Pada malam harinya, listriknyk,masih bisa digunakan oleh masyarakat setelah pengumuman perang itu. Hanya saja penggunaan listrik harus dibatasi untuk kepentingan militer Reshan yang akan bertempur melawan Pasukan Ilberia dan Fen Yu.
Pemerintahan Reshan sudah memberikan energi, jadi tidak ada pejabat Reshan hidup enak, harus memikirkan solusi agar rakyat Reshan tetap hidup aman pada Perang Dunia Ketiga sedang berlangsung.
Pasukan Militer sudah disiapkan meskipun mereka kehilangan Ibukota Roskoria dimana terdapat banyak prajurit yang bisa digunakan untuk berperang. Meskipun begitu, mereka harus berhati-hati agar tidak menimbulkan overproud.
Pada malam harinya, di kamar Liana, Liana Agam mengurung dirinya. Namun, tidak menutupi dirinya dengan selimut. Keadaan yang cukup menekannya. Tidak ada yang tahu bahwa Liana tidak sesedih ini. Mungkin Liana terlalu bahagia karena bermain dengannya k sampai mengkhawatirkan bibinya.
Liana mengangkat kepala dengan sejenak, memandang cermin dari kejauhan. Teknologi mutakhir tidak selalu menyenangkan, akan bisa pada jangka yang panjang.
Lampu yang menyala, menerangi kamar Liana yang cukup bersih dan rapi. Namun, suasana hatinya tidak. Cukup berantakan, dirindukan oleh sosok yang cukup dekat dengannya. Ingin jalan-jalan di tengah perang ini.
Tank yang ditumpangi oleh Liana sudah memiliki akses keamanan yang memadai. Jika ada yang mau mencuri Tank Liana, usaha itu akan gagal sia-sia.
Dari luar kamar, Bibi Svenya agak cemas, berpakaian seperti babooshka, punggungnya agak membungkuk karena lelah bekerja siang malam. Dia langsung mengetuk pintu begitu siap dengan resiko yang dihadapinya.
"Liana. Kemarilah! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Bibi Svenya memanggil dengan udara yang cukup pelan,
Panggilan itu langsung dipatuhi oleh Liana. Meskipun sosok Bibi Svenya tidak menarik perhatian para pria, Liana menghormatinya, menganggap sebagai ibunya sendiri.
"Bibi?" Liana membuka pintunya, agak melebar sedikit lalu keluar dari kamar sepenuhnya.
Mereka saling memandang, memeluk sementara waktu lalu melepaskan pelukan hangat itu. Ini sering terjadi pada ibu dan anak agar hubungan mereka makin meregang
"Bibi. Ada apa sampai memanggilku?"
Bibi Svenya menelan ludah terlebih dahulu, tidak tega jika Liana mendengar keputusannya yang cukup bulat. Tapi, ini untuk mereka berdua.
Liana menunggu jawaban dengan resah, takut bahwa Bibi akan sedih lagi sampai rela mengabaikan cerita Liana yang pulang terlambat.
"Mulai besok, aku harus bekerja lebih giat lagi agar kota bisa menghidupi kita. Mungkin, aku akan pindah ke kota yang lain untuk mencari penghasilan yang lebih baik karena kota yang ditinggali dekat sini agak bermasalah soal ekonomi. Mau tidak mau, aku akan meninggalkanmu di sini."
Liana mendengar kekelaman lagi. Takut dan gelisah menghantui Liana lagi.
"Kapan Bibi akan kembali? Aku takut Bibi akan meninggalkanku seperti yang lain."
Liana hampir mengeluarkan air matanya, merasa trauma dengan api dan sosok yang terbakar. Ingatan itu masih membekas sampai sekarang. Takkan bisa disembuhkan.
"Entahlah. Mungkin, aku tidak akan kembali.*
Sudah cukup. Liana tidak mau mendengarkan itu lagi. Liana langsung mendekati Bibi Svenya secara perlahan
"Bibi. Tolong jangan pergi! Kalau mau, ikutlah denganku. Aku pasti akan berguna, kok." Liana bersikeras, ingin ikut dengan Bibi Svenya dan melengket padanya.
Namun, bibi Svenya menolak. Karena tidak ada pilihan lain. Gelengan kepala Bibi Svenya sudah cukup memberikan penilaian yang tegas pada Liana.
*Tapi, Liana. Kau harus tetap di sini. Aku akan kembali, kok."
"Tidak mau! Aku tidak mau! Tidak mau!" Suara Liana cukup mengeras, tidak terlalu berisik di depan kuping wanita berumur 40 tahun itu.
Bibi Svenya terdiam sejenak. Takut menyakiti perasaan Liana. Tapi, keadaan yang kacau terjadi lagi. Karena perang Dunia Ketiga, semua negara harus memperbaikinya ekonomi mereka masing-masing.
Kesabaran belum habis, Bibi Svenya masih tenang untuk mencegah dialog yang semakin memanas. Bibi itu langsung menepuk bahu Liana dan kembali mengeluarkan nada bicara yang tenang.
Liana berhenti mengucurkan air mata, semakin takut dengan apa yang didengarkan oleh bibi itu. Tak lama kemudian, Liana kembali tenang, Bibi Svenya melanjutkan kata persuasif itu..
"Kalau sudah selesai, aku akan menghubungimu. Aku janji, kita bisa menghubungi satu sama lain lewat telepon canggih kita. Ok?"
Namun, yang terjadi malam sebaliknya, Rasa sakit yang dirasakan Liana langsung menimbulkan efek yang luar biasa. Tidak hanya itu, rasa sakit itu disalurkan kembali kepada Bibi Svenya itu sendiri, sehingga pipi bibi itu langsung memerah akibat refleksi tamparan Liana itu.
"Bibi bodoh! Aku membencimu!" Liana langsung menampar Bibi Svenya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Liana meninggalkan Bibi Svenya dan langsung memasuki kamar sambil menahan tangisannya. Ini cukup merusak suasana hati Liana karena ditinggal orang tersayang adalah hal yang paling menyedihkan.
Ini akan menjadi situasi yang lebih sulit mengingat Bibi Svenya kadang dibenci Liana, tidak dianggap sama sekali. Namun, tidak berlangsung lama. Liana akan kembali seperti semula. Namun, tidak pada kali ini.
"Liana. Kau …." Bibi Svenya hendak.marah, dan menggenggam tangannya, berniat memukul Liana.
Namun, Liana sudah masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain meninggalkannya besok karena ini demi mereka berdua.
[*^*]
Keesokan harinya, Liana terbangun, merasakan deja vu dengan tangisan yang selalu mengalir. Setiap malam, tangisan itu tidak akan berhenti meskipun tidak ada seorang pun yang bisa mendengarkan.
Selain itu, Liana tertap berada di ranjang karena tidak ada yang peduli dengannya. Bibi Svenya sudah dipastikan tidak akan kembali lagi, sama seperti sebelumnya.
Liana kembali bangkit dan mencari sesuatu. Tanpa pikir panjang, barang yang
Handphone, beberapa pakaian, barang perkakas, dan barang lainnya. Liana juga memborong barang yang bisa dibawa untuk meninggalkan
"Baiklah! Saatnya meninggalkan rumah ini."
Daripada capek-capek keluar melalui pintu depan, Liana memilih untuk melompat dari jendela rumahnya. Meskipun tidak bisa dilewati sebagian orang, Liana bisa melakukannya.
Dia mengambil kursi lalu menghantam ke arah jendela, membuat jendela rusak dan pecah. Suara pecah itu cukup berisik mengingat hanya dua orang yang tinggal di rumah ini.
Suasana masih pagi, sekitar jam 07:00 pagi. Ini membuat Liana harus meninggalkan Bibi Svenya mengingat traumanya sudah jelas menyakitinya.
Liana lompat dari jendela dan melayang di udara. Sebelum itu, bibir Liana bergerak, namun suaranya tidak terdengar sama sekali. Hanya sekitar bisikkan yang tajam da penuh derita.
"Selamat tinggal! Aku pergi dulu!"
Pesan terakhir Liana sudah tersampaikan, sekarang Liana berlari ke arah dengan tujuan yang tidak jelas. Bekas suara meredup tak lama kemudian, menghilang. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh Liana dengan itu.
Ketika ditinggalkan orang lain, dia akan meninggalkan orang lain dengan kekecewaan. Itu adalah kondisi yang dilakukan oleh Liana.
Liana sudah lulus SMA tapi tidak bisa melanjutkan jenjang kuliah karena pengumuman perang itu. Itu cukup menjatuhkannya tapi setidaknya pengetahuan itu bisa digunakan Liana untuk bertahan hidup.
Setelah berjalan sekitar satu menit, Liana menemukan tank yang masih berdiri kokoh, terparkir dengan rapi.
Liana masih mengenakan baju tidur langsung membawa dua tas lalu memenjat tubuh tank itu. Setelah itu, Liana memutar gagang pintu tank itu dan masuk ke dalam setelah mengelilingi sekitar.
Vania sudah berada di dalam tank, langsung bergerak cepat di dalam ruang kendali tank. Liana menekan jarinya agar bisa mengaktifkan tank miliknya.
Liana sempat tidak mandi, jadi ia membuka baju tidurnya dan membiarkan tubuh telanjang di dalam tank itu. Toh, tidak ada yang melihatnya.
"Tank! Tolong bawa aku ke mana aja! Aku ingin menjauh dari sini sekarang juga!"
"Tapi, sebelum itu, bawakan aku ke sungai terdekat. Aku ingin mandi." Perintah lanjutan Liana menkonfirmasi perintah terdekat.
[Baiklah. Kita akan kesana dalam 57 menit. Setelah itu, random location akan diaktifkan. Jadi, ini berjalan tanpa tujuan sekalipun.]
Tank itu menunjukkan layar TV, layar kondisi di luar tank saat itu. Liana kembali tertunduk, menangis kecil dan meluapkan depresinya. Ini cukup merusak Liana sendiri secara psikologis.
Ini terdengar aneh. Keadaan yang rusak akibat perang itu berlangsung.
Setelah sampai di sungai, yang ditujukan oleh Liana, Liana terbangun dan langsung keluar dari tak untuk mandi. Ia mengambil beberapa alat mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Tunggu sebentar yah! Aku ingin mandi dulu."
[Aku senantiasa menunggu untukmu. Jangan khawatir!]
Tank itu memberikannya kepercayaan pada Liana, agar tidak meninggalkan Liana sendirian. Gadis berambut pirang itu perlu menyelesaikannya privasi sebentar sebelum kembali masuk ke dalam tank.
Lima belas menit kemudian, Liana sudah mandi, namun tidak mengenakan handuk sebagai pengering tubuh. Justru Liana membiarkan sisa air itu mengalir ke bawah.
Tubuh Liana terlihat jelas, sangat cantik dan masih perawan. Sangat nyaman jika tida berpakaian sama sekali di dalam tank tersebut, dekat dengan ruang kendali lagi.
Liana kembali merunduk, depresi yang menyerangnya dan membiarkan tank itu bergerak sendiri.
[*^*]
Malam telah tiba, sebuah kekacauan yang terjadi di dalam markas itu. Para tentara terkejut dengan keberadaan tank itu, langsung bergegas untuk memusnahkan tank itu.
Tank itu berada di luar kendali. Langsung membabat habis semua lawan yang akan menyakiti tank itu. Secara tidak sengaja, mereka melukai prajurit yang tinggal di markas tersebut.
"Habisi tank itu! Jangan biarkan dia merusak semuanya!"
Percuma, infanteri yang menyerang tank itu tidak bisa menghancurkan tank itu. Bahkan, setelah mendapatkan rocket launcher sekalipun.
Kekacauan yang berada dalam markas itu Samapi terdengar di telinga seorang Mayor. Mayor itu mendobrak pintu dengan sebuah amarah dan melihat anak buahnya lemah tidak berkutat.
Rein Stealth, seorang tentara yang sudah menjabat sebagai seorang Mayor karena sudah mendapatkan penghargaan Silver Rifle karena sudah membeberkan rahasia Euro pada Reshan.
"Sialan! Kenapa ada keributan hanya dengan satu Tank saja? Apa yang dilakukan para pecundang itu?"
Tidak salah lagi. Rein melihat bawahannya dikalahkan dan terkapar akibat berurusan dengan tank itu.
Sementara Alvin dan Liana masih bingung bagaimana mengatasi tank yang liar seperti seorang banteng yang menghancurkan seisi markas.
Rein frustasi dan berlari dengan kakinya. Langkah kaki yang cepat dan amarah yang membludak karena ketidakbecusan bawahan dalam menangani tank liar itu. Tidak mungkin tank itu dikendalikan seseorang..
Setelah sampai di depan tank itu, Rein langsung menendang tubuh tank itu. Kaki Rein sudah diberikan efek emas untuk mengatasi
Spontan, Tank itu tiba-tiba non aktif setelah tendangan itu. Rein sudah tahu, tidak ada satupun yang mampu menyerang markas itu sendirian.
Tidak tanggung-tanggung, Rein langsung menyuruh bawahannya untuk memeriksa tak yang cukup bermasalah.
"Periksa tank lalu sita tank itu! Aku harus perbaiki kekacauan ini sendirian."
"Baik, Pak!"
"Kalian! Ikut denganku! Ada yang harus didiskusikan bersama pelaku penyerangan itu."