Bab 38

1026 Words
Nadia mengusahakan untuk pulang ke rumah sang ibu setelah beberapa waktu. Ia nekat berangkat tanpa melakukan tes kesehatan, karena jaraknya pun tidak menempuh jalur luar kota. Setelah meminta izin Witama, Nadia dan kedua anak-anak langsung bersiap. Untuk sementara Jodi dan Arkan mengikuti kelas online di rumah sang nenek. Sengaja Nadia tidak memberi kabar terlebih dahulu, sehingga membuat Bu Rosmia sedikit terkejut. "Assalamualaikum," ucap Arkan dan Jodi berbarengan saat memasuki ruang tamu yang pintunya dibiarkan terbuka. Anak dan ibu itu melongokkan kepala ke setiap sudut rumah, tak nampak ada orang di dalam. Kemudian mereka langsung menuju kamar pribadi Nadia sejak masih remaja. "Arkan, Jodi," sambut sang nenek. Rupanya Bu Rosmia baru saja selesai menunaikan salat zuhur di musala keluarga yang terletak di halaman belakang. Arkan dan Jodi segera mencium punggung telapak tangan sang nenek, mengikuti Nadia yang lebih dulu melakukannya. Kemudian duduk di bale-bale belakang rumah yang tampak makin menghijau. Beberapa jenis tanaman tumbuh subur di tepi taman yang melingkari lapangan berumput. Di salah satu sudut taman ada gazebo besar, tempat berkumpul atau sekadar menikmati udara segar di pagi dan senja hari. Dulu, taman ini belum begitu terawat. Apalagi saat almarhum Bapak masih ada, taman itu belum hijau merata seperti sekarang. Perubahan dari waktu ke waktu membuat kenangan di setiap titik rumah itu tenggelam. Halaman berlapis tanah dan pasir dengan ditumbuhi pohon mangga, sirsak dan beberapa pohon hiasan lainnya. Di sana tempat Nadia biasa menghabiskan waktu jika sedang suntuk dengan pelajaran sekolah atau kesal pada Nina. Salah satu pohon mangga favorit Nadia masih kokoh berdiri di sana. Dahan yang sudah bersahabat sejak ia masih jadi gadis kecil, setiap ada kesempatan pasti memanjati pohon mangga paling landai tetapi batang dan dahannya paling besar. Nadia pernah membuat rumah pohon sederhana di atas sana. Hanya dengan kain jarik dan tambang yang dilingkarkan pada batang satu ke batang lain, lalu berimajinasi sendirian. Perlahan halaman itu ditutupi paving, demi terlihat lebih bersih dan pasirnya tidak mengganggu ke lantai teras belakang. Apalagi kalau musim penghujan, pasti sangat becek dan berserak. Berganti musim dan tahun, Bapak merencanakan pembangunan gazebo dan bale-bale untuk bersantai. Apalagi sejak Bapak pensiun, ia selalu ingin menghabiskan waktu di sana sambil menikmati senja dan teh hangat tanpa gula. Kemudian semenjak Bapak pulang, semakin banyak perubahan di rumah ini. Halaman paving berganti lagi dengan rumput hijau yang selalu tampak segar. Tembok tinggi di samping gazebo yang memagari semua bagian rumah dengan tanah kosong milik Bapak di belakang sana, kini terdapat bagian yang dijadikan pintu yang menembus ke halaman belakang rumah Nindi. Pintu itu tidak pernah dikunci, hanya sebagai pembatas rumah utama dan rumah Nindi. "Kok, mendadak, Nad?" Bu Rosmia membuka percakapan, ia mengikuti Nadia duduk di gazebo belakang. Sementara Arkan dan Jodi bermain petak umpet di halaman luas yang selalu mereka rindui itu. "Iya, Bu. Tadi gak rencana dulu, kita langsung siap-siap aja. Mungkin tiga harian kita nginep di sini." "Kenapa gak seminggu aja, atau nunggu Nindi pulang?" bujuk Ibu. "Liat nanti, ya, Bu. Karena kalo rumah ditinggal terlalu lama nanti banyak banget debu." Bu Rosmia mengangguk pelan. "Kak Nina gak jadi pulang, Bu?" Nadia Mencoba membahas tentang Kak Nina dan bersikap seolah-olah tidak tahu kabar tentang Caca. "Apa kamu belum tau, kalo Caca sakit? Dia positif. Kemarin rencananya mau pulang, tapi harus tes kesehatan dulu. Pas hasilnya keluar, Caca dinyatakan positif. Mereka isoman di rumah gak bisa kemana-mana dulu." "Ya, Allah, semoga cepat sembuh. Saya tau dari Nindi kemarin." Bu Rosmia tampaknya tak ingin terlalu membahas soal Nina, ia paham ada kondisi yang sedang tidak baik di antara kedua anak perempuannya. "Gimana kabar Kang Angga, Bu? Apa kasusnya masih berjalan?" Nadia pura-pura tidak tahu. Bu Rosmia menghela napas pelan, tetapi dalam. Mata perempuan yang makin menua itu menerawang entah ke lorong waktu yang mana. Ada gerakan tak beraturan dari pupil hitamnya. Gelisah! Nadia sabar menunggu jawaban yang sepertinya akan terlontar sedetik kemudian. "Mungkin ada baiknya tanah itu tidak segera laku terjual. Jadi selamat, walaupun Ibu sudah ikhtiar ke sana ke mari demi mendapatkan jalan kemudahan. Sampai harus menghabiskan belasan juta." Jawaban yang tidak pada intinya, tetapi Nadia paham ke mana arahnya. Sebagaimana ia mengetahui jejak kasus kakak iparnya itu. Nadia juga akhirnya mendengar sendiri dari mulut sang ibu tentang pembayaran kepada orang pintar berilmu yang katanya banyak berhasil membantu, nyatanya ilmu itu diperjualbelikan. Namun, seperti membeli bubuk sagu dilabeli nama s**u. Sama halnya seperti ilmu tong. "Sekarang gimana, Bu? Masih lanjut mau dijual?" "Gak tau, Nad. Ibu ini hanya memegang amanat Bapak. Semua tanah yang Bapak punya, sudah ada bagian sendiri untuk kalian. Jadi terserah kalian saja. Ibu cuma minta kamu tetep teruskan cicilan untuk pelunasan ke bank itu. Kalau tidak, tanah dan rumah utama ini akan jadi jaminannya." "Nadia masih mengusahakan, Bu." Perihal cicilan itu, Nadia juga sudah tak ingin membahasnya lebih lanjut. Terserah Ibu dan Nindi mau ikut membantu setoran atau tidak. Ia sudah mulai menemukan kelancaran usaha dalam mendapatkan penghasilan tambahan, dari serabutan online yang penting halal. Namun, rasanya ada hal yang ia rasakan berbeda beberapa bulan belakangan. Setelah Bu Rosmia melakukan restrukturisasi cicilan ke bank tersebut, Pak Hasan tidak segiat dulu menagih setiap bulan. Bahkan berapapun Nadia mentransfer untuk cicilan, Pak Hasan tak mengirimkan pesan penagihan ulang. Nadia merasa ibunya sedikit ada perubahan. Sikapnya mulai melunak dan tampak pasrah. Apakah itu dipicu oleh kejadian yang menimpa keluarga kak Nina atau ada hal lain? Entahlah! Keduanya kini hanyut dalam hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. "Arkan, Jodi! Sini, Nenek punya es buah. Pasti kalian suka." Bu Rosmia beranjak dari gazebo, menghentikan kedua cucunya yang tengah berlarian. Sontak bocah-bocah itu berlari mengikuti sang nenek. "Aku mau!" Keduanya bersorak bersamaan. Notifikasi pesan terus menyerang ponsel yang mulai terasa kelelahan, sebab setiap beberapa menit tiba-tiba lagging. Pesan Witama memenuhi jejeran chat yang masuk. [Sayang, sudah sampai rumah Ibu?] [Mulai minggu depan aku sudah kembali masuk kantor. Hanya jamnya tidak full.] [Mudah-mudahan segera pulih dan kembali normal.] Satu lagi yang Nadia tak patut mencurigai suaminya, Witama selalu memberinya kabar tanpa ditanya terlebih dahulu. Terutama hal yang berkaitan dengan kondisi pekerjaannya, karena itu juga berpengaruh pada kelanjutan cerita rumah tangganya. Setiap perkembangan di kantor, Witama menganggap itu adalah sebuah perjalanan yang suatu saat akan kembali mempertemukan dengan keluarga kecilnya tercinta. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD