Bab 39

1070 Words
[Alhmdulllah, Mas. Aamiin, semoga segera selesai] [Kita barusan sampe setengah jam yang lalu.] [Aku juga udah capek ngajarin dan ngerjain tugas sekolah bocah.] [Tapi, Mas. Kalo sekolah sudah mulai normal, aku mulai khawatir dengan Arkan di sekolah.] [Gimana dengan rencana kepindahan sekolah mereka?] Kejadian demi kejadian di sekolah yang menimpa Arkan sebelum pandemi bertamu, memberikan efek trauma yang tak kunjung menepi di benak Nadia. Ia pun khawatir Arkan akan kembali merasa tertekan, apalagi alasan itu diketahuinya secara jelas dari sang guru sendiri. [Nanti kita pikirkan soal itu. Untuk sementara biar Arkan dan Jodi melanjutkan sekolah di sana, sampai ada titik terang.] Witama jelas tidak akan paham karena tidak mengetahui secara gamblang alasan yang terjadi. Nadia pun semakin bingung membahasnya. Sedangkan ia sudah tak ingin anaknya sekolah di sana. Sepertinya ia harus berpikir keras untuk bisa meyakinkan sang suami dalam pengurusan sekolah kedua anaknya. Sementara rahasia tentang cicilan utangnya masih tersimpan aman. Pandemi memang sudah memasuki babak penurunan dan menapaki level new normal. Meski masih dalam peraturan yang ketat, tetapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Kegiatan luar rumah sedikit demi sedikit sudah mulai aktif kembali. Namun demikian, sekolah masih belum membuka kelas secara offline. Sesuai anjuran pemerintah, semua sekolah masih dilakukan secara online. [Sayang, sebelum kembali masuk kantor, mungkin aku akan pulang dulu ke Surabaya beberapa hari.] [Ada urusan mendadak.] [Kemarin Ibu ngabarin tentang keadaan Kak Sena.] Nadia berusaha menelaah alasan suaminya pulang ke kampung halaman. [Langsung dari Batam?] Sengaja Nadia bertanya demikian, untuk tidak terlalu menunjukkan kekagetannya. Sekaligus menemukan jawaban apakah Tama akan membawa serta istri dan anaknya. [Iya, pesawat Batam - Surabaya. Aku gak mampir ke Cirebon karena tes kesehatan itu hanya untuk satu perjalanan.] [Lain kali aku pasti pulang sekalian membawa kalian ke sini.] Sebetulnya ada kecewa menyelinap di sela bilik hati Nadia, tetapi jika Witama sudah memutuskan, maka itulah yang akan terjadi. Harapannya, Witama tetap menjaga kepercayaan. Setelah berhasil melewati masa "isolasi" mandiri selama satu tahun lebih, bohong rasanya kalau tidak kesal mendengar sang suami datang ke Pulau Jawa tetapi tidak menemuinya sama sekali. Rindu itu harus terbantahkan, tetapi bukan perihal rindu yang utama. Sebab sekian tahun berjarak, ia sudah terbiasa menahan semua itu. Namun, ada rasa yang tak bisa dibantah, ketika prioritas itu harus bergilir. Bukan Nadia tak paham, ia sangat tahu karakter Witama jika sudah menyangkut keluarga besar, tidak ada yang bisa menghentikannya. Kecuali tentang keputusan yang menyangkut hak-hak pribadi, tak seorang pun dapat membantah termasuk keluarga besarnya. Meski pilihan pendamping hidup jatuh pada Nadia, tetapi untuk pengabdian utama Witama tetap kepada keluarga besar. Masih segar diingatan Nadia saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga besar Sasongko, kala itu Nadia tengah hamil putra kedua, Jodi. Sementara Arkan masih berusia 1 tahun lebih. Ada sedikit perbedaan pendapat antara dirinya dan istri Mas Sena, Indah. Masalahnya sepele, hanya Nadia tak suka ada yang ikut campur tentang pengurusan Arkan. Di tengah malam, tiba-tiba tubuh Arkan demam tinggi. Mungkin karena kelelahan perjalanan Cirebon-Surabaya. Lantas Nadia dengan teori tua orang desa, ia mengompres Arkan dengan air es dan memakaikan selimut tebal. Lalu, Indah dengan tenang mengganti pengomrpes menggunakan air hangat dan membuka selimut yang menutui tubuh Arkan. Melihat itu Nadia berang, sementara Witama kekeh mencegah Nadia untuk menghampiri Mbak Indah. Adu mulut Nadia Witama pun terjadi, lantas Witama yang sangat hormat kepada kakak iparnya itu hampir saja mendorong Nadia menjauh dari Arkan. Kejadian itulah yang kadang membuat Nadia merasa tak enak jika bertemu dengan Mbak Indah. Terkadang rasa untuk pindah ke Surabaya pun membuat Nadia mengerut, meski ia beberapa kali mengajak Witama pindah. Sebab sebagian besar waktu Tama akan terpusat pada keluarga besarnya. Sepertinya hal itulah yang membuat lelaki pecinta warna hitam itu tak bisa menjejerkan keluarga kecil dan keluarga besarnya. Ia memilih dan memutuskan untuk tinggal jauh dari Kota Pahlawan. Keputusan yang tepat, bukan? *** Hari ini Witama bertolak ke Surabaya untuk menemui keluarganya karena ada kabar mendesak. Pesawat berflat garis hijau itu baru saja mendarat di Bandara Juanda. Begitu keluar pos imigrasi, sambil menunggu pick up luggage, ponsel Tama sangat gaduh oleh bunyi notifikasi yang tak henti. Beberapa pesan dan panggilan tak terjawab. Di antaranya dari nomor sang istri dan sang ibu, Arika. Gegas Tama menuju nomor sang ibu dan menelepon kembali. "Assalamualaikum," sambut sang ibu lembut. "Waalaikumsalam, Bu. Sebentar lagi saya sampai di rumah." "Loh, gak dijemput aja, Tam?" "Gak usah, Bu. Ini sudah di dalam taksi." Tentu saja Tama berbohong. Ia baru saja menemukan luggage-nya dan menggiring ke pintu keluar melewati petugas clearance. Taksi online yang dipesannya beberapa menit lalu, sudah menunggu tepat di gate yang diinformasikan. "Dengan Pak Tama?" Sang sopir menyambut saat Tama membuka pintu mobil. Tama mengangguk, seraya tersenyum. "Kenjeran, ya, Pak?" Kang sopir yang sudah mengetahui alamat dituju, mengulang untuk memastikan. "Iya, Pak." Tiba di ujung jalan perumahan masa kecilnya, ada kelegaan tersendiri saat dilihatnya sekeliling masih aman. Hanya kondisinya, sepi dan beberapa orang saja tampak beraktifitas. "Assalamualaikum, Bu, Mas Sena, Mbak Indah." Tama langsung menerobos pintu depan yang biasanya selalu terbuka, kini ditutup rapat. Di sisi kiri pintu terdapat hand sanitizer besar dan air pencucinya. Melangkah ke ruang tengah, di sofa yang selalu digunakan kumpulan keluarga besar Sasongko sudah menunggu beberapa kepala. Bu Arika, Mas Sena, Mbak Indah dan satu lagi perempuan bersama anak kecil yang belum pernah Tama lihat. Usia anak itu kira-kira sekitar 1 tahun. Baru kali ini Tama melihatnya di antara keluarga besar Sasongko. Tak banyak mengeluarkan kata-kata basa basi, Tama langsung menyalami sang ibu dan Mas Sena. Sambil pandangannya sejurus ke permpuan yang duduk di samping ibunya. "Duduklah, Tama." Bu Arika meminta Anak tengahnya bergabung dengan mereka. Masih dengan pandangan heran, ia memindai matanya menuju sang kakak yang masih terdiam duduk di hadapan semua. Berkali-kali Tama mengerutkan dahi dan matanya melirik perempuan dengan anak kecil itu. 'Apa mungkin mereka yang akan melamar pekerjaan di rumah orang tuanya?' Tama mulai berteka-teki. "Begini, Tam. Saya mau minta saran." Mas Sena akhirnya meminta izin untuk bersuara. Sementara Bu Arika, tampak menghela napas dalam. Begitu juga dengan Mbak Indah dan perempuan asing itu. Keduanya tampak kikuk, meskipun harus dipaksa baik-baik saja. "Saran, apa, Mas?" Sena mulai menyusuri semua wajah perempuan yang ada di sana. Terutama Indah, istri kakanya. "Kenalkan ini Anita dan Dion." Sena kembali menjeda dan menghela napas. "Dion anak kami," lanjutnya. Kalimat terakhir Sena cukup membuat Tama terbelalak dan mengerutkan dahi dalam waktu bersamaan. "Maksudnya?" Tama meminta kepastian dengan tatapannya kepada Bu Arika dan Mbak Indah. Sena mengangguk, sementara ketiga perempuan di sana saling membuang wajah. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD