Prolog

222 Words
"Hoek.." "Hoek." "Masih mual?" tanya Yuda seraya memijat tengkuk Afra dengan pelan. "Masih Mas," rengek Afra sambil berpegangan dengan westafel di kamar mandi nya. "Masih mau muntah?" tanya Yuda dengan nada khawatirnya. Afra menjawab dengan gelengan kepala. Dengan perlahan Yuda membantu Afra berjalan. Di pertengahan jalan, Afra badannya sangat lemas. Akhirnya Yuda menggendong Afra ala bridastyle, tidak tega dengan apa yang tengah dirasakan sang istri. Afra begini juga karena ulahnya. Jadi dia harus siap menjadi laki laki siaga dan tanggung jawab. Ya pernikahan Afra dan Yuda sudah berjalan 3 bulan. Dan ini kehamilan pertama Afra, yang berusia 4 minggu. Masa di mana morning sickness itu melanda. Afra meraih tangan Yuda, meletakkannya di atas perut nya yang memang belum membesar. Yuda yang paham, langsung mengelus perut Afra yang masih rata. "Sayang, jangan nyusahin Mimi-nya yaa. Kesian Mimi dari tadi muntah terus." ujar Yuda seraya berbisik di depan perut rata Afra. Seakan makhluk yang ada di dalam perut Afra mendengar apa yang di bicarakan nya. Afra mengelus rambut Yuda dengan senyuman yang terus merekah melihat perlakuan Yuda. Sungguh dia masih tidak menyangka dengan kehidupannya yang sekarang. Benar, cinta yang tulus itu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dan sekarang, Tuhan telah membuktikan jika perjuangannya menyukai dosen sendiri berbuah manis. Buktinya sudah jelas, ada nyawa di dalam perutnya yang mana itu darah daging Yuda Pradipta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD