Di halaman bareskrim siang itu, tampak beberapa orang telah berkumpul. Nadia segera berbaur mencari informasi. Salah satu perwakilan dari ketua grup memberitahukan untuk mengisi data diri lengkap dengan surat perjanjian yang pernah diterima dari koperasi tersebut. Bahwasanya, berkas itu akan dilanjutkan ke bagian penyidikan. Jika datanya sesuai, maka besar kemungkinan uang itu akan didapatkan kembali.
Menunggu di bawah terik Ibukota, di halaman kantor Bareskrim dengan mengantongi segudang harapan tentang pengembalian dana. Keringat perlahan mulai merembes melalui celah pori-pori. Beberapa yang menjadi perwakilan nasabah, mencoba menemui kabareskrim atau minimal wakilnya untuk membuat dan menyerahkan laporan para nasabah.
"Gimana, Pak? Apakah masih ada harapan?" tanya seseorang dari salah satu kerumunan. Ia mendesak maju mendekati seorang pria yang baru saja keluar dari ruang kantor bareskrim.
"Semua berkas sudah saya serahkan beserta laporannya. Harapan saya sama dengan teman-teman semua, uang kita bisa kembali meskipun tidak full."
Semua yang berkumpul di sana menunjukkan wajah lega dengan penuh pengharapan.
"Lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya, Pak?" Nadia memberanikan bertanya. "Apakah masih ada tindak lanjut kita harus kembali ke sini? Atau bisa diwakilkan saja? Karena saya jauh dari luar kota dan sudah tak mampu jika harus bolak-balik mengingat kita dalam keadaan pailit," sambungnya.
"Iya, betul, Pak."
"Benar, kita serahkan ke ketua grup saja. Mereka harus tanggung jawab." Terdengar suara saling bersahutan.
"Oke, nanti kita menunggu info lanjutan dari pihak ketua grup dan para kurator yang akan mengurus berkas kita naik ke pengadilan."
"Tapi, Pak, kalo kasus sudah naik pengadilan apakah masih punya harapan uang kembali? Karena itu nantinya, kan, akan diserahkan ke pengadilan negeri. Kecil kemungkinan uang kembali, Pak." Seseorang yang dianggap paham hukum, kembali bersuara.
Keadaan kembali riuh. Mereka juga tak ingin usahanya sia-sia. Mungkin sebagian dari mereka sudah mengetahui bahwa sistem seperti ini adalah ilegal, tetapi tetap memaksa bermain karena keuntungan yang menggiurkan. Namun, bagi sebagian lagi yang tak tahu menahu permainan itu alias awam, mengira bahwa itu adalah bisnis legal dan benar-benar dihasilkan dari bagi hasil.
Sekarang hanya tinggal menunggu waktu dan informasi selanjutnya dari grup, tentang keputusan dari bareskrim.
***
Sepulang dari kantor bareskrim, Nadia tak berlama-lama lagi di rumah Bu Rosmia. Ia dan anak-anak segera kembali ke rumah kontrakannya. Mengingat kedua bocah itu harus masuk sekolah keesokannya.
Terkadang Nadia merasa sangat lelah dengan apa yang ia jalani. Merasa ingin bercerita, tetapi ia bingung kepada siapa. Witama? Tidak mungkin menceritakan tentang masalahnya saat ini kepada Witama. Sedangkan urusan anak-anak pun ia sendiri yang mengatur segalanya. Seakan-akan pikirannya terpecah oleh rincian masalah yang sulit untuk diurai sendirian.
Kondisi seperti ini membuat Nadia tak dapat mengelola emosi dengan baik. Apalagi setiap kali desakan itu datang, sementara ia juga harus membantu tugas sekolah dua anaknya. Belum lagi jika keduanya saling berebut maninan atau berkelahi hanya untuk hal sepele. Hal itu bisa membuat Nadia menghardik Arkan dan Jodi dengan nada tinggi dan berulang-ulang.
Meskipun setelahnya, Nadia akan merasa sangat bersalah dan langsung memeluk, serta menciumi kedua putranya dengan kristal bening yang berderai tanpa mampu ia cegah. Terasa seperti bongkahan grnait menyesaki dadanya, kesalahan itu begitu buruk berpengaruh kepada pola asih dan ia sadar sangat mengkhawatirkan perkembangan kedua jagoan kecilnya itu.
Bunyi notifikasi pesan beruntun masuk ke ponsel Nadia. Di antaranya pesan dari grup para korban nasabah itu.
[Kawan-kawan, sudah ada info dari bareskrim mengenai pengajuan laporan kita kemarin. Berkas itu sudah masuk ke penyidik untuk nantinya ditindaklanjuti ke pengadilan dan diputuskan untuk pemilik koperasi itu.]
Pesan dari seseorang yang Nadia kenal sebagai ketua.
[Lalu, gimana nasib uang kita? Apakah akan kembali atau gimana?]
Salah satu anggota menanggapi.
[Iya, gimana, nih? Setidaknya setengah bisa kembali. Kita yang dikejar bank ini yang kerepotan.]
Tanggapan dari yang lain.
[Mengenai hal tersebut, nanti akan coba kami komunikasikan. Karena nantinya akan diurus oleh pengacara kita dan pihak kurator untuk menghadapi sampai ke persidangan.]
Balasan lanjutan dari sang ketua.
[Ketua juga harusnya bertanggung jawab, dong. Kan, kalian setiap kali ada anggota masuk, pasti dapat persentase tinggi. Itu aja kalian balikin dulu sama kami, kasian kami yang dikejar pihak bank. Apalagi yang seluruh modal usahanya disimpan di tempat kalian. Apa kalian tidak mikir?]
[Semua sedang kami tindaklanjuti, kami tidak mempunyai kewenangan dan tidak juga menerima persentase seperti yang anda kira. Dana kami juga sama ada di sana. Jadi, jangan berspekulasi terlalu jauh. Lagian waktu masih profit, kalian diam saja. sekarang ribut!]
Balasan dari sang ketua membuat grup makin panas.
[Kami ikut serta dan menyerahkan dana ke tempat kalian karena kami percaya itu bukan investasi bodong dan mana kami tau kalo ternyata usaha kalian tidka ada. Koperasi itu hanyalah bohong belaka, surat yang kalian serahkan saat pendaftaran itu palsu. Ini bisa kami laporkan juga sebagai penipuan.]
[Ya, silahkan. Kalo bisa. Yang ada kalian yang akan kena masalah baru karena itu termasuk investasi bodong dan kalian akan dianggap bermain judi.] Begitu jawaban jebakan dari sang ketua, yang akhirnya membuat semua anggota nasabah menjeda untuk tak menbalas.
[Sudah, jangan pada ribut. Kita sama-sama berdoa agar hasil penyidikan akan memberikan pencerahan.] Akhirnya salah satu anggota yang lain berusaha menenangkan situasi. Grup pun kembali senyap.
Tak banyak yang bisa Nadia lakukan dalam situasi ini. Ia hanya harus menjaga kewarasan dan terus mencari celah usaha. Saat-saat hatinya tengah dilanda kegalauan yang luar biasa, biasanya ia akan segera mengambil wudu dan menghadap Sang Khalik untuk mengadukan segala curahan hatinya.
Baru saja Nadia menggelar sajadah, terdengar Arkan berseru.
"Ma, aku mau pupup." Dengan wajah memelas lelaki kecil itu memandang ke arah mamanya.
"Aku tunggu Mama sampe Mama selesai berdoanya." Arkan berujar takut-takut, Ia tahu setiap kali memberitahu untuk pupup saat mamanya hendak salat, pasti akan kena marah.
Anehnya hal tersebut terjadi kerap kali Nadia hendak salat. Saat-saat sang Mama sedang tidak melakukan apa-apa, keduanya--baik Jodi ataupun Arkan--tidak ada yang berteriak mau pupup. Sebab itulah Nadia kerap kesal dan marah. Namun, tanpa ia sadari kejadian itu bukanlah sengaja dilakukan anak-anak itu. Secara tidak langsung sebenarnya Nadia tengah diingatkan bahwa ada yang terabaikan karena terlalu sibuk mengejar cuan, demi melunasi cicilan.
Mereka hanya butuh perhatian sedikit saja dari ibunya. Namun, Nadia belum menyadari jika sikapnya telah membuat anak-anak itu selalu merasa takut setiap kali meminta apa pun atau hendak mengutarakan sesuatu. Terlebih ketika Nadia tengah sibuk dengan ponselnya, yang mereka pahami mamanya sedang bekerja di sana. Padahal, tak jarang Nadia malah membuang waktunya berselancar di media sosial, jika jualan online-nya diserap sepi.
"Aarrrgghh...! Kenapa gak dari tadi kalo mau pupup? Tiap kali Mama mau salat selalu saja kalian pupup. Gak bisa sebentar aja biarin Mama berdoa. Mama pusing!" bentak Nadia kesal.
"A-arkan tunggu Mama selesai berdoa." Arkan sekali lagi berujar dengan bibir bergetar.
"Gak usah, cepetan kalo mau pupup. Bilang kalo udah!" ketus Nadia. Arkan yang sedari tadi menahan mules pun segera berlari menuju toilet. Nadia melempar kembali mukena yang sudah terlanjur ia pakai dan mendudukan diri di sudut tempat tidur dengan memejam lelah.
Kalau saja tinggal bareng Mas Tama, mungkin aku gak serepot ini. Kapan kita bisa tinggal bersama, Mas? Aku lelah sendirian.
Tapi ... Ah, sudahlah!
***
Bersambung...