Beberapa hari Adrian fokus pada kerjaannya, ditemani Jasmine. Jasmine sangat pandai menghibur Adrian, memasakkan makanan nusantara. Seketika Adrian dapat melupakan sejenak masalah-masalahnya. Kehadiran Jasmine memberikan warna yang berbeda bagi Adrian pribadi.
Drrrrt... Drrrrrt... Hp Adrian berdering.
'Fene.'
"Dri... 1 jam lagi jemput gue di bandara." Pinta Fene, yang tidak pernah bisa Adrian menolaknya.
"Ya."
Adrian meminta Jasmine bersiap-siap agar menemaninya kebandara.
"Kita kebandara." Tegas Adrian.
"Hmmmm.... Tapi pak..." Gugup Jasmine menatap Adrian.
"Pak lagi...? Beib... Jasmine."
"Iiiigh... Bapak aneh."
"Apa saya tua banget dimata kamu.?"
Jasmine terkekeh. "Iya beib." Merasakan sesuatu yang nggak nyaman saat menyebutkan kata 'beib'.
Adrian menggengam jemari tangan Jasmine, melangkah menuju parkir. Langkah Adrian yang cepat membuat nafas Jasmine terasa sesak.
"Bapak, bapak jalannya buru-buru banget." Sesaknya.
"1 jam lagi Fene dan Bram tiba, saya tidak mau mereka lama menunggu." Jawab Adrian.
"Apaaaaaaa pak.? Ibu Fene.??" Langkah Jasmine terhenti seketika, memikirkan jika Fene marah melihat Jasmine bersama Adrian dan akan memecatnya. "Saya nggak jadi ikut pak." Jasmine membalikkan tubuhnya. Adrian kesal karena Jasmine berbalik arah, tanpa menunggu lagi Adrian menggendong tubuh sintal itu untuk segera masuk ke mobil. Tanpa basa basi, melainkan tindakan.
'lama amat ni bocah, terlalu banyak self talk' geram Adrian.
"Bapak, saya nggak jadi ikut." Katanya takut.
Adrian menyalakan mobilnya, berlalu tanpa menghiraukan racauan Jasmine.
"Kalau saya dipecat mba Fene gimana pak.? Saya disini sendiri, nanti nggak ada yang mau bantu saya. Keluarga juga nggak ada." Rungutnya.
"Diam... Saya lagi nyetir." Adrian menggenggam erat jemari Jasmine agar tenang selama perjalanan.
Jasmin hanya menunduk menggigit bibir bawahnya kawatir akan dipecat.
Fene, Holi dan Bram....
"Haiii... I miss you..." Peluk hangat Fene.
"I miss you too... Kevin mana.?" Tanya Adrian tanpa melihat Kevin.
"Udah deluan ke Paris nganter Nichole, besok Bram menyusul." Jelas Fene sambil berjalan beriringan menuju mobil Adrian.
"Adik lo kenapa nguntil.?" Tanya Adrian.
"Iya, kan Holi mau bantuin gue disini dulu. Seminggu lagi balik ke New york." Tambah Fene lagi.
"Mobil lo kecil amat dri... Mana cukup buat kita.?" Tanya Fene kesal.
"Udah gue kondisiin, lo ama sopir, gue bareng Jasmine, nanti malam gue ke apartmen lo." Jawab Adrian sangat santai.
"Oke, gue tunggu dirumah yah dri.?" Peluk Bram. Sambil berlalu.
Fene melihat Adrian dan Jasmine, 'hmmm... Kedekatan nggak biasa. Kenapa Adrian yang bukain pintu Jasmine. Hmmmm..' Fene mengangkat bahunya, dan berlalu meninggalkan bandara.
Adrian dan Jasmine pulang bersama, menghampiri apartmen Bram yang tidak terlalu jauh dari kantor.
"Adrian." Adrian menekan tombol agar lift terbuka.
Bram menekan password untuk menyambut Adrian yang sudah menunggu.
Adrian menggengam jemari Jasmine, memasuki lift hingga sampai dirumah baru Bram dan Fene.
"Halooo..." Peluk Fene pada Adrian.
Adrian menarik nafas dalam. "Holi nginap dihotel.?" Tanya Adrian penasaran.
"Diaprtemen gue, malas dia gangguin gue. Takut terkontraminasi katanya." Gelak Fene, sambil menatap Jasmine yang berada kaku dibelakang Adrian.
"Hmmmm... Secretaris lo, jadi asisten sekarang dri.?" Fene melirik Jasmine.
"Nggak, Jasmine sekarang pacar gue." Adrian berlalu menuju sofa, membawa Jasmine meninggalkan Fene dan Bram yang masih melongo kaget mendengar penuturan Adrian barusan.
"Whaaaat... You kidding me.?" Tanya Bram.
Fene menarik tangan Adrian, meninggalkan Jasmine diruang keluarga.
"Lo serius, lo pacaran ama Jasmine Adrian.? Lo tau dia itu wanita baik, wanita lugu, lo macem-macem gue buang lo dari gedung ini." Kesal Fene.
"Truuuus... Gue mesti pacaran ama adik lo, yang kalau ngomong suka-suka dia. Ogah gue." Adrian berlalu meninggalkan Fene, tapi ditarik oleh Fene.
"Gue serius Adrian Moreno Lim.?" Fene menatap Bram.
"Gue serius." Adrian menatap mata Fene dan Bram sambil melekatkan wajahnya.
"Lo cinta...?" Tanya Fene penasaran.
"Setidaknya dia cewek indo yang membuat gue nyaman. Daaaah, kasihan dia ditinggal sendiri." Adrian berlalu menuju ruangan memeluk pinggang Jasmine yang sedang duduk dengan wajah ketakutan.
"Whaaat..." Fene dan Bram masih belum percaya hanya mengikuti Adrian untuk duduk disamping Jasmine.
"Eheeem... Jasmine, kamu jawab saya jujur." Fene menarik nafas panjang melanjutkan pertanyaannya. "Kamu pacaran sama Adrian.?" Tanya Fene serius.
"Eeeeee...." Sambil melirik Adrian sangat santai menonton tv, sambil menggenggam erat jemari Jasmine.
"Jawab saya Jasmine." Mata Fene melirik Adrian dan Bram.
"Iya bu, tapi saya mohon bu, jangan pecat saya, saya terpaksa menerima bapak. Karena saya bingung kok ada bule yang ngajakin saya pacaran, sementara saya nggak pernah pacaran. Jadi saya jalani aja bu. Kalau ibu marah, saya akan putuskan bapak detik ini juga." Sambil mengalihkan tangannya ke kedua jemari Fene.
"Hmmm... Bukan begitu maksud saya, Jasmine." Fene tersenyum sambil menuntun tubuhnya kembali duduk di sofa.
"Enak aja putus, kamu pikir aku mau kamu putusin." Adrian menatap Jasmine.
"Huussh... Diam." Mata Fene membesar menatap Adrian.
"Maksud saya, kamu emang cinta sama Adrian.?" Lanjut Fene.
"Lo kepo banget seh Fen." Sesal Adrian.
"Gue bukan kepo yah, tapi gue nggak mau karyawan gue loe kerjain." Mata Fene melotot.
"Emang dia bukan secretaris gue.?" Jawab Adrian nyolot.
"Adrian, gue pengen kita lebih terbuka, gue nggak mau Jasmine lo jadiin tempat pelarian." Jelas Fene.
"Fene Lincoln... Gue nggak pernah mempermainkan Jasmine, apalagi menjadikan dia tempat pelarian, gue rasa gue cocok dengan dia, dia peduli ama gue, peduli ama kerjaan gue, peduli ama hati gue. Emang salah gue nyaman ama wanita baik kayak dia.?" Wajah Adrian kembali datar.
"Tapi... Daddy gimana.?" Fene menatap Bram sedikit merengek.
"Hmmm... Gue jalanin dulu, tapi gue mau, kemana gue pergi Jasmine ikut." Pinta Adrian.
"Maka dari itu, apa daddy nggak keberatan sayang.?"
"Daddy nggak pernah mempermasalahkan dengan siapa, daddy hanya ingin kita semua memegang teguh komitmen kita."
"Tapi..."
"Apa lagi seeeh Fen, gue, ama Jasmine nyaman, kok lo yang greget." Kesal Adrian.
"Bukan begitu dri... Apa Jasmine siap, dengan semua tantangan kita. Dia orang baru, nggak mungkin dia akan eeeem...."
"Nah gue ngerti maksud Fene, Jasmine, apa kamu pernah tidur dengan Adrian.?" Tanya Bram.
"Hmmm..." Jasmine menelan slavianya sambil menatap Adrian kemudian Bram.
"Pernah pak." Jasmine tertunduk.
Fene menutup mulutnya tak percaya akan kenekatan Adrian.
"Hmmm.... Mesum aja otak lo... Gue tidur diapartmennya, gue disofa, dia dikamar. Karena gue males balik. Veni nungguin mulu di depan lift gue." Jelas Adrian sedikit nyolot.
"Oooogh... Gue pikir, lo udah sejauh pikiran gue, habis tu lo tinggalin dia ke Swiss." Kesal Fene.
"Enak aja lo... Tour besok kamu ikut yah beib." Adrian tersenyum sambil merebahkan kepalanya kebahu Jasmine.
"Hmmmm... Emang mau kemana bu.?" Tanya Jasmine masih kaku.
Fene tersenyum, "kalau dikantor panggil ibu, kalau di luar nama aja. Oke."
"Tapi saya nggak punya passpor bu." Jawab Jasmine jujur.
"Nggak masalah. Besok urus ke bagian legal, minggu depan kita nyusul Kevin ke Paris dan Swedia."
Jasmine menelan slavianya, merasa ini hanya mimpi. Ingin berteriak bahagia karena kedekatannya dengan Adrian yang menjadi pacar main-mainnya, membawa dia keliling Eropa.
"Beib... Buatin sapi lada hitam kayak kemarin dong." Seraya mencium pipi Jasmine.
"Yuuuuk ke dapur, bahan-bahan tadi ada saya beli. Baru diantar maid yang membersihkan rumah.
"Emang, ibu..... eeeeh mba Fene bisa masak.?" Tanya Jasmine.
"Nggak bisa." Kekehnya. "Palingan kalau masak minta maid aja yang masakin." Lanjut Fene.
Bram dan Adrian sibuk mengurus pekerjaan mereka. Kemudian menyusul dua wanitanya ke dapur.
"Sayang, kamu bisa berangkat sendiri.?" Bram menghampiri Fene sambil memeluk tubuh langsing istrinya.
"Bareng aja deh, lagian aku tanda tangan kontrak dengan salah satu kontraktor besok, palingan lusa udah beres karena pencairan dp. Holi juga akan ke New york besok, nggak jadi minggu depan.
Oya, Adrian lo bisa anterin Holi nggak.?" Fene sedikit berteriak.
"Ogah, ntar cewek gue cemburu." Adrian menghampiri Jasmine memeluk tubuh sintal secretarisnya, Jasmine merasakan desiran seketika, karena tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh pria.
"Pak, jantung saya deg degan." Ucapan Jasmine membuat Fene, Bram dan Adrian tertawa.
"Kamu tu yah, uuuugh... menggemaskan." Cubit Adrian ke pipi Jasmine.
Wajah Jasmine makin merah merona.
Bram dan Fene malah bercumbu dari dapur hingga memasuki kamar mereka.
"Dasar mesum." Gerutu Adrian.
"Kenapa pak. Eeeeh beib..." Kekeh Jasmine.
"Hmmmm... Kamu udah pernah ciuman ama cowok.?" Tanya Adrian penasaran.
"Gimana mau ciuman pak, eeeh beib, pacar aja baru punya sekarang." Jawab Jasmine polos.
Adrian mulai menghampiri Jasmine untuk memberikan satu ciuman.
"Bapak... Eeeeh bebeb mau ngapain." Jasmine mengarahkan pisaunya kearah Adrian.
Seketika langkah Adrian terhenti.
Adrian mengusap kepala Jasmine berlalu ke ruang tv sambil tiduran disofa.
Drrrt.... Drrrt...
'Holi' bisik Adrian.
"Ya."
"Lo dimana.? Gue diapartmen Fene, lo bisa kesini.?"
"Hmmm... Nggak bisa, gue lagi ama cewek gue." Jawab Adrian ketus.
"Whaat...?? Serius.? Ciiiieeee... Udah move on." Kekeh Holi.
"Cariin gue pacar juga dong dri." Sedih Holi.
"Lo gue kenalin ama Petter aja. Dokter di Berlin. Ntar lagi gue kirimin nomor telfonnya. Lo call aja dia. Oke"
"Gue bilang dari lo yah." Tawa Holi seneng.
"Iya, dia temen kita juga kok." Jawab Adrian santai.
"Makasih adik ipar tiri gue." Hahahaha...
Adrian menutup telfon, mengirim nomor telfon Petter.
Sambil menghubungi Petter, memberi kabar bahwa Holi akan menghubunginya. Petter sangat senang, karena selama ini dia tidak pernah ada waktu untuk dekat dengan wanita.
Tak berapa lama Jasmine menghampiri Adrian, yang masih berbaring disofa. Adrian menutup telfonnya, menerima kedatangan Jasmine.
"Mau makan sekarang beib.?" Tanya Jasmine malu.
"Iya dong, udah laper ni." Adrian tiba-tiba menggendong lagi tubuh Jasmine menuju meja makan.
"Pak... Eeeh beib... Jatuh. Turuuuunin." Tapi Adrian malah terus memutarkan tubuhnya membuat Jasmine merangkulkan erat tangannya ke leher Adrian.
"Kamu senang.?" Adrian mendaratkan tubuh Jasmine dengan pelan di kursi makan.
"Hmmm..." Jasmine tersenyum malu, pipinya memerah seperti kepiting rebus, membuat Adrian menangkup pipi Jasmine, dan mengecup bibir Jasmine sangat lembut.
Jasmine menutup matanya, menerima ciuman pertamanya yang diberi Adrian. Gemuruh degupan jantung Jasmine sangat berpacu dengan degupan dada Adrian. Membuat Adrian makin menangkup kedua wajah cantik itu.
Adrian menempelkan keningnya. "Makasih, kita makan sekarang."
Jasmine tersenyum tersipu malu, karena Fene dan Bram juga melihat Adrian mencium bibir Jasmine.
"Ganggu aja lo." Sindir Adrian.
Fene dan Bram terkekeh melihat Jasmine tersipu malu.
"Kamu makan sayang.?" Fene memeluk Bram.
"Hmmmm enak ni." Fene mencium wangi lada hitam.
Mengambilkan makanan untuk Bram.
"Kamu ternyata bisa masak yah Jasmine.?" Tanya Fene.
"Iya mba, karena biasa bawa nasi. Ke kantor." Senyumnya malu-malu.
"Bagus dong, lebih sehat." Senyum Fene.
"Iya, gue ketagihan. Biasanya western mulu, bosen gue." Tambah Adrian.
"Hmmmm... Is good..." Ucap Bram.
"Enakan...?" Adrian merasa senang bisa mendapat wanita yang baik.
"Hmmm... Enak banget, rekomended." Tawanya.
"Tapi, kamu disini nyewa Jasmine.?" Tanya Fene disela-sela makan malam bersama mereka.
"Nggak bu, eeeeh mba, saya sudah mencicil apartmen saya. Tapi tidak semewah punya ibu eeeeh mba." Kekehnya.
"Good, kamu wanita yang bisa berhemat." Puji Fene.
"Emang, cicilannya berapa tahun lagi.?" Tanya Adrian.
"Hmmmm... Saya rasa tiga tahun lagi pak... Eeeh beib." Sambil menutup bibirnya.
"Besok kita lunasin, biar kamu bisa tenang. Saya juga sudah menyiapkan sopir pribadi untuk kamu jika saya tidak berada di Jakarta." Jelas Adrian membuat Jasmine tak bisa berkata apa-apa.
"Hmmm... Bagus itu, jadi kamu lebih aman." Tambah Bram.
Fene mendengar mengangguk tanda setuju.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan beib, aku nggak mau nanti aku dibilang jadi simpanan bebeb." Tunduk Jasmine.
"Siapa yang nyimpen kamu, jelas-jelas kita pacaran, saya mau memberikan yang terbaik buat kekasih saya." Jelas Adrian.
"Tapi saya rasa itu terlalu beb." Tunduknya.
"Hmmm... Denger yah Jasmine, saya nyaman sama kamu, saya nggak tau nanti saya cinta atau tidak, tapi saya tidak mau kamu jauh dari saya, dan ketenangan kamu adalah tanggung jawab saya. Ngerti. Jangan pernah membantah, karena saya serius sama kamu. Sekarang tugas kamu, meyakinkan saya agar saya bisa menikahi kamu."
Jasmine hanya tidak menyangka, dengan ucapan Adrian, Bram dan Fene.
'Kenapa saya merasa bahagia akan dipersunting bule ini.? Mimpi apa saya dua bulan lalu. Kok rasa bahagia banget, disayangi, difasilitasi. Jangan-jangan mereka mau beli tubuh saya.' Pikiran Jasmine takut seketika.
"Buatkan saya kopi, anterin ke balkon yah. Dua, buat saya dan Bram"
"Iya beib."
Fene yang mendengar panggilan terpaksa Jasmine dengan sebutan Beib membuat fene marah sama Adrian.
"Lo jangan buat anak orang ketakutan deh. By the why, lo serius.? Sama Jasmine.?" Fene mengusap lembut punggung Adrian.
"Iya dri, lo jangan kasih harapan sama dia, kasihan dia." Bram merangkul tubuh Adrian.
"Gue serius. Gue nggak mau menghabiskan waktu dengan wanita yang nggak jelas. Buang-buang waktu." Tunduk Adrian.
"Gue dukung lo dri, tapi lo jangan pernah nyakitin dia."
"Sakit gue di khianati Veni. Apa salah gue coba.? Mending gue sama wanita biasa, yang tulus ama gue. Gue bisa rasain Jasmine mulai cinta ama gue dari ciumannya tadi." Adrian tersenyum.
"Hmmmm... Ciiiieeee... Abege ni yeee... Ciuman udah cinta." Kekeh Bram menghembuskan asap rokoknya diudara.
"Beib... Ini kopinya. Mba Fen, pak Bram, saya pamit pulang yah. Wajah Jasmine masih memerah ternyata dia mendengar ucapan Adrian barusan membuat jantungnya tidak stabil dicintai pria bule kaya raya.
"Saya antar, atau kita nginap disini aja. Saya masih rindu sama Fene dan Bram."
"Hmmm..... Tapi saya nggak bawa baju ganti pak eeeh beib." Tunduknya.
"Dres saya ada, pilih aja kamu suka yang mana." Timpal Fene.
"Baik mba. Terimakasih sebelumnya.
Jujur Jasmine menolak untuk bergabung sama bule, takut diunyek-unyek. Tapi Jasmine percaya sama Adrian, karena Adrian pernah berjanji tidak akan melakukan hal yang nggak baik kepada dirinya. 'Terimakasih ya Allah, saya diberi orang-orang yang peduli pada saya.' Batinnya.
Sambil mengikuti langkah Fene menuju kamar untuk segera mandi dan istirahat.
"Adrian tidur sama kamu Jasmine.?" Fene ngerjain Jasmine.
"Jangan bu, belum muhrim." Kekeh Jasmine.
"Ooooh... Oke, biar Adrian di kamar tamu aja." Fene menutup pintu kamar Jasmine setelah memberikan baju tidur untuk Jasmine.
"Mba, ada mukena nggak.?" Teriak Jasmine dari pintu.
"Hmmmm... Saya nggak sembahyang seperti kamu, kamu order lewat online minta antar malam ini, biar security yang urus dibawah." Jelas Fene.
"Hmmmm... Baik mba."
Jasmine memesan mukena motif pink batik.
Kembali mendekati Fene yang tengah asyik membicarakan bisnis haram mereka.
"Mba, udah saya pesen, ini uangnya mba." Jasmine memberi beberapa lembar uang merah kepada Fene.
Fene, Bram dan Adrian saling bertatapan.
"Uang apa ini sayang.?" Tanya Adrian menatap Jasmine yang berdiri dihadapannya menggunakan baju tidur Fene berbahan satin.
"Uang mukena beib."
"Ooogh... Itu security yang urus, udah saya bayar. Disini kita kan ada deposit untuk belanja mingguan atau bulanan. Jadi setiap pembelian, security yang urus. Nanti mereka yang antar." Jawab Fene sangat lembut.
"Makasih yah mba, udah mau bayarin mukena saya." Jawab Jasmine merasa segan.
"Nggak apa-apa, toh kamu juga bakal jadi keluarga kita kok." Fene tersenyum sambil memeluk lengan Bram.
Bola mata Jasmine membesar, 'apakah dia akan segera berjodoh dengan pria bule ini.? Pak Adrian yang selalu baik padanya. Mimpi apa saya semalam.' batinnya sambil berlari masuk ke kamarnya.
Tidak lama Jasmine masuk ke kamar, security datang membawakan pesenan Jasmine memberikan pada Fene.
"Ada titipan bu."
"Ya... Saya tunggu di lift."
Fene mengambil, kemudian memberikan pada Jasmine.
Adrian lebih memilih mengganggu Jasmine dikamar. Membuat kedua pipi Jasmine merah merona.
"Beib.... Keluar... Aku takut nanti kamu ngapa-ngapain aku." Suara Jasmine membuat hati Adrian makin semangat mengganggu gadis polos seperti Jasmine.
Fene dan Bram hanya mendengar sambil terkekeh, karena pintu sengaja di buka oleh Jasmine.
"Kalau-kalau saya diperkosa bebeb Adrian, atau dimutilasi, jadi pak Bram dan ibu Fene bisa tau." Membuat Bram dan Fene tertawa terbahak-bahak. Mendengar kecemasan Jasmine.
Tobe continue.....