Bab 15

1125 Words
"Apakah tidak bisa diungkap, Mas?" "Bukan tidak bisa, tapi susah mendongkelnya. Saling menutupi. Yang ada malah kita yang mati konyol. Tapi kalo dibiarkan, akan habis sia-sia manusia di Indonesia. Yang lebih kasian, mereka yang berhasil meraup rezeki setiap hari, lalu uangnya dimasukkan ke investasi gak jelas hanya karena ingin mendapat lebih, taunya ditipu." Ungkapan Antasena seolah-olah memberikan pencerahan bagi Nadia yang diam-diam mencuri dengardengar obrolan suami dan kakak iparnya itu. Ada kemungkinan jika uangnya tidak akan pernah bisa kembali. Nadia menarik napas berat. Lalu kembali pura-pura fokus ke obrolan istri Sena yang membahas tentang kegiatan ibu-ibu bhayangkari. "Kalau kasus penipuan investasi itu biasanya sistemnya mereka seperti apa, Mas?" Witama makin penasaran. "Biasanya mereka bekerja memutar uang nasabah, dari yang masuk dibagikan ke anggota yang lama, begitu seterusnya. Tidak ada sebetulnya bisnis yang mereka kembangkan. Coba saja tanya jenis usahanya, pasti tidak ada yang bisa jawab. Dan biasanya mereka bersembunyi di balik usaha kecil, supaya tidak kena pajak." Sebelum obrolan masik ke tahap lebih lanjut, sang mama berseru dari dalam. Memanggil semua anak dan cucunya untuk segera menuju meja makan. Itulah adat di keluarga Sasongko. Jika semua anggota keluarga tengah berkumpul dan makanan siap disajikan untuk menyambut kedatangan kerabat atau saudara, semuanya harus berada di meja makan walaupun tidak ikut makan. Waktu terbaik untuk berkomunikasi dalam keluarga adalah saat di meja makan. Peraturan dari sejak Senopati masih ada, No phone on the dining table. "Sarapan, sek, yo. Hari ini Mbok Mar masakin rawon istimewa. Tama, Nadia, makan, sek. Terus istirahat, kalian pasti capek diperjalanan." "Wah, mantap, nih, sarapan sama rawon. Nanti siang rawon lagi, ya, Ma." Witama bersemangat ketika makanan khas favorit-nya disebutkan. Semangkuk rawon yang hitam, belum tentu rasanya sehitam rupanya. Begitu juga perjalanan sebuah takdir, bisa jadi tampak hitam tetapi ada kenikmatan yang bisa diselami bahkan saat keberadaannya tidak nampak dengan penglihatan, tetapi cukup dirasakan dengan kesyukuran dan keikhlasan. "Mbok Mar, amit Mbok panggilkan arek-arek. Kon, makan, sek!" perintah Bu Arika dengan logat Surabaya-nya yang sudah mendominasi. "Nggeh, Bu." Si mbok patuh dan gegas memanggilkan aden kecil yang tengah asik bermain di halaman belakang. *** Nadia masih kesal dengan tanggapan Witama tentang pesan dari sekolah Arkan. Lelaki itu terkesan cuek dan let it go. Basically, Witama memang orang yang tidak suka memperpanjang masalah dengan lika liku dramanya. Jika masalahnya sudah diatasi, maka kasus ditutup, tak perlu dibahas lagi. Namun, tetap harus menjaga kewaspadaan. Pemikiran Nadia tidak sesederhana suaminya. Sebagaimana seorang ibu, ia masih merasa tak terima membayangkan sesuatu lebih buruk terjadi kepada anak-anaknya. Gemes, rasanya. "Iya, beruntung bisa kembali, Mas. Kalau seandainya tidak ada yang menemukan, gimana? Ah!" Perasaan Nadia benar-benar terasa diperas emosi. "Tuhan masih sayang sama Arkan, Sayang. Sekarang kita harus membantunya menghilangkan trauma itu. Makanya itu, aku minta agar Arkan gak masuk dulu dua minggu ini." Tama mengusap-usap punggung kecil Nadia lembut. "Bersyukurnya dari serangkaian pertanyaan dan pendekatan psikolog tadi tidak terdeteksi trauma serius. Arkan hanya perlu pendampingan untuk recover efek terkejut," lanjut Tama lagi, Nadia mengangguk menyetujui. "Aku capek, Mas. Kalo ada apa-apa sama anak-anak, aku nyesek sendiri, Mas." Nadia mulai terisak. "Mas tau, situasi yang kamu jalani tidak mudah. Insyaallah, secepatnya kita kumpul bersama, ya. Makasih, Sayang, kamu udah kuat merawat anak-anak." Witama merengkuh tubuh ringkih Nadia ke dalam pelukannya. "Sekarang tidur dulu, ya. Anak-anak udah pada tidur." Lelaki dengan tinggi 180 cm itu menutup pintu kamar, setelah mengecek kamar anak-anak. Ia mulai merebahkan diri, bersisian dengan Nadia. "Masih capek, ya. Padahal aku udah kangen banget sama kamu." Witama mengerling seraya menaik turunkan alisnya "Ya, kan, ini udah ketemu dari kemarin-kemarin, Mas." Nadia melirik heran dengan tingkah suaminya yang mendadak aneh. "Ya, bukan kangen itu. Masa' gak ngerti, sih. Dari sejak datang, kita sibuk ini itu. Tar besok, ya." Witama merangkul tenguk sang istri, merebahkan di d**a bidangnya sambil mengusap pucuk kepala orang yang selalu dirinduinya itu. *** Sebetulnya sang mama selalu berharap, semua anaknya tinggal bersama di rumah itu. Almarhum suaminya, Senopati, telah menyiapkan bebebrapa paviliun untuk ditinggali anak cucunya. Namun, keinginan mengumpulkan semua keluarga di istana impian sang bapak, belum terlaksana. Sebab ada beberapa hal yang tidak bisa ditinggalkan. Witama dengan pekerjaannya di Batam. Sementara adik bungsunya, harus ikut suami bertugas di kota lain. Hanya kakak sulungnya yang saat ini tinggal bersama sang mama karena kebetulan bertugas di Polrestabes Surabaya. Seperti melanjutkan cita-cita sang bapak di instansi yang sama. Di luar tugas, Sena juga masih harus mengurus peternakan bebek peninggalan sang bapak. Membudidayakan telur bebek sebagai pemasok besar untuk penjual telur asin di beberapa kota. Penghasilan dari bisnis itulah yang membawa keluarga Senopati ke jajaran pengusaha besar di Surabaya, meski belum bisa dikatakan Crazy Rich. Mengawali bisnis budidaya bebek saat beliau masih menjabat di kepolisian. Setelah mendapat surat perintah penetapan dirinya di kota kelahirannya. Awal membangun bisnis itu, tentu saja banyak kendala dan trial error yang dihadapi. Memerlukan tidak sedikit biaya, apalagi jika bebek-bebek itu terkena virus unggas dan tidak bisa bertelur. Banyak kerugian yang dialami Senopati kala itu, ia pun hampir menyerah dan tergoda bisnis lain. Bahkan beberapa rekannya menawarkan sebuah bisnis mudah, modal hanya sekali, keuntungan bisa berkali-kali. Namun, setelah Senopati mengetahui bisnis yang dimaksud, ia langsung mundur. "Ini sistem affiliate, Bos. Modal kecil, gak perlu mikir rugi, pasti untung terus. Beli provider di link affiliasi, tinggal sebar. Yang main, uang bayarannya, langsung masuk kantong, Bos. Safety, terjamin. Buat apa kita punya pasukan." Ucapan rekan Senopati itu mendadak berhenti saat tatapan tajam Seno beradu dengannya. Senopati paham bisnis yang dimaksud rekannya. Ia pun memastikan jika dirinya tidak tertarik. "Rasanya aku masih ingin mencoba di dunia telur bebek, Ndan." Senopati menimpali. Seseorang yang ia panggil "Ndan" itu mengangkat kedua bahunya. Tiba di satu kejadian, saat terbongkarnya sebuah perjudian online dan merebaknya berita bahwa ada back up kuat dari salah satu oknum polisi. Senopati terkena virus fitnah kekejian instansinya. Saat itu ia hampir saja dikenai hukuman etik, tetapi saat memasuki sidang etik, bukti-bukti yang telah melewati proses penyidikan itu tidak terlalu kuat menjurus kepadanya. Hanya saja ada beberapa percakapan yang memberatkannya, ia sangat tahu siapa yang menggiring berita ini supaya mendapat perlindungan dengan menjatuhkannya. Akhirnya pengadilan polri memutuskan untuk pengambilan cuti sementara. Selama menjalani masa cuti, semua fasilitas diberhentikan. Sungguh luar biasa kejam permainan hidup. Lebih menyesakkan itu terjadi di lingkungan di mana ia bekerja dan dilakukan oleh rekan kerjanya sendiri. Sampai kembali ke masa tugas hingga pensiun, Senopati tidak buka suara tentang rekan yang menjerumuskannya meski ia mengantongi bukti setelah itu. Serupa ayah, serupa anak. Begitu pula Witama yang selalu ingin semuanya berakhir damai. Meskipun sikap itu seringkali membuat Nadia jengkel, begitu pula Bu Arika yang kental dengan adat Bugisnya, tidak bisa selalu mengalah. Kadang ada banyak hal yang tidak orang sukai dari kita, tetapi itu yang membuat kita belajar banyak hal. Bukankah itu hal baik? Atau malah sebaliknya? Kesel. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD