahu. Saya daritadi menahan hasrat karena melihat tubuh nona yang begitu indah dan berbeda dari tubuh wanita lain. Bahkan aura model saja kalah."
Bugh
Lisa melayangkan bantalnya sadis dan menabok mulut Romeo yang ugal ugalan.
"Romeo jaga mulutmu bangsat!"kesal Lisa sambil terkekeh.
"Nona sexy."
"Romeooo........."teriak Lisa membuat Romeo lari terbirit birit.
"Nona. Anda tangguh, tapi apa anda bisa mengejar saya?"
"Jangan meragukan keahlianku. Aku akan menangkapmu dan mendorongmu kekolam renang dipenuhi es."
"Wleee..."
Lisa menggeram kesal dan mulai berlari mengejar Romeo. Ia mengumpat tak jelas membuat gaduh mansion.
"Nona ada apa?"tanya salah satu anak buah Allegra.
"Tangkap dia!"titah Lisa menunjuk Romeo yang tambah kalang kabut.
"Nona ini tidak adil. Anda yang seharusnya mengejar saya."
"Terserah aku. Hahaha...."
"Ada apa ini?"tanya Allegra bersama ketiga temannya.
Lisa dan Romeo diam menghentikan tawanya. Mereka saling pandang. Ketiga teman Allegra tersenyum menyapa Lisa dan disahuti olehnya.
"Beca...."panggil Allegra membuat wanita yang ia panggil berlari menghampirinya.
"Kau sudah pulang Alle?"
"Aku sudah bawakan kau pakaian baru. Dan beberapa warna kesukaanmu, merah. Jadi kau tak perlu memakai pakaian yang ada di walk in closet kamarku."
Mendengar kata merah sudah membuat Lisa menegang. Tanpa sadar ia berjalan mendekati Romeo dan meremas lengan pria tersebut. Allegra tersenyum sinis melihat Lisa menggenggam tangan Romeo. Apa hebatnya Romeo dibanding Alle?
"Jangan dibuka disini, kumohon."pinta Lisa pada Beca yang malah membuat wanita itu tersenyum mengejeknya.
"Kau juga ingin ku belikan?"tanya Allegra sinis membuatnya senang.
"Bukan seperti itu."ucap Lisa semakin mencicit.
"Bagaimana kalau kita lihat seberapa mewah gaun ini."ucap Beca mengeluarkan gaun berwarna merah yang sontak membuat Lisa mundur kalang kabut. Bahkan sudah menubruk barang barang dibelakangnya.
Semua nampak menatapnya bingung kecuali Angelo yang manpak diam dengan raut datar.
"Nona tenang... nona Lisa tenang..."
"APA INI CARAMU MENYIKSAKU ALLEGRA?! APA SALAHKU PADAMU?! "Teriak Lisa membuat semua yang ada di mansion terkejut.
"Nona, kontrol diri anda. Atau saya terpaksa-"
"LAKUKAN SAJA. PERLAKUKAN AKU SEPERTI BINATANG BUAS!"
"LISA!! APA MAKSUDMU? HENTIKAN SANDIWARAMU."bentak Allegra semakin membuat Lisa pucat pasi.
"Alle. Diamlah."ucap Angelo tenang sedangkan semua kini menatap Angelo.
"Lisa, kau phobia warna merah?"tanya lembut Angelo yang sudah mendekati Lisa.
"Iya.... aku takut warna merah... Angelo aku tidak suka dibentak. Aku ingin pergi dari sini. "Ucap Lisa dalam pelukan Angelo. Ia mencium aroma parfum Angelo yang membuatnya tenang.
Allegra hanya diam membeku. Ia geram melihat Angelo yang memeluk tubuh Lisa. Seharusnya ia yang berada diposisi itu. Seharusnya ia tahu kalau Lisa punya phobia.
"Semua yang berwarna merah di mansion ini harus dibuang, SEKARANG!"titah Allegra pada semua pelayan.
"Alle, mau dikemanakan gaunnya."ucap Beca saat Allegra membawa keluar semua gaunnya.
"Membuangnya."
"Itu gaun mahal Alle! Apa gara gara pelayan ini kau bersikap berlebihan seperti ini?!"
"JAGA BICARAMU BECA! tidak ada yang boleh memanggilnya pelayan."
"Kenapa tidak?! Dia pelayan, seharusnya memang dipanggil pelayan."
"Sekali lagi. Kau panggil dia pelayan. Akan aku seret kau keluar mansionku."
"Awas saja kau Lisa. Aku akan membalasmu."batin Beca menatap sengit Lisa.