Sebuah pesan masuk melalui aplikasi chat dari admin sekolah Arkan.
[Selamat pagi, Ibu Nadia. Mohon izin menginformasikan sehubungan kejadian yang Arkan alami dua hari lalu, kami sudah melakukan pengecekan ternyata Arkan terkunci di toilet basement. Dan CCTV di area tersebut sedang ada gangguan, karenya tidak ada yang mengetahui. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Pihak sekolah sudah follow up mengenai pintu toilet di sana. Terima kasih.]
Nadia tercenung. Apa mungkin, sekolah favorit se-elit itu bisa luput pengecekan bagian fasilitasnya?Apa mungkin toilet di lantai kelas 2 dan 3 penuh, sehingga Arkan memilih toilet di basement? Kalau tidak ada yang menemukannya, bagaimana keadaan Arkan?
Ada keresahan yang masih ingin Nadia tanyakan, tetapi ia urungkan. Sebaliknya, ia hanya menyampaikan terima kasih untuk informasi tersebut. Ibu muda itu sudah tak sanggup lagi membayangkan yang lebih buruk dari itu. Hanya saja ada kekecewaan dari kelalaian pihak sekolah.
Nadia masih terdiam selama perjalanan menuju rumah ibunya.
"Maaf, ya, sementara kita hanya bisa menumpangi taksi online untuk pergi ke mana-mana." Alih-alih membahas tentang pesan dari sekolah Arkan, Witama membahas hal lain untuk sedikit mengalihkan pikiran istrinya.
Nadia menoleh sekilas lalu menunjukkan wajah full senyumnya seraya menyenderkan kepalanya ke bahu Tama.
Mobil berhenti tepat di depan rumah dengan halaman luas bercat putih, ditutup pintu besi hitam yang menjulang. Di dalam sana tampak Nissan Faithfinder hitam terparkir gagah, di samping mobil keluarga Kusuma. Dipastikan itu adalah mobil milik Kak Nina.
Witama membuka gerbang yang tidak teekunci, keempatnya sejurus memasuki halaman utama rumah Kusuma. Almarhum Bapak Nadia, Usman Hadi Kusuma, dikenal sebagai tuan tanah saat masih menjabat sebagai orang penting di kantor Bupati setempat. Namun, setelah pensiun dan mengalami sakit-sakitan, sebagian tanah dan sawah telah habis dijual untuk melakukan pengobatan.
"Rasanya percuma saja jual tanah, jual sawah, kalo akhirnya tidak ada hasil. Percuma berobat ke dokter, buang-buang biaya. Rumah sakit hanya mau duitnya saja. Mereka sangat lelet menangani bapakmu, walaupun kita bayar dengan pasien umum, tidak BPJS." Bu Rosmia saat itu sangat kecewa dengan keadaan dan pihak rumah sakit.
"Sudahlah, Bu. Sudah takdir dan waktunya Bapak pulang. Allah lebih sayang Bapak, kasian Bapak." Begitu Nadia menenangkan sang ibu.
Bukan rahasia umum, setiap tempat pelayanan jasa atau pelayanan pendidikan dan lainnya, tujuan utamanya adalah bisnis. Sekalipun tempat itu untuk melayani orang sakit, melayani orang untuk jadi pintar dan lainnya. Hakikatnya tempat itu beroperasi untuk melayani kebutuhan umum, tetapi faktanya tak lepas dari modal dan cuan.
Bisnis yang kadang mengandung "kebodongan", tetapi tetap berasa legal karena diselimuti nama pelayanan umum yang memiliki kekuatan hukum secara tertulis. Namun, bagaimana mereka melakukan tugas sesungguhnya, hanya masyarakat yang merasakan. Setidaknya itu yang bermukim di pikiran Nadia.
Waktu Bapak meninggal, Nadia masih menikmati masa lajangnya dan sangat mencintai pekerjaan yang ia jalani. Bu Rosmia masih bersikap biasa saja terhadap Nadia. Perubahan itu muncul ketika Nadia sudah menikah dan berhenti bekerja. Seolah-olah ia adalah beban baru, apalagi waktu itu Nadia menumpang di rumah sang ibu.
Nadia tak bisa menutupi kecanggungan setiap kali menginjakkan nkaki di rumah irang tuanya sendiri.
Mudah-mudahan tidak ada lagi kabar yang memberatkan. Doa Nadia dalam hati.
"Assalamualaikum, Bu." Witama bersemangat masuk menuju ruang tamu, dan disambut langsung oleh sang mertua.
"Loh, Nak Tama. Kok, gak bilang mau pulang? Kapan datang?" Bu Rosmia selalu bersikap manis setiap kali Tama pulang dari Batam.
"Iya, Bu. Mendadak, karena mau pulang ke Surabaya. Sekalian mampir ke rumah Ibu."
Witama tidak memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi, sesuai permintaan Nadia sebelum berangkat tadi pagi. Semua berkumpul di ruang keluarga, bercengkrama seperti apa adanya. Arkan dan Jodie langsung bermain dengan Farhan, anal Kak Nina yang bungsu. Sementara Nindi masih sibuk di rumah kecilnya.
"Pakeettt!" Suara Kang Paket menembus pendengaran semua yang tengah berkumpul.
"Paket siapa, Pak?" Bu Rosmia gegas menghampiri Kang Paket.
"Seperti biasa, Bu. Atas nama Ibu Nindi, paket COD, totalnya satu juta lima puluh ribu." Kang Paket menyodorkan invoice resinya.
"Hah? Beli apa si Nindi sampe satu juta?" Bu Rosmia terdengar mengulang total yang harus dibayar dengan nada terkejut.
"Nindiii... !" serunya pada si bungsu. Setengah berlari Nindi segera menghampiri dan menyambar paket itu seraya menyerahlan uang tunai keapda Kang Kurir.
"Makasih, ya, Bu. Lancar terus rezekinya. Saya sampai hafal langsung alamatnya karena saking seringnya dapat paketan Ibu. Bulan ini saja sudah sepuluh paket saya kirim ke sini." Kang Kurir merasa beruntung dengan keberlimpahan total paket yang ia kirim.
"Iya, ya, Pak," jawab Nindi seraya terbahak. "Wah, paketku sudah sampai. Gak sabar pengen nyobain masak pake ini." Nindi terdengar begitu riang dengan pesanannya.
"Emang pesan apaan, sih, Ndi? Kok, sampe sejuta?"
Tanpa mempedulikan ucapan Bu Rosmia, Nindi langsung menuju ke ruang keluarga Bu Rosmia, bermaksud menunjukkan produk yang ia pesan kepada Kak Nina. Namun, Nindi sedikit terkejut saat dilihatnya ada Nadia dan Witama di sana.
Bu Rosmia tidak sempat memberitahu, karena Nindi terlalu bergembira. Senyum kaku tercipta dari bibir Nindi.
Nadia hanya melihat sekilas barang yang Nindi tenteng, sepertinya saru set produk memasak. Ia kemudian kembali bersikap biasa saja. Ia paham kenapa tiba-tiba Nindi dan Bu Rosmia terdiam dengan wajah menahan rasa tidak enak. Selama ini Nindi selalu mengatakan tidak punya uang untuk cicilan, tetapi ia selalu memesan barang-barang online dengan harga yang luar biasa, dan bisa memesan berkali-kali. Nadia cukup paham.
"Apa itu, Ndi?" tanya Kak Nina. Kemudian mereka berusaha berbaur dan Nadia mulai membiasakan diri kembali berkumpul dengan dua saudaranya. Sementara Witama dan Angga mengawasi anak-anak bermain di halaman depan.
Tak banyak kesan yang Nadia tinggalkan saat di rumah orang tuanya. Obrolan yang Kak Nina janjikan pun batal untuk dibahas. Mereka akhirnya sibuk membahas hal lain dan lebih tertarik membahas barang baru Nindi dan kedatangan Witama.
Nadia membuang napas kasar, antara lega dan kesal. Setiap hari ia seperti menghadapi misteri yang penuh kejutan. Entah kejutan apalagi yang akan ia terima besok. Hidup memang benar-benar penuh dengan teka-teki atau mungkin kita yang harus lebih peka terhadap tanda-tanda yang tidak kita sadari.
***
Stasiun Cirebon tampak ramai di jadwal keberangkatan malam ini. Witama, Nadia dan kedua jagoan kecilnya akan bertolak menuju Surabaya dengan kereta malam. Lonceng khas yang biasa terdengar sebelum kereta berangkat, telah berdentang. Arkan dan Jodi begitu bersemangat.
Argo Dwipangga melenggang dengan gagah membelah malam, mengudarakan seruan khas gesekan ban besi dengan rel di sepanjang lintasan. Sudah terhitung tiga tahun, Nasia dan anak-anak tidak berkunjung ke Surabaya. Dikarenakan jadwal sekolah anak-anak yang padat dan waktu cuti Witama yang sangat jarang di toga tahun terakhir.
Rumah berlantai 2 bernuansa kuning gading dengan sentuhan wooden gate menambah kesan mewah dari luar. Rumah itu tidak banyak berubah. Surabaya pagi menyambut kedatangan empat orang istimewa bagi sang eyang uti, yang tinggal hanya dengan keluarga kakak Witama--Antasena Arya Sasongko.
"Gimana Batam, Tam?" Mas Sena memulai percakapan dua kakak adik di teras depan. Sementara Nadia dan anak berbaur di belakang rumah.
"Semakin padat, Mas. Yah, namanya juga kota industri."
"Banyak kasus gelap terselubung yang datang dari kota itu." Seperi biasa, setiap bertemu, mereka pasti membahas tentang kasus-kasus yang Antasena dengar dari instansi di mana ia bertugas.
"Oya? Kasus apa?"
"Banyak. Salah satunya perdagangan manusia, baik yang hidup atau organ orang yang sudah meninggal. Selain itu juga, ya, taulah penyelundupan n*****a masih jadi rangking satu. Dan yang lagi hangat baru-baru ini adalah kasus investasi bodong di berbagai kota. Semua kasus yang tadi itu badoan dari bisnis bodong yang bagi sebagian orang itu adalah legal."
"Belum bisa dituntaskan atau memang perlu penyelidikan lebih tajam untuk mengatasi kasus-kasus itu, Mas?"
"Agak susah, Ma. Karena sebagian dari mafia pelaku bisnis itu banyak yang mendapat back up oleh beberapa jenderal yang bermain di dalamnya."
Witama menangkap kegelisahan dari raut sang kakak.
***
Bersambung...