"Aster! Aster!" suara lembut Sasha membangunkan Aster dari buaian mimpinya.
"Ada apa, bu?" jawab gadis itu lemah. Rasa kantuk masih memaksa matanya untuk terpejam.
"Aku ingin meminta bantuanmu."
"Hm?"
"Antarkan aku ke Oakland!"
"Baiklah. Kapan?"
"Sekarang."
Aster terbangun. Kesadarannya sudah hampir kembali sepenuhnya. Entah kenapa ibunya tidak memberitahukan mengenai rencana tersebut sejak kemarin. Dengan begitu seharusnya Aster bisa bersiap-siap lebih cepat. Kini kepalanya terasa pusing karena bergerak dengan tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Tidak kenapa-napa. Aku akan menunggu di belakang istana."
"Aku segera menyusul, bu."
Hampir saja Aster kembali tertidur setelah mendengar suara pintu ditutup. Sebelum menyesal, dia bergegas memaksakan diri untuk mencuci muka dan segera bersiap.
Pada kesempatan ini Aster dan Sasha tidak akan pergi melalui pintu utama. Mereka akan keluar dari pintu kecil di samping istana. Dua buah pesawat terbang kecil sudah siap ditumpangi. Aster menaiki salah satunya bersama sang ibu juga seorang pilot di depannya. Satu pesawat bisa memuat paling banyak empat orang. Tapi kali ini hanya enam orang yang berangkat. Masing-masing pesawat membawa tiga orang penumpang.
Sebuah ruangan besi berbentuk kubus yang lebih kecil membuka gerbangnya. Bunyinya sangat halus, tidak seperti kubus di pintu utama Dione. Pesawat yang ditumpangi Aster melesat dengan kencang. Menembus terowongan menuju udara bebas. Menyenangkan rasanya dia bisa kembali melihat langit luas untuk pertamakalinya setelah sampai di Dione. Hanya saja atap pesawat membuatnya tak bisa menghirup udara dengan bebas. Tampaknya Aster harus sedikit bersabar.
Aster melangkahkan kakinya menuju kursi di samping pilot. Dia memberikan instruksi mengenai arah yang harus mereka tuju. Sang pilot menambah kecepatan setelah mengerti benar penjelasannya. Kecepatan pesawat itu mungkin ada di atas seratus kilometer perjam. Terbayang jika Aster membuka atapnya, mungkin dia bisa terbang terbawa angin. Dia memilih untuk tidak melakukannya, mengingat tidak mau lagi tenggelam dalam lautan.
Belum mencapai dua jam, keberadaan Oakland mulai terlihat. Sasha tercengang menyaksikan besi-besi yang berbentuk kota itu. Merupakan sebuah pemandangan menakjubkan dalam matanya.
Pesawat mendarat tepat di depan gerbang utama gedung walikota. Aster melangkahkan kaki keluar pesawat dengan semangat. Menghirup udara yang benar-benar segar. Bau karat yang merindukan terkadang melintas melewati hidungnya. Aster mengetuk-ngetukkan kaki ke atas lantai besi. Dia merasa rindu pada suaranya.
"Walikota ada di dalam sana. Ayo kita masuk!"
"Tidak. Biarkan aku yang pergi sendiri. Aku ingin berbicara empat mata dengannya."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi ke panti. Jika ibu mencariku, aku akan ada di sana. Hanya ada satu panti di kota ini, jadi tidak akan sulit mencarinya."
Sasha mengangguk sembari tersenyum. Dia memperhatikan Aster yang berlari menjauh. Lalu mulai berjalan masuk ke dalam gedung. Beberapa penjaga sempat mencegat untuk menanyainya. Dia mulai terasa terganggu karena hal itu. Hingga akhirnya, sampailah dia di depan ruangan walikota. Sasha mengetuk pintunya.
"Ya. Silahkan masuk!" ujar David dari dalam. Dia tampak sedang mengerjakan sesuatu di atas buku tebalnya.
"Hai, David. Masih ingat aku?"
David menghentikan kegiatannya sesaat, menyempatkan diri untuk menoleh ke arah sumber suara. "Sasha?!" dia tampak terkejut.
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali ya."
"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?"
"Kamu masih saja sedingin biasanya. Padahal saat ini aku sudah menjadi ratu Dione."
David tersenyum dengan sedikit mengejek. "Orang-orang itu melakukan kesalahan besar."
Sasha tertawa sinis, dia berjalan-jalan pelan di dalam ruangan. Sesekali memperhatikan pernah-pernik yang ada di dalamnya. "Tampaknya kita berdua sudah memiliki negeri masing-masing sekarang."
"Ini bukan negeriku. Ini negeriku juga rakyatku."
Tawa Sasha bergema dalam ruangan. "Maaf. Aku tidak bisa menahan diriku. Kamu masih saja senaif dulu."
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana bisa kamu ada di sini."
"Sebut saja ada seorang anak perempuan penjelajah yang tiba-tiba datang ke Dione, dan dengan senang hati mengantarkanku ke sini."
"Aster..." ucap David pelan.
"Kamu mengenal anak polos itu?"
"Apa yang kamu lakukan padanya?"
"Sungguh sangat kejam, kamu mengira aku menyiksanya untuk bisa memberitahu keberadaan tempat ini? Sekarang dia sedang berjalan-jalan di dalam kota."
David menarik napas. Berusaha tetap duduk tenang di atas singgasananya. "Apa yang kamu inginkan?"
Sasha melangkah maju. Mendekati David lalu duduk pada kursi yang kosong.
"Aku hanya ingin bertukar cerita."
"Huh, mana mungkin hanya itu."
"Tidak bisakah kamu bersikap lembut pada seorang wanita? Terutama pada isterimu sendiri."
"Kamu sudah bukan isteriku lagi," bisik David.
Sasha mulai terlihat semakin serius. Duduk tegak, memandang lurus pada mantan suaminya itu. "Baiklah. Aku datang ke sini sebagai pemimpin dari Dione yang ingin berbicara soal bisnis. Pertama, aku ingin mendengar tentang kota ini dan juga sebuah tempat yang bernama Nibbana. Kamu bisa mulai bercerita!"
David terdiam sesaat sebelum akhirnya bercerita. Dia pikir tidak ada ruginya hanya menceritakan sesuatu yang sudah bukan rahasia lagi.
Aster terdiam di depan pintu masuk asrama. Seorang lelaki gendut ada di depannya menggantikan David. Aster melewatinya, tapi pria itu bergegas mencengkram tangannya. "Siapa kamu?" tanya orang tersebut.
"Namaku Aster. Dulu aku tinggal di sini."
"Kamu pasti bohong. Kamu pencuri ya?" ujarnya dengan suaranya yang lucu.
"Mana mungkin."
"Apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin bertemu dengan Miss Belly."
"Tidak ada yang bernama seperti itu di sini. Kamu pasti bohong!"
Aster menepuk dahinya. "Maksudku Miss Bella, ya Miss Bella!"
"Aku akan membawamu ke kantor polisi."
Tenaga penjaga itu sangat kuat. Dia mulai bergerak untuk menarik paksa tahanannya. "Aku tidak mau!" Sebelah tangan Aster memegangi pagar panti, berusaha untuk tidak terbawa. "Amanda!" teriaknya. "Amanda!"
Genggaman Aster sebentar lagi pasti akan terlepas karena mulai berkeringat. Untung saja orang yang dipanggilnya bergegas keluar. "Aster!" gadis itu berlari mendekat. "Danyl, lepaskan! Dia temanku."
Lelaki gemuk itu langsung melepaskan genggaman tangannya. Tanpa berkata apapun lagi, dia kembali ke pos jaga lalu memakan sandwich yang ada di sana.
"Maaf. Penjaga baru," ucap Amanda. "Bagaimana kabarmu?"
Aster memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Baik-baik saja. Sepertinya kamu juga sama?"
"Tentu saja. Ayo masuk! Semua pasti senang bertemu denganmu."
Amanda menarik tangan Aster dan berlari. Menuju ruangan yang biasa mereka gunakan untuk makan bersama. Orang-orang sedang ada di sana. Seakan sengaja berkumpul untuk menyambut kedatangan Aster.
"Teman-teman, lihat siapa yang datang!" teriak Amanda.
"Aster!" teman-temannya yang lain berseru sembari langsung berlari menyerbunya.
Aster memeluk mereka satu persatu. Meski tidak mungkin dia melakukannya kepada semua orang.
"Genta!" seru Aster. Dia berlari memeluk anak gemuk itu.
"Kenapa kamu baru datang lagi sekarang?"
"Maaf ya. Aku juga sangat rindu padamu."
Di tengah keributan, seorang wanita berteriak. "Ribut-ribut apa ini?" ujarnya.
Semua orang terdiam. Aster menengok ke arah suara yang dikenalinya itu. "Miss Bella!" serunya. Dia berlari ke dalam pelukannya. Mata wanita itu berkaca-kaca. Seakan benar-benar merindukan anaknya. Ya, semua anak di panti adalah anaknya. Sudah dia anggap seperti itu.