Chapter Dua Belas

1447 Words
            "Hai, semua!"             "Teman-teman! Anak ratu datang! Ayo cepat berikan salam kepada tuan puteri!" Johan menundukkan badannya ke arah Aster.             "Diamlah, Jo!"             "Bayangkan sejak tadi dia berteriak-teriak seperti itu 'keren sekali!', 'apa itu?', 'sungguh sangat indah!', benar-benar mengganggu!" Erik yang tengah merebahkan badan di atas sofa memainkan kata-kata Johan sambil bercanda. Dia melempar sebuah bantal.             "Mengaku saja, kamu lebih parah dari itu tapi terlalu malu untuk mengekspresikannya, bukan?" Johan melempar balik bantal yang diterimanya. Namun Erik dengan sigap menangkap benda itu.             "Mana Alby?" tanya Aster sembari melihat ke sekitar.             "Sedang membeli makanan bersama Thalita," jawab Bianca.             Aster kembali terdiam. Masih terlalu sensitif jika mendengar nama gadis itu, meski sebenarnya dia tidak marah. Hanya memendam kecanggungan yang sama seperti sebelumnya. Atau mungkin lebih tepatnya kecemburuan yang sama.             Sebuah bantal melayang mengenai wajah Aster. Erik yang melemparnya. "Cepat masukkan kepalamu ke dalam air nona, sebelum kamu meledak!" ucapnya. Dia selalu tahu bahwa Aster merasa cemburu kepada Thalita. Hal itu terkadang menjadi bahan ejekannya.             "Kepalaku sudah ada di dalam air sejak tadi, tuan!" Aster melempar bantal itu kepada sumbernya. Lalu berjalan untuk duduk di atas kursi yang kosong.             "Bagaimana dengan ibumu?" Bianca memulai pembicaraan.             "Kami bertukar banyak cerita. Tapi tentu saja belum semuanya. Nanti malam ibu mengajak kalian untuk makan malam di istana."             "Dengan senang hati, tuan puteri." Johan masih berkata dengan nada yang sama.             "Kita harus berterima kasih karena ibumu yang telah menyewa bangunan ini hanya untuk kita."             "Oya?" Aster sendiri baru mendengar mengenai hal tersebut. "Mungkin dia tahu kalian sahabat terbaikku, jadi harus mendapatkan tempat terbaik pula."             "Hah, sejak kapan?" Erik menanggapi dengan cepat.             "Semua kecuali kamu, Erik!"             Mereka semua tertawa.             "Oiya, aku belum sempat menjenguk Simon. Apa dia baik-baik saja?"             "Kami juga sama. Karena para perawat itu ingin membiarkan dia beristirahat terlebih dahulu."             "Kalau begitu kita jenguk dia besok saja. Kalian juga pasti butuh istirahat, kan?"             "Kamu juga, jangan sampai tidak tidur karena terlalu asik menjelajahi kota ini."             "Iya, iya." Aster menjulurkan lidah ke arah Bianca. Temannya itu pasti sadar jika Aster akan menghabiskan waktu hanya untuk menjelajahi tempat baru tersebut. Sama halnya seperti yang pernah terjadi di Nibbana. Pada hari kedua mereka tinggal di sana, Bianca harus dicemaskan karena sosok Aster yang tiba-tiba menghilang seharian. Setelah dicari, ternyata gadis itu hanya sedang lupa waktu menjelajahi seluruh pelosok desa.             Baru saja Aster duduk di atas salah satu sofa, terdengar suara pintu ruangan dibuka. Dua orang yang baru saja datang masuk sembari tertawa-tawa. Sepertinya mereka menikmati perjalanan mencari makan siangnya. Melihat hal tersebut, Aster bergegas berdiri, berjalan ke arah jendela. Dia berusaha menutupi salah tingkahnya sebelum diketahui orang lain.             Sebuah kaca besar terpampang di depan Aster. Membuatnya dapat dengan mudah menyaksikan keramaian kota. Orang-orang berlalu lalang. Pandangannya terarah pada satu titik. Dilihatnya beberapa orang berdiri di depan sebuah keranjang ikan. Mereka mengobrol, membicarakan sesuatu yang sepertinya serius. Aster tidak pernah ingin mengetahui urusan orang lain. Namun, yang justru terpikirkan adalah saat orang-orang itu berbalik menatap Aster. Beberapa saat dia merasa sedikit panik, tapi tak mengubah arah pandangnya. Akhirnya, orang-orang itu kembali berbicara satu sama lain sembari sesekali melirik. Kini Aster sadar bahwa mereka sedang membicarakannya.             Perhatian Aster seketika tersita oleh keingintahuan terhadap apa yang orang-orang itu bicarakan. Bahkan sudah lupa akan keadaan yang sedang dijauhinya beberapa saat lalu. Begitu pula dengan Thalita dan Alby. Mereka terlalu asik mengobrol, hingga tidak menyadari kehadiran Aster di sana.             "Apa yang kalian dapatkan?" tanya Johan sembari mengecek isi keranjang makanan.             "Kami membeli sate siput," ujar Alby.             "Siput?" Johan mengambil salah satunya. "Ini sate kerang!"             Thalita tertawa mendengarnya. "Sudah kubilang itu kerang, bukan siput. Tapi Alby terus bersikeras menyebutnya siput."             "Tidak ada bedanya, bukan? Mereka sama saja, binatang kecil berlendir." Alby berusaha membela diri. Mereka berdua pun tertawa.             Erik bangkit dari sofa. Berjalan mendekati Johan dan merebut sate yang digenggamnya.             "Hei! Tidak bisakah kamu ambil sendiri?" si lelaki sipit menggerutu.             