Witama merasa baru kemarin melewati masa paling sulit saat mempersiapkan semua untuk pernikahan mereka. Bahkan masih segar diingatan saat Arkan baru saja lahir, sekarang sudah ada dua jagoan kecil di usia sekolah. Berbagai kerumitan atau tawa dalam masa tumbuh kembang anak-anak mungkin tak mewarnai harinya, tak seperti Nadia yang selalu direpotkan ini dan itu setiap hari dalam perjalanan hampir sepuluh tahun.
Ia paham bagaimana yang dihadapi nadia sehari-hari, memang tidak mudah. Tak jarang saat istrinya merasa dirundung kesal dan rasa capai, ia akan menelepon Tama dan meluapkan semua kekesalan itu.
Witama dengan tenang dan sabar mendengarkan semua keluhan itu. Sebagai seorang suami dan laki-laki,Tama tentunya tidak mau ambil pusing. Keluhan istrinya itu hanya bagian dari luapan isi hati yang terendapkan.
Bahkan saat hujaman kekesalan itu melesat bertubi-tubi, Tama hanya meletakan ponselnya di atas meja. Sementara dirinya melakukan kegiatan seperti biasanya sambil menahan tawa, kecuali jika Nadia bercerita tentang hal serius. Kadang dengan sikap Tama yang seperti itu, membuat Nadia kesal karena dinilai terlalu cuek.
"Bukan cuek, Sayang. Kalau aku gak peduli, masa' iya, sampai hari ini aku tetep memperhatikan kalian." Tama terdengar serius saat Nadia menyatakan kekesalannya setiap kali meluapkan unek-uneknya.
"Aku ngerti yang kamu rasakan, gak mudah jadi ibu. Apalagi kamu tinggal sendiri, hanya dengan anak-anak. Sabar, ya." Hanya itu yang bisa Tama ucapkan.
Hidup berjauhan dari suami bukanlah juga hal yang mudah. Semua orang yang berumah tangga pasti mengidamkan keluarga impian, tinggal bersama dan berbagi kerumitan berdua. Namun, sepertinya ada yang harus Nadia dan Tama pelajari lebih dalam ketika mereka tinggal bersama. Mereka masih perlu belajar mendalami perbedaan.
Notifikasi masuk bertubi-tubi ke ponsel Tama tentunya dari Nadia dan keluarga di Surabaya yang ia hubungi tanpa respon sebelumnya.
[Assalamualaikum, Mas. Maaf, tadi aku sedang di kamar mandi.]
Tanpa menunggu lama, Witama segera menekan tombol call.
"Mas," sambut Nadia begitu ponselnya berdering panggilan Tama.
"Nadia, gimana kamu dan anak-anak?" Suara Tama memburu.
"Alhamdulillah baik, Mas." Nadia merespon dengan tenang. "Ada apa, Mas? Sepertinya ada sesuatu." Nadia menyelidik.
"Cirebon masih aman, kan?"
"Iya, Mas. Di sini semua masih normal saja. Walaupun berita itu mulai meresahkan dan sebagian ibu-ibu di grup sekolah anak ada yang menginfokan penyebaran dan dampaknya."
"Ya, Nad. Memang sudah sangat meresahkan. Kalian jaga diri baik-baik. Kalau ada pengumuman dari pemerintah setempat, ikuti saja. Sediakan beberapa cairan desinfektan yang selalu kamu gunakan untuk membersihkan rumah, Nad. Sedia hand sanitizer dan masker, penting!"
"Apa separah itu, Mas?"
"Di sini sudah mulai ditutup, Sayang. Sebagian perusahaan tidak beroperasi. Semua melakukan kerja dari rumah. Sama sekali tidak ada yang keluar, kecuali jika terpaksa."
"Ya, Allah, Mas. Kedengarannya ngeri sekali."
"Coba kamu sering nonton perkembangan berita. Meski kita tidak tahu kebenarannya, tapi angka kematian di sebagian negara sangat tinggi bahkan di Singapura saja rumah sakit penuh. Yang meninggal setiap menit."
"Mas, jaga diri di sana. Terus, gimana, kamu gak bisa pulang, dong?"
"Alhamdulillah Mas sehat, kita saling mendoakan. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan Mas belum bisa melakukan perjalanan pulang. Bandara pun ditutup, baik ke luar ataupun domestik."
"Sampai kapan, Mas?"
"Tidak tau, Sayang. Mungkin sampai semuanya kelar. Dan itu tidak ada yang tau."
Ucapan terakhir Tama benar-benar sangat melumpuhkan ketegaran ibu muda itu, hatinya mencelos membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
"Jaga diri, ya. Anak-anak juga, sekarang Mas mau ngabarin keluarga di Surabaya. Salam buat Ibu dan keluarga di Cirebon.
"Assalamualaikum."
"Iya, Mas. Waalaikumsalam."
***
Berita tentang meluasnya kasus yang kini kian menjadi berita terbesar di seluruh dunia berhamburan di setiap laman media sosial, grup-grup w******p dan televisi. Nadia baru saja menerima informasi dari pihak admin sekolah tentang pembatalan rencana field trip ke Jakarta, dikarenakan Ibukota sudah mulai melakukan penutupan untuk semua warga luar yang akan menerobos masuk ke wilayah kota. Demi terjaganya kebersihan dan penyebaran virus yang mungkin saja dibawa masing-masing individu.
Di satu sisi, Nadia bernapas lega karena tidak harus terbebani dana piknik anak-anak TK yang luar biasa itu, juga tidak kepikiran keruwetan jika mendampingi sendiri dengan 2 anak. Namun, di sisi lain ia harus siap menahan rindu kepada sang suami, yang kemarin sudah menggulungnya dalam ribuan jam jarak jauh. Kini bertambah dengan susahnya menginginkan temu.
[Halo Bu, sehubungan dengan penyebaran berita virus global, kami mengumumkan untuk perjalanan field trip dibatalkan dan untuk sistem belajar mengajar akan dilakukan secara online. Lebih lengkap infonya bisa cek email masing-masing. Terima kasih.]
Pesan admin sekolah yang barusan masuk ke ponsel Nadia. Segera ia pun mem-forward pesan tersebut apda Witama. Itu artinya Nadia harus mempersiapkan diri dengan tugas-tugas kedua bocah itu dan membimbing mereka dalam waktu yang sama, di kelas berbeda.
Tidak terbayangkan sebelumnya bagaimana belajar berbasis online itu. Apakah anak-anak akan merasa nyaman dan betah belajar? Apakah mereka akan fokus terhadap gurunya atau malah fokus ke hal lain?
Beberapa warga di lingkungan kediaman Nadia, masih ada yang berkeliaran. Bahkan masih melakukan kegiatan seperti biasa. Kang sayur yang biasa lewat ke perumahan itu pun masih tampak beraktivitas. Meskipun kini penampilannya sedikit berbeda, ia mengenakan masker dan penutup wajah transparan, face shields.
"Ah, ngeribetin bae berita ini, tuh. Ya, kalo orang-orang kaya, sih, gak apa-apa duduk diem di rumah masing-masing karena persediaan kebutuhan sehari-hari bisa mereka persiapkan. Lah, kalo kita ini yang penghasilannya dapet harian, itu gimana?" Terdengar salah satu suara ibu yang tengah berbelanja di tukang sayur itu.
Beberapa ibu-ibu yang lainnya meng-iya-kan. Meskipun jumlah warga yang berbelanja sekarang berkurang, karena sebagian ibu-ibu tetap mengikuti anjuran di rumah saja.
"Iya, betul, Bu. Suami saya yang kerjanya ngojek keliling seperti si Mang Sayur ini, kan, gak bisa diem bae di rumah. Lah, terus kita mau makan apa?" timpal ibu yang lain.
"Belum lagi kalau mempersiapkan bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari untuk distok juga, kan, harus ada uangnya dulu. Mana kita tau bakal ada berita ginian." Suara yang lain pun menambahkan.
Bagi Nadia sendiri entah harus berpihak ke mana. Penyebaran virus itu sungguh menakutkan dan bukan hal yang main-main, tetapi juga susahnya kehidupan orang-orang yang tak seberuntung dirinya menambah beban kerumitan mereka.
Dilema!
Perdebatan panjang yang menimbulkan gesekan dan pro kontra dengan peraturan pemerintah di grup-grup w******p semakin mewarnai percakapan yang tadinya sepi. Beberapa ada yang mengirimkan video dan foto-foto yang menggambarkan keadaan penyerbuan barang kebutuhan pokok di salah satu pasar dan supermarket, meroketnya harga masker dan langkanya hand sanitizer membuat semua berlomba memborong, bahkan di tempat lain ada yang berebut obat-obatan dan s**u kaleng yang dipercaya dapat meningkatkan imun tubuh.
Gila! Manusia makin menggila dengan semua kegilaan ini.
***
Bersambung...