Bab 34

1235 Words
"Nin, jadi pulang, Nak?" Bu Rosmia menghubungi Nina via telepon sesaat setelah membaca pesan di grup keluarga. Untuk saat ini, Bu Rosmia merasa sudah tidak ingin terlalu mencampuri perdebatan antara anaknya. "Iya, Bu. Apa boleh saya tinggal agak lama di sana. Mumpung anak-anak juga sekolahnya masih online." "Boleh, dong. Ibu tinggal sendirian di rumah sudah dua bulan ini. Sejak Nindi dan anak-anaknya dibawa Rizal ke tempatnya bekerja. Terus gak bisa pulang karena harus tes ini itu, ribet katanya. Kamu gimana, kalo pulang nanti harus tes kesehatan dulu, gak?" "Iya, Bu. Saya dan anak-anak sudah tes kemarin. Hari ini tinggal menunggu hasil tesnya. Kalo negatif, kita langsung pulang malam ini juga." "Iya, Nak. Ibu tunggu, biar Ibu siap-siap tempatnya." "Iya, Bu. Makasih, ya, Bu. Saya mau beres-beres dulu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Di sudut rumah megah Nina di kawasan Buah Batu Bandung, ada sunyi berkelindan di antara titik-titik yang kerap Nina habiskan waktu dengan tawa bersama keluarga. Ia masih belum percaya dengan apa yang menimpa suaminya. Mengenai bisnis gelap yang ternyata menjadi tunggangan bisnis utamanya, lalu terkaitnya dengan pemberian dana gratifikasi untuk pencalonan dewan perwakilan rakyat daerah itu. Nina hendak mengirim pesan pada pihak rumah sakit di mana ia melakukan tes kesehatan, saat itu juga tangannya tak sengaja menggeser ke ruang status w******p. Ia melihat status Nadia yang beberapa menit lalu di upload. Ia membuka video tersebut dan harus menahan napas sedalam-dalamnya saat nama sang suami terpampang di video tersebut. Rahasia yang selama ini ingin ia tutupi dari keluarga agar tidak terlalu menurunkan harkat dan marwah suami, harus terkuliti perlahan. Bagaimana pun Angga masih suaminya, meski saat ini sedang dalam masa beku. [Nad, bisa gak, sih kamu gak terlalu update banget soal bisnis yang yang lagi viral itu? Hapus!] Darah Nina seketika mendidih, dan langsung menyemprot Nadia via balasan status w******p-nya. Pesan terkirim dengan tanda garis dua tetapi masih belum dibaca. Nina semakin cemas, jika semakin banyak orang yang melihat status Nadia dan aware tentang nama-nama di daftar itu. Tak lama berselang, notifikasi pesa masuk ke ponselnya. Gegas ia membuka pesan, tetapi bukan dari Nadia. Melainkan dari pihak rumah sakit yang akan memberikan pengumuman hasil tes. [Selamat siang, Bu Nina. Untuk tes kemarin sudah bisa kami umumkan hasilnya via chat ya, Bu. Karena memang Ibu dan anak-anak tidak dianjurkan untuk keluar rumah dulu. Sebab dari hasil tes menyatakan Ibu harus melakukan isolasi mandiri. Keterangan ada di berkas terlampir.] Deg! Seperti ada godam menimpa d**a Nina seketika itu. Diliputi cemas dan takut saat membuka lembar lampiran dari rumah sakit. Entah dirinya atau salah satu anaknya, pasti ada yang hasilnya positif. Pupil itu mengerut, Pandangannya memburam. Kaca-kaca hangat telah merobohkan kelopak yang telah dihiasi pelebat bulu mata anti air itu. Sekaligus juga merobohkan ketahanan dirinya, ketika menemukan hasil positif atas nama anak sulungnya. "Tidak mungkin!" Rasanya Nina ingin membanting ponsel sekeras-kerasnya, tetapi ia masih harus dipaksa waras karena ketiga anak-anak membutuhkan dirinya. "Caca!" Nina segera berlari ke kamar si sulung, didapatinya gadis usia SMP itu tengah meringkuk dengan badan menggigil dan suhunya tinggi. "Kemarin pas tes, perasaan biasa aja. Gak ada gejala apa-apa." Nina meraba-raba dahi, pipi, leher dan tubuh sulungnya. Panasnya merata. Panik mulai menyelimuti pikiran. "Lala, Nana, masuk ke kamar masing-masing. Diam di sana sampe Mama datang, ya." Kedua gadis kecil itu malah mendekat kamar sang kakak saat terdengar suara Mama berteriak dari sana. "Kenapa, Ma?" Lala menyembul dari mulut pintu, yang disusul Nana. Nina terkejut seraya berbalik badan. "Kenapa kalian ke sini? Mama suruh masuk kamar masing-masing, cepet!" Nina semakin panik. Ia khawatir virus yang menjangkiti sulungnya bisa berdampak untuk adik-adiknya yang lain. Segera Lala dan Nana menghambur ke kamar masing-masing di lantai atas. Sementara Nina berusaha memberikan pertolongan seadanya dengan persediaan obat yang ada di kotak obat. Ia tak sanggup jika harus membawa Caca ke rumah sakit. Ada ketakutan berkelindan di pikirannya, ia tak ingin apa yang terjadi di berita-berita akna menimpa salah satu anak kesyangannya. "Mboook!" Nina memanggil salah satu ART senior yang telah lama bekerja di rumhanya. "Iya, Bu." Si mbok menghampiri tergesa. "Sediakan botol semprot, bersihkan, isi dengan air dan detol. Satu lagi isi dengan air dan bleaching. Semprot seluruh rumah, terutama pintu masuk, dapur, jendela depan belakang dan jendela luar kamar anak-anak." "Hah, jendela luar kamar anak-anak, Bu? Kan di atas, Bu. Gimana naiknya?" Dalam keadaan panik si mbok ikutan tak dapat berpikir jernih. "Ya, ampun Mbok, semprotnya dari dalam buka dikit jendelanya, lalu semprot-semprot. Lalu tutup lagi. Ayo, ayo!" perintah Nina. Si mbok pun segera menuntaskan tugas yang diperintahkan sang nyonya. Nina mengunci diri di kamarnya, setelah memberitahu si mbok apa yang harus dilakukan untuk Caca. Ia berteriak histeris di dalam kamar yang hampir kedap suara itu. Belumlah selesai urusan yang menimpa sang suami, sekarang datang lagi masalah baru. Jika saja tidak di masa genting seperti sekarang, mungkin ia akan menghadapi ini biasa saja. Namun, semua tahu jika gejala yang dirasakan Caca telah positif sesuai dengan hasil tes itu. Terpaksa Nina harus membatalkan perjalanan ke rumah Bu Rosmia dan tinggal di sana. Mau tidak mau ia pun harus memulai percakapan dengan Angga untuk mengabarkan keadaan Caca. Tak ada kata dalam pesan yang Nina kirim pada Angga. Hanya berupa foto dan video tentang Caca dan hasil tes. *** Bu Rosmia, dibantu tenaga jasa pembersih tengah berbenah kamar yang lama kosong. Hanya sesekali digunakan saat ada tamu atau keluarga yang singgah. Sesuai rencana, kamar itu akan ditempati Nina dan anak-anaknya selama tinggal di sana. Jika tak cukup, bisa menempati kamar Nadia, pikir Bu Rosmia. "Makasih, ya, Mbak." Bu Rosmia mengantar seseorang dari jasa pembersih ke pintu depan. "Sama-sama, Bu." "Maaf saya tidak antar ke gerbang depan, ya." Bu Rosmia menyodorkan amplop putih kepada perempuan itu. Lalu kembali menutup pintu rumah rapat-rapat. Sebetulnya Bu Rosmia tidak terlalu memusingkan dengan pemberitaan yang beredar saat ini, tetapi ia tetap waspada menjaga jarak dan aturan yang diberlakukan. Bahkan setiap pagi ia masih pergi ke pasar untuk belanja. Beberapa orang di daerah Bu Rosmia tinggal, kebanyakan masih terus beraktivitas seperti biasa. Hanya saja dengan segala atribut kesehatan yang dianjurkan. Dering telepon genggam berbunyi sesaat setelah Bu Rosmia duduk di sofa ruang tengah. Nomor Nina muncul di sana. "Halo assalamualaikum, Nin. Gimana, jadi berangkat jam berapa dari sana?" Tak langsung menjawab, justru malah disambut isak pelan. "Nin, kamu baik-baik saja, kan?" "Bu, maafin Nina ya, Bu." Hanya itu yang keluar dari mulut Nina. Lalu tertahan oleh isak yang makin menyesak. "Nin, kenapa? Ada apa? Anak-anak mana?" "Caca, caca. Positif, Bu. Mungkin Nina batal ke rumah Ibu. Sementara Nina dan anak-anak harus isoman." "Ya, Allah. Nina, yang pasti jangan panik. Coba, kamu beri air kelapa murni campur dengan sedikit garam dan lemon. Kamu dan anak-anak harus rajin minum itu. Coba, semoga sehat lagi, ya, Nak." Bu Rosmia memberikan saran. "Baik, Bu. Ya, sudah Nina mau liat Caca dulu, Bu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Bu Rosmia hanya tertegun di ruang tengah. Masih ditemani sofa besar dan ruangan-ruangan kosong. Saat semuanya jauh, terasa kehadiran mereka adalah sesuatu yang sangat mahal. Tak ia pungkiri saat Nadia masih menumpang di awal-awal pernikahan, ia merasa sedikitnya terbebani. Apalagi setelah kejadian yang menyedot harta ratusan juta ke dalam investasi bodong yang tanpa pertimbangan Nadia ikuti. Dirinya begitu keras terhadap Nadia karena kesal dan kecewa karena merasa dirugikan. Ternyata lenyapnya harta, tak sebanding dengan melenyapnya semua orang yang sebetulnya ia sayangi. Perlahan pikiran dan hati bu Rosmia semakin terbuka. Ia berharap masalah yang dihadapi cukup dengan yang saat ini masih belum selesai. Tidak ada lagi masalah lain. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD