Hari telah berganti. Meski tidak ada suara kokokan ayam yang membangunkan, Aster sudah biasa terjaga pukul lima. Atau bahkan sebelumnya dia selalu tidak bisa tidur sedari malam. Kali ini dia merasa bisa mempergunakan jam tidurnya dengan maksimal. Wajar saja, dia tidur dalam sebuah ruangan megah yang dapat menampung banyak orang. Hanya saja dia harus tidur sendiri, karena temannya yang lain sudah mendapatkan tempat tersendiri untuk beristirahat. 'Tok-tok' seseorang mengetuk pintu kamar. Wajah Sasha terlihat mengintip dari baliknya. "Aku pikir kamu belum bangun."
"Selamat pagi, bu," ucap Aster dengan rambut kusut.
"Aku membawakan sesuatu untukmu."
Aster masih terlalu malas untuk bangun dari kasurnya. Sasha mendekat sembari membawa sebuah kotak. Dia duduk di samping kasur. Menyimpan kotak itu di atas pangkuan anaknya.
Aster membuka benda tersebut. Sebuah kain yang terlipat ditemukan dari dalamnya. Warnanya merah jambu nan lembut. Tampaknya dia sadar bahwa benda itu bukan sekedar kain biasa. Melainkan sebuah pakaian.
Aster akhirnya beranjak dari tempat tidur untuk melihat keseluruhan pakaian tersebut. Sebuah baju terusan yang lucu. Aster sangat bahagia mendapatkannya. Meski sebenarnya dia tidak yakin akan memakainya atau tidak. Setelah melewati umur kesepuluhnya, Aster sudah tidak pernah mengenakan rok. Dia terlalu nyaman dengan celana panjang serta sepatu boots-nya. Kali ini dia mendapatkan sebuah tantangan baru.
"Kamu suka?"
"Suka sekali, bu. Terima kasih."
"Kamu pasti cocok memakainya. Setelah mandi aku ingin melihatmu mengenakannya."
"Umm, tapi aku masih belum terbiasa memakai rok."
"Tidak usah malu. Lagipula pakaianmu sedang dicuci."
"Baiklah." Tampaknya Aster tidak memiliki pilihan lain. "Setelah ini aku dan teman-teman akan menjenguk Simon di klinik."
"Lelaki berkuncir itu ya?"
"Ya."
"Pastikan kamu sarapan sebelum keluar!"
"Oke, bu."
Aster bergegas pergi ke kamar mandi setelah ibunya keluar dari kamar. Air dingin memberikan kesegaran kepada tubuhnya. Ingin rasanya dia berlama-lama di dalam sana. Tapi itu bukan pilihan yang baik jika tidak ingin terserang flu.
Sebuah handuk putih dililitkan membaluti tubuhnya. Kini dia berdiri menatap baju yang baru saja dia dapatkan. Rasanya ingin sekali Aster menunggu pakaiannya kering dan tidak perlu memakai baju merah muda itu. Tapi, betapa sedihnya ibu Aster jika mendapati hal tersebut. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
Kain yang dipakai sebagai bahan dasar baju merah muda tersebut terasa sangat halus. Mungkin sedikit dingin karena agak tipis. Bagi Aster, hal tersebut tidak masalah jika dibandingkan rasa malu karena tak terbiasa berpakaian seperti itu.
Setelah selesai merapikan diri, Aster pun keluar kamar dan berjalan menuju ruang makan. Mata sasha sedikit terbelalak kala melihat kecantikan dari anak perempuannya itu. Ditambah lagi Aster tampak semakin manis dengan baju yang ternyata sangat pas pada tubuhnya. Gadis tersebut hanya tersipu malu saat Sasha juga para pelayan bertubi-tubi memberikan pujian.
Seusai menghabiskan sarapan, Aster bergegas mencari sepatunya. Dia meminta izin sang ibu lalu mulai mencari-cari sesuatu sebelum keluar istana. Sasha melihatnya dengan heran, namun dia bergegas menghentikan Aster setelah tahu apa yang gadis itu cari. "Apa yang kamu cari?" tanyanya memastikan.
Aster terdiam sejenak. "Umm, sepatu boots-ku?"
Sudah kuduga, sahut Sasha dalam hati. Dia tidak akan membiarkan anaknya mengenakan baju lucu jika harus bersanding dengan sepatu boots. Sasha memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan sepasang sepatu dari dalam lemari. Dia masih menyimpan barang-barang miliknya saat masih muda. Mungkin hal itu pun merupakan sebuah firasat bahwa barang tersebut suatu saat akan berguna.
Sepasang flat shoes hitam serta kaos kaki berenda diberikan kepada Aster. Dia menerimanya dengan berat hati, namun berusaha untuk tidak menampakkan perasaan tersebut pada wajahnya. Karena tidak bisa melawan, dia bergegas mengenakan benda itu pada kakinya. Sasha serta sang pelayan terlihat gembira seakan berhasil mendandani boneka barbie mereka. Bahkan Aster mendengar kedua orang itu berbincang mengenai pita atau sebagainya. Dia harus segera mengambil tindakan sebelum keadaan semakin memburuk. Bahkan Aster lebih memilih untuk mendapatkan kain penutup kepala seperti yang dimiliki oleh penduduk Dione.
Aster keluar istana dengan tergesa-gesa. Tujuannya kali ini sudah pasti klinik tempat Simon dirawat. Dia berjalan dengan sedikit berlari, padahal tidak ada yang memburunya. Bahkan ini masih terlalu pagi untuk pergi menjenguk. Dia hanya belum merasa nyaman dengan bajunya. Akhirnya, dia memutuskan untuk berlari bersama flat shoes-nya sebelum kota mulai bertambah ramai.
Di sepanjang jalan, orang-orang menatap Aster yang bergerak seperti angin. Dia merasa menjadi pusat perhatian karena baju berwarnanya melintas di tengah pakaian gelap para penduduk. Hal itu membuat kakinya bergerak semakin cepat. Bagaikan ada penjahat yang tengah mengejarnya.
Lokasi klinik lebih jauh daripada penginapan teman-temanya. Meski hanya berbeda beberapa belas meter saja, Aster merasa sudah tak sanggup berlari lebih jauh. Dia mengurungkan niatnya untuk menemui Simon, lalu berbelok ke arah penginapan. Di depan pintu ruang utama bangunan tersebut dia berhenti. Berusaha mengatur napas.
Aster bergegas masuk ke dalam ruangan, lalu bersandar pada pintunya. Napasnya masih terengah-engah, tidak stabil. Rambutnya menempel pada wajah karena keringat.
"Aster! Ada apa?" Thalita tampak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Aster masih dengan terengah-engah.
"Bajumu bagus sekali."
Aster sedikit nyengir membalas pujian Thalita. Tak berapa lama Bianca keluar dari kamarnya. Matanya segera terpaku melihat baju merah muda yang dikenakan Aster. "Lucunya!" ujar gadis itu dengan sedikit berteriak. Tanpa sadar suaranya itu membangunkan semua orang yang tengah tertidur. Satu persatu dari mereka mulai keluar kamar. Johan, lalu Erik. Tentu saja mereka langsung menatap pada arah yang sama.
"Aku tahu, aku tahu," sela Aster sebelum ada yang kembali berkomentar. Dia berjalan menuju ke kamar mandi. Hanya sekedar ingin menghindari tatapan orang-orang.
Di saat yang bersamaan Alby keluar dari dalam sana. Hampir bertabrakan dengan Aster jika tidak segera berhenti melangkah. "Aster!" serunya. Matanya memandangi gadis berbaju merah jambu di hadapannya itu.
Aster berbalik arah menuju sofa. Dia duduk sembari menggendong sebuah bantal dalam pelukannya. Berusaha menutupi baju barunya itu. Johan mulai tertawa setelah rasa kantuknya hilang. "Sayang sekali kamu tidak membawa sandal kelincimu ke sini ya," candanya.
Erik menjatuhkan badan ke atas sofa yang berhadapan dengan Aster. Lelaki itu menghunuskan pandangan sembari tersenyum-senyum mengejek. Aster mulai merasa terganggu, meski Erik sama sekali tak berkata apapun. "Hentikan, Erik! Pandanganmu sangat mengangguku!"
"Ayolah, tidak perlu malu. Kamu terlihat cantik dengan baju itu," Bianca berusaha memberikan pendapatnya. "Ya kan, Alby?"
Lelaki itu berjalan mendekat sembari mengeluarkan tampang berpikirnya. "Tampak sama saja."
"Alby!" bentak Bianca pelan.
"Tidak salah, kan? Toh setiap hari dia tampak cantik bagiku."
Semua orang tersenyum mendengarnya. Sementara Aster hanya tersipu malu.
"Lihat! Sekarang wajahnya berwarna sama dengan baju itu," komentar Erik. Aster langsung mengabaikannya.
"Aku ingin menjenguk Simon. Apa kalian ikut?" tanya Aster.
"Tentu saja!" sahut Johan. "Tapi perutku lapar sekali."
"Kita pergi setelah semua selesai mandi dan makan saja," tambah Bianca. Semua orang pun mengangguk setuju.
Aster membiarkan kelima temannya itu sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke klinik. Setelah itu barulah mereka akan pergi menjenguk Simon. Ya, seharusnya seperti itu, kalau saja waktu mereka tidak habis terpakai untuk menunggu Johan yang ternyata belum sempat mandi. Terpaksa mereka harus kembali bersabar. Menunggu sembari mendengar nyanyian Johan dari dalam kamar mandi. Berkali-kali Erik menggedor pintunya untuk menyuruh lelaki sipit itu agar lebih cepat. Tapi, Johan hanya melanjutkan nyanyiannya dengan kencang.
"Maaf menunggu." Johan keluar dari dalam kamar mandi. Tampak segar di dalam balutan pakaian rapinya.
"Akhirnya kamu selesai juga." semua orang menghela napas. Beranjak dari sofa dan bersiap pergi ke klinik.
"Ayo, Simon pasti sudah menunggu kita sejak kemarin!"
Tak lupa mereka bawa sekeranjang buah-buahan yang sudah dibeli kemarin. Bianca membawanya dengan hati-hati.
Beberapa saat sebelum keluar dari ruangan, Alby yang berdiri di belakang Aster meraih sebuah rompi. Disimpannya rompi tersebut menutupi tubuh Aster. Gadis itu menghentikan langkahnya untuk menatap sang kekasih.
"Mungkin ini akan membuatmu lebih nyaman."
Aster mengenakan rompi berlengan panjang berwarna abu-abu itu dengan segera. Warnanya serasi dengan pakaian yang selalu dikenakan oleh para penduduk Dione. Dan kelihatannya, teman-temannya pun mendapatkan pakaian yang sama. Sebenarnya Aster berharap mereka mendapat pakaian yang sama dengannya. Agar dia tidak perlu menanggung malu seorang diri.
"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum manis. Tidak dikira rompi tersebut sangat pas pada tubuh Aster. Setidaknya sekarang dia bisa berjalan dengan lebih percaya diri daripada sebelumnya.
Lokasi klinik berada di tengah kota. Mungkin bangunan tersebut sengaja dibangun di sana agar semua orang tidak terlalu kesulitan mencarinya. Menurut informasi, Simon dirawat pada kamar 208. Ruangan tersebut tepat berada di ujung koridor lantai dua. Di depan pintunya tertulis 'Simon. Tamu'. Entah kenapa harus ditulis seperti itu.
Bianca memutar kenop pintu, mendorongnya perlahan. Semua orang berusaha masuk setenang mungkin, khawatir jika sang pasien masih tertidur. Ruangan tersebut tidak jauh beda dari ruang kesehatan lainnya. Berbau alkohol, seakan cairan itu memang sengaja disemprotkan ke seluruh ruangan. Atau mungkin kini ada yang menjual parfum berbau seperti itu khusus untuk ruang kesehatan. Yang jelas Aster tidak terlalu suka baunya. Kalau saja Simon tidak ada di sana, dia pasti tidak akan pernah mau masuk ke klinik, apalagi rumah sakit.
Lelaki itu terbaring lemas di atas kasur. Wajahnya pucat. Sebuah selang tertanam dalam tangannya, mengalirkan sebuah cairan berwarna bening. Aster tidak pernah menyangka luka tusuk itu akan membuat keadaan Simon menjadi seperti sekarang.
Mata Simon terbuka perlahan. Sepertinya dia menyadari ada orang yang masuk ke dalam ruangan. "Kenapa kalian mengendap-endap seperti pencuri?" ucapnya lemah.
"Aku pikir kamu masih tidur." Alby menepuk pundak Simon pelan.
"Aku tidak pernah bisa tertidur pulas sejak kemarin. Karena kupikir kalian meninggalkanku seorang diri di kota ini."
"Sebenarnya hampir kami lakukan," canda Aster.
"Hei, siapa kamu? Gadis berbaju merah muda yang lucu." Dengan tubuh lemahnya, Simon memaksakan tertawa. "Sepertinya sandal kelincimu sangat cocok dengan baju itu."
"Benarkan apa kataku?!" Johan menyahut.
Aster merasa sedang tidak ingin melanjutkan candaannya. Dia terlalu prihatin melihat keadaan sahabatnya itu. Setelah menggusur sebuah kursi kecil, dia duduk di samping kasur. Memegangi tangan Simon yang terasa dingin. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah baikkan?"
"Ya, luar biasa baik." Apa yang keluar dari mulutnya begitu berbeda dengan keadaan yang terlihat. Simon melihat wajah Aster berkata demikian. "Entah kenapa rasanya kondisiku tidak banyak berubah. Tidak sekali aku mendapatkan luka tusukan seperti ini. Tapi kali ini seakan jadi yang terparah."
"Apa perawat itu mengatakan sesuatu?"
"Mereka bilang kelembaban di tempat ini membuat lukaku infeksi. Kalau saja saat itu kita tidak segera keluar dari penjara, mungkin aku sudah membusuk."
"Kapan kamu bisa keluar dari sini?"
"Entahlah. Mereka bilang tidak akan membolehkan aku beranjak dari tempat tidur sebelum luka ini terlihat membaik."
Semua orang tak ada yang berbicara. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing. Apa itu mencemaskan keadaan Simon, atau mungkin cemas karena tidak bisa kembali ke Nibbana dalam waktu dekat-dekat ini.
"Ah iya. Kami bawa banyak sekali buah-buahan segar. Kamu harus mencobanya! Jeruk ini manis sekali." Bianca mengupas sebuah jeruk dan menyodorkannya ke arah Simon.
Lelaki itu mendadak terlihat lebih lemas. "Tubuhku lemas sekali. Tanganku juga. Sepertinya aku butuh seseorang untuk menyuapi jeruk itu," ujarnya.
Bianca mendekat, tetapi Erik segera merebut jeruk yang digenggamnya. "Kalau begitu biar aku yang suapi," tawar lelaki itu.
"Sepertinya tanganku sudah bisa berfungsi dengan baik sekarang," balas Simon dengan cepat.
Semua orang tertawa. Aster bersyukur semua temannya masih bisa tertawa seperti sekarang. Dia berharap agar kecerian itu tidak pernah terhapus dari wajah mereka.
Aster melihat ke luar jendela. Memandangi ikan-ikan yang terbang di atas Dione. Perlahan pandangannya mulai turun ke bangunan di bawahnya. Semakin ke bawah, hingga terlihat sebuah toko kain di seberang klinik tersebut. Seseorang tampaknya hendak keluar dari sana. Pintunya terbuka, terdorong dari dalam. Seorang lelaki yang baru saja keluar membuat mulut Aster menganga.
Aster memejamkan mata beberapa detik dan kembali melihat ke arah yang sama. Pemandangan di hadapannya tak kunjung berubah. Hal selanjutnya yang dia lakukan adalah mengucek mata dengan jari telunjuk. Dan pemandangan tersebut masih sama. Hampir saja Aster memutuskan untuk menampar diri sendiri. Namun, lelaki yang sedang merasa diperhatikan itu berbalik menatap ke arahnya. Saat itu tubuh Aster seketika merespon. Dia bangkit dari kursinya dengan tiba-tiba, sambil tetap memandang ke luar jendela. Membuat semua orang sedikit terkejut.
"Ada apa, Aster?"
Gadis itu mengabaikan siapapun yang berbicara. Bahkan tidak bisa merasakan saat Alby memegang pundaknya. Mata Aster hanya terfokus pada orang yang sama. Saat lelaki itu hendak melangkahkan kaki, Aster bergegas berlari untuk mengejarnya.
"Aster!" panggil Bianca.
Tidak ada yang langsung mengejar Aster. Mereka terlalu bingung untuk melakukan sesuatu. Beberapa saat setelahnya, Alby melongok ke luar jendela. Terlihat Aster yang tengah berlari masuk ke dalam kerumunan. Dia berusaha mencari apa yang sedang dikejar oleh gadis itu. Mata Alby terbelalak saat mendapati seorang lelaki berambut cokelat yang dia kenal. "Tidak mungkin!"
"Ada apa Alby?"
"A-aku. Aku merasa melihat seseorang."
"Siapa?"
"Edy."