Kak Nina berusaha membujuk Bu Rosmia untuk segera menjual tanah bagiannya, tetapi sampai detik itu belum menemukan calon pembeli yang serius. Meskipun sudah mencoba diiklankan. Kebanyakan hanya bertanya saja dan tidak menemukan kesepakatan saat negosiasi harga.
Nada dering telepon mencari perhatian saat Nadia menemani anak-anaknya berenang.
"Halo, Assalamulaikum, Bu." Sedetik sesaat ia melihat nomor ibunya muncul di layar datar itu.
"Nad, begini, tanahnya Kak Nina, kan, masih belum juga ada yang serius, Ibu minta tolong kamu iklankan di mana gitu. Kamu, kan, tau caranya. Biar cepet laku, soalnya Kak Nina sudah mendesak terus." Bu Rosmia langsung pada inti pembicaraan tanpa bertanya kabar keluarga di Surabaya atau basa-basi apa pun, bertanya tentang Arkan dan Jodie pun tidak. Mungkin pikirannya terlalu sibuk oleh urusan Kak Nina.
"Apa kabar, Bu? Nadia usahakan, ya, Bu. Inshaallah segera dapat. Atau mungkin saat ini belum dapet karena belum ada yang tepat, Bu. Kalo buru-buru gitu takutnya malah ditawar murah." Nadia menanggapi Bu Rosmia.
"Ya, Ibu baik saja. Kemarin juga sudah ada yang nego, tapi harganya terlalu murah. Kak Nina menolak."
"Iya, pasti akan ditawar murah, Bu. Karena mereka tau kalau kita butuhnya cepet. Sayang kalo menurut saya, Bu."
"Ya, udah Ibu minya tolong untuk diiklankan secepatnya, ya. Pasang nomor Ibu atau nomor Kak Nina biar langsung menghubungi kami untuk nego harga."
"Baik, Bu."
"Asslaamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sampai sambungan telepon terputus pun, sepertinya Bu Rosmia tidak terlalu tertarik dengan kegiatan Nadia bersama keluarga mertuanya di sana. Nadia menarik napas dalam, dan mengembuskannya pelan.
"Mama, Jodi haus. Mau minum." Dari tempat berenang, Jodi dan Arkan riuh berteriak meminta minum. Nadia tidak menyadari selama ia dalam percakapan, Witama tidak di tempat semula dan anak-anaknya terus berteriak karena kehausan.
"Eh, iya, Sayang. Ini minumnya." Nadia segera membuka botol minum masing-masing milik Arkan dan Jodie.
Tempat berenang umum hari ini tidak begitu padat, karena mereka sengaja datang tidak di akhir pekan atau hari libur, supaya tidak terlalu penuh. Seperti biasanya setiap ke Surabaya, mereka pasti mampir untuk berenang di salah satu hotel yang berjarak tidak jauh dari rumah orang tua Tama.
Beberapa detik kemudian menyusul langkah Tama kembali ke area kolam renang dengan diikuti dua orang pelayan pool bar. Masing-masing dengan nampan berisi minuman dan makanan yang beberapa menit lalu ia pesan.
"Waah, kentang goreng. Aku mau, aku mau!" Jodie gegas ke luar dari kolam dan langsung menyerbu sepiring kentang goreng yang memang dipesan untuknya dan Arkan.
"Aku juga mau." Menyusul Arkan melahap miliknya.
Keduanya begitu antusias bermain air, sehingga lupa perutnya terasa kosong setelah satu jam. Diteguknya jus jeruk masing-masing hampir tandas.
"Ah!" Kedua bocah itu mengeluarkan bunyi khas selepas dahaga tersiram.
"Alhamdulillah!" ucap keduanya berbarengan.
"Ayo, mandi lagi." Jodie makin bersemangat.
Untuk saat itu Nadia tak merasa lagi mencemaskan kedua buah hatinya. Saat-saat bersama sang ayah adalah saat terbaik bagi mereka yang tidak didapatkan setiap waktu.
***
"Ibu, bingung menawarkan ke siapa lagi, Ndi. Masih belum juga ada yang datang." Bu Rosmia makin mengeluhkan nasib penjualan tanah sulungnya.
"Ibu sudah bilang sama Mbak Nadia untuk diiklankan?" Nindi kembali mengingatkan.
Sebelum Bu Rosmia menelepon Nadia untuk minta tolong mengiklankan tanah Kak Nina, Nindi memberikan saran itu kepada ibunya. Dua hari lalu, Bu Rosmia sudah menghubungi Nadia, tetapi masih juga belum ada kabar baik.
"Sudah, tapi belum juga ada yang menghubungi." Bu Rosmia tampak bingung.
"Mungkin masih belum ada jodohnya, Bu."
"Ibu juga kadang bingung kalau Nina ada permintaan, pasti ingin buru-buru. Sedangkan kita tau menjual tanah itu tidak seperti menjual minyak goreng atau bensin. Kalaupun harganya naik, pasti tetep p
cepat laku. Nah, ini jual tanah, kan, harus tepat sasaran kalo gak mau nyesel." Terdengar Bu Rosmia mulai putus asa.
"Belum lagi urusan ke bank selesai, ini sudah nambah lagi bae urusan. Pusing, ah. " Perempuan yang memasuki usia setengah abad itu mendengkus.
"Memangnya se-urgent itu, ya, Kak Nina butuhnya?"
"Ibu juga tidak tanya terlalu jauh Ndi. Kamu tau kakakmu seperti apa." Apalah daya, Bu Rosmia pun tak bisa menegaskan untuk bertanya lebih lanjut kepada Nina mengenai desakan itu.
"Apa Ibu yakin, itu untuk membeli tanah kavling di sebelah rumahnya atau untuk hal lain? Rasanya kok semendesak itu. Kalo untuk beli tanah di kavling sebelah rumah mereka, bisa saja mereka bayar DP dulu. Sisanya bisa nanti." Nindi mencoba mengeluarkan perkiraannya.
Bu Rosmia tampak berpikir keras mendengar pernyataan Nindi barusan. Sedikitnya ucapan Nindi masuk akal juga.
"Tapi, Bu, kalo Ibu mau mencoba, bisa tanya ke orang pintar aja." Nindi mengusulkan kemudian.
Usul itu sedikit menurunkan ketegangan di raut wajah Bu Rosmia.
"Mungkin bisa kita coba, Ndi. Tapi siapa dan di mana kira-kira yang bisa dipercaya ampuh untuk menolong hal begitu?"
Sampai akhirnya Bu Rosmia mencari-cari informasi ke semua rekan arisan dan saudaranya tentang seseorang yang dipercaya dapat membantu dengan ketinggian ilmunya.
Terdengar sakral saat seorang kerabat menyarankan untuk menemui sesepuh yang diketahui sudah banyak membantu orang yang membutuhkan. Sesepuh itu dipercaya sebagai orang alim yang berpengaruh dan diakui kedalaman ilmunya.
Kabarnya ia banyak mewujudkan beberapa permintaan yang datang kepadanya, seperti pengusaha, calon pejabat, pengasihan dan terakhir yang pernah ia bantu meloloskan calon lurah di salah satu desa. Juga urusan jual-beli, bahkan bisa laku dengan harga jual fantastis.
Bu Rosmia pun menyetujui menemui orang pintar tersebut. Lantas ia dan Nindi menemui seseorang yang disebut si abah itu secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Nadia. Mereka melancarkan rencana jalan pintas meski harus membayar mahar yang diminta oleh si abah itu.
Bu Rosmia tergiur dengan keuntungan dua kali lipat yang dibicarakan si abah tersebut.
"Bismillah," ucap perempuan setengah abad itu dengan raut wajah sumringah. "Semoga berhasil, usaha kita, Ndi."
"Iya, Bu. Namanya juga ikhtiar, semoga dilancarkan." Nindi turut mengaminkan.
Keduanya berdoa dengan hati penuh harapan. Harapan yang tidak tahu mereka gantungkan ke arah mana. Sebab jika benar orang ahli itu bisa segera mengetahui siapa dan ikhtiar yang harus diusahakan oleh Bu Rosmia, ia seharusnya bisa langsung memberi tahu ke mana harus menghubungi dan memberikan kunci amalan atau usaha yang harus dilakukan sebagai ijazah tanpa harus menyarankan Ibu baya itu membeli sejumlah barang yang entah untuk apa dengan nominal yang luar biasa biasa.
"Untuk maharnya, Ibu ambil saja paket level tinggi dan cukup membayar seharga limabelas juta rupiah. Kalau Ibu mau melakukan amalannya sendiri, bisa ambil paket biasa dengan harga lima juta rupiah saja. Tetapi hasilnya pasti lama dan Ibu harus mengejar target seribu bacaan wirid setiap malam." Begitu keterangan si abah yang berhasil di temui Bu Rosmia dan Nindi setelah mendaftar dan rela mengantri dengan pasien lain yang datang dari luar kota.
Luar biasa sekali. Bukankah itu sudah bisa dikatakan level wali?
Begitu julukan para pasien kepada si abah itu.
Dan Ibu Rosmia pun percaya seperti halnya mereka. Lalu dengan suka rela ia merogoh kantong untuk membayar jasa orang pintar itu, demi mewujudkan keinginan yang belum tentu ada kepastian.
"Coba lihatkan telapak tangan Ibu!" perintah si abah selanjutnya.
Bu Rosmia pun menurut. Ia menjulurkan tangan dan membuka telapak tangannya. Si abah mencoba melakukan sesuatu di bawah telapak tangan Bu Rosmia.
Seketika Bu Rosmia terkejut karena terasa ada getaran yang menyengat dan terlihat ada bulatan hitam saat sesuatu seperti kilat petir tiba-tiba muncul. Itu menambah kesan magic yang luar biasa di benak Bu Rosmia.
"Di tanah Ibu juga ada yang menghalangi, ini, Bu. Sepertinya ada seseorang yang memang tidak suka Ibu menjual tanah itu. Atau memang ada penunggu lama yang menutupi aura tanahnya. Makanya lama terjual." Bu Rosmia dan Nindi manggut-manggut. Delapan puluh persen otaknya tercuci oleh keagungan ilmu "sang wali" itu.
Bu Rosmia semakin yakin adanya makhluk yang menutupi aura tanah itu, hatinya makin menebak-nebak siapa gerangan yang berniat buruk padanya. Lalu kemudian segera melakukan pembayaran sesuai mahar. Deal!
***
Bersambung...