Erik mengabaikannya, lalu melahap setusuk sate lezat itu hingga tak bersisa. Dia memperhatikan Alby yang tengah memindahkan sebagian sate ke atas piring. "Hei!" sapanya. "Kerang-kerang itu bisa menunggu. Yang itu tidak," ujarnya sembari mengarahkan ibu jari ke belakang.             Alby sedikit terkejut menyadari kehadiran Aster di sana. Gadis itu tengah berdiri memandangi entah apa di luar jendela. Dua buah sate diambilnya dari atas piring sebelum memutuskan untuk menghampiri Aster. "Kapan kamu datang?" tanyanya sembari menyodorkan sate di depan muka gadis itu.             Aster sedikit memundurkan wajah agar tak perlu terkotori oleh bumbu kerang. Lalu mengambil salah satunya. "Belum lama."             "Aku ingin menemuimu, tapi kupikir tidak baik jika harus menganggu waktumu saat sedang bersama ibumu."             "Tidak apa. Sebagai gantinya aku ada di sini sekarang."             "Lalu, apa rencanamu setelah ini?"             "Hmm?"             "Maksudku, kamu sudah menemukan apa yang dicari sejak lama."             Aster terdiam seribu bahasa. Sama sekali belum memikirkan rencana untuk kedepannya. Tujuannya memang sudah terpenuhi meskipun belum menemukan kejelasan mengenai ayahnya. "Entahlah. Aku ingin bersama ibuku. Tapi, aku tidak ingin tinggal di sini. Aku tidak tahu apakah ibu mau jika kuajak pulang ke Nibbana. Mengingat dia memiliki tanggungjawab besar untuk mengatur kota ini. Bagaimana menurutmu?"             "Hmm, pertanyaan sulit untukku," Alby berpikir sejenak. "Karena ini tentangmu dan hidupmu, jadi ikuti saja apa kata hatimu. Jika memang ingin tinggal di sini, tinggallah. Kalau ingin tinggal di Nibbana, maka pulanglah."             "Kalau seandainya aku memilih untuk tetap di sini, apa kamu juga akan tinggal?"             "Apa pertanyaan itu perlu aku jawab?"             "Aku hanya ingin memastikan. Kamu tidak perlu ber..."             "Menurutmu kenapa aku memilih tinggal di Nibbana?" Alby memotong kata-kata Aster.             Gadis itu hanya tersenyum. Kemudian memasukkan sate kerang yang tersisa ke dalam mulutnya. "Kamu sudah melihat-lihat kota ini?"             "Belum. Aku merasa lelah sekali tadi. Mungkin setelah makan kita bisa berjalan-jalan."             "Ide bagus!"             Ketujuh tamu Dione tersebut segera berkumpul untuk mengisi tenaga yang sempat terkuras. Tentu saja ini adalah kali pertama mereka akan makan di dalam lautan. Rasanya sedikit dingin, mungkin lebih tepatnya lembab. Bau asin di mana-mana. Terkadang berubah menjadi bau ikan busuk. Tapi yang paling menakjubkan adalah atap dari kota tersebut. Tidak akan ada yang bisa menandingi keindahannya. Ikan berwarna kuning bergerombol, berenang melintasi langit Dione. Menarik perhatian orang yang ada di bawahnya.             Siang itu mentari tampak berseri-seri. Sinarnya menembus hingga ke dasar lautan. Membuat warnanya sebening biru pada mata Alby. Aster menikmati makan siangnya di atas atap bangunan. Suasana bertambah nyaman berkat keberadaan teman-teman terbaiknya. Kalau saja dia menemukan Dione seorang diri, mungkin rasanya akan beda. Takkan pernah seindah saat ini.             "Lho, mana satenya?" Johan terlihat sedikit panik karena menyadari sesuatu telah hilang.             "Sudah habis, Jo," jawab Bianca.             "Hah, sudah habis? Padahal aku baru makan sedikit!"             "Sepuluh tusuk kau bilang sedikit? Entah kemana jatuhnya makanan itu dalam perutmu," ucap Erik dengan nada khasnya yang mengejek.             "Aku sedang dalam masa pertumbuhan. Tidak sepertimu yang sudah tua."             "Coba katakan sekali lagi!" Erik bangkit dari duduknya. Meremas-remas jari tangan sembari melangkah pelan ke arah Johan.             "Kau tua!" Lelaki sipit itu berjalan mundur berusaha menghindari pemangsanya. "Bianca, lindungi aku!" Johan bersembunyi di belakang tubuh Bianca.             "Maaf Jo, aku akan selalu berpihak pada Erik." Gadis itu hanya tertawa, diiringi dengan teman-temannya yang lain.             Johan berpindah kebelakang Aster, menyembunyikan wajahnya. "Aster, Aster!" ucapnya sedikit panik.             "Tidak! tidak! Aku sudah terlalu banyak masalah dengan dia," jawab gadis tersebut.             "Aku akan memanggangmu sebagai ganti jatah makan siangku yang sudah kau habiskan tadi."             "Alby!" Alby mengangkat kedua tangannya sembari mencibir. Johan tampaknya lupa bahwa dia sedang berlindung di belakang sahabat terbaik Erik. "Aaargh! Edy!" teriaknya spontan.             Erik menarik badan Johan dan mengunci leher lelaki sipit tersebut dengan tangan berototnya. Johan mengertak seakan-akan Erik benar-benar mencekiknya. Semua orang dibuat tertawa oleh sikapnya itu.             "Ayo kita menjelajahi Dione. Berhubung beberapa jam lagi langit mulai gelap." Alby berdiri, menepuk-nepuk celananya yang tidak kotor.             "Oke." Erik melepaskan tangannya dari badan Johan. "Kamu berhutang lima tusuk sate kepadaku!" ucapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD