Ini Pilihan Tian

2080 Words
Sepanjang malam, Bastian tertidur karena pengaruh obat bius, hingga tidak menyadari Aliong yang menemaninya dan tertidur sambil duduk bersandar di sofa. Menjelang pagi, Bastian mulai tersadar, dan perlahan membuka kelopak matanya. Bastian merasa tubuhnya kaku dan sulit digerakkan, begitu juga matanya yang terasa berat untuk dibuka. Dia berusaha membuka kelopak matanya, dan hal pertama yang dilihatnya adalah sandaran sofa. Bastian bergerak pelan untuk mengubah posisi menjadi miring ke arah sebaliknya. Dan yang pertama dilihatnya adalah Aliong yang tertidur sambil duduk di dekatnya. “Ko,” panggil Bastian dengan suara lirih. Aliong yang setengah tertidur, langsung bangun saat mendengar suara Bastian yang memanggil dirinya. “Udah sadar lo?” “Hm.” “Apa yang elo rasa?” tanya Aliong. “Kaku semua badan Tian.” “Ada lagi?”  “Nggak,” ujar Bastian. “Ko Chen mana?” “Di dapur sama Fei,” sahut Aliong. “Fei?” tanya Bastian sedikit terkejut. “Hm. Emang elo nggak inget?” “Nggak.” “Udah bangun lo?” tanya Chen yang baru datang dari dapur bersama Fei yang membawa baki berisi teh hangat. “Udah Ko.” “Sekarang elo mesti pikirin gimana kalo sampe Ci Mey tau,” ujar Chen sambil duduk di sofa tunggal, di dekat Bastian. “Makanya gua udah antisipasi dulu dengan bilang ini anak bakal nginep lagi,” ujar Aliong. “Kamu mau minum?” tanya Fei pada Bastian. “Boleh,” sahut Bastian. Fei mengambil gelas berisi teh, dan mendekatkan ke mulut Bastian yang masih dalam posisi miring. Melihat Bastian kesulitan, Fei meletakkan kembali gelas di meja, dan berlari ke dapur untuk mengambil sedotan. “Sekarang kamu pasti bisa minum,” ujar Fei sambil mendekatkan gelas bersedotan ke mulut Bastian. “Makasih,” ujar Bastian setelah berhasil minum. “Sama-sama,” sahut Fei tersipu. “Ko, gua keluar dulu, mau beli obat buat Tian,” ujar Chen. “Hm. Sekalian beli makanan buat sarapan.” “Oke.” “Gimana kalo Fei masak Ko?” sela Fei. “Elo masak?” tanya Aliong. “Iya. Biar Fei masakkin bubur buat Bastian.” “Boleh juga.” “Kalo gitu biar Fei ikut sama Ko Chen dan mampir ke pasar.” “Oke,” sahut Aliong. *** Selesai berbelanja, dan menemani Chen membeli obat untuk Bastian, Fei langsung sibuk di dapur memasak bubur untuk Bastian, juga sarapan untuk Aliong dan Chen. Setelah berkutat selama hampir satu jam, akhirnya semua makanan siap. Fei mengambilkan semangkuk bubur untuk Bastian dan membawanya ke ruang tamiu. “Ko, sarapannya udah siap,” ujar Fei sambil meletakkan mangkuk bubur di meja. “Ayo kita makan Chen,” ujar Aliong sambil bangkit berdiri. “Ayo Fei,” ujar Chen. “Duluan aja Ko. Saya mau bantu Bastian makan dulu.” “Baiklah.” Sepeninggal Chen dan Aliong, Fei mendekati Bastian. “Buburnya dimakan dulu,” ujar Fei dengan suara lembut. “Setelah itu minum obat.” “Iya.” “Biar saya bantu kamu duduk.” Bastian membiarkan Fei membantunya duduk dan memberi bantal supaya posisi Bastian menjadi nyaman. Setelah itu, Fei memberikan mangkuk bubur pada pemuda itu.  Sejak beberapa saat yang lalu, Bastian mulai merasakan sakit di bagian punggungnya. Dan saat mengambil sendok, rasa sakitnya semakin menjadi, belum lagi posisi duduknya juga membuat rasa sakitnya semakin terasa. “Kamu kenapa?” tanya Fei saat melihat Bastian mengerutkan kening. “Sakitkah?” Bastian hanya mampu menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Kalau begitu biar saya suapi,” ujar Fei sambil mengambil kembali mangkuk dari tangan Bastian. Dengan telaten, Fei menyuapi Bastian hingga bubur di mangkuknya habis. Setelah itu, Fei mengambilkan obat dan memberikannya pada pemuda itu.  “Enak banget ya kalo ada yang urusin,” sindir Aliong sambil menyeringai. “Apaan sih Ko?!” gerutu Bastian. “Kenapa jadi marah?” goda Aliong lagi. Bastian tidak membalas perkataan Aliong. Selain karena malas berdebat, suasana hati Bastian sedang kacau. Antara senang dan malu karena diperhatikan oleh Fei, juga karena rasa sakit di punggungnya.  “Jangan diganggu Ko,” bisik Chen yang tidak tega melihat wajah Bastian. “Nggak seru!” desis Aliong sambil mendengkus. Saat obat penahan sakit bereaksi, Bastian perlahan bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke kamarnya untuk beristirahat. “Mau ke mana lo?” tanya Aliong. “Ke kamar, tidur,” sahut Bastian. “Gua ganti dulu perban lo.” Aliong mengambil kotak obat di meja, dan masuk ke dalam kamar Bastian. Aliong membantu Bastian melepas piyama dan membuka perban. Sesaat Aliong tertegun melihat luka di punggung adiknya yang lumayan panjang dan terlihat sedikit bengkak.  Aliong mengambil salpe, dan mengoleskan pada luka dengan hati-hati. Setelah itu dia memasang perban baru di atas luka. Terakhir, memakaikan piyama kembali pada Bastian. “Makasih Ko,” gumam Bastian yang mulai mengantuk. “Hm.” Aliong membantu Bastian untuk berbaring miring di atas tempat tidur, dan menyelimuti tubuh adiknya. Tidak perlu menunggu lama, Bastian pun kembali tertidur.  “Udah tidur?” tanya Chen. “Hm.” “Kalo gitu gua anter Fei pulang dulu. Kasian itu anak belum istirahat dari semalem.” “Oke,” sahut Aliong. “Gua juga mau tidur. Elo juga istirahat setelah anter Fei.” “Oke.” *** Sekitar tengah hari Bastian terbangun karena merasa haus dan mendengar suara Aliong sedang berbicara, dan ada menyebut dirinya dalam perbicaraan. Bastian mendengarkan dengan seksama untuk mengetahui siapa orang yang datang ke apartemen Aliong. Setelah beberapa saat, akhirnya Bastian mengenali suara tamu yang datang, Jack. “Gimana keadaan Tian?” tanya Jack. “Tidak baik, juga tidak buruk.” “Kenapa bisa sampe kena? Biasanya dia sangat hati-hati dan gesit?” “Mungkin emang lagi saatnya kena,” sahut Aliong asal. “Jaga bicara lo!” sentak Jack tidak suka. “Gua juga nggak tau Ko kenapa dia bisa kena?!” ujar Aliong dengan nada sedikit keras. “Kalo tau bakal begini, gua nggak akan ngijinin dia ikut. Tapi semuanya kan nggak bisa diulang Ko!” Akhirnya Aliong meluapkan emosi yang sudah ditahannya sejak semalam. Dia benar-benar menyesal telah mengijinkan Bastian ikut, dan merasa semua adalah kesalahannya hingga adiknya terluka seperti itu. Belum lagi saat tadi melihat luka di punggung Bastian, yang dia yakin akan meninggalkan tanda. “Ko,” panggil Bastian sambil berjalan tertatih menuju sofa. “Tian beneran gapapa. Tian juga udah tau resikonya sejak awal. Jadi Koko jangan ngerasa bersalah kayak gini. Andai waktu bisa diulang, pilihan Tian tetap sama Ko. Begitupun selanjutnya, pilihan Tian tetaplah sama.” “Elo beneran udah nggak waras!” sentak Aliong. “Permintaan Tian cuma satu,” lanjut nya tanpa mempedulikan Aliong. “Tian nggak mau terikat dalam peraturan kelompok, karena Tian tetep ingin kuliah dan meraih impian sejak kecil. Selama Koko masih melakukan hal ini, maka Tian juga akan ada sama Koko, kecuali saat kuliah nanti yang belum tau di mana.” Aliong kehabisan kata untuk membalas omongan Bastian. Dan Aliong juga melihat kesungguhan dalam tatapan mata Bastian. Jack pun kehilangan kata mendengar penuturan pemuda berusia delapan belas tahun itu, yang saat ini terlihat sangