"Coba kalo waktu itu gak jadi ikut nyimpen duit ke koperasi itu, mungkin uang kita selamat. Tinggal gunakan buat modal usaha aja." Terdengar Nindi terus menggerutu dalam perjalanan menuju Ibukota. Padahal waktu pertama Nadia menjelaskan tentang keuntungannya, Nindi orang yang paling semangat menabungkan uangnya di sana.
Penyesalan demi penyesalan yang tidak akan mengubah apa pun, sekarang hanya lanjutkan mengikuti arahan informasi dari grup w******p yang menampung informasi para nasabah. Nadia selalu berusaha menghubungi Ferli, kawannya yang pertama kali memperkenalkan kepada para ketua di grup investasi itu, tetapi upayanya tidak pernah berhasil karena nomor Ferli sudah tidak dapat dihubungi. Bahkan di akun media sosial pun, Nadia sudah diblok orang tersebut. Sejak kabar itu, Ferli raib bagai dihisap pusaran segitiga Bermuda.
Nadia hanya terdiam, ia masih mengingat ucapan ibunya semalam saat ia baru saja datang dengan anak-anak, bermaksud menitipkan mereka karena akan mencoba peruntungan dengan membuat laporan ke bareskrim.
"Setiap kali Arkan dan Jodi di sini, Ibu jadi tidak bisa ikut kumpulan arisan dengan Ibu-ibu kelurahan. Ibu jadi tidak enak karena acara itu hanya seminggu sekali. Kalau tidak hadir nanti berasa berhutang, kalau hadir nanti gimana si Arkan dan Jodi?"
"Ya, sudah. Ibu berangkat saja. Anak-anak biar ditinggal saja selama Ibu ada acara." Untuk kali ini Nadia menahan kecewanya, ia sadar tak ada jalan lain selain kembali merepotkan ibunya. Meskipun Ia tahu ibunya selalu merasa terbebani jika kedua anaknya berada di sana. Apalagi dengan tujuan "dititipkan" karena Nadia harus meninggalkan mereka.
"Ah, nanti gimana makannya, terus kalo mereka ke toilet, siapa yang cebokin? Siapa lagi kalo bukan Ibu yang jagain mereka. Kalo kamu bawa orang yang jagain mereka, sih, gak apa-apa. Ibu bisa tenang meninggalkan mereka."
Nadia lagi-lagi harus menelan ucapan yang menurutnya sangat menyinggung perasaan. Jika saja Nadia bisa membawa orang yang menjagakan Arkan dan Jodi, tentunya mereka tidak akan dititipkan. Jika juga bukan karena urusan yang penting itu, tidak akan ia merepotkan Ibu untuk menjaga anak-anak. Toh, dulu waktu masih tinggal di rumah Ibu, Nadia sendirian yang mengurus anak-anak. Hanya jika ada hal mendesak, terpaksa ia titipkan anak-anak kepada Ibu.
Nadia juga tidak tahu harus menjawab apa dengan tanggapan Nindi barusan. Berpura-pura tidak mendengar sepertinya lebih baik untuk saat ini. Pikiran Nadia betul-betul sudah penuh.
***
Mobil yang mereka tumpangi masih terus melaju memasuki gerbang perbatasan kota.
"Apa kita langsung ke Polda, Mbak?" tanya Pak Daman, sang sopir yang mengantar kedua kakak adik itu.
"Iya, Pak. Langsung ke bareskrim."
"Mudah-mudahan saja menghasilkan dan uang kita bisa kembali." Nindi kembali menimpali.
"Tapi, Mbak, menurut berita yang saya dengar kalau kasus seperti ini jarang yang kembali uangnya. Bahkan beritanya perlahan akan lenyap." Pak Daman yang selalu diandalkan keluarga Ibu Rosmia mengeluarkan pendapatnya.
Nadia sedikit terkejut dengan ucapan si bapak, bagaimana bisa ia mengetahui masalah ini? Nadia bergumam dalam hati. Ia tak menjawab pertanyaan Pak Daman, hanya anggukan sebagai respons. Lalu melirik ke arah Nindi mencari jawaban, mungkin ia tahu dari mana pak sopir ini tahu. Tidak salah tebak, pasti Ibu yang menceritakan semua. Jawaban itu ia temukan sendiri sebelum bertanya pada Nindi.
Jika sudah begini, biasanya semua rahasia permasalahan keluarga akan bocor kemana-mana.
Kenapa Ibu tidak pernah bisa diam sedikit saja, menahan diri untuk tidak bercerita tentang masalah pribadi?
Ini bukan yang pertama, dulu beberapa kali Nadia dibuat kecewa oleh sang Ibu karena terlalu mengumbar ucapannya tentang apa pun yang di rencanakan oleh Nadia. Kejadian yang paling sulit Nadia lupakan adalah ketika ibunya mengumbar cerita tentang pekerjaan Witama dan kemampuannya yang tak kunjung bisa merencanakan membeli rumah sendiri.
"Saya sebetulnya lebih senang kalo anak-anak itu bisa hidup mandiri. Bukannya tidak boleh menumpang di rumah orang tua, tapi kalo yang namanya nikah harusnya sudah siap dengan berbagai kemungkinan. Apalagi punya anak, suami istri harusnya sama-sama urus anak." Tak sengaja Nadia mencuri dengar di suatu siang, saat acara kumpul keluarga di rumah Bu Rosmia. Semua saudara yang mendengar, tentu saja memberikan respons macam-macam.
"Harusnya sudah mulai dipikirkan cara bagaimana membeli rumah, meski nyicil gak apa-apa. Daripada uangnya habis entah ke mana," lanjut Bu Rosmia.
Nadia hanya mengelus d**a. Bagaimana mau mulai menyicil rumah, cicilan ke bank saja masih harus diselesaikan. Sementara waktu itu Nadia lebih memikirkan persiapan sekolah anak-anaknya yang diperhitungkan akan memasuki usia sekolah.
Hampir empat tahun terkahir Nadia memang masih menumpang di rumah ibunya beserta anak-anak yang masih balita waktu itu. Bukan ia tak mau mengontrak rumah sendiri, tetapi sebagai ibu baru yang emosinya masih labil dan juga belum mempunyai pengalaman mengurus anak sendirian, Nadia hanya merasa khawatir jika berada di lingkungan yang baru.
Ketika anak-anaknya memasuki usia sekolah, akhirnya Nadia memberanikan diri untuk mencoba hidup sendiri meski jauh dari keluarga. Sementara sang suami juga bekerja jauh di Pulau Batam. Di tempat itu pula, dulu Nadia menghabiskan masa mudanya dalam mencari rezeki.
Setidaknya saat itu, Nadia bisa menghidupi diri sendiri tanpa merepotkan orang tua. Bahkan sedikit demi sedikit ia membantu jika salah satu saudaranya membutuhkan. Saat masih sayang-sayangnya pada pekerjaan, lalu ucapan Ibu Rosmia mengusik ketenangan Nadia. Mengingat usianya yang menginjak 25 tahun. Apalagi kalau bukan menginginkan anaknya segera melepas masa lajang. Jika tidak, maka ia akan dicap sebagai perawan tua. Khususnya jika tinggal di kampung yang lingkungannya percaya bahwa perawan tua akan lebih sulit menemukan jodoh.
Bahkan untuk mendesak Nadia, Bu Rosmia hampir saja menjodohkannya dengan anak seorang pengusaha yang mempunyai ruko besar di kampungnya. Seperti biasa Bu Rosmia membanding-bandingkan dengan semua teman-teman Nadia yang sudah menikah.
"Lihat, tuh, si Fitri, temanmu. Dia sudan nikah, sudah punya anak, loh."
"Iya, Bu. Biarkan saja. Mungkin jodohnya cepat datang, lagian menikah itu butuh persiapan matang. Dan juga sayang kalo harus meninggalkan pekerjaan."
"Ya, makanya nikah aja sama anaknya Bu Laras, si Doni itu. Kurang apa lagi? Dia sudah mapan, orang tuanya punya usaha, kamu tinggal jalanin aja. Gak usah kerja juga, gak bakal kekurangan sama dia mah."
"Saya pikirkan dulu, ya, Bu. Karena saya juga belum tau banyak tentang Kang Doni."
"Gak perlu kenal lama-lama, nanti saja pas udah nikah, kan, bisa sambil pengenalan. Lagian Ibu sudah tau banget dengan keluarga si Doni. Udah baik, terpandang di kampung ini. Banyak, loh, ibu-ibu sini yang mewanti-wanti si Doni jadi mantu sama Bu Lastri."
"Terserah Ibu saja." Akhirnya desakan-desakan itu membuat Nadia tak mempunya pilihan untuk menolak.
"Kalo gitu nanti Ibu bicarakan dengan Bu Lastri. Kapan kamu pulang? Jangan lama-lama, nanti dia keburu pilih yang lain."
"Iya, Bu. Saya harus menunggu dua bulan lagi karena cutinya gantian dengan karyawan lain."
"Ya, ampun! Itu, sih, kelamaan, Nad."
Bu Rosmia seolah-olah tidak habis akal, ia begitu gigih menjodohkan Nadia dengan Doni. Upaya mendekatkan mereka pun berhasil. Doni dan Nadia akhirnya saling berhubungan meski hanya melalui telepon. Betapa besarnya harapan Bu Rosmia dengan perjodohan itu. Selain Doni bisa diandalkan menjadi suami untuk Nadia karena kemapanan usahanya, ia juga bisa memanfaatkan keadaan itu untuk menunjang usahanya menjadi lebih besar.
Bukankah kemapanan Doni sangat menjanjikan? Begitu kira-kira yang ada di pikiran Bu Rosmia.
Keinginan dan harapan ternyata tidak selalu satu jalur,Tuhan membelokkan harapan Bu Rosmia. Entah dengan alasan apa, tiba-tiba Doni mengambil keputusan sepihak. Ia akhirnya memilih menikahi seorang guru cantik yang jauh lebih muda usianya dari Nadia. Sedangkan Nadia, usianya hanya berselisih beberapa bulan saja dengan Doni. Tentu saja itu juga menjadi pertimbangan utama bagi lelaki idaman emak-emak di Desa Cirebon Girang itu.
Berawal dari kekecewaan itu, Bu Rosmia seolah-olah tidak pernah puas dengan apa pun yang Nadia lakukan. Apalagi sekarang ditambah dengan kasus terjermababnya ke dalam lembah penipuan investasi bodong, dengan jumlah yang fantastis.
***
Sampai jumpa di episode selanjutnya?