Lima tahun telah berlalu sejak Bastian tinggal bersama dengan Jimmy dan Meylan. Bahasa Inggrisnya semakin lancar, begitu juga pelajarannya. Awalnya dia mengalami kesulitan ketika pertama kali bersekolah. Bukan hanya ejekan yang diterima, tapi juga perudungan. Namun, semua itu dapat dilewati Bastian dengan baik, terutama saat menghadapi anak-anak yang berusaha merudungnya. Dengan ilmu bela diri yang dipelajari dari Aliong, Bastian dapat mengatasi semuanya itu, dan sekarang anak-anak berpikir dua kali sebelum mengusiknya.
“Hei Bas, mau ke mana?” sapa Dave, salah seorang temannya di sekolah.
“Pulang, kenapa?”
“Saya mau ikut kamu, boleh?”
“Kenapa?”
“Mau main dan mengerjakan tugas bersama.”
Bastian terdiam dan berpikir sejenak. Jimmy dan Meylan memang tidak pernah melarang dirinya bermain ataupun mengajak teman ke rumah. Namun, dia lebih senang membantu kedua orang tuanya berjualan. Apalagi, sejak tiga setengah tahun yang lalu, Jimmy selalu memberikannya upah untuk jerih payahnya membantu di dapur.
Bastian memiliki cita-cita ingin memiliki rumah makan sendiri dan kuliah mengambil jurusan masak. Karena itulah, setiap sen yang dia dapatkan selalu ditabung untuk mewujudkan impiannya tersebut.
“Baiklah, tapi sore nanti saya harus membantu berjualan. Tidak masalah?”
“It's okay, no problem.”
“Kalo begitu, ayo.”
Bastian dan Dave berjalan meninggalkan sekolah menuju ke rumah Jimmy. Tiba di dekat restoran, Bastian melihat ada mobil Aliong. Bastian mempercepat langkah kakinya untuk segera bertemu dengan kakak angkatnya.
“Baru pulang?” tanya Aliong saat Bastian masuk.
“Iya. Koko baru dateng?”
“Udah dari tadi. Gua ada perlu sama Ko Jim,”
Aliong menghentikan ucapannya saat melihat Dave masuk. Dia menatap Bastian dengan pandangan bertanya.
“Oh, kenalin ini Dave, temen Tian di sekolah.”
“Selamat sore Tuan,” ujar Dave sambil mengulurkan tangannya pada Jimmy.”
“Oh, sore, sore,” sahut Jimmy sambil menerima uluran tangan Dave.
“Selamat sore Tuan.” Kali ini Dave mengulurkan tangannya pada Aliong.
“Sore,” sahut Aliong singkat dan datar.
Dave melepaskan tangannya dan memandang Bastian dengan bingung. Nada suara Aliong begitu datar dan dingin, itu membuat Dave sedikit takut.
“Tenang aja, Ko Aliong itu baik kok. Memang seperti itu cara dia ngomong,” ujar Bastian menenangkan Dave.
“Oh okey.”
“Pa, Ko, Tian ke atas dulu ya.”
“Hm,” sahut Jimmy dan Aliong bersamaan.
“Ayo Dave, kita ke kamar.”
Bastian berjalan menuju tangga, diikuti Dave di belakangnya. Sampai di kamar, Bastian meletakkan tas di atas meja.
“Aku ke bawah dulu ambil minum. Kamu tunggu di sini, anggap rumah sendiri,” ujar Bastian ramah.
Selesai berkata, Bastian keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk mengambil minuman sekaligus bertemu dengan Meylan. Tadi dia belum menyapa ibunya, karena masih merasa segan membawa Dave ke dapur dan kelihatannya Dave juga merasa kaget saat berkenalan dengan Aliong tadi.
“Ma,” panggil Bastian sambil memeluk Meylan dari belakang.
“Hm? Kamu dari mana? Tadi Mama denger suara kamu, ditungguin nggak dateng-dateng.”
“Ada temen Tian dateng ke sini, jadi Tian ke atas dulu.”
“Siapa yang dateng?” tanya Meylan sambil melepaskan pelukannya dan membalikkan badan untuk melihat Bastian.
“Dave, dia temen sekelas Tian dan salah satu yang cukup dekat sama Tian.”
“Mama boleh kenalan?” tanya Meylan.
“Boleh. Tian memang mau kenalin sama Mama, cuma tadi dia sedikit syok waktu ketemu sama Ko Aliong,” sahut Bastian sambil meringis geli.
“Semua orang pasti kayak gitu kalo ketemu sama Aliong. Kamu sendiri juga kayak gitu kan waktu pertama ketemu sama dia,” ujar Meylan.
“Iya sih,” gumam Bastian yang teringat saat pertama kali berjumpa dengan Aliong.
“Udah, mending kamu kembali ke atas, biar nanti Mama yang bawain minum sama kudapan,” ujar Meylan sambil membalikkan badan Bastian dan mendorongnya keluar dari dapur.
“Tapi Ma,”
“Nggak ada tapi-tapian!” sela Meylan. “Sana balik ke atas!”
“Baiklah,” gumam Bastian.
Bastian kembali ke atas untuk menemani Dave, juga untuk mengerjakan tugas bersama. Tidak lama kemudian, Meylan datang membawa nampan berisi minuman, dan sepiring mantao untuk dinikmati kedua anak remaja yang sedang serius mengerjakan tugas.
“Makasih Ma,” ujar Bastian sambil mengambil nampan dan meletakkannya di meja belajar.
“Makasih Aunty,” ujar Dave sopan.
“Sama-sama. Silakan dinikmati.”
“Ma, kenalin, ini Dave,” ujar Bastian memperkenalkan.
“Hai, semoga kamu senang di sini. Dan kalo mau main lagi, silakan, tempat ini selalu terbuka buat kamu.”
“Makasih Aunty.”
“Kalo gitu, mama tinggal dulu ya Tian.”
“Iya Ma.”
Meylan meninggalkan Bastian dan Dave. Hatinya merasa senang melihat Bastian yang mulai mau membuka diri dan mencoba untuk bergaul. Selama ini Bastian lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, atau berlatih dengan Aliong. Dan Meylan berharap untuk seterusnya Bastian mau lebih membuka diri dan semakin banyak memiliki teman.
***
Sabtu dini hari Aliong sudah bangun dan sedang bersiap untuk pergi menjemput Bastian. Rencananya mereka akan ke tempat pertama kali dia membawa Bastian untuk berlatih menggunakan senjata. Saat sedang mengenakan sweater, Aliong teringat akan pembicaraannya dengan Bastian beberapa hari yang lalu.
“Tian, Sabtu ini kita ke pondok.”
“Mau ngapain Ko?”
“Sudah saatnya elo berlatih menggunakan senjata.
“Kenapa harus ke sana? Di sini kan juga bisa, seperti biasa?”
“Elo mau Jimmy tau dan marah sama gua?”
“Memang kenapa kalo Papa tau? Kan selama ini juga tau kalo Tian berlatih sama Koko.”
“Iya, tapi gua nggak mau dia tau kalo gua juga mau latih elo menggunakan senjata tajam. Coba elo bayangin reaksinya kalo tau.”
Selama ini, Jimmy memang hanya diam mengetahui Bastian berlatih ilmu bela diri, karena itu memang kesepakatan di antara Jimmy dan Aliong. Namun, Jimmy memang sempat berpesan supaya Bastian tidak diajarkan cara menggunakan senjata.
Namun, Aliong berpikir lain mengenai hal itu. Keadaan sekarang sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dan Aliong tidak ingin mengambil resiko dengan tidak mengajarkan Bastian menggunakan senjata. Apalagi, beberapa orang di luar kelompoknya sudah mengetahui kedekatan dirinya dengan Bastian. Karena itu, Aliong tidak ingin mengambil resiko dengan hanya membiarkan adik angkatnya hanya berlatih dengan tangan kosong.
Selesai berpakaian, Aliong keluar dari kamarnya untuk membuat kopi. Saat masuk ke dapur, dia melihat Chen tengah menuangkan kopi hitam ke dalam gelas.
“Kenapa elo udah bangun?” tanya Aliong.
“Saya mau ikut,” sahut Chen.
“Tumben?”
“Nggak tenang biarin kalian berdua.”
“Tenang aja, gua sama dia pasti baik-baik aja, lagian nggak ada yang tau tempat itu.”
“Tetep aja, gua nggak tenang, apalagi keadaan lagi nggak baik buat elo.”
“Ya …, ya, terserah elo aja. Tapi elo udah tempatin orang buat jaga rumah Jimmy?”
“Udah.”
“Itu kopi buat gua?” tanya Aliong.
“Iya.”
Aliong mengambil salah satu gelas berisi kopi dan mulai menikmatinya. Setelah kopi habis, ALiong berdiri dan mengambil topi, kemudian keluar dari apartemen bersama dengan Chen.
Kali ini Aliong membiarkan Chen yang mengendarai mobil menuju ke tempat Jimmy. Sepanjang perjalanan, Aliong menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga tiba di tujuan.
“Chen, elo tunggu sini, biar gua turun sendiri.”
“Tapi,”
“Elo mau Jimmy curiga dan mikir macem-macem?” sela Aliong.
“Baik,” sahut Chen.
Aliong turun dari mobil dan berjalan cepat menyeberangi jalan menuju pintu. Setelah mengetuk, dia menunggu sebentar hingga Bastian membukakan pintu.
“Elo udah siap?” tanya Aliong.
“Udah Ko.”
“Kita langsung jalan,” ujar Aliong.
“Nggak bisa Ko,” sahut Bastian cepat ketika melihat Aliong membalikkan badan.
“Kenapa?”
“Nanti mama marah,” bisik Bastian. “Tadi aja udah marah karena Tian nggak mau sarapan.”
“Baiklah,” sahut Aliong mengalah.
Dia masuk ke dalam dan menarik sebuah kursi, kemudian duduk dengan santai menunggu Meylan datang.
Tidak lama kemudian Meylan datang membawa tas besar berisi makanan dan meletakkannya di meja.
“Bawa ini, dan pastikan Tian makan!” ujar Meylan tegas.
“Siap Ci.”
“Sana buruan jalan, dan hati-hati.”
“Siap Ci,” sahut Aliong lagi.
“Ma, Tian jalan dulu.”
“Hm.”
Aliong dan Bastian meninggalkan Meylan menuju ke mobil. Begitu melihat Aliong, Chen menyalakan mesin mobil dan langsung berangkat begitu kedua orang yang ditunggunya sudah masuk ke dalam.
Sepanjang perjalanan, Aliong kembali memejamkan mata hingga mereka tiba di tujuan. Sedangkan Bastian, tadi sempat mengambil roti yang dibawaan oleh Meylan untuk mengisi perut yang terasa sedikit lapar. Dia juga memberikan roti pada Chen yang dimakan sambil menyetir. Chen sengaja memarkir mobil di tempat yang agak tersembunyi sehingga tidak terlihat dari jalan. Dia melakukan hal ini untuk memperkecil resiko diketahui oleh orang lain.
Setelah itu mereka bertiga berjalan naik menuju ke pondok. Untuk Bastian, perjalanan menuju ke pondok bukan lagi suatu hal yang berat. Kakinya sudah terlatih bukan hanya jalan, tapi juga berlari ke atas. Bastian juga yang membawa ransel berisi makanan yang dibawakan oleh Meylan.
Tiba di atas, Aliong memulai latihan dengan pemanasan terlebih dahulu, kemudian berlatih adu tanding dengan Bastian untuk melihat sampai di mana kemajuan anak itu.
“Kemajuan lo pesat juga,” ujar Aliong saat Bastian mampu menendang Aliong..
“Masih harus banyak belajar Ko,” sahut Bastian.
“Buat elo yang jarang latih tanding, ini sudah baik.”
“Boleh gua latih tanding sama Tian?” tanya Chen dari belakang Aliong.
“Silahkan,” sahut Aliong. “Tian, sekarang elo coba sama Chen. Inget, nggak boleh main-main, harus serius dan fokus! Chen nggak pernah main-main saat latihan.”
“Iya Ko,” sahut Bastian yang langsung memasang kuda-kuda.
Bastian berusaha fokus dan memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Chen. Namun, karena kurang pengalaman, pada jurus ketujuh Chen berhasil menjatuhkan Bastian ke tanah.
“Maaf,” ujar Chen sambil mengulurkan tangan ke arah Bastian. “Sakit?”
“Lumayan,” sahut Bastian sambil menerima uluran tangan Chen.
“Tapi elo juga lumayan,” puji Chen dengan tulus.
“Tian mau kayak Ko Aliong, makanya harus makin banyak latihan.”
“Bukan cuma banyak latihan Tian. Pendengaran juga mesti elo latih supaya bisa tau kapan ada serangan,” ujar Aliong yang sejak tadi mengawasi.
“Caranya Ko?”
“Berarti selama ini elo jarang latihan duduk diam dan ngosongin pikiran?!”
“Iya Ko,” gumam Bastian sambil menundukkan wajahnya.
“Mulai besok, elo harus latihan, minimal satu jam setiap hari. Lama-lama elo pasti bisa bedain suara di sekeliling elo!” ujar Aliong tegas.
“Iya Ko.”
“Sekarang kita latihan pake senjata.”
Aliong mengeluarkan replika pisau dari kayu yang dia buat sendiri dan menyerahkannya pada Bastian.
“Elo latihan pake ini dulu sampe mahir.”
“Iya Ko,” ujar Bastian sambil menerima pisau replika dari tangan Aliong.
Aliong mulai mengajari dasar-dasar cara memegang senjata tajam menggunakan kayu yang dibuat mirip dengan pisau. Bastian terus berlatih hingga keringat membasahi tubuhnya.
Menjelang sore, Aliong mengajak Bastian dan Chen turun untuk pulang setelah sebelumnya menghabiskan bekal yang dibawakan Meylan.
Karena kelelahan, Bastian langsung tertidur begitu mobil jalan meninggalkan daerah pondok hingga tiba di rumah.