Menundukkan Lawan

1879 Words
Aliong, Chen, dan Bastian terus merangsek maju mencari Jack yang sudah terlebih dahulu berada di dalam kediaman Kobra.  “AWAS!” seru Chen sambil menangkis serangan dari depan, dan langsung memberikan serangan balik di bagian perut lawan menggunakan golok di tangan kanannya. “Ko, kalo gini terus kita nggak akan bisa masuk ke dalam,” ujar Chen. “Mending elo sama Tian, biar gua sendiri.” “Oke,” sahut Aliong singkat. “Tian! Kawal Ko Aliong!” Chen memberi perintah. “Oke!” Bastian berjalan di depan dan membuka jalan untuk Aliong, serta menghadang lawan yang berdatangan. Aliong tidak tinggal diam melihat adiknya berjuang menghadapi lawan. Dengan gerakan cepat, Aliong pun menjatuhkan para lawannya hingga mereka tiba di ujung lorong. “Kita ke mana Ko?” tanya Bastian saat di kanan dan kirinya ada jalan. “Ke kiri!” sahut Aliong cepat. Bastian berbelok ke kiri sesuai instruksi Aliong dan kali ini keadaan lorong cukup sepi. Aliong berjalan tepat di belakang Bastian sambil terus mendengarkan keadaan sekitar. “Ko, kira-kira Ko Jack ke mana? Kita salah jalan nggak?” “Nggak! Maju terus sampe ujung. Elo liat itu pintu kan?” ujar Aliong sambil menunjuk pintu yang berada di ujung lorong. “Iya, liat.” “Ntar kita masuk ke situ.” “Yakin Ko Jack di sana?” tanya Bastian ragu. “Gua bukan nyari Jack atau Kobra,” sahut Aliong. “Tapi sesuatu yang bakal bikin Kobra nyerah.” “Baiklah.” Bastian mempercepat langkah kakinya menuju pintu yang ditunjuk oleh Aliong dan langsung bersiaga saat sudah tiba di sana. Aliong membuka pintu perlahan dan dugaannya benar saat melihat seorang wanita sedang duduk di tempat tidur dengan wajah ketakutan. “Malam Cing,” sapa Aliong. “Lama nggak ketemu.” “Elo mau ngapain ke sini?” tanya Cing-Cing. “Tolong ikut gua nemuin Kobra,” pinta Aliong tenang. “Nggak mau. Dan nggak bisa! Kobra bilang gua nggak boleh keluar dari sini, kecuali dia yang jemput!” sahut Cing-Cing tegas. “Kalo begitu, elo siap ngeliat Kobra meregang nyawa?!” tanya Aliong dingin. Cukup sudah dirinya berbasa-basi dengan wanita di hadapannya ini. Cing-Cing adalah istri dari Kobra. Karena wanita inilah, Jack menyimpan dendam yang dalam pada Kobra. Dulunya, Cing-Cing adalah kekasih Jack, dan direbut oleh Kobra dengan cara yang sangat menyakitkan. “Elo ngancem gua?!” teriak Cing-Cing yang langsung emosi mendengar perkataan yang keluar dari bibir Aliong barusan. “Nggak! Gua cuma mengungkapkan kenyataan. Elo tau sendiri gimana Jack kan? Dan elo tau sebesar apa rasa benci yang Jack punya buat Kobra. Ditambah semalem dengan sengaja Kobra mendatangi kasino dan bikin kekacauan di sana.” Cing-Cing terdiam mendengar penjelasan Aliong. Jauh di lubuk hatinya, Cing-Cing masih sangat mencintai Jack, pria yang telah menolongnya dari kelamnya kehidupan yang dijalaninya. Jack juga selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Dan Kobra tahu akan hal itu, sehingga membuat pria itu semakin membenci Jack. Dan semalam, Kobra melakukan hal itu, karena mengetahui jika Cing-Cing masih menyimpan foto serta kalung dari Jack. “Terus gua mesti gimana? Nggak lama lagi, penjaga pasti dateng ke sini.” “Kalo elo mau liat mereka berdua tetap hidup, ikut sama gua sekarang,” ujar Aliong. “Tapi ….” Cing-Cing ragu-ragu untuk meneruskan perkataannya. “Elo nggak usah takut, gua bakal jagain elo,” ujar Aliong mencoba meyakinkan wanita di hadapannya. “Baiklah,” sahut Cing-Cing. “Tian, ayo kita keluar dari sini sebelum penjaga dateng.” “Siap.” Bastian membuka pintu kamar dan memimpin di depan. Dia berjalan sesuai arahan Cing-Cing yang menuju ke tempat Kobra saat ini berada.  Mereka bertiga menaiki tangga menuju lantai paling atas, dan terus berjalan hingga tiba di sebuah pintu kayu besar yang tidak tertutup rapat. Bastian dapat mendengar suara samar dari sana, dan dia yakin salah satunya adalah Jack. Bastian menoleh ke samping memandang Aliong, menunggu instruksi berikutnya.  Aliong mendekatkan dirinya ke pintu. Dia mendengarkan sejenak, sebelum akhirnya mendorong pintu sedikit agar dapat melihat lebih jelas keadaan di dalam. “Cing, ayo masuk,” ujar Aliong dengan suara pelan. Karena tidak mendengar jawaban dari Cing-Cing, Aliong menoleh ke belakang dan melihat wanita itu hanya berdiri diam. “Jangan takut. Ada gua sama dia. Elo pasti aman,” ujar Aliong sambil menunjuk Bastian dengan dagunya. “Baiklah,” sahut Cing-Cing sambil berjalan menuju pintu. Cing-Cing mendorong pintu kayu hingga terbuka lebar. Seketika itu juga wajahnya pias saat melihat Jack tengah menodongkan pistol tepat ke arah jantung Kobra. “Ngapain elo ke sini?!” tanya Kobra dengan suara keras. Lidah Cing-Cing terasa kelu, hingga tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya.  “GUA TANYA KENAPA ELO KE SINI?! GUA KAN UDAH BILANG TETEP DIEM DI KAMAR SAMPE GUA DATENG!” ujar Kobra dengan sangat emosi. Dia tidak ingin Cing-Cing menyaksikan keadaan seperti saat ini. Biar bagaimanapun, Kobra sangat mencintai istrinya, walaupun terkadang berbuat kasar pada Cing-Cing.  “M-maaf,” ujar Cing-Cing ketakutan karena dibentak oleh Kobra. “Liong?” tanya Jack dengan nada datar. “Gua emang sengaja bawa Cing-Cing ke sini,” sahut Aliong tenang. “ELO MAU MATI?!” teriak Kobra pada Aliong. “Pertanyaan yang salah alamat,” ledek Aliong. “Seharusnya gua yang ngomong gitu ke elo!” “MAU LO APA?!” “Berlutut minta maaf sama Ko Jack, bayar ganti rugi, dan jangan pernah injekkin kaki di daerah Ko Jack lagi! Gampang kan?!” “NGGAK SUDI!” “Keputusan di tangan lo. Saat ini gua yakin, kalo orang-orang lo udah kalah. Dan kalo elo masih sayang sama Cing-Cing, lakukan semua yang gua perintahin. Maka elo masih bisa ketemu dan hidup sama dia!” ujar Aliong sambil menarik Cing-Cing dan memposisikan wanita itu berdiri di depannya, sambil menempelkan pisau kecil ke leher Cing-Cing. Kobra terkejut melihat perbuatan Aliong. Kobra pernah beberapa kali bertemu dengan Aliong. Dan dia tahu jika Aliong bukanlah orang yang senang mengobral janji ataupun ancaman. Apapun yang keluar dari bibir pria  itu, semuanya pasti benar dan akan dilakukan. Namun, di satu sisi, dendam dan kemarahan di hatinya, membuat Kobra tidak ingin mengalah. “Jangan berharap gua akan menyerah begitu saja!” sahut Kobra datar. “Gua yakin nggak lama lagi, anak buah gua akan datang dan keadaan akan berbalik menguntungkan gua!” “Elo yakin?” tanya Aliong sambil tersenyum sinis.   Kobra menatap tajam pada Aliong, dan dia melihat jika Aliong dengan sengaja menekan pisau ke leher Cing-Cing yang langsung mengeluarkan darah. Melihat hal itu, hatinya semakin dipenuhi kemarahan. “Biar gua yang bujuk Kobra,” bisik Cing-Cing. “Elo yakin?” balas Aliong juga dengan berbisik. “Iya. Dan gua harap Kobra mau denger. Gua nggak mau liat mereka berdua ada yang terluka.” “Baiklah,” sahut Aliong. “Tapi gua akan tetep di belakang elo.” Aliong melepaskan tekanan pada leher Cing-Cing dan berjalan di belakang wanita itu menuju ke tempat Kobra dan Jack yang berdiri di tengah ruangan. Jack dan Kobra mengikuti gerakan Aliong dan Cing-Cing melalui mata mereka dengan sikap waspada. “Mau ngapain lo?” tanya Kobra pada Cing-Cing setelah wanita itu berdiri tidak jauh dari Kobra dan Jack. “Ko Sin,” ujar Cing-Cing menyebut nama asli Kobra. “Gua mohon, hentikan semuanya sekarang ya. Gua yang salah karena masih menyimpan kenangan dari pria lain,” lanjut Cing-Cing dengan lembut dan sengaja tidak menyebut nama Jack. “NGGAK BISA!” sentak Kobra penuh amarah. “Ko …, gua mohon …,” pinta Cing-Cing dengan suara memelas. “Gua nggak mau ngeliat elo terluka. Dan lebih nggak mau lagi ngeliat elo ngelukain orang dan kena masalah.” Kobra terdiam mendengar perkataan Cing-Cing dan melihat pancaran di mata wanita itu yang penuh dengan ketakutan, dan juga cinta.  “Baiklah,” sahut Kobra mengalah. Kobra mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah, kemudian menekuk kedua lututnya ke lantai. “Gua salah udah bikin keributan semalem. Maaf.” Jack menatap tajam pada Kobra. Jika tidak melihat wajah ketakutan Cing-Cing, dan juga air mata di kedua pipi wanita yang masih dicintai, Jack akan tetap pada pendiriannya. “Gua butuh bukti, bukan cuma omongan doang!” sahut Jack dingin. “Elo mau apa?!” tanya Kobra. “Tanda tangan darah!” sahut Aliong dingin. Kobra mengembuskan napas kasar mendengar jawaban Aliong. Yang diminta oleh Aliong sangatlah berat untuk dilakukan. Sekali membubuhkan tanda tangan dengan darah pada sebuah surat perjanjian, maka dapat dipastikan mereka akan mati jika melanggar isi perjanjian. “Baiklah!” ujar Kobra setelah berpikir panjang. “Buang senjata lo!” ujar Aliong dingin saat melihat Kobra hendak berjalan ke meja. Kobra melempar goloknya dan berjalan menuju meja untuk menulis surat perjanjian. Namun, Aliong yang memang pada dasarnya tidak dapat mempercayai orang lain, selain keluarga, menoleh pada Bastian. “Tian, awasin dia!” Aliong tidak ingin mengambil resiko jika tiba-tiba Kobra mengambil senjata yang disembunyikan dan membuat keadaan menjadi buruk. “Baik.” Bastian bergegas mendekati Kobra dan berjalan sambil menjaga jarak dengan pria itu. Bastian tetap mengawasi dengan waspada saat Kobra menulis di selembar kertas putih. Namun, tatapan matanya semakin tajam, saat Kobra mengambil pisau dari laci meja dan menorehkan pada telapak tangan kirinya. darah langsung mengalir dari telapak tangan Kobra dan jatuh mengenai kertas. “Udah gua lakuin!” ujar Kobra. “Lempar pisau lo ke lantai!” perintah Aliong pada Kobra. Kobra melemparkan pisau ke lantai dan diarahkan kepada Bastian yang langsung ditendang Bastian ke arah Aliong. Oleh Aliong, pisau itu langsung diinjak supaya tidak dapat digunakan oleh Kobra. “Boleh lepasin gua sekarang?” tanya Cing-Cing pada Aliong. “Belum! Sampe Kobra nyerahin surat ke Jack, dan sampe orang-orang gua dateng, elo masih harus ada di tangan gua.” “Terserah elo aja. Tapi apa harus ini pisau tetep di leher gua?” ujar Cing-Cing. “Hm.” Kobra membawa surat perjanjian dan menyerahkannya pada Jack yang masih tetap berdiri di tempatnya sambil mengarahkan pistol ke arah Kobra. Tanpa menurunkan senjatanya, Jack menerima surat dari Kobra menggunakan tangan kiri dan membacanya sekilas. “Oke,” ujar Jack. “Gua pegang janji lo. Semoga elo bisa tepatin semua yang udah elo tulis di sini. Dan asal elo tau, Cing-Cing tulus sayang sama elo, dan jangan sia-siain semua yang udah dia lakuin ke elo!” “Bos, Ko,” ujar Chen yang baru datang. “Udah selesai?” tanya Aliong tanpa mengalihkan tatapannya. “Udah.” Sejak tadi, Bastian terus mengamati Chen, dan dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu. Bastian mendekati Chen dan memeriksa tubuh pria itu, dan terbeliak saat melihat darah mengalir dari perut Chen. “Ko! Chen luka!” “Ada yang lain di depan?” tanya Aliong tenang. “Ada Alung Ko,” sought Bastian. “Suruh Alung buka jalan, kita keluar dari sini!” “Oke.” “Elo papah Chen!” “Siap Ko.” “Ayo Ko,” ujar Bastian sambil meletakkan tangan kiri Chen di bahunya. Bastian memapah Chen keluar dari ruangan dan bertemu dengan Alung, dan yang lainnya yang baru saja tiba. “Ko Alung, kawal di depan. Dan yang lain, tolong bawa Ko Aliong dan Ko Jack!” Bastian memberi perintah pada bawahan Aliong. Alung berjalan di depan, memandu Bastian yang memapah Chen. Sementar itu yang lain mengawal Aliong dan jack keluar dari ruangan. Aliong tetap membawa Cing-Cing sebagai jaminan supaya Kobra tidak melakukan hal yang dapat membahayakan mereka semua. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD