Sejak pulang dari pondok, Bastian mulai berlatih cara menggunakan pisau menggunakan pisau kayu pemberian Aliong. Dia juga mulai melatih pendengaran seperti yang diminta Aliong. Tidak terasa sebulan sudah berlalu, dan Bastian semakin mahir menggunakan pisau.
“Tian?! Kamu lagi ngapain?!” seru Meylan kaget melihat anaknya sedang memutar-mutar pisau dengan cepat.
“Mama?!” desis Bastian yang juga terkejut melihat Meylan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Itu kamu lagi ngapain?! Dan itu dari mana?!” selidik Meylan.
Bastian menyembunyikan pisau kayu di belakang badannya dan meringis menatap Meylan. Dia khawatir ibu angkatnya akan memberitahu Jimmy. Jika itu sampai terjadi, maka ada kemungkinan ayah angkatnya akan marah dan menegur Aliong.
“Kamu nggak mau bilang?!” tanya Meylan dengan nada mengancam.
“Mau, tapi Mama mesti janji dulu sama Tian.”
“Oho …, sekarang kamu sudah mulai berani mengajukan syarat ya!” sahut Meylan dengan mata berbinar jahil.
Bastian tertawa kecil melihat wajah jenaka Meylan, dan berjalan menghampiri ibunya. Bastian menggandeng tangan Meylan dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.
“Ma, dengerin penjelasan Tian dulu ya, mau?”
“Hm. Kamu mau bilang apa? Asal kamu jujur dan ceritain semua, Mama akan berusaha untuk nggak marah.”
“Jadi gini ceritanya,” ujar Bastian memulai perkataannya.
Setelah itu dia menceritakan semuanya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi. Juga bagaimana Aliong melarangnya untuk memberitahu semuanya pada Jimmy dan Meylan.
Sementara Bastian bercerita, Meylan mendengarkan dalam diam tanpa sedikitpun menyela hingga Bastian selesai bercerita. Meylan mengambil tangan Bastian dan menepuknya dengan lembut.
“Mama ngerti Tian. Kamu nggak usah khawatir, Mama nggak akan ngomong sama papa,” ujar Meylan lembut.
“Makasih Ma,”
“Tapi kamu mesti janji sama Mama untuk hati-hati dan selalu baik-baik aja, nggak boleh terluka, mengerti?” sela Meylan.
“Kalo hati-hati dan baik-baik aja, Tian bisa untuk janji. Tapi kalo untuk nggak luka, Tian nggak berani.”
“Mama ngerti. Selama itu hanya luka kecil, Mama nggak masalah,” ujar Meylan. “Kamu memang nggak lahir dari rahim Mama, tapi, selamanya kamu adalah anak Mama. Jadi …, berusahalah untuk tidak terluka, atau,”
“Atau apa?” sela Bastian sambil memeluk Meylan.
“Mama akan ikut merasakan sakit jika kamu terluka,” sahut Meylan.
Bastian memandang Meylan tanpa mampu mengucapkan kata-kata. Saat ini hatinya terasa sangat penuh. Dia tidak pernah berharap dikasihi dan diterima seperti ini oleh Jimmy dan Meylan. Lima tahun lebih menjalani kehidupan bersama mereka membuat dirinya hampir melupakan keluarganya di Jogja.
“Iya Ma. Tian nggak janji, tapi akan berusaha untuk tidak terluka, karena Tian nggak mau bikin Mama sedih.”
“Bener ya?”
Bastian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia tidak ingin membuat sedih hati Meylan yang sudah merawat dan mengasihi dirinya.
“Sekarang cepet turun ke bawah, makan kudapan, udah gitu bantu Mama siapin bahan untuk nanti malam, oke?”
“Siap,” sahut Bastian.
Meylan meninggalkan kamar Bastian dan kembali ke dapur untuk membereskan bahan-bahan yang akan dipakai untuk jualan malam nanti.
***
“Gimana latihan lo?” tanya Aliong pada Bastian saat berkunjung ke tempat Jimmy.
“Baik.”
“Latihan meditasi?”
“Baik juga,” sahut Bastian.
“Gua pengen liat. Sabtu ini kita ke pondok,” ujar Aliong.
“Gimana kabar temen lo?”
“Siapa? Dave?” tanya Bastian.
“Hm.”
“Baik.
“Sepertinya di sekolah dia sering dapet masalah dari anak-anak,” ujar Aliong.
“Iya, kok tau?”
“Terlihat sangat jelas.”
“Tian kasian sama dia Ko, kadang pengen bantuin, tapi nggak berani,”
“Kenapa nggak berani?” sela Aliong penasaran.
“Kan Koko yang ngajarin, ilmu bela diri itu nggak boleh sembarangan digunain.”
“Betul, tapi bukan berarti elo harus diem aja ngeliat ada orang lemah yang disakitin. Kalo terjadi apa-apa sama dia gimana?’ ujar Aliong. “Sama seperti ketika elo yang ngalamin, apa yang akhirnya elo lakuin?”
“Tian lawan, karena saat itu udah keterlaluan banget, karena udah main fisik dan Tian nggak suka.”
“Berarti sama seperti yang dialamin Dave kan? Bedanya adalah dia nggak bisa melawan karena tidak memiliki kemampuan dan keberanian.”
“Terus Tian mesti apa?”
“Bantu dia. Inget kan waktu gua bilang bela diri itu digunakan untuk menolong orang. Mungkin sudah waktunya elo nolong dan bantu Dave.”
“Beneran boleh?” tanya Bastian tidak mempercayai yang dikatakan oleh Aliong.
“Iya, tapi inget, cukup kasih pelajaran supaya mereka jera dan nggak gangguin temen lo lagi.”
“Siap Ko,” sahut Bastian senang.
***
“Kamu udah mau pergi?” tanya Meylan saat melihat Bastian masuk ke dapur.
“Iya Ma.”
“Aliong jemput jam berapa?”
“Katanya jam empat seperti biasa.”
“Hari ini ke sana mau ngapain?” tanya Meylan sambil lalu.
“Latihan Ma,” ujar Bastian sambil mendekati Meylan. “Sesuatu yang papa nggak boleh tau,” bisik Bastian.
“Oh …, baiklah,” ujar Meylan sambil menganggukkan kepalanya. “Tapi harus jauh banget gitu perginya? Nggak bisa yang deket-deket aja?”
Bastian memeluk Meylan dari belakang sambil tertawa kecil.
“Kalo itu hanya Ko Aliong yang tau jawabannya.”
“Baiklah, Mama ngerti,” sahut Meylan. “Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan ya kamu udah lebih tinggi dari Mama?”
“Nggak tau. Semua ini kan karena perbuatan Mama,” ujar Bastian.
“Mama? Emang Mama ngapain?”
“Mama kan selalu nyuruh Tian makan yang banyak, kasih vitamin, dan s**u,” goda Bastian.
Meylan tertawa mendengar jawaban Bastian. Dia sangat menyukai saat remaja ini memeluknya. Sejujurnya, jauh di lubuk hati, dirinya kerap merasakan ketakutan jika suatu saat Bastian akan pergi meninggalkan dia dan Jimmy untuk kembali ke keluarga aslinya. Namun, Meylan selalu berusaha menghilangkan pemikiran itu dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bastian akan selalu bersama mereka.
“Nanti jangan lupa bawa ini ya buat bekal kalian,” ujar Meylan mencoba mengusir rasa sedih yang tiba-tiba datang.
“Iya Ma.”
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Bastian bergegas keluar untuk membukakan pintu.
“Masuk dulu nggak Ko?” tanya Bastian.
“Langsung aja ya, supaya masih sempet liat matahari terbit,” ujar Aliong.
“Oke. Tian bilang sama Mama dulu, sekalian ambil bekal.”
Aliong menganggukkan kepalanya. Dia tetap berdiri di depan pintu sampai Bastian datang bersama Meylan.
“Ma, Tian pergi dulu.”
“Hati-hati. Liong, gua titip Tian.”
“Siap Ci. Gua jalan dulu.”
Aliong berjalan meninggalkan rumah menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari sana. Bastian mengikuti dari belakang sambil membawa tas berisi makanan dan minuman. Setelah menaruh tas di bagian belakang, Bastian duduk di samping Aliong.
“Tumben Ko Chen nggak ikut?” tanya Bastian dalam perjalanan.
“Ada yang mesti dia lakuin. Kenapa? Tumben amat lo nanyain dia?”
“Gapapa Ko, mungkin karena Ko Chen selalu ikut, jadi sedikit aneh nggak ada dia.”
Setelah itu Aliong dan Bastian tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di tujuan. Bastian langsung turun dan membuka pintu belakang untuk mengambil tas berisi makanan, sementara Aliong membuka bagasi dan mengambil peralatan yang akan digunakan saat latihan di atas.
Kali ini Aliong memilih untuk berjalan dan menikmati udara pagi yang terasa begitu segar. Mereka terus berjalan sampai ke pondok. Di sana, setelah menaruh tas di serambi, Bastian langsung menghampiri Aliong yang sudah bersiap untuk pemanasan.
“Kita mulai Ko?” tanya Bastian.
“Sekarang kita meditasi dulu. Gua mau nenangin pikiran sebentar,” sahut Aliong.
“Baiklah.”
Aliong duduk di tanah dalam posisi bersila dan sambil memejamkan mata. Bastian mengikuti pria itu. Selama satu jam berikutnya, mereka berdua duduk diam dan mengosongkan pikiran, serta berlatih mempertajam indera pendengaran dan penciuman.
Aliong yang membuka mata pertama kali dan memperhatikan Bastian yang duduk tidak jauh darinya. Perlahan dia bangun dan menghampiri Bastian tanpa mengeluarkan suara. Begitu tiba di hadapan adik angkatnya, Aliong melayangkan kaki kanannya ke arah wajah Bastian yang tetap terpejam.
Namun, sebelum kaki Aliong mengenai wajahnya, Bastian memundurkan kepalanya dengan tenang dalam keadaan mata tetap terpejam. Melihat usahanya gagal, Aliong kembali menyerang Bastian, yang tetap mengelak. Aliong menghentikan usahanya dan tertawa keras.
“Ternyata elo beneran berlatih. Kemampuan lo bertambah baik,” ujar Aliong senang.
“Kan Koko yang nyuruh,” sahut Bastian tenang sambil membuka mata.
“Nggak sia-sia gua ngelatih elo,” puji Aliong tulus.
“Dan Tian bersyukur punya guru kayak Koko,” timpal Bastian sambil berdiri dan menundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat ke arah Aliong.
“Sekarang kita pemanasan, setelah itu kita latih tanding menggunakan senjata.”
“Siap.”
Bastian berdiri tujuh langkah di belakang Aliong dan mengikuti semua gerakan Aliong dengan luwes. Lima tahun berlatih dengan Aliong, membuat tubuhnya menjadi berotot dan lentur. Untuk anak seusianya, tubuh Bastian terlihat lebih berotot. Tatapan matanya pun terlihat tajam dan datar. Semua itu berkat hasil didikan yang diberikan oleh Aliong.
“Ambil!” ujar Aliong sambil melemparkan pisau pada Bastian.
“Pake ini?!” tanya Bastian sambil memandang pisau yang masih berada dalam sarung.
“Hm.”
“Seriusan Ko?!”
“Hm. Kenapa? Takut?”
“Takut sih nggak, cuma apa harus pake senjata beneran?”
“Harus! Supaya elo tetap fokus.”
“Baiklah,” sahut Bastian sambil mengeluarkan pisau dari sarungnya.
Dia memegang dan memandangi pisau di tangannya. Perlahan Bastian menyentuh pisau dan terasa begitu tajam. Bastian memandang Aliong yang juga sudah memegang sebilah pisau di tangannya. Rasa takut mulai menjalari hatinya, akan tetapi dia yakin Aliong tidak akan melukai dirinya.
“Udah siap?” tanya Aliong.
“Siap.”
Bastian memegang pisau dengan posisi siap bertahan dan terus memperhatikan gerak-gerik Aliong. Begitu Aliong menyerang, Bastian mengelak dan balas menyerang. Aliong terus berusaha mencari celah untuk mengalahkan Bastian, akan tetapi pemuda itu selalu berhasil mengelak dengan baik.
Hingga suatu kali, saat Bastian mencoba menghindari sabetan Aliong, kakinya sedikit limbung sehingga tangan kanannya terkena goresan pisau milik Aliong.
“Argh!” desis Bastian.
Aliong langsung menghentikan gerakannya karena melihat darah di tangan Bastian akibat serangannya barusan.
“Sakit?” tanya Aliong.
“Nggak Ko, cuma kaget aja,” sahut Bastian.
Aliong melemparkan handuk kecil yang baru diambil pada Bastian yang langsung dipakai untuk menyeka darah di tangannya.
“Duduk!” perintah Aliong.
Bastian mengikuti perintah Aliong dan menunggu pria itu yang mengambil sesuatu di tasnya. Aliong kembali membawa obat dan perban. Dengan hati-hati, dia mengobati luka di tangan Bastian yang untungnya hanya goresan, kemudian membebat dengan perban.
“Ini kalo Mama tau, bisa runyam urusannya,” gumam Bastian sambil memperhatikan perban di tangannya.
“Runyam gimana?” tanya Aliong. “Emang Ci Mey tau?”
“Tau Ko, itu juga nggak sengaja,”
“Terus?” sela Aliong cepat.
“Mama nggak marah, juga nggak ngelarang. Cuma dia titip pesen supaya Tian nggak luka. Dan sekarang?” ujar Tian sambil mengangkat tangannya yang terluka sambil meringis.
Aliong mengembuskan napas memikirkan Meylan. Wanita yang sudah dianggap keluarganya itu memang baik hati, dan tidak menyukai kekerasan. Pernah Meylan memintanya untuk berhenti dari dunianya karena tidak ingin melihat dirinya terluka lagi seperti dulu. Namun, Aliong tidak dapat memenuhi permintaan Meylan.
Sekarang, anak kesayangan Meylan mendapat luka akibat dirinya. Aliong meringis sendiri membayangkan omelan yang akan didapatkan dari wanita itu.
“Ya usahain supaya Ci Mey nggak tau,” sahut Aliong dengan enteng.
“Gimana caranya coba? Masa iya Tian mesti pake baju tangan panjang terus?”
“Jika memang itu satu-satunya jalan, kenapa nggak?”
“Yang ada, papa bakal curiga, terus marah.”
“Gimana elo aja deh,” sahut Aliong.
“Udah, tenang aja. Tian pasti bisa cari jalan keluar supaya mama nggak marah,” putus Bastian setelah berpikir sejenak.