Chapter Tiga Belas

1099 Words
            Aster, Alby, Erik, Bianca, Johan dan Thalita keluar dari penginapan setelah berdiskusi memilih jalur penjelajahan. Aster menyarankan untuk melihat mulai dari pintu masuk Kota Dione. Sebuah kubus besi yang sempat diceritakan oleh Erik. Karena masih belum tahu apa-apa tentang kota bawah laut tersebut, semua hanya bisa mengiyakan.             Keenam orang tersebut berjalan dengan penuh semangat, apalagi Aster. Gadis tersebut tentu merasa puas karena lagi-lagi khayalannya menjadi kenyataan. Mungkin setelah ini dia akan kembali mulai mengkhayal, dan berharap hal tersebut akan sama-sama menjadi nyata.             Di depan sebuah kubus besi besar langkah mereka terhenti. Beberapa pekerja terlihat masih sibuk di sekitar benda itu. Salah satunya adalah pria yang menangkap mereka di atas laut. Pria itu berjalan mendekat. Menyadari bahwa dia berhutang permohonan maaf kepada mereka. "Hai. Maaf atas apa yang terjadi tadi, dan juga kemarin." Dia mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.             "Tidak usah dipikirkan. Itu berarti Anda bekerja dengan baik," jawab Alby sembari menyalaminya.             "Jadi, Anda petugas keamanan di sini?"             "Maaf terlambat mengenalkan diri. Saya Bobby. Kepala keamanan Dione."             Johan yang kebetulan berada di samping pria itu menatap mata Aster. Dia menunjuk pria itu dengan telunjuknya, dan berbicara tanpa suara, 'Komandan Roy' katanya. Aster harus mati-matian menahan tawa dibuatnya.             Semua orang mulai memperhatikan si kubus besi. Tampaknya Erik menjadi yang paling penasaran. "Jika kami boleh tahu. Kemana perginya motor-motor milik kami?"             "Ah, tenang saja! Kami menyimpannya dengan baik. Ada pada tempatnya bersama kendaraan kami," ujar pria itu. "Jika kalian ingin lihat," tambahnya lagi. Kali ini sembari menunjuk ke arah kubus besi besar di belakangnya.             "Dengan senang hati."             "Hei, buka gerbangnya!" teriak Bobby pada rekan kerjanya.             Terdengar suara besi terbuka setelah seseorang menekan sebuah saklar di sampingnya. Gerbang lebar dari kubus tersebut terbuka ke atas. Erik masuk ke dalamnya paling pertama, diikuti oleh yang lain. Berbagai kendaraan, begitu juga milik mereka terparkir rapi di tiap sisi kubus.             "Gerbang itu akan menutup sebelum lift ini naik ke permukaan. Setelah itu, kalian bisa kembali menikmati langit biru di atas sana."             Benda besar itu pasti mengeluarkan bunyi nyaring saat keluar dari dalam air. Aster mencoba membayangkannya. Tapi dia ingat benar saat itu tidak ada suara aneh yang sempat didengarnya, sesaat sebelum pasukan Bobby menangkapnya juga Alby. "Oiya. Kemarin aku sama sekali tidak menyadari saat kalian keluar dari dalam air. Bahkan kubus ini tidak terlihat sama sekali. Lalu dari mana kalian muncul?"             "Dione memiliki lebih dari satu pintu keluar masuk. Tapi di sinilah gerbang utamanya. Sedangkan pintu lain dikhususkan hanya untuk para penjaga yang perlu keluar masuk. Lorongnya jauh lebih kecil, hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan. Jalur itu biasa kami gunakan untuk hal-hal darurat. Salah satunya menangkap kalian kemarin."             "Apa tidak ada yang keluar dari sini selain para penjaga keamanan?"             "Dan juga para nelayan tentunya."             Aster mengangguk-angguk seraya mengerti.             "Terima kasih sudah menjelaskan banyak hal. Kami akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain." Erik meminta izin mewakili temannya yang lain.             Mereka bergegas pergi menjauhi pintu masuk Dione tersebut. Bobby memandangi mereka dengan wajah ramah seperti sebelumnya. Akan tetapi, lama kelamaan ekspresinya itu pudar perlahan. Tidak menyisakan bekas apapun pada raut wajahnya, selain tatapan mata yang tajam. Entah apa yang ada dalam kepalanya, yang jelas dia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang tidak begitu baik.             "Wow, tempat apa itu?" Johan menunjuk sebuah bangunan yang tak kalah besar.             "Ibu bilang itu pabrik makanan."             "Ayo kita masuk dan melihat-lihat! Sepertinya wanita tua di sana salah satu pegawainya." Johan berlari ke arah wanita yang dia lihat. "Halo!" sapanya.             Wanita berwajah galak itu terdiam. Matanya terhunus tajam ke arah lelaki berisik di hadapannya. "Siapa kalian?" tanyanya dengan nada sinis.             "Kami pengunjung yang ingin melihat ke dalam pabrik."             "Tidak ada yang boleh masuk selain pegawai!" jawab wanita itu dengan cepat.             "Kalau begitu biarkan kami mengintip dari balik pintunya."             "Jika kuizinkan kamu harus rela kehilangan matamu setelah itu."             Johan tampaknya mulai agak kesal karena diperlakukan tidak ramah. Dia bergegas mundur dan mendorong punggung Aster menuju wanita tersebut. "Kamu pasti tidak tahu. Tapi gadis ini anak dari Ratu Sasha. Kamu akan tahu akibatnya jika tidak membiarkan kami masuk."             "Jo!" bentak Aster pelan.             Wanita tua itu terdiam. Memandangi Aster dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Tatapan matanya mengandung banyak pertanyaan. Tapi dia memutuskan untuk menyimpannya seorang diri. "Pergilah kalian!" usirnya, sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam pabrik.             Johan merasa kecewa karena tidak berhasil masuk ke tempat yang membuatnya penasaran itu. Ditambah lagi kini Aster memarahinya. "Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi, Jo!". Sementara teman-temannya yang lain hanya memperhatikan dari kejauhan sembari menahan tawa.             Mereka pun melanjutkan penjelajahan menyusuri pinggiran dinding kaca. Sembari berjalan, Johan mengetuk-ngetuk kaca di sampingnya pelan. Tampak memperhatikan sesuatu. "Kaca-kaca itu sangat tebal. Jadi, tidak perlu khawatir akan pecah." Aster menjelaskan apa yang telah dia dengar dari ibunya.             "Kamu salah Aster. Aku tahu kaca itu sangat tebal. Tapi, setebal apapun itu, pasti ada satu titik lemahnya yang bisa membuat semua dinding ini hancur."             "Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi," komentar Bianca.             "Kamu tahu di mana titik lemah itu?"             "Entahlah. Aku masih belum pandai untuk bisa memperhitungkannya dalam waktu singkat," jawabnya. "Hei!" Johan mendadak berteriak ke arah Aster.             "Apa?"             "Kamu tidak sedang mencoba untuk menghancurkan kaca ini kan?"             "Akan aku lakukan jika hanya kamu orang yang tersisa di kota ini!"             "Untuk kali ini aku setuju denganmu," Erik menambahkan.             "Jadi kalian bersatu untuk menyerangku?"             Johan mengepalkan kedua tangannya di depan d**a. Seakan bersiap menerima serangan seseorang. Aster dan Erik memutarkan bola mata setelah tertawa garing, lalu bergegas pergi mengabaikannya. Sementara yang lain mengikuti setelah puas menertawai tingkah Johan.             "Aster?" rasa heran menghampiri Alby saat melihat langkah Aster mendadak terhenti. Gadis itu memandang ke sebuah titik di tengah keramaian. "Ada apa?" tanyanya.             "Aku rasa..." aku melihat Edy. Lagi-lagi bayangan itu mengikutinya ke Dione. Apa Edy tidak suka aku berada di sini? Tanyanya dalam hati. Segera dia lupakan semua pemikiran tersebut. "Tidak apa-apa. Aku hanya salah lihat," tambah Aster sembari tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD