Hubungan Bastian dengan Fei semakin hari menjadi semakin akrab sejak mereka pergi ke taman hiburan beberapa waktu yang lalu. Mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama, terutama saat Bastian sedang berada di apartemen Aliong.
Seperti hari ini, sejak pukul tiga sore Fei sudah berada di apartemen Aliong untuk belajar cara membuat donat. Saat terakhir bertemu, sekitar dua minggu yang lalu. Bastian kebetulan membuat donat, dan Fei sangat menyukai jajanan tersebut, dan meminta tolong pada Bastian untuk mengajarkannya.
“Ini mau diapain?” tanya Fei sambil menunjuk adonan dalam wadah.
“Mau saya aduk, terus diuleni.”
“Boleh saya yang aduk?” tanya Fei.
“Boleh aja. Tapi nanti akan menjadi sedikit berat.”
“Gapapa. Saya akan mencobanya,” sahut Fei.
“Baiklah. Kalo gitu cuci tangan kamu dulu.”
Fei mengikuti permintaan Bastian. Dia mencuci tangannya, kemudian menyekanya hingga kering. Barulah dia kembali ke meja makan dan mulai mengaduk bahan untuk donat dengan mengikuti arahan dari Bastian.
“Tian, kenapa semua jadi lengket di tanan seperti ini?” tanya Fei sambil memperlihatkan tangannya yang belepotan adonan yang menempel di tangannya.
“Gapapa, itu udah bener kok. Kalo kamu terus menguleni dengan benar, maka ntaran lagi semua akan menjadi satu dan nggak akan nempel lagi di tangan kamu.”
“Baiklah.”
Fei kembali menguleni adonan di tangannya hingga benar-benar menjadi adonan yang licin, dan halus, serta tidak menempel di tanganya.
“Ini udah bener kan?” tanya Fei.
“Iya. Sekarang tinggal ditutup pake kain bersih, terus diemin tiga puluh menit.”
“Terus kita ngapain?” tanya Fei.
“Tian,” panggil Aliong yang baru masuk ke dalam rumah .
“Iya Ko?”
“Nanti malam ikut gua.”
“Ke?”
“Markas.”
Bastian mengerutkan kening mendengar nada suara Aliong yang tidak seperti biasanya. Namun, karena ada Fei, dia tidak ingin bertanya lebih banyak.
“Oke. Kita berangkat jam berapa?”
“Jam sembilan. Sebelum itu kita pergi nemuin orang dulu.”
“Perginya masih lama kan? Tian sama Fei baru kelar bikin adonan donat.”
“Keburu kok. Kita berangkat jam enam dari sini.”
“Oh, oke,” sahut Bastian kemudian memandang Fei. “Berarti kita masih bisa selesaiin bikin donatnya.”
Fei menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sejujurnya dia merasa sedikit takut melihat sikap Aliong saat ini. Pandangan matanya begitu dingin dan tidak bersahabat. Entah apa yang terjadi, tapi Fei yakin itu bukanlah hal yang baik.
***
Setelah selesai membuat donat, Bastian mengantarkan Fei pulang terlebih dahulu menggunakan mobil Aliong. Setelah itu dia kembali ke apartemen untuk menjemput kakaknya yang sudah menunggu di luar gedung. Melihat mobil yang dikendarai Bastian datang, tanpa menunggu lama, Aliong langsung masuk ke dalam mobil.
“Kita mau ke mana Ko?” tanya Bastian setelah Aliong memasang sabuk pengaman.
“Elo tau tempatnya Ryu kan?”
“Yang kerja di Kasino Shadow?” tanya Bastian memastikan.
“Hm.”
“Kenapa sama dia?”
“Terlibat perkelahian sama kelompok Kobra.”
“Yang bener?!”
“Hm. Makanya kita ke rumah dia sekarang, dan tanya langsung sama orangnya.”
“Oke.”
Bastian menjalankan mobil menuju tempat Ryu, salah satu bawahan Aliong yang menjalankan Kasino. Selama perjalanan, Bastian terus berpikir dan tidak dapat memahami mengapa Ryu berani membuat keributan dengan kelompok Kobra yang terkenal sangat kejam dan tidak memandang siapapun.
“Sampe Ko,” ujar Bastian sambil mematikan mesin mobil.
“Ayo turun.”
Bastian turun dari mobil dan berjalan mengikuti Aliong dari belakang. Saat ini suasana hati kakaknya sedang buruk dan dia tidak ingin menambah keruwetan Aliong. Mereka menaiki apartemen berlantai tiga ke tempat Ryu tinggal. Di lantai paling atas, di kamar paling ujung, Aliong menekan bel dan menunggu sampai Ryu membukakan pintu.
“Masuk Ko,” ujar Ryu sambil menundukkan wajahnya.
Melihat wajah Ryu, Aliong langsung emosi, dan tanpa berpikir panjang, dia langsung melayangkan tinju ke wajah anak buahnya dengan keras.
“KO!” seru Bastian yang sangat terkejut melihat perbuatan Aliong sambil menahan badan kakaknya.
“Biarin aja! Gua beneran kesel sama ini anak! Nggak berubah juga kelakuannya!” ujar Aliong datar sambil melepaskan diri dari pelukan Bastian.
“Iya Ko, Tian ngerti!” sahut Bastian mencoba menenangkan kakaknya. “Tapi nggak usah langsung main pukul juga Ko.”
“Sori Ko,” gumam Ryu dengan suara pelan.
“Dasar bodoh!” desis Aliong sambil berjalan masuk ke dalam ruangan tempat tinggal Ryu. “Tutup pintunya Tian!”
Bastian menutup pintu sesuai permintaan Aliong dan berdiri di sana, berjaga-jaga supaya Ryu tidak kabur.
“Duduk!” ujar Aliong dengan suara datar.
Ryu langsung menuruti perkataan Aliong, dan duduk di hadapan bosnya yang saat ini terlihat sangat menakutkan.
“Coba elo jelasin ke gua yang sebenernya!”
“B-baik,” sahut Ryu gugup.
“Jadi kemarin malam …,” Ryu menceritakan kejadian semalam dengan rinci pada Aliong, dan tidak berani berbohong sedikitpun. Ryu sangat mengenal Aliong. Sedikit saja ketahuan berbohong, maka tidak akan ada lagi pengampunan dari pria itu.
“Tetep aja elo salah!” ujar Aliong. “Nggak seharusnya elo kepancing sama ulah mereka! Kalo udah kayak gini, semua yang elo bikin repot!”
“Tapi kemarin situasinya nggak nguntungin banget buat gua, Ko. Kalo nggak dilawan, mereka bakal ngacak-ngacak kasino.”
“Elo tau akibat perbuatan elo?!”
“Iya Ko.”
“Coba sekarang elo mikir, mesti gimana!”
“Gua nggak tau Ko,” sahut Ryu bingung.
Ryu terbiasa menggunakan emosinya lebih dulu dibanding berpikir. Dan karena hal itulah, dia kerap mendapat masalah dan menimbulkan prahara untuk kelompoknya. Ini keempat kalinya dia melakukan hal itu setelah dia masuk ke dalam kelompok Delapan Naga lima tahun yang lalu.
“Gua udah bilang berkali-kali kan, jangan melulu pake emosi! Pake otak lo!” sentak Aliong.
“Maaf.” Hanya kata itu yang mampu Ryu ucapkan untuk meredakan kemarahan Aliong.
“Ikut gua!” ujar Aliong sambil bangkit berdiri.
“I-iya.”
Aliong berjalan ke pintu dan keluar dari sana diikuti oleh Bastian dan Ryu. Mereka turun ke bawah, dan masuk ke dalam mobil.
“Ke Markas Besar,” ujar Aliong dari kursi belakang pada Bastian.
“Iya Ko.”
Bastian mengendarai mobil menuju Markas Besar yang jauhnya sekitar setengah jam perjalanan. Saat mobil yang dikemudikan Bastian memasuki kawasan Markas, dia melihat sudah ada beberapa mobil di sana, salah satunya mobil Chen dan Xiao Wen.
“Kenapa pada ngumpul?” gumam Ryu bingung.
“Emangnya apaan lagi?! Masih pake nanya lo!” ujar Aliong kesal. “Turun!”
Aliong, Bastian, dan Ryu turun dari mobil dan masuk ke dalam Markas, langsung menuju ke basement yang dijadikan tempat untuk semua anggota berkumpul.
“Udah dateng semua?” tanya Aliong pada Chen.
“Udah Ko.”
“Jack mana?” tanya Aliong pelan.
“Di atas.”
“Oke.”
Aliong berjalan ke tengah ruangan dan menatap satu per satu bawahannya yang sudah hadir. Malam ini dia sengaja mengumpulkan mereka semua di sini untuk membicarakan tentang rencana menghadapi Kobra dan kelompoknya.
“Chen?”
“Siap,” sahut Chen yang langsung maju ke depan untuk berbicara.
Kemudian, dengan singkat, Chen menjelaskan dengan singkat dan terperinci rencana yang sudah disusun bersama Aliong tadi pagi.
“Kalian sudah mengerti?” tanya Chen.
“Sudah!” sahut semua orang di ruangan dengan serempak.
“Alung. Ahong, King.”
“Siap Ko!”
“Wen?”
“Kita udah siap, tinggal tunggu perintah,” sahut Xiao Wen.
“Kalo gitu kita berangkat tepat jam sebelas malam!” ujar Aliong. “Kalian boleh siap-siap.”
“Siap!” sahut semua orang serempak.
Setelah itu satu per satu orang meninggalkan ruang pertemuan mempersiapkan diri untuk tugas nanti malam. Setelah ruangan kosong, Bastian menghampiri Aliong dan duduk di kursi yang berada di samping kakaknya.
“Ko?”
“Hm?’
“Koko tau kan kali ini berbahaya banget?”
“Hm. Terus?”
“Apa nggak mending mundur aja? Resikonya gede banget Ko,” ujar Bastian.
“Udah nggak bisa mundur, elo kan tau aturannya.”
“Iya, Tian tau. Tapi gimana kalo nanti banyak yang luka?”
“Udah resiko kita. Udah, sekarang mending elo diem, tenangin pikiran, dan istirahat sebentar sebelum kita pergi.”
“Iya Ko.”
***
Jam sepuluh malam, semua orang kembali berkumpul di bawah untuk mendengarkan pengarahan terakhir dari Aliong yang disampaikan oleh Chen. Bukan hanya itu saja, Chen juga mengecek kesiapan setiap kelompok yang akan pergi. Setelah yakin semua sudah siap, mereka meninggalkan ruangan dan menuju ke depan, dan pergi ‘mengunjungi’ Kobra.
Aliong naik mobil bersama dengan Bastian dan Chen yang mengendarai mobil kali ini. Beberapa kali Bastian melirik ke arah Chen yang memegang kemudi. Chen bukan tidak mengetahui hal itu, akan tetapi dirinya sendiri juga tidak mampu menolak keputusan Jack, begitupun dengan Aliong.
Setelah kejadian kemarin, Jack langsung memanggil Aliong, Chen, dan juga Xiao Wen. Aliong sendiri sempat berdebat panjang dengan Jack ketika mengetahui keinginan bosnya itu. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan keinginannya.
Jack sendiri kali ini ikut turun langsung ‘mengunjungi’ Kobra. Karena sebenarnya baik Jack maupun Kobra sama-sama memiliki dendam pribadi sejak lama.
Kali ini Jack dan semua orang-orangnya menyerang langsung ke kediaman Kobra. Sesuai instruksi Aliong sebelum berangkat, mereka sengaja berhenti beberapa meter di tempat yang agak sepi dan tidak akan terlihat baik dari kamera pengawas dan penjaga di kediaman Kobra.
Chen turun dan mulai mengatur tiap kelompok kecil di posisi mereka masing-masing, dan langsung bergerak untuk bersiap-siap. Chen mendatangi mobil dan mengetuk jendela bagian belakang.
“Ko, semua udah siap,” lapor Chen.
“Oke. Kita tinggal nunggu Jack,” sahut Aliong.
“Kalo gitu, gua duluan.”
“Jangan!” cegah Aliong. “Kita bertiga akan bergerak setelah Jack masuk. Kita yang akan kawal dia dari belakang, sedangkan Xiao Wen dari depan.”
“Kenapa berubah?” tanya Chen.
Seharusnya Aliong, dan Chen lah yang akan membuka jalan masuk, sekaligus mengawal Jack. Namun, beberapa waktu sebelum berangkat tadi, Jack memanggil Aliong dan memerintahkan Aliong untuk berganti posisi dengan Xiao Wen.
“Jack yang minta.”
“Kenapa?” tanya Chen tidak mengerti.
“Karena terlalu bahaya buat Tian,” sahut Aliong. “Jack nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama Tian, dan nggak mau kejadian dulu terulang lagi.”
“Oh …, oke.”
“Jadi kita tunggu sampe Xiao Wen dan Jack bergerak dulu.”
Aliong, Chen, dan Bastian masih menunggu sekitar lima belas menit hingga mereka mendengar siulan burung hantu memecah keheningan malam. Itu merupakan kode dari kubu Aliong yang memberitahukan jika keadaan sudah aman, dan untuk segera bergerak.
“Ayo turun,” ujar Aliong saat melihat Jack dan Xiao Wen berjalan menjauhi mereka.
Bastian turun dari mobil dan langsung berdiri di sisi kanan Aliong, menunggu tanda berikutnya untuk maju dan masuk ke dalam kediaman Kobra.
Tidak lama kemudian, terdengar siulan burung hantu sebanyak dua kali. Itulah tanda untuk mereka bertiga dan beberapa orang lagi bergerak masuk.
Begitu memasuki pekarangan kediaman Kobra, mereka langsung disambut pemandangan orang-orang yang sedang bertarung dengan seru. Tapi Aliong tidak menghiraukan semua itu. Tatapannya lurus ke depan, ke arah pintu utama. Aliong berjalan terus menaiki tangga undakan dan langsung mengayunkan golok di tangan. Chen dan Bastian juga melakukan hal yang sama.
“Awas kalo lo sampe luka!” ancam Aliong sebelum memasuki pintu utama.
“Iya Ko.”