Bab 13

1231 Words
Entah bagaimana kejadian Arkan kemarin bisa terjadi. Sekarang pikiran Bu Vania tertuju kepada semua murid kelasnya, bagaimana jika hal itu terjadi juga kepada siswa lainnya. Rasa tidak percayanya membuat ia punya rencana untuk terus mengawasi anak didiknya agar tetap terjaga di lingkungan sekolah. Baiklah, Vania. Mulai saat ini harus jeli dengan setiap gerak-gerik anak kelasmu. Bisik hati Bu Vania, sesaat sebelum menuju ruang kelas. Bel masuk sudah berbunyi, anak didiknya sudah siap berbaris si depan kelas. Mereka berduyun-duyun dari gerbang masuk, sesuai dengan kelas masing-masing. Hatinya sedikit mencelos saat di antara jajaran anak yang berbaris itu tak melihat Arkan. Ada tanda tanya besar dalam tempurung kepalanya. Apakah ada yang sengaja melakukan itu? Ataukah kejadian Arkan hanya kebetulan? Pertanyaan-pertanyaan absurd dan horor mulai merambah di kepala ibu guru bertubuh mungil itu. "Anak-anak untuk pelajaran PPKN dan budi pekerti ini kita bahas tentang kebersamaan. Ada yang merasa tidak bersama di kelas ini?" Semua menggeleng. "Arkan, Bu." Salah satu dari mereka menjawab saat dilihatnya meja sebelah yang biasa diduduki Arkan belum terisi. "Iya, Clayton. Arkan hari ini izin tidak masuk." "Arkan kenapa, Bu?" tanya murid yang lain. "Sedang kurang sehat, mudah-mudahan ia segera membaik, ya." Sang guru mengitari pandangan ke seluruh wajah polos di hadapannya. Gestur yang ditunjukkan anak-anak itu tampaknya paham dengan yang dikatakan Bu Vania. "Nah, jadi kalau ada teman kalian yang tidak hadir atau tiba-tiba tidak ada saat jam pelajaran, kalian harus apa?" lanjut Bu Vania lagi. "Lapor ke ibu guru." Salah satu siswa menjawab. "Lapor ke petugas keamanan, Bu!" seru yang lainnya. "Mencari tahu kenapa tidak hadir. Biasanya sakit atau jalan-jalan." Siswa lain menimpali dengan polos. Ibu guru pun tersenyum puas mendapat respon yang peka dari anak didiknya. "Jadi, kalau ada teman kalian tidak masuk atau tidak kembali setelah jam istirahat, harus lapor ke Ibu, ya." "Iya, Bu." Mereka menjawab serentak. Bu Vania melanjutkan pelajaran. *** Pesawat berjenis airbus kebanggan milik Angkasa Pura mendarat dengan selamat di landasan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tepat pukul 11.30 WIB Witama berhasil keluar pintu bandara dan segera memesan taksi online menuju Stasiun Gambir, untuk selanjutnya menempuh perjalanan ke Kota Udang. Suasana yang sepenuhnya berbeda dengan tempat di mana ia bergelut dengan pekerjaan sehari-hari di Kota Industri itu. Logat khas betawi mendominasi, beberapa berdialog dengan gaya pasundan dan kejawen. Hal yang selalu Witama rindukan setiap kali menjejaki tanah Jawa. Meskipun di Batam umumnya dihuni oleh berbagai suku bangsa di Indonesia, mulai dari Suku Batak, Melayu, Jawa, Sunda, Sulawesi bahkan hingga timur Indonesia pun ada, tetapi karena sudah bercampur lama di kota yang keseharian menggunakan logat melayu, sebab itu kebanyakan aksen yang terdengar adalah Melayu. Sesekali Wiatama melirik jarum jam yang setia menempel di lengan kirinya. Tepat jam duabelas siang taksi online yang ditumpanginya memasuki area parkir Stasiun Gambir. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia bergegas menuju musala stasiun untuk menjalankan salat Zuhur yang berkumandang sesaat setelah ia melangkah dalam koridor stasiun. Lelaki berdarah Jawa-Bugis itu mengamati jadwal keberangkatan kereta dari Jakarta ke Cirebon. Kemudian memesan tiket dengan jadwal paling cepat. Ia duduk di depan kafe yang menjual makanan siap saji, memesan beberapa jenis makanan yang ia tahu sangat digemari anak-anaknya, sebelum memasuki ruang tunggu kereta. Tama tampak mengurut dahi yang seolah-olah memberi isyarat kepada anggota tubuh lain, bahwa ia sedang tak tenang. Setelah duduk di bangku gerbong yang ia pesan, tak lama kereta pun mulai meninggalkan Stasiun Gambir. Sebetulnya sudah sejak lama Witama berencana membawa keluarganya tinggal di Batam, tetapi karena sejak anak-anaknya memasuki usia sekolah banyak biaya yang dibutuhkan, sebab itu ia berdiskusi dengan Nadia untuk tinggal terpisah sementara waktu. Ia berpikir memilih sekolah favorit dengan biaya terjangkau, hanya bisa dilakuakn di kota Nadia tinggal. Sebab itu, ia lebih mengorbankan tempat tinggalnya dan mengalokasikan dana ke biaya sekolah anak-anak. Lelaki yang kini berusia genap 38 tahun itu meyakini jika memasukkan kedua anaknya ke sekolah favorit, maka mereka akan mendapat relasi yang baik dan wawasan yang terbuka serupa sistem pengajaran di sana. Seperti juga yang pernah ia dapatkan semasa sekolah di Surabaya. Tak heran jika pekerjaan dan posisi yang ia dapatkan saat ini berkat perjuangan dari masa sekolahnya dulu. Tidak dipungkiri, pengetahuan sekolah favorit selalu memiliki strategi pembelajaran selangkah lebih maju. Baik dari segi pengetahuan berbagai bahasa, kreatifitas anak dan kelas ekstra lainnya. Meskipun harus mengeluarkan biaya lebih. Witama Arsen Sasongko termasuk anak dari kalangan berada. Almarhum ayahnya, Senopati Joyo Sasongko, bekarir di Polri dengan jabatan terakhir sebelum pensiun sebagai Kasatreskrim Polrestabes Surabaya. Memegang pangkat Perwira Tinggi Polri, Kombes Pol. Sebelumnya, beliau berkeliling ditugaskan di berbagai daerah, termasuk ke Sulawesi Selatan. Sang ayah bertemu jodoh dengan Ibunda Tama saat bertugas sebagai Kapolres di Kabupaten Pangkajene. Arika Andi Makkawaru, seorang perempuan cantik, bersuku Bugis yang berkarir sebagai ahli gizi. Gadis manis berdarah campuran Bugis-Belanda dari pasangan Andi Tenri Makkawaru dengan Nyonya Juliette Van Daalen. Tak salah jika darah Bugis-Belanda tergurat jelas di wajah oval Tama. Witama menikahi gadis keturunan Sunda-Tionghoa dengan di karuniai dua jagoan menggemaskan; Arkansas Arsen Sasongko dan Jodiesena Arsen Sasongko. Tama pun mempunyai satu orang kakak laki-laki, Antasena Arya Sasongko, dan adik perempuan, Amira Juliette Sasongko. Pengumuman dari pengeras suara terdengar, kereta yang ditumpangi Witama telah tiba di kota tujuan. Beralih pandangan ke luar jendela, lega ia mengembuskan napas. Beberapa Kang Becak dan Kang Ojek pangkalan beramai-ramai menawarkan tumpangan dengan loga khas Kota Kasunanan itu. Lelaki berkulit pualam itu menolak halus, lalu segera memesan kembali taksi online karena diburu waktu dan ingin segera menemui keluarga tercintanya. *** Arkan berlari menyambut seseorang bertubuh tinggi tegap itu saat pintu pagar dibuka, sesaat setelah deru mobil taksi online meninggalkan halaman rumah mereka. Ada bahadia dan kerinduan yang membuncah di antara garis wajah anak dan bapak itu. Tak lama kedua bocah kecil itu menyambut buah tangan yang dibawa sang ayah. "Jangan berebut, ya. Ayah belikan satu-satu untuk kalian." Witama gegas membersihkan diri. "Mas, aku sangat khawatir dengan kelanjutan sekolah Arkan." Nadia langsung membuka inti pembicaraan. Witama tampak mengangguk. "Apakah sudah ada keterangan dari sekolah tentang kejadian itu?" Witama merengkuh lembut bahu istrinya. Nadia hanya menggeleng. "Kita tunggu saja informasi dari mereka, apa yang sebenarnya terjadi. Kita gak bisa maksa bertanya sama Arkan. Mungkin dia masih trauma." Nadia menghambur ke pelukan sang imam. Selama ia tinggal bertiga dengan si buah hati, dirinya merasa sangat lelah. Butiran kristal hangat meluruh dari kedua sudut kelopak tanpa komando. "Sabar, ya. Besok infokan ke admin sekolah, Arkan masih akan mengambil izin libur hingga dua minggu ke depan. Kita akan ke Surabaya. Jenguk Mama, sekalian bawa Arkan ke psikolog." Nadia hanya mengangguk. "Arkan, jagoan Ayah. Arkan sehat, Nak?" Witama langsung berbaur dengan bocah kecilnya, bermain mainan yang baru saja ia bawakan. Arkan melengkungkan bibirnya lebar-lebar seraya memainkan mainannya. "Kalau Arkan sehat, kita berangkat ke rumah Eyang Uti, ya." "Aku ikut!" Jodi berseru. "Hei, you! ya, tentu kamu ikut juga." Witama mengucek kepala si bungsu. Kedua lelaki kecilnya bersorak riang. Hidup tak melulu sedih atau senang, keduanya saling bergantian. Bahkan kadang beriringan, sehingga kita tidak pernah tahu jeda jadwal ketibaan antara dua hal itu. Satu yang pasti, Tuhan menjanjikan bahwa hangat setelah badai itu ada. "Tapi sebelum ke Surabaya, kita mampir dulu ke rumah Ibu, ya." Witama pun tak pernah lupa menjenguk sang mertua saat pulang kampung. Nadia tersenyum kaku. Tak lama ponselnya menyerukan bunyi notifikasi pesan. [Nad, besok Kakak mau mampir ke rumah Ibu. Kalau bisa kamu datang, biar sekalian kita diskusi soal pinjaman yang Ibu ajukan itu.] Kabut kebingungan menyelimuti wajah Nadia. Bagaimana jika Witama akan mengetahui semua yang ia sembunyikan selama ini? *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD