Bab 23

1069 Words
Witama baru saja mendapat kabar dari rapat besar yang baru saja digelar kantornya. Batam sudah mendapat perintah harus menutup akses keluar masuk orang-orang asing maupun domestik. Merebaknya kasus isu virus berbahaya itu telah merambah negeri pertiwi. Negata tetangga seperti Malaysia dan Singapura telah melakukan penutupan sejak sepekan lalu. Awalnya isu itu hanya dianggap isapan jempol belaka, karena mustahil rasanya jika penyebaran virus sampai menyeluruh di hampir semua negara. Faktanya, itulah yang terjadi. Berita-berita selalu menampilkan topik virus itu sebagai judul utama. Makin membuat kecemasan dalam hati lelaki bertubu tinggi 180 cm itu bertambah. Setidaknya 1 atau 2 tahun ke depan, ia tidak bisa bertemu keluarga tercinta. Lalu, kekhawatiran lainnya, apakah mereka masih bisa bertemu kembali? Sampai kapan viris itu bermukim di muka bumi? Entahlah! Beberapa kali dering telepon berbunyi di seberang, tetapi belum juga ada respon dari si pemilik. "Ke mana, Nadia?" Gerutu Witama. Ia berjalan mondar-mandir mengitari meja kerjanya. Pikirannya semakin tak karuan. Apakah di Cirebon juga sudah merebak isu itu, juga dengan keluarga besar di Surabaya. Ia mencoba menelepon kediamannya dan juga ke ponsel sang mama dan kakaknya, tetapi semua tidak merespon. Dering telepon di meja kerja Witama malah berbunyi nyaring, membuatnya sedikit melonjak kaget bercampur kesal. "Halo, Tama di sini." "Pak Tama, instruksikan kepada seluruh karyawan di bawah divisi anda mulai besok diwajibkan menggunakan masker. Tolong pengumuman ini harus gencar disuarakan. Kondisi benar-benar sidah semakin ketat." Suara tak asing milik sekertaris pimpinan utama, baru saja memberikan informasi tambahan yang tidak terkatakan dalam rapat tadi. "Baik, Bu." "Mulai besok akan ada perubahan peraturan untuk semua karyawan dan pengetatan tugas." "Diterima, Bu." "Oke, baik. Terima kasih, Pak Tama." "Sama-sama, Bu." Sambungan terputus. Witama memandang ke arah jendela kaca besar yang menembus cakrawala Batam dan sekitarnya. Kabut hitam seolah-olah menutupi penglihatan, suramnya kehidupan seakan telah menampakkan diri. The real Beatles! *** Berita mengenai virus itu semakin santer dan menggila. Beberapa negara di bagian belahan bumi lain berjuang mati-matian melawannya. Hampir seluruh negeri ditelan sunyi. Kehidupan seperti mati. Keadaan yang sebelumnya sangat hidup seperti bernyawa, kini terasa mencekam. Mata-mata hanya mampu meneropong dunia melalui jendela kaca yang tidak terbuka, dan tidak ada yang boleh terbuka. Komunikasi mendadak seperti bisu. Hanya suara-suara berita yang menyetia memberi kabar tentang dunia. Kehidupan seperti telah menemukan titik jenuh, tidak hanya satu atau dua orang yang dinyatakan meninggal. Puluhan bahkan ratusan setiap harinya. Semua tempat umum ditutup, sebagian perusahaan menetapkan pekerjaan dilakukan di rumah. Saat itu istilah work from home pun menjadi populer. Peraturan mendekam di dalam rumah selama tiga bulan diumumkan dari pemerintah pusat, tentunya hal tersebut memgundang reaksi pro kontra. Perusahaan di mana Tama bekerja, hanya menetapkan karyawan level bawah yang melakukan pekerjaan di rumah. Untuk level menejemen, tetap melakukan tugas di kantor dengan peraturan yang semakin ketat. Di setiap sudut wajib menyediakan hand sanitizer, sebelum masuk diharuskan mengukur suhu tubuh, dan masker selalu digunakan. Bersin adalah kondisi paling dihindari. Jika seseorang bersin tanpa masker, langsung mendapat reaksi pengucilan. Dunia semenakutkan itu saat teror virus itu datang. Operasi ekspor impor yang sebagian besar merupakan kegiatan usaha di Kota Batam turut lumpuh. Begitu juga dengan perusahaan Tama bekerja, semua kontrak dengan vendor dan suplier dari beberapa negara sementara ditangguhkan sampai keadaan membaik. Kapan? Tidak seorang pun memastikan. Pandangan Tama di sekitar kota Batam yang mencekam, justru menghadirkan momen-momen kebersamaannya dengan Nadia saat pertama kali saling mengenal. Setelah kurang lebih 2 tahun bekerja dan saling berkontak secara profesional, untuk pertama kalinya mereka berkomunikasi secara pribadi. Tama yang sebetulnya sudah menyimpan perhatian terhadap gadis sederhana yang tidak populer itu, ingin menjadi dekat dari sejak lama. Namun, sikap Nadia yang seperti selalu menghindar, membuat Tama berjalan santai menunggu waktu yang tepat. Setelah dilakukan pendekatan secara intens, tetapi tidak memaksa, Tama mengetahui jika saat itu Nadia tengah menjalin komunikasi serius dengan seseorang dari kotanya. Tak lain adalah Doni. Sikap Nadia yang tak mudah goyah oleh gangguan dari seorang pria itulah yang membuat Tama semakin tertarik dan simpatik. Sangat jarang ada seorang perempuan di dunia modern bisa memegang teguh kepercayaan. "Pak Tama, saya maaf saya mau izin untuk mengundurkan diri." Itulah kata kunci yang pertama kali mempertemukan mereka. Saat itu Nadia setuju menuruti saran Bu Rosmia untuk pulang dan bertunangan dengan doni. Sebelum akhirnya ia mengetahui lelaki yang dijodohkan dengannya memilih gadis lain. "Kenapa mau resign?" tanya Witama pura-pura bersikap cuek. "Saya mau menikah, Pak." Nadia menjawab dengan polos tanpa tendensi apa pun. "Ooh, sudah punya calon kah?" Witama berusaha memancing. Nadia diam, sedikit ragu untuk menjawab. Namun karena tak ingin terlalu lama berada di kantor sang atasan, maka ia merespon secara spontan dengan gelengan. Responnya membuat witama mengernyit. "Loh, lalu? Kok, bisa resign mau nikah?" Witama jarang sekali berbicara dengan lawan jenis, apalagi untuk hal yang tidak penting meskipun Nadia sangat tahu kepala bagiannya itu mempunyai beberapa teman wanita yang tidak biasa. "Saya ikut kata ibu saja." Nadia menunduk malu karena di zaman modern ini masih ada hal seperti itu. "Dijodohkan?" tebaknya. Nadia mengangguk. Swjak saat itu Witama jadi lebih sering mencoba berbicara dengan Nadia di berbagai kesempatan. Sampai pada akhirnya keduanya bisa saling bercerita, berselang setelah kabar tak mengenakan dari Doni. Lalu, selanjutnya Tama lah yang turut andil membujuk Nadia untuk tidak resign dan tetap bertahan di sana. Kenangan terindah mereka berawal dari segelas Teh Obeng. Minuman khas yang menjadi salah satu khazanah kekayaan lokal Negeri Bandar Dunia Madani ini. Benih-benih rasa pun mulai tumbuh di antara kedua padang hati yang kering dan tandus. Tama yang sejak putus dengan seseorang di Surabaya, tidak pernah mencoba membuka hati dengan siapa pun meski ia memiliki banyak teman wanita di tempat bekerja. Sementara Nadia terlalu sulit menghadirkan perasaan terhadap lawan jenis karena terlalu sibuk membahagiakan diri sendiri. Jika bukan karena desakan sang ibu, Nadia masih tidak terpikir untuk mengakhiri masa lajang. Rasanya terlalu berharga kebahagiaan yang sedang ia nikmati, jika diakhiri dengan memilih seseorang yang tidak tepat. Bukankah menikah itu berarti menghabiskan waktu seumur hidup dengan pasangan? Lalu, bagaimana jika kita menghabiskannya dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah tahu tentang kesamaan persepsi rumah tangga? Setidaknya sejalan dan satu rasa itu harus ada. Dan Tuhan berikan jalan menempuh perjalanan baru yang Nadia inginkan. "Will you marry me, Nadia?" Pertanyaan di tengah makan malam saat kencan kedua. Witama mantap mengambil langkah serius. "Holy moly guacamole!" seru Nadia saat menerima surprise. Tama hanya terbahak dengan respon yang ditunjukkan Nadia saat itu, seraya menautkan jemarinya dengan jemari Nadia sebelum akhirnya menyematkan benda bulat seukuran jari manis bermata zircon. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD