Setelah hari penuh kejutan berlangsung, Aster bahkan tak ingat apa yang dia lakukan setelahnya. Mungkin dia mendadak berubah menjadi sebuah robot. Hanya bisa terdiam mendengarkan orang lain berbicara, yang bahkan tak pernah menempel dalam ingatannya.
Haruskah dia mempercayai semua yang terjadi? Apa lagi kenyataan yang akan dia dapatkan setelah ini? Bahwa dia dan Erik adalah saudara sepupu? Atau bahkan Johan adalah anak dari suami kedua ibunya? Pertanyaan-pertanyaan konyol dalam kepala semakin bertebaran.
Pagi-pagi benar Aster pergi ke klinik. Dia masuk ke kamar Simon, melihatnya tertidur pulas. Tanpa melakukan apa-apa lagi, Aster duduk pada kursi kecil di samping tempat tidur. Memandangi Simon dengan tatapan kosong. Jika saja itu bukan Simon, pasien tersebut pasti sudah lari terbirit-b***t saat sadar Aster tengah mematung dengan wajah menyerupai hantu.
"Aster?" Simon memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. "Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya, meski Aster tak kunjung menjawab ataupun merubah ekspresinya. Satu-satunya gerakan yang terlihat hanyalah kedipan mata. "Ada apa?" kali ini Simon duduk, mengusap-usap kepala gadis tersebut.
Kesedihan yang menyeruak membuat Aster tak bisa membendung air matanya lagi. Dia mulai menangis sembari menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangan. Simon hanya terdiam, terus mengusap kepala temannya itu. Menunggu hingga Aster siap untuk bercerita.
Gadis itu seakan sedang kehilangan semuanya. Teman, pacar, bahkan jati dirinya sendiri. Dia menceritakan semua hal yang terjadi, dari mulai pertengkaran hebatnya kemarin. Yang sebenarnya Simon juga temannya yang lain sudah mengetahui hal tersebut melalui cerita Erik.
Simon merasa Aster hanya butuh teman untuk bercerita. Melampiaskan semua perasaan serta keluh kesahnya. Mungkin dia sedikit terkejut mengetahui kabar mengenai Okta yang merupakan saudara kandung Aster. Jadi, selama ini Aster sudah terlanjur jatuh hati pada kakaknya sendiri.
"Sebenarnya aku bukan pemberi nasehat yang baik. Tapi aku hanya bisa berkata bahwa inilah hidup. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan menantimu selanjutnya. Kamu selalu ingin pergi berpetualang bukan? Mencari tempat yang bahkan kamu sendiri pun tidak mengetahui keberadaannya. Coba pikirkan, kalau kamu sudah tahu di dekat Okland ada Nibbana, lalu di sini ada Dione, apa tetap akan berpikir untuk menjelajahi tempat-tempat itu?"
Aster menggelengkan kepalanya.
"Banyak hal yang bumi ini simpan, yang Tuhan sembunyikan darimu, dari kita semua sebagai manusia. Karena dia ingin kita terus berusaha. Mengejar semua harapan yang kita pikirkan atau inginkan. Jika kita sudah mendapatkan semua hal yang ada di dunia ini, untuk apa kita perlu membuang-buang tenaga untuk mencarinya?"
Aster menarik napas, menghilangkan sesegukannya. Menyeka air mata dengan tangan kanannya. "Kamu memang seorang penasehat yang buruk," katanya sembari tersenyum. Simon hanya tertawa.
"Menurutmu apa kita terlahir dengan sebab?" tanya Aster. Kali ini nadanya jauh lebih membaik dari pada sebelumnya. Tampaknya dia sudah berhasil mengeluarkan semua keluh kesahnya bersama air mata yang membasahi sebagian tempat tidur.
"Ya, tentu saja. Tuhan memiliki rencana untuk kita semua. Menurutmu sendiri, apa rencana Tuhan untukmu?"
"Aku pikir," Aster melirik ke atap ruangan sembari berpikir. "Aku terlahir untuk mengungkap satu persatu rahasia yang dimiliki bumi ini. Tidakkah kamu berpikir masih banyak misteri yang belum terpecahkan, Simon?"
"Ya. Mereka pasti sedang menunggu untuk ditemukan olehmu."
Aster tersenyum dengan tulus. Rona wajahnya sudah kembali seperti semua. Atau mungkin untuk sesaat.
"Nah, lebih baik seperti itu. Jika tanpa senyuman, gadis di hadapanku ini bukan Aster yang aku kenal."
Dalam waktu sekejap, kedua orang tersebut sudah bisa kembali bercanda. Aster merasa bersyukur saat ini Simon ada di dekatnya. Sehingga dia bisa berbagi kesedihan dan mendapatkan secercah semangat dari temannya itu.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintunya. Dia harus melakukan pemeriksaan kepada Simon. Itu berarti sudah saatnya Aster pergi dari sana dengan berat hati.
Gadis itu terdiam sejenak di luar ruangan. Merasa bingung terhadap apa yang akan dilakukannya. Dia memutuskan untuk menyusuri klinik, berjalan ke arah lantai teratasnya.
Bangunan tersebut memiliki lima buah lantai. Di mana masing-masingnya terdapat sepuluh kamar. Semakin ke atas, ruangan yang ada tampak semakin bagus. Tentu saja ruangan lantai lima menjadi yang termewah. Sangat berbeda dengan ruangan yang ditempati oleh Simon.
Aster berharap bisa menemukan sebuah tangga yang dapat mengantarkannya menuju atap klinik. Namun, lantai lima merupakan sebuah jalan buntu. Tidak ada tempat lain yang bisa dia jelajahi. Tetapi, dia juga terlalu malas untuk kembali menuruni anak tangga yang terlihat banyak. Oleh karena itu, Aster memutuskan untuk memperhatikan satu-persatu pintu yang ada.
Beberapa ruangan ada yang terisi, namun lebih banyak yang tidak. Dibacanya tulisan yang tertera pada salah satu pintunya.
'Anne. Menteri.'
'Danyl. Kepala Pelayaran.'
'April. Profesor.'
Tampaknya ruangan yang ada khusus untuk merawat orang-orang berkedudukan tinggi. Dilihat dari jabatannya, mereka semua memiliki kedudukan yang penting di Dione.
Aster melanjutkan observasinya. Tidak ada kamar yang terisi lagi selain ruangan paling ujung yang tertulis 'Bobby. Tetua.'
Apa maksudnya itu?
Rasa penasaran membuatnya nekat untuk pergi menyelinap. Pintu tersebut sama sekali tidak terkunci, membuat Aster bisa masuk dengan mudah. Tidak ada siapapun yang terbaring di atas ranjang. Hanya saja Aster melihat sebuah kursi goyang di depan perapian. Sepertinya ada orang yang tengah duduk di sana.
Dengan sangat hati-hati, didekatinya kursi itu. terlihat seorang kakek tua sedang bersantai. Kepalanya hampir botak. Hanya menyisakan beberapa helai rambut putih saja. Badannya sangat kurus, dilapisi dengan kulit yang sudah mulai kendur. Kakek tua itu menengokkan kepalanya ke arah Aster. "Halo," sapanya dengan suara serak.
"Ha-halo," jawab Aster. Dia sempat terkejut karena mengira kakek tersebut sedang tertidur. "Maaf jika saya lancang masuk tanpa izin. Saya akan segera pergi."
"Kamu ingin mendengar cerita?" tanya kakek bernama Bobby itu, seakan tidak mendengar perkataan sang tamu tak diundang. "Dulu banyak sekali anak-anak yang senang mendengarkan ceritaku."
Mendengar tawaran baik lelaki tersebut, tentu saja tidak ada pilihan bagi Aster untuk menolak. "Sepertinya kakek seorang pencerita yang hebat."
Si kakek terbatuk-batuk setelah berusaha tertawa. "Dulu iya. Ketika aku masih bisa berjalan berkeliling kota."
Aster membawa sebuah kursi dan turut duduk di samping perapian, berhadapan dengan Bobby. "Aku sangat senang mendengar cerita."
Bobby terkekeh. "Cerita apa yang ingin kamu dengar, nak?"
"Hmm," Aster berpikir. "Aku ingin mendengar cerita tentang kakek. Apa kakek penduduk tertua di Dione?"
"Iya, seperti yang kamu lihat. Aku satu-satunya yang tersisa dari generasi lama. Umurku sekitar seratus dua puluh... umm, aku sudah berhenti menghitung setelah beberapa puluh tahun lalu."
"Kalau begitu aku adalah cucu dari cucu cucunya cucu cucu kakek."
Bobby kembali terkekeh. Tampaknya dia mulai menyukai Aster. "Tapi kakek masih terlihat sangat bugar bagiku, untuk ukuran orang berumur seratus tahun."
"Kamu terlihat lesu untuk ukuran orang yang masih muda."
Aster tersadar bahwa belakangan ini dia terus dilanda berbagai hal mengejutkan. Membuat kantung matanya membesar akibat tidak bisa tidur. Dia pun tertawa bersamaan dengan Bobby.
"Lalu, kek. Aku ingin mendengar sejarah kota ini. Apa kakek tahu?"
"Kamu mencoba menguji ingatan pria tua ini ya? Tentu saja aku tahu. Mengingat kakek-nenekku merupakan salah satu orang pertama yang tinggal di kota ini. Pada saat ingatanku mulai berjalan, hanya ada sekitar dua puluh orang yang tinggal. Kebanyakan anak-anak seusiaku."
"Tunggu, kek! Apa itu maksudnya kakek Anda adalah seorang pendatang di kota ini? Lalu siapa yang membangunnya?"
Bobby terdiam. Cukup lama memberi jeda sebelum kembali menjawab. Namun tidak terlihat seakan sedang mengingat-ingat. Aster menangkapnya sebagai gelagat orang yang hendak menyembunyikan sesuatu. "Aku tidak tahu soal itu," jawabnya.
"Lalu apa lagi yang kakek ketahui?" Aster tidak mungkin bisa puas sebelum mendapatkan lebih banyak informasi.
"Sejak saat itu kami membangun kota ini. Orang tua zaman dulu setidaknya memiliki lebih dari lima orang anak. Tapi sebuah wabah sempat menjalar, membunuh sebagian besar orang dewasa. Mungkin karena suhu dan kelembaban di sini. Oleh karena itu sempat timbul jeda waktu yang lama hingga generasi selanjutnya muncul. Sulit sekali bangun dari keadaan terpuruk saat itu."
"Kenapa justru orang dewasa yang terserang wabah tersebut? Seharusnya imun mereka lebih kuat dibandingkan anak-anak kecil."
"Aku tidak tahu, nak. Sudah bisa terbebas dari wabah itu saja aku sudah bersyukur. Setelah itu aku hanya fokus terhadap keberlangsungan kehidupan yang tersisa."
"Tampaknya berkat kerja keras kakek, kota ini bisa semakmur sekarang."
"Makmur ya..." Bobby kembali berpikir. "Apa bisa disebut makmur jika para penduduk itu masih belum merdeka?"
"Merdeka dari apa? Kulihat mereka baik-baik saja."
"Kamu harus melihatnya dari sudut pandang lain. Senyuman itu, pakaian itu, semuanya palsu. Semua orang sudah kehilangan warna asli mereka."
Aster tidak tahu menahu soal itu. Tidak pernah terpikirkan semua kebahagiaan yang selalu dia lihat dari wajah orang-orang itu hanyalah topeng belaka. Begitu pula dengan baju mereka. Sebegitu tidak pekanyakah Aster, hingga tidak bisa menyadari soal perbedaan pakaian para penduduk? Perlahan dia semakin menyadari keanehan dari Dione. Sepertinya satu rahasia kembali menunggu untuk diungkap olehnya.
"Aku selalu ingin menangis melihat mereka semua. Beruntung kakiku sudah tak bisa digunakan untuk berjalan lagi. Jadi, tak perlu aku menguras air mata hanya karena ingin berjalan-jalan di luar."
Aster merasakan getaran kesedihan dalam suara Bobby. Membuatnya tidak bisa untuk tidak merasa iba.
"Nak?"
"Ya, kek?"
"Aku sampai lupa menanyakan namamu. Tampaknya kamu bukan orang sini."
"Saya memang bukan berasal dari sini. Beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja menemukan kota ini. Nama saya Aster."
"Aster?"
"Ya." Bobby terdiam. Alisnya mulai mengerut. "Ada apa, kek?"
"Entah kenapa rasa-rasanya aku pernah mendengar namamu."
"Oya? Mungkin ada orang yang bernama sama, atau kakek hanya salah mengira. Karena namaku berasal dari nama bunga."
"Nama bunga? Aku belum pernah mendengarnya. Apa yang kamu lakukan di kota ini?"
"Awalnya saya pergi untuk mencari kedua orang tua saya."
"Orang tuamu?"
"Iya. Dulu kami sempat terpisah, tapi seka-"
"Siapa nama mereka?" Pertanyaan Bobby memotong kata-kata Aster.
"Umm, ibuku bernama Sheila..." Aster mengurungkan niatnya untuk memberitahukan mengenai jati diri ibunya. Dia melanjutkan kata-katanya, "Dan ayahku bernama Thomas."
Mata Bobby terbelalak merespon sesuatu. Sepertinya nama Thomas menjadi pemicunya. Aster belum menyadari hal itu, alhasil dia terus bercerita. "Tadinya aku tidak ingin memberitahukan soal ini. Tapi, sekarang kami sudah bertemu. Sungguh tidak menyangka kalau ibuku..." kata-katanya terhenti saat melihat ekspresi Bobby.
"Thomas..."
"A-ada apa, kek?"
"Thomas?" ucapnya lagi semakin panik.
Sebuah alat pendeteksi detak jantung yang sedari tadi berbunyi konstan, kini terdengar semakin cepat. Badan Bobby mulai menegang. Tangannya mencengkram erat lengan kursi. Mulutnya bergerak, mengucapkan kata 'Thomas' berulang kali, namun sangat pelan hingga terlihat seperti sedang membaca sebuah mantera.
Aster bangkit dari kursi, merasa panik melihat keadaan dari kakek tua dihadapannya itu. Suara alat pendeteksi detak jantung kini seirama dengan debaran jantungnya sendiri. Dia merasa sudah melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak dia ketahui. "A-ada apa kek?" tanyanya panik
"Pergi!"
"A-apa?"
"Pergi dari sini!" teriak Bobby.
Tubuh kakek itu berusaha bangkit dari kursi. Namun, sia-sia saja karena kedua kakinya sudah lumpuh. Tubuhnya ambruk ke atas lantai. Seakan dia mati-matian menjauh dari Aster.
Aster hendak pergi karena orang tua itu mengusirnya. Tapi, di satu sisi dia pun merasa harus membantu Bobby berdiri. Akan tetapi, kakek itu sangat ketakutan setiap Aster melangkah mendekat. "Jangan dekati aku! Pergi kamu! Jangan pernah datang ke sini lagi! teriaknya. "Tolong! Tolong!"
Aster semakin tidak mengerti dan bingung. Dia bergegas lari keluar kamar sebelum ada perawat yang datang.
Apa yang sudah kulakukan hingga membuatnya seperti itu?
Langkah Aster terhenti di depan kamar Simon. Dia membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ternyata teman-temannya yang lain sudah berada di sana. "Kamu kembali lagi, Aster?" sapa Simon.
Bianca mendekatinya. Merapikan rambut Aster yang sedikit berantakkan. "Sepertinya kamu tidak tidur lagi ya malam ini? Sudah sarapan?" Aster menggeleng sembari menormalkan napasnya. "Ayo sini! Aku bawa roti."
Aster kembali duduk di tempatnya semula. Semua pun mengambil posisinya masing-masing. Alby yang berada paling jauh dengan Aster. Tapi seperti itu justru lebih baik, pikirnya.
"Kenapa kamu terlihat kelelahan seperti itu?" Bianca memberikan sebuah roti kepada Aster.
"Aku sedang melarikan diri."
"Melarikan diri dari apa?"
"Tadi, tidak sengaja aku bertemu dengan tetua di kota ini, namanya Bobby. Entah kenapa dia mendadak histeris begitu aku memperkenalkan nama ayah dan ibuku. Dia mengusirku lalu berteriak-teriak meminta tolong. Jadi, aku segera kabur sebelum ada yang memergokiku."
"Hah?" Bianca menggeleng-geleng tidak mengerti.
"Mungkin itu pertanda bahwa kita harus segera pergi dari sini dan kembali ke Nibbana," usul Erik.
"Kembali?"
"Tampaknya kamu sudah mulai melupakan rumahmu sendiri."
"Tidak. Tidak! Bukan seperti itu. Tapi aku memikirkan kondisi Simon."
Semua orang terdiam. Erik kembali berpikir sebelum kembali berbicara. "Sepertinya tetap harus ada yang pulang untuk memberikan kabar kepada Sarah. Dia pasti mencemaskan kita semua."
"Kalau begitu biarkan aku yang pulang." Alby mengajukan diri.
Erik langsung menolak usulan tersebut. "Tidak. Aku membutuhkanmu di sini. Johan yang akan kembali ke Nibbana."
"Aku?" Johan menunjuk dirinya sendiri sembari melahap sepotong roti.
"Mungkin bersama Thalita jika mau."
"Aku masih ingin di sini bersama kalian," ujar Thalita langsung. Dia terlihat semakin bertambah diam semenjak mendengar cerita mengenai pertengkaran Alby dan Aster. Tapi tentu saja Erik tidak menjelaskan salah satu penyebab yang sebenarnya bersangkutan dengan gadis itu.
"Baiklah, kalau begitu. Jo, siang ini juga kamu harus pulang ke Nibbana!" perintah Alby.
"Kenapa harus aku?!" protes si lelaki sipit.
"Agar tidak ada lagi orang yang berisik di sini," jawab Erik.
"Kenapa kalian sejahat itu padaku?" Johan kembali berteriak-teriak di depan Erik sembari menarik kerah bajunya. Sebenarnya dia hanya sedang melebih-lebihkan reaksinya, tidak benar-benar menolak untuk kembali ke Nibbana.
"Aku jadi ingin mengirimmu pulang sekarang juga," ucap Erik.
Sembari diselingi dengan canda tawa, mereka berdiskusi mengenai kepulangan Johan yang akan dilakukan sore ini. Di tengah pembicaraan, sesaat Aster memperhatikan Alby yang berdiri bersandar pada tembok di belakang Erik. Mata lelaki itu memandang ke luar jendela, enggan melirik Aster sedikitpun. Tanpa senyumnya yang manis, Aster melihat warna keemasan pada rambut Alby menjadi semakin redup. Mata birunya pun tak lagi memancarkan cahaya yang sama.
Apa yang sudah aku lakukan?
Apa yang harus aku lakukan?!