Keesokan harinya, Liana terbangun di sebuah ranjang. Bangun dengan kesadaran yang meningkat. Liana mengenakan gaun putih yang sama seperti seorang pasien, tidak mengenakan pakaian dalam.
Keadaan di ruangan itu berbeda dengan kamarnya, dipenuhi dengan suara prajurit yang berisik dan latihan. Namun, cukup nyaman untuk terus tidur seperti seorang pasien.
Liana melihat keadaan ruangan, namun tidak bisa bangkit dari kasurnya. Kondisinya belum pulih sama sekali. Ini akan menjadi lebih sulit.
Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang masuk ke dalam ruangannya, menawarkan beberapa makanan kepadanya.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu menghindar seperti itu." Gadis itu menyimpan beberapa makanan dan teh di nakas dekat tempat tidur.
Liana tidak tahu, gadis itu cukup berbakat menjadi seorang suster, padahal gadis itu adalah seorang prajurit proletar. Tidak seperti Mayor Rein yang memiliki progresif pada keahlian dan jabatan.
Liana teringat, tank yang ditumpanginya tidak ada padanya. Gerakan yang refleks memaksa Liana berdiri dari ranjang, kembali bertanya dengan keadaan tank tersebut.
"Tunggu. Mana Tank itu?" Liana kembali bertanya.
Alvin langsung datang, memberikan informasi mengenai tank itu."Tank itu sudah disita oleh Mayor Rein. Jika ingin mengambilnya kembali, kamu harus berhadapan dengannya."
"Kalau begitu, aku harus kesana." Liana berniat untuk mencari tank miliknya.
"Tidak secepat itu. Kau harus memulihkan tenaga terlebih dahulu sebelum kau bisa mengambil tankmu kembali. Oke?" Alvin memenangkan Liana, memastikan Liana percaya padanya.
Liana mengalah, memutuskan untuk mengikuti mereka terlebih dahulu. Tidak ada pengkhianatan di dalam diri mereka. Mungkin mereka bisa mendapatkan teman baru.
"Oh iya. Alvin Stealer. Aku adalah prajurit tingkat bawah."
"Vania Delivia. Kamu bisa memanggilku Vania."
"Kalau begitu, namaku Liana Kerensky."
Mereka saling berkenalan, membuat hubungan mereka lebih akur dan bersahabat. Berkat Alvin dan Vania, Liana sudah tahu tentang militer meksipun sedikit.
[*^*]
Tanggal 2 Oktober 2029, dI markas yang ditinggali oleh ketiga tentara proletar itu, Alvin, Vania, dan Liana, mendapatkan panggilan dari seorang Mayor, Rein Stealth.
Panggilan itu sudah didapatkan setelah kejadian beberapa waktu yang lalu. Cukup meresahkan apabila mereka tidak dipanggil atas kejadian itu. Jika sampai itu terjadi, maka banyak kekacauan di markas yang bertempat di pertengahan wilayah Reshan.
Alvin dan Vania mengenakan seragam militer yang lengkap sedangkan Liana tidak, masih mengenakan pakaian pasiennya karena sudah berada di tangan kedua tentara proletar itu.
Mereka sudah tiba di pintu masuk ruang kerja seorang Mayor. Mereka akan dihadapkan dengan berbagai rintangan ketika sudah masuk ke dalam.
Keputusan Rein akan menentukan kehidupan Liana selanjutnya.
"Masuklah!"
Mereka pun masuk, sesuai perintah dari seorang mayor. Setelah masuk, pintu ditutup dengan rapat oleh dua prajurit proletar, Alvin dan Vania.
Mereka, prajurit yang mengawal Liana menjauh dari Rein dan mendengarkan Rein, melihat apa keputusan Rein ketika situasi kekacauan itu terjadi pada tempo hari.
Sekarang, Rein duduk seperti seorang pejabat, berbagai penghargaan sudah diraih dengan mudah. Apalagi penghargaannya Silver Rifle yang mengangkatnya menjadi seorang Mayor.
"Liana Kerensky. Seorang lolita yang mengenakan tank. Kau sudah menempuh SMA dengan baik tapi tidak dengan jenjang kuliah. Kau juga berusaha keras untuk bertahan hidup pada kondisi perang karena merosotnya ekonomi ketika perang."
"Aku juga melihat tubuh tekanjangmu, lho. Kau tidak bisa kabur dariku."
Rein memojok Lolita yang tidak bersalah, tidak tahu apa-apa. Ia berniat kabur dari rumah dengan sistem rendom movement. Namun, rupanya garis random itu mengenai markas. Jadi, tank itu langsung menyerang markas suntuk melindungi dirinya.
Rein sudah memeriksa tank yang cukup canggih. Namun, tank itu belum jelas motifnya. Hanya seorang pemilik yang tahu tujuan penggunaan tank itu karena bertanggung jawab atas penggunaan tank.
"Jadi, apa yang kau lakukan pada tank tersebut? Apakah kau berniat untuk menyerang markas kami?"
Liana tidak menjawab apa-apa. Tidak mengangguk maupun menggeleng. Ia masih tidak yakin dengan pertanyaan yang menusuk hati Liana..
Rein kembali mengabaikan Liana, langsung membacakan Undang Undang Militer Reshan. Lembar demi lembar dibuka secara perlahan dan Rein menemukan undang-undang yang cocok pada kasus ini.
"Di dalam Undang-undang Militer Reshan, seorang warga sipil yang mengendarai tank akan dikenakan sanksi yang cukup berat. Tidak hanya itu, kau juga menggunakan tank untuk melukai dan membuat kekacauan."
Liana tidak mau kalah, tetap semangat untuk membelah kebenaran. Tidak mau kalah dengan seorang koruptor yang bisa mengeluarkan banyak uang agar bebas dari penjara.
"Bukan. Aku tidak berniat melukai prajurit. Aku hanya ingin kabur ke rumah. Hanya itu alasan saya. Ini tidak sengaja, kok." Liana menjelaskan, dengan ketenangan dan tidak terpancing emosi. Tapi, ia khawatir dengan keputusan Rein yang cukup kejam.
Rein teringat, perkataan Liana barusan membuat Rein menunjukkan riwayat peta yang terdapat pada tank itu. Tidak ada yang tahu karena Rein sudah memeriksa tank itu selama seharian.
"Oh iya. Aku sudah menunjukkan bukti kalau kau melakukan tindakan itu. Tidak apa. Aku akan tunjukkan semuanya."
Rein memasang hologram, semua bukti, mulai dari struktur tank maupun proses pengaktifan tank itu. Rekaman pembicaraan Rein dengan Rapista S-20 dinyalakan untuk memperkuat bukti itu.
Liana terkejut dengan jawaban dari Rapista S-20 yang merupakan sahabatnya dari tempo hari. Rekaman itu juga mengakibatkan Liana tidak berkutik lagi, ingin lari tapi tidak bisa.
"Itu …"
"Itu sudah jelas kan? Kau tidak akan lari dariku. Mulai sekarang, aku menjatuhkan hukuman padamu berupa …."
Belum selesai Rein mengetuuk palu keadilan, Alvin memberikan interupsi, memikirkan pada matang. Rein menghentikan palunya, berhenti memberikan hukuman pada Liana soal kasus tempo hari.
"Mohon interupsi! Saya rasa Anda tidak perlu menghukum gadis kecil ini. Sejak aku berhadapan padanya, dia memang memasang tank secara otomatis. Tapi, jika kita menggunakan tank itu, kita bisa meningkatkan personel tank sebesar 80%. Ini akan menguntungkan Negara Reshan jika kita membiarkan tank itu berpihak pada kita." Alvin mengangkat tangannya, membuka tablet miliknya dan menjelaskan sambil memperlihatkan statistik Tank milik Liana, dengan kemampuan hologram.
Rein menyambut dengan dingin, tidak peduli dengan pembelaan itu karena tidak bisa mengalahkan tank yang mengamuk, masih mengungkit pada kasus yang belum selesai.
"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu karena kau tidak bisa menangani tank yang mengamuk sebagai banteng merah." Rein membalas dengan aura dingin, tidak percaya dengan statistik itu dan membawa masa lalu.
Tidak hanya Alvin, Vania turun tangan untuk menjelaskan kembali. Meskipun begitu, Vania tidak perlu berada dalam zona nyaman jika berhadapan dengan pemimpin seperti Rein.
"Tapi, bukankah itu berlebihan? Walaupun keadilan sudah ditegakkan, setidaknya ada hati nurani pada pengadilan itu." Vania mengoceh, mencela Rein dengan masalah hati nurani.
"b***k p*****r diam saja. Menembak saja tidak bisa apalagi menangani tank itu." Rein memancing Vania agar marah kepada Rein.
"Berhenti memanggilku p*****r! Sikapmu terlalu buruk untuk menjadi seorang mayor. Kamu sama seperti seorang mayor bajingan." Vania terpancing, mengeluarkan umpatan dan jari tengah kepada Rein.
Tensi mereka semakin serius, tidak berharap perkelahian di tengah pengadilan akan terjadi, berantakan.
"Kalau kau tidak bisa menunjukkan kemampuanmu, aku akan mengirimkanmu kepada rumah bordir. Ini ditujukan agar kau tetap disiplin. Bangun terlambat, sering tidur dan satu lagi, mengecewakan atasanmu." Daftar ketidakdisiplinan Vania diperlihatkan dalam tayangan ulang selama 1 bulan belakangan.
"Ini adalah hukuman yang diberikan agar kau tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi." Rein melanjutkan, kembali menunjukkan foto Vania telanjang bulat.
Amarah Vania tidak bisa ditahan lagi. Selain foto telanjang, aib Vania masih diumbarkan, tidak tahan lagi dengan harga dirinya. Ia kembali memarahi Rein dan mengumpat layaknya babi gemuk dan penjilat atasan.
Liana tidak paham, ucapan kotor mereka telah memenuhi ruangan itu. Tidak tau apa yang harus dilakukan oleh Liana. Menunggu mereka selesai berdebat atau kabur dari sini?
Semuanya terjawab dengan tepukan bahu, pelan namun terasa nyaman. Tepukan lelaki sejati dan setia menemani. Ini cukup sulit karena atmosfer panas merusak ketenangan Liana. Namun, tidak bagi orang itu, menganggao sebagai hal yang biasa.
Alvin memberikan senyuman baik pada Liana, berharap Liana paham dengan isyarat yang diberikan oleh Alvin.
"Tenang saja, Liana. Vania dan Rein selalu berkelahi. Sebaiknya kamu ikut denganku. Mereka akan lupa denganmu sebentar lagi."
"Iya. Tapi, kita kemana?" Liana bertanya, melirik kanan kiri laku menatap pada Alvin.
"Bagaimana kita keliling markas saja? Dan coba ceritakan bagaimana tankmu bisa menyenangkan hatimu."
Alvin dan Liana mulai dekat sementara Rein dan Vania bertengkar dengan mulut mereka, tidak sadar dua orang itu telah pergi meninggalkan begitu saja.
Setidaknya, Vania dan Rein melupakan hukuman yang diberikan oleh Liana karena saling mengejek cukup lama.
[*^*]
Keempat prajurit itu kembali berkumpul, membuat keputusan yang cukup sulit kepada Liana, seorang lolita yang beeu menemukan Tank Rapista S-20.
Alvin dan Vania sudah memberikan kode kerja bagus. Alhasil, Rein tidak bisa menghukum Liana karena merusak sarkas yang ditinggali mereka bertiga.
"Liana Kerensky. Dengan ini, aku menyatakan bahwa kamu tidak bersalah. Kau tidak perlu dipenjara atau dilucuti di penjara."
"Tapi, sebagai gantinya," Rein menghela nafas, lalu memberikan keputusan kembali." Kamu harus mengikuti militer agar kau bisa menggunakan tankmu sebagai temanmu. Aku sudah mengobrol dengan atasan bahwa kau bisa bergabung besok."
Keputusan Rein cukup menguntungkan bagi Liana. Alvin dan Vania menghela nafas karena sudah mendapatkan teman yang baru.
"Oh iya. Kalian berdua harus menemaninya. Aku tidak ingin kalian melukainya karena dia tidak punya teman baru." Rein melanjutkan, tidak ada yang bisa dilakukan Rein untuk memasukkan Liana ke dalam grup yang lain.
Alvin dan Vania tersenyum karena keputusan Rein yang tepat. Selain itu, mereka tidak perlu repot-repot untuk berusaha keras. Serahkan ini pada Rein!
"Itu sudah jelas." Vania senang, cukup sombong dengan postur tubuhnya.
"Kami akan menjaga Liana dari orang b******k itu. Mungkin, kota bisa memberikan latihan khusus padanya." Alvin maju, memberikan tepukan bahu lagi pada Liana.
Kasus ini sudah selesai. Tidak adanya dipermasalahkan lagi. Liana, Vania, dan Alvin menjadi lebih dekat. Tidak ketinggalan juga dengan Rein meskipun pekerjaan Rein sebagai Mayor Negara Reshan cukup berat daripada prajurit proletar.