Nadia tengah sibuk membalas semua chat customer saat satu pesan menyelinap dari Kak Nina. Ia tak ingin menambah keributan dengan tidak membalas pesan kakaknya itu. Nadia berpikir sepertinya benar nama yang ada di daftar itu adalah suami kakaknya.
"Ya, Tuhan! Tak perlu kutanyakan lebih jelas, sepertinya memang itu Kang Angga." Nadia bergumam.
Nadia tak ambil pusing dengan pesan balasan Kak Nina. Ia pun menurunkan egonya untuk menjaga keamanan kakaknya, lantas ia menghapus video yang ia unggah ke status w******p. Rasanya bukan saat yang tepat jika masih terus mendebat sang kakak. Jika itu benar, maka beban yang diderita pasti tidak mudah.
Kini posisinya seperti diapit dua telaga. Satu surut, satu lagi luber tetapi beracun. Sekarang jadi merasa serba salah untuk bercerita tentang kasus investasi bodong yang menyangkut nama suami kakaknya kepada Witama. Sementara di sisi telaga yang surut karena tergerus bisnis gelap itu, sepupu dari kakak ipar Tama, Mbak Indah.
Sudah pasti Mbak Indah bercerita lebih dulu mengenai apa yang dialami sepupunya keapda sang suami. Untuk memenuhi permintaan Ibu dalam membantu Kang Angga sepertinya akan sedikit sulit, jika benar ia terlibat dalam kasus investasi bodong itu.
Belum lagi urusan dengan pihak KPK selesai, sudah menanti urusan lain yang hebohnya hampir menyaingi pandemi. Di grup w******p yang Nadia ikuti, selalu ramai dengan dua berita itu saja. Perkembangan penyidikan kasus trading dan kepanikan yang tiada jeda.
Kemudian ia melanjutkan chattingan dengan customer yang kian hari kian berkurang yang masuk, apalagi membeli. Pemasukan Nadia pun kian berkurang. Entah dengan cara apa lagi ia mendapatkan penghasilan tambahan. Tak jarang ia pun iseng scroll status w******p kontaknya, tanpa sengaja melihat status Nindi yang baru saja diunggah semenit yang lalu.
"Get well soon, ya, ponakanku yang solehah. Caca anak kuat."
Lantas, Nadia tergelitik untuk membalas status adiknya itu.
[Ndi, Caca sakit apa? Tadi Kak Nina chat Mbak tapi gak bilang apa-apa.]
Nadia teringat ucapan ibunya yang mengatakan Kak Nina akan pulang ke rumah dan tinggal sementara di sana. Untuk mencari kabar tentang kakaknya, Nadia langsung menghubungi Bu Rosmia. Karena jika menghubungi Kak Nina, ia pasti akan mendapat respon sebaliknya.
"Hallo, Nad." Bu Rosmia menyambut panggilan Nadia.
"Assalamu'alaikum, Bu. Sehat, Bu?" Nadia berbasa-basi.
"Waalaikumsalam, iya Alhamdulillah. Kenapa, Nad?"
"Saya dengar kabar tentang Kak Nina, apa betul...?"
"Caca, dia positif." Bu Rosmia langsung memotong sebelum Nadia menuntaskan kalimatnya.
"Maksudnya, positif?"
"Iya, semalam katanya demam tinggi. Setelah melakukan tes kemarin dan hasil tesnya positif. Makanya mereka gak jadi pulang, karena harus isolasi di rumah."
"Baguslah, tidak di rumah sakit. Takutnya malah makin parah."
"Sepertinya, sih, begitu. Nina juga tidak mau Caca dirawat di rumah sakit. Kamu tau dari mana? Nina chat kamu?"
"Nggak, Bu. Dari status w******p-nya Nindi barusan. Nindi kapan pulang, Bu?"
"Ndak tau, masih belum ada kepastian. Katanya ribet, harus ada tes ini itu. Karena di setiap pintu toll ada pemeriksaan hasil tes kalo yang datang dari luar kota."
"Ibu baik-baik, ya. Jaga kesehatan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rasa iba terhadap sang ibu kembali merayapi kepala. Dalam kondisi seperti ini, ibunya harus tinggal sendiri. Meskipun disibukkan oleh berbagai kegiatan, tetapi tetap saja ada sesuatu yang hilang. Entah bagaimana juga jika akhirnya Ibu tahu berita yang sesungguhnya tentang suami Nina. Tak hanya 1 kasus yang dihadapi Angga.
***
Terkadang Nadia merasa bingung, bagaimana orang-orang bisa dengan mudah mendapatkan penjualan yang besar dan akun media sosialnya kerap ramai, serta followers yang meningkat terus setiap waktu. Lain dengan dirinya yang serasa stagnan, meskipun sudah melakukan apa yng diajarkan tentang dunia digital marketing.
Berbagai kelas marketing online berhasil ia tuntaskan, praktekan dan masih tetap dijalani secara konsisten. Rasanya masih tetap sama saja, tidak ada kemajuan. Dikondisi seperti saat ini, bukan hal tepat mengeluarkan banyak dana untuk beriklan. Sebab jika Nadia nekat beriklan lebih lanjut, maka harus siap menerima kemungkinan buruk, karena tidak semua iklan bisa berhasil dan balik modal.
Serba salah. Putus asa.
Ketika salah satu anggota peserta digiclass mencoba mengajukan komplain karena bernasib sama dengan Nadia. Lantas sang guru dan admin yang mengurus kelas digital marketing itu pun menjawab,
"Apakah sudah dilakukan secara konsisten dan sesuai dengan yang diajarkan? Lagipula dalam beriklan masing-masing hasil tidak sama, sesuai dengan yang dikeluarkan."
Jleb!
Artinya memang seperti gambling juga. Tujuan beriklan untuk mendapat konversi, tetapi tidak semua target melakukan pembelian. Selain memang ilmunya bermanfaat, kelas-kelas seperti itu juga banyak menimbulkan kontroversi karena sebagian berpikir hanya jualan ilmu, toh, tidak semua peserta bisa berhasil. Ada juga yang mengatakan bisnisnya mulai ramai meski sedikit demi sedikit. Apa pun hasilnya, intinya tetap saja mengarah kepada bisnis.
"Maaa...!" Jodi berseru, mengagetkan sang mama yang tengah tak fokus.
"Apa, sih?" Sontak Nadia menjawab kesal.
"Ma, Jodi mau pup."
"Ya, udah. Sana."
"Maa..!"
"Apa lagi?" Perasaan irritating memuncak saat Arkan mulai meneriakkan hal serupa.
"Aku laper."
"Arkan bisa, kan, makan sendiri, sayang. Mama udah siapin di meja makan."
Nadia mengusap kepalanya kasar. Gimana mau sejalan dan fokus pada kerjaan kalau masih disibukkan dwngan urusan rumah dan anak-anak. Ditambah tugas sekolah mereka berdua, karena sistem pelajaran online, peran orang tua lebih besar dari guru secara langsung. Mau tidak mau, untuk menyelesaikan itu semua cukup menyedot perhatian.
Di antara notifikasi pesan yang kian sepi, menyelinap pesan dari Bu Rosmia.
[Nad, untuk perubahan jumlah cicilan dari pihak bank, Pak Hasan sudah memberikan informasinya. Nih, surat dari Pak Hasan.]
Nadia gegas membuka file yang disematkan. Ada beberapa perubahan dalam anjuran cicilan tersebut. Mengenai jumlah dan juga besaran bunga. Sedikit menurun dari yang pernah ia bayarkan sedari awal. Namun, tetap saja dalam kondisi saat ini sulit rasanya mencapai angka yang dimaksud.
Rasanya benar-benar ingin menyerah, tetapi tanggung jawab masih harus dituntaskan. Entah harus berapa lama dan sepanjang apa lagi ia harus mengorbankan kebutuhan anak-anak demi menutupi tunggakan itu.
"Maa!" Terdengar Jodi kembali berterial dari kamar mandi. Tanda ia selesai buang air besar.
"Ya, bentar." Nadia segera menutup pesan dan ponselnya yang saat ini sudah tak ada lagi alasan baginya untuk membuat Jodi menunggu lebih lama.
Biasanya jika tengah sibuk dengan customer, banyak hal yang terabaikan. Seperti mengurus anak-anak jadi sekedarnya saja, yang penting sudah makan, mengerjakan tugas, mandi, selebihnya membiarkan mereka bermain sendiri.
Nadia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ponsel karena pekerjaan senagai freelance itu ia jadikan sebagai pekerjaan utama.
Gegas ia menuju kamar mandi dan menemukan Jodi dengan muka lucu dan menggemaskan. Segera ia membersihkan anak bungsunya itu. Wajah itu mengiba, ia baru sadar jika selama ini terlalu banyak abai. Apalagi terha Arkan.
"Apakah aku terlalu terobsesi dengan mimpi-mimpi menjadi pebisnis dengan penghasilan seperti para mastah itu? Sehingga seringkali aku abai terhadap tugas utamaku. Mungkin Tuhan tidak segera mempertemukanku dengan jalan di dunia bisnis, bisa jadi karena hal itu."
Atau mungkin ada hal lain? Sebab jika dilihat dari usaha dan kerja kerasnya, sudah memenuhi semua teori dan materi pembelajaran yang ia dapat. Lalu kenapa hasilnya berbeda?
Beberapa kali Nadia juga merasa diingatkan oleh postingan seorang trainer-nya mengenai usaha yang tak kunjung berkembang. Di antaranya mungkin masih ada sesuatu yang mengganjal dengan orang tua, terutama Ibu. Bisa jadi masih belum ikhlas dan berserah sepenuhnya kepada sang Khalik atas segala pemenuhan hidupnya.
Kalau berserah, Nadia sudah sangat berserah dan pasrah sepasrah-pasrahnya, tetapi ungkapan tentang "ibu", sepetinya itu salah satu yang masih jadi penghambat. Ia pun perlahan berpikir untuk lebih melunak dan akan berusaha memperbaiki diri untuk bisa mengalahkan egonya.
***
Bersambung...