Bab 37

1009 Words
Pesan balasan dari Nindi baru saja menyelinap di sela-sela chat customer yang tengah Nadia balas satu per satu. [Caca positif, Mbak. Katanya setelah mereka melakukan tes kesehatan di rumah sakit.] [Rencananya mereka akan pulang ke rumah Ibu, tapi batal karena Caca sakit. Dan harus isoman.] Nadia teringat tentang kabar dari Bu Rosmia mengenai rencana kakaknya itu. Ia merasa kini telah begitu jauh dengan Kak Nina, setelah kasus penipuan yang dialaminya dan perseteruan tentang bantuan beriklan untuk penjualan lahan milik sang kakak. Jika dipikir ulang, ada baiknya tanah itu belum laku terjual. Tuhan lebih dulu membukakan kebenaran sebelum kembali terjerumus jatuh lebih dalam dan memberikan luka baru untuk sang ibu. Ada saja orang kalau mau turun karir, hancur bisnis dan popularitas karena ulah sendiri yang terlalu serakah. Seperti yang dilakukan kakak iparnya itu. [Ya, Allah kasian. Semoga lekas sembuh. Kamu kapan pulang, Ndi? Ibu kasian sendirian.] Nadia tidak ingin membahas terlalu dalam tentang hal yang menimpa kakaknya. Ia menebak, Nindi belum mengetahui kabar terbaru suami kakak sulungnya. [Amiin. Belum tau kapan Mbak. Soalnya masih ketat banget peraturannya. Mbak Nadia memangnya gak ngomongan sama Kak Nina? Kok, tanya saya?] [Nggak begitu, Ndi. Setelah aku gak bisa bantuin ngiklan tanahnya yang mau dijual itu, Kak Nina diemin Mbak.] [Ooh. Untung tanah itu belum sempat laku terjual, kasian Kak Nina dan juga Ibu kalo sampe udah kejual. Saya denger kabar tentang Kang Angga dari Ibu. Ikut prihatin dengernya. Mba Nadia gak pulang nengok Ibu?] Nindi balik bertanya. [Iya, Ndi. Jangan ribut-ribut ke siapa pun dulu, ya! Takutnya ada pihak-pihak yang ikut campur dan makin menjatuhkan. Mungkin minggu depan Mbak pulang.] [O, iya, Mbak. Ya, udah. Nanti aku telepon Ibu ngabarin belum bisa pulang.] [Iya, jaga kesehatan di sana.] Nindi hanya merespon dengan emot jempol. Meskipun sempat kecewa terhadap Nindi karena sikap tak bertanggung jawabnya atas cicilan ke bank, Nadia masih tetap memiliki rasa kasih untuk adik bungsunya itu. Sekalipun tengah ada ketegangan, mereka masih tetap berkomunikasi baik. Tidak seperti halnya dengan Nina, jika mereka sudah terjebak perselisihan dan perang dingin, maka akan tetap begitu sampai ada yang mengakurkan. Dulu almarhum Bapak selalu menjadi penengah antara Nina dan Nadia, jika berselisih paham. Mereka bisa tak bicara selama seminggu. Bahkan di sekolah, di tempat ngaji dan jika bepergian dengan keluarga hanya dua orang itu saja yang tak menyambung kata. Lalu, Bapak akan menjahili keduanya sampai mereka kembali tertawa dan berbicara lagi. Sekarang? Siapa yang bisa menyatukan mereka jika menghadapi perang dingin. Akan sangat lama disudahi. Apalagi semenjak menikah dan masing-masing punya prinsip hidup sendiri. Sudah semakin tidak peduli, apalagi Ibu tampak selalu memihak kepada si sulung. Berselang beberapa detik, ponsel Nadia berdering tanda panggilan masuk. Nomor Witama berkelip-kelip di layar datar. "Assalamualaikum, Mas," sambut Nadia. "Waalaikumsalam. Gimana kabarmu sekarang, udah baikan?" Witama langsung peka dengan kegalauan yang ditumpahkan istrinya melalui pesan semalam. "Sekarang udah mendingan." "Udah gak bete, kan? Mana anak-anak?" "Ya, masih sedikit. Anak-anak barusan makan nasi ayam, sekarang lagi pada ngerjain tugas sekolah." "Nad, sabar, ya. Jangan sering-sering marah sama anak-anak. Mas, ngerti situasi kamu. Tapi tolong banget, usahakan kurangi marah sama anak-anak. Kasian." "Tapi kadang aku gak bisa kontrol kalo udah kesel, mana capek, gak enak badan lagi." Nadia makin mengeluarkan kecamuk. "Mas ngerti, Sayang. Bukan Mas gak mau kita tinggal bersama, tapi mohon sabar sedikit lagi, ya. Sebetulnya perusahaan sudah memberikan jatah rumah tinggal dan Mas udah mempersiapkan untuk membawa kalian ke sini. Biar anak-anak sekolah di sini saja. Tapi sebelum semuanya beres, tiba-tiba berita virus itu datang. Jadi ditangguhkan. Inshaallah setelah pandemi selesai, Mas langsung siapkan kalian untuk segera pindah ke sini." "Berarti proses pemberian rumah tinggalnya ditangguhkan juga, Mas." "Tidak. Mereka tetep menandatangani surat allowance untuk rumah tinggal. Hanya gaji pokok saja yang masih dipotong lima puluh persen. Mudah-mudahan setelah pandemi akan kembali normal semuanya." "Alhamdulillah kalo gitu. Aamiin." "Mas juga ingin kalian segera pindah ke sini. Gak enak, kan, jauhan terus." Witama mencoba menggoda sang istri meski terdengar garing. "Mas..." "Ya," "Kamu baik-baik aja, kan, di sana?" "Menurutmu?" "Ya, gak tau. Kan, aku tanya." "Baik-baik gimana maksudnya? Aku sehat alhamdulillah, masih bisa kasih tanggung jawab buat anak istri." "Maksud aku, kamu gak nyimpen rahasia di belakang aku, kan?" Witama terbahak mendengar pertanyaan yang seperti lelucon baginya. "Rahasia apa, Sayang?" "Ya, mungkin aja yang aku gak tau. Namanya juga rahasia. Sekarang lagi musim banget, tuh, suami diem-diem chatting sama cewek lain tapi nama kontaknya diganti jadi tukang bubut misalnya." Tawa Tama kembali berderai. "Ide dari mana itu, Nadia? Kamu kebanyakan nonton sinetron dan berita artis, sih. Makanya jangan kebanyakan mikir aneh-aneh, nanti malah kemakan pikiranmu sendiri." "Eh, tapi bener, loh. Suami yang rata-rata bersikap seolah-olah paling setia dan tanggung jawab, tau-tau selingkuh." Nadia semakin blak-blakan. "Udah, ah. Itu tergantung orangnya. Biar aku gak romantis ato gak cuek-cuek banget tapi yang penting bener jadi laki. Udah jangan mikir aneh-aneh. Mikirin satu aja udah pusing, anak-anak sekolah dan lain-lain." "Oh, jadi aku musingin kamu, Mas?" "Loh, loh, kok, jadi malah serba salah aku. Udah, ah, lagian kamu nyari aja bahan ribut. Kayaknya gak enak kalo sehari gak ribut. Kita lagi baik-baik aja, jangan suka nyari-nyari. Jaga diri baik-baik sama anak-anak, ya. Love you." "Baik-baik juga di sana, awas, loh!" Nadia bersungut-sungut. "Bukannya dijawab love you too, gitu. Malah ngancem." Tama terkekeh. "Iya, love you too." "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Sedikitnya ada kelegaan setiap Witama menelepon dan berbicara lebih panjang dari biasanya. Apalagi selalu menyelipkan kata-kata yang membuat sang istri tenang menjalani takdir meski harus berjauhan. Senyum yang semula sulit terbit, kini tersungging berkali-kali dari bibir yang dilapisi pemerah alami itu. Mood-nya kembali normal, rasa kewanitaannya makin tersentuh setelah dihujani kata penguatan dari sang suami. Hanya itu, ya, hanya sebuah pengertian dan sedikit perhatian yang dibutuhkan seorang istri saat ia merasa diserang kelelahan sehingga emosinya menjadi tidak stabil. Tak putus rasa syukur Nadia, bahwa Tuhan mengirimkan seorang lelaki yang tepat dalam hidupnya. Meskipun dalam lubuk hati paling dalam rasa was-was itu selalu menghantui. Jika suatu saat terjadi sesuatu kepada mereka berdua, lalu siapa yang akan membela dirinya? Sementara sang bapak telah berpulang dan tidak satupun kakak laki-laki ia miliki. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD