Sudah dua hari Bastian berada di Macau bersama Aliong. Dia sangat menikmati liburan singkat di tempat ini. Sejak kemarin, Ceng selalu mengajaknya pergi berkeliling kota, dan menikmati berbagai macam makanan yang ada di sini, bahkan yang belum pernah dia cicipi sebelumnya.
Seperti hari ini, pagi-pagi, Ceng sudah menghubunginya melalui Aliong. Ceng akan mengajaknya pergi lagi.
“Ko Ceng mau jemput Tian jam berapa Ko?”
“Katanya sekitar jam sebelas. Kenapa?”
“Koko ikut kan?”
“Nggak. Hari ini ada yang mesti gua kerjain. Elo pergi aja sama Ceng. Nanti malam baru kita ketemu di hotel.”
“Koko mau pergi ke mana? Tian ikut sama Koko aja kalo gitu.”
“Nggak usah. Gua pergi sama Alung dan Ahong.”
“Tapi kata Ko Chen,”
“Nggak usah denger Chen, orangnya juga nggak di sini! Elo ikutin perintah gua aja. Ngerti?!” ujar Aliong dengan nada suara yang tidak dapat dibantah.
“Iya Ko,” sahut Bastian. “Kalo gitu Tian siap-siap dulu.”
Bastian berjalan ke arah tangga. Dia naik dan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
“Kenapa Ko Aliong begitu? Pasti ada yang disembunyiin. Jadi penasaran kan,” gumam Bastian sendirian.
Bastian terus memikirkan Aliong, bahkan sampai Ceng menjemputnya, Bastian terus memikirkan sikap kakaknya saat di rumah. Untuk bertanya langsung, dia tidak berani melakukannya, karena Bastian sangat mengenal sifat Aliong.
“Kenapa elo diem aja?” tanya Chen.
“Gapapa Ko. Cuma lagi sedikit mikir.”
“Mikirin apaan? Kayaknya serius banget. Boleh gua tau? Siapa tau gua bisa bantu.”
Bastian mengganti posisi duduknya menjadi menyamping dan menatap Ceng sejenak, dan menimbang dalam hati apakah perlu untuk bercerita pada pria di hadapannya. Bastian ingat pesan Chen untuk tidak mempercayai orang yang baru dikenal. Namun, Ceng adalah orang Aliong juga, dan pasti dapat dipercaya.
“Kenapa ngeliatin gua? Elo nggak percaya sama gua?” tanya Ceng.
“Bukan begitu Ko. Masalahnya Tian kan harus hati-hati, seperti yang Ko Chen bilang.”
“HAHAHA ….”
Ceng tertawa mendengar kejujuran Bastian. Dan dia semakin menyukai sikap pemuda di sampingnya ini. Ceng mulai mengerti mengapa Aliong menjadikan Bastian sebagai adik angkatnya, juga Jack yang sangat menginginkan pemuda ini untuk bergabung. Selama dua hari bersama Bastian, Ceng dapat mengambil kesimpulan jika pemuda itu bukan hanya pintar, tapi juga cerdik, memiliki insting yang tajam, serta jujur dan setia. Intinya, Bastian masuk dalam kualifikasi untuk menjadi seorang pemimpin.
“Gua ngerti. Tapi satu hal yang harus elo tau, gua ini kerja sama Jack bukan baru setahun, tapi sudah sangat lama. Dan jika sampai saat ini hubungan gua sama dia masih baik, tentu elo tau kan artinya apa?”
“Iya Ko.”
“Kalo elo nggak mau ngomong, gua nggak akan maksa.”
“Tapi Koko janji nggak akan bilang sama Ko Aliong?”
“Oke. Elo bisa pegang janji gua,” ujar Ceng mantap.
“Oke. Tian percaya.”
“Sekarang elo mau tanya apa? Sebentar lagi kita sampe.”
“Ko Aliong lagi ada masalah?”
“Kata siapa?”
“Nggak ada. Tapi ngeliat sikapnya tadi, Tian yakin dia nyembunyiin sesuatu.”
“Ternyata elo peka juga.”
“Bener ada kan?” desak Bastian.
“Bisa dibilang begitu. Elo inget waktu gua pertama kali ketemu sama Aliong dan ngomongin tentang Kenji?”
“Inget. Terus?”
“Semalem Aliong udah dapetin bukti kuat tentang kecurangan Kenji. Dan malam ini Aliong akan menemui dia.”
“Koko ikut?”
“Hm.”
“Terus Tian?”
“Perintah Aliong, gua harus bikin elo tetep tinggal di hotel, karena Macau nggak sama kayak di sana. Aliong nggak mau liat elo kenapa-kenapa.”
“Nggak bisa! Tian harus ikut!” ujar Bastian tenang.
“Elo mau ngebantah Aliong? Nggak takut sama konsekuensinya?”
“Nggak! Tian ikut ke sini karena Ko Chen percaya kalo Tian bisa jagain Ko Aliong. Jadi Tian nggak mau ngecewain Ko Chen! Apapun yang terjadi, Tian harus ada di samping Ko Aliong!”
Sepanjang Bastian berbicara, Ceng menatap pemuda itu dengan seksama. Dia melihat tekad di mata Bastian. Dan dia percaya dengan perkataan Bastian.
“Oke. Kalo gitu kita tanggung resikonya bersama. Elo boleh ikut sama gua nanti malam.”
“Makasih Ko,” ujar Bastian tulus.
***
Ceng menepati janjinya dengan mengajak serta Bastian menuju ke tempat Aliong akan menangkap basah Kenji.
“Sebenernya kita mau ke mana Ko?” tanya Bastian yang ikut dalam mobil yang sama dengan Ceng.
“Ke gudang dekat dermaga.”
Bastian terdiam mendengar perkataan Ceng. Sesungguhnya dia merasa khawatir dengan Aliong, serta situasi yang akan dihadapi nanti. Tadi, atas seijin Ceng, Bastian menghubungi Chen dan menceritakan semuanya. Chen berpesan untuk tidak lengah sedikitpun dan harus tetap berada di sisi Aliong, karena Kenji adalah orang yang kejam, dan juga sering menggunakan trik licik untuk mengalahkan lawan.
“Elo takut?” tanya Ceng melihat Bastian hanya diam.
“Nggak. Tian cuma khawatir mikirin Ko Aliong.”
“Tenang aja. Aliong pasti baik-baik aja. Ada Alung dan Ahong yang nemenin dia.”
“Andai yang nemenin Ko Aliong itu Ko Chen, Tian pasti tenang.”
“Gua ngerti. Tapi ada Don juga di sana. Gua yakin semua baik-baik aja.”
“Semoga.”
“Sebentar lagi kita sampe. Daripada elo terus mikirin Aliong, lebih baik elo mikirin diri lo sendiri dan apa yang akan elo lakuin pas sampe.”
“Iya Ko.”
Tidak lama kemudian, mobil mulai memasuki pelabuhan dan terus berjalan sampai ke bagian belakang, di mana di sana berdiri bangunan-bangunan yang digunakan sebagai gudang penyimpanan. Mobil berhenti beberapa meter sebelum gudang yang dituju.
“Kita sampe Bos,” ujar pria yang mengemudi.
“Elo turun dulu dan liat keadaan sekitar,” ujar Ceng.
“Siap.”
Pria tersebut turun dari mobil dan berjalan untuk melihat keadaan. Begitu juga dengan pria-pria lain yang mengikuti dengan mobil di belakang mereka.
Setelah memastikan keadaan di luar aman, anak buah Ceng kembali ke mobil untuk melaporkan pada atasannya tersebut. Dia mengetuk jendela mobil, dan menunggu sampai Ceng menurunkan jendela.
“Semua aman Bos. Dan sepertinya Kenji belum datang.”
“Oke. Kalo gitu kita turun sekarang. Dan kalian, sembunyikan mobil, setelah itu ke posisi masing-masing.”
“Siap.”
Ceng turun dari mobil bersama Bastian. dan berjalan menuju gudang. Setelah terdiam sebentar, Ceng mengetuk pintu gudang sebanyak tiga kali dengan ketukan berirama, seperti yang dilakukan Aliong saat di hotel.
Terdengar siulan dari dalam gudang, yang menandakan Ceng dapat masuk ke dalam. Perlahan, Ceng menggeser pintu gudang dan masuk ke dalam bersama Bastian. Aliong yang saat itu sedang berdiri di belakang tumpukan peti kemas, langsung keluar saat melihat Bastian ada bersama Ceng.
“Ngapain elo ke sini?!” tanya Aliong dengan suara datar.
“Dampingin Koko.”
“Elo udah nggak waras? Elo mau mati?”
“Yang Tian tau, memang tempat Tian di sini, di samping Koko. Hidup atau mati, itu urusan nanti.”
“Aish! Ini anak nggak punya takut banget sih!” dumel Aliong kehabisan kata menghadapi sifat keras kepala Bastian.
“Liong, urusan marahin dia bisa elo tunda. Sekarang kita harus kembali ke posisi, karena nggak lama lagi Kenji pasti dateng buat ketemu sama Dong San,” ujar Ceng mencoba menengahi.
“Sekarang elo aman. Liat ntar kalo urusan gua sama Kenji udah beres!” ancam Aliong pada Bastian.
“Siap Ko.”
“Ikut gua!” ujar Aliong ketus.
“Iya Ko.”
Bastian bergegas mengikuti Aliong, dan ikut bersembunyi di salah satu tumpukan peti kemas. Mereka menunggu sekitar setengah jam di dalam, sebelum akhirnya ada yang menggeser pintu gudang dengan kasar. Dari tempatnya bersembunyi, Aliong melihat Kenji berjalan masuk, diikuti bawahannya.
“Itu Kenji, Ko?” bisik Bastian.
“Hm.”
“Sekarang apa?”
“Tunggu sampe Dong San dateng, dan kita liat perkembangannya.”
Baru saja Aliong selesai berkata, pintu yang tadi ditutup anak buah Kenji, kembali digeser dari luar, dan tampak seorang pria dengan penampilan perlente memasuki gudang sambil bertepuk tangan senang.
“Gua pikir elo nggak akan datang Ken,” ujar Dong San.
“Nggak mungkin juga gua nggak dateng,” balas Kenji sembari menghampiri Dong San dan memeluk pria itu.
“Gimana? Apa elo setuju dengan penawaran gua?’ tanya Dong San langsung pada inti pertemuan mereka.
“Kasih gua karaoke yang di Selatan, makan gua akan tanda tangani perjanjian,” sahut Kenji.
Dong San berpikir sebentar mendengar permintaan Kenji yang menurutnya serakah. Jika menuruti keinginan Kenji, otomatis pria itu akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar, karena bukan hanya dari karaoke miliknya, tapi juga dari karaoke dan hotel milik Jackyang Kenji kelola, padahal yang diminta oleh Dong San hanyalah menjadi mata-mata untuk menjatuhkan usaha yang dijalani Jack.
“Elo nggak salah? Sepertinya nggak sepadan dengan yang gua minta,” ujar Dong San mencoba menolak permintaan Kenji.
“Apanya yang nggak sepadan? Seperti yang udah gua bilang, gua akan bikin usaha Jack hancur perlahan-lahan, suplai senjata gelap juga akan gua kasih ke elo. Jadi di mananya yang nggak sepadan? Elo akan menerima keuntungan yang sangat besar dari itu semua.”
Aliong sangat emosi mendengar perkataan Kenji yang dengan mudahnya menjual kesetiaan demi uang. Bukan hanya itu saja, Kenji bahkan melupakan kebaikan Jack yang telah menolongnya di saat pria itu sekarat di tangan seorang pria yang saat itu berusaha membunuhnya.
“Baiklah. Gua setuju,” sahut Dong San. “Bawa ke sini suratnya.”
Itulah tanda bagi Aliong dan yang lainnya untuk keluar dan menangkap Kenji dan Dong San.
“Jadi hanya segini harga diri dan kesetiaan lo?” tanya Aliong dingin pada Kenji.
“K-Ko Aliong!” seru Kenji yang benar-benar terkejut melihat kehadiran Aliong.
“Kenapa?! Kaget liat gua?! Atau nggak nyangka kalo gua bakal tau kejahatan elo?!” tanya Aliong dengan sangat dingin.
“B-bukan b-begitu Ko,” sahut Kenji tergagap.
“Terus?!” tantang Aliong.
Dong San yang merasa terjepit, berusaha melarikan diri, akan tetapi dihadang oleh Ceng dan yang lainnya. Melihat keadaan itu, anak buah Dong San dan Kenji langsung menyerang untuk menyelamatkan bos masing-masing.
Bastian yang memang sejak tadi sudah bersiaga, segera bertindak dan menghadang beberapa pria yang hendak menyerang Aliong. Bastian mengeluarkan belati yang tadi diberikan Aceng dan memberikan perlawanan.
Perkelahian berlangsung dengan sengit, akan tetapi karena kalah banyak, Dong San dan Kenji akhirnya berhasil dikalahkan. Jika mengikuti keinginannya, Aliong ingin menghabisi Kenji saat itu juga. Namun, karena ada aturan dalam kelompok, Aliong menunda keinginannya dan hanya membuat wajah Kenji babak belur dan membawa pria itu beserta Dong San dan anak buahnya ke markas.
Setelah Kenji dan Dong San dibawa pergi, Aliong menghampiri Bastian yang memegangi lengan kanan bagian atas.
“Elo luka?” tanya Aliong sedikit khawatir.
“Sedikit Ko,” sahut Bastian tenang. “Koko?”
“Gua gapapa. Makasih karena udah jagain gua.”
“Itulah gunanya adik kan?”
“Belagu lo!” sahut Aliong.
“Sekarang apa Liong?’ tanya Ceng yang datang menghampiri.
“Elo gapapa Ko?” tanya Aliong.
“Seperti yang elo liat,” sahut Ceng.
“Berapa banyak yang luka?”
“Lima, dan semua gapapa, hanya luka gores.”
“Baiklah. Sekarang kita ke markas,” ujar Aliong. “Elo Tian, ikut sama gua.”
“Ke mana Ko?”
“Bawel lo! Ikut aja, dan jangan banyak tanya!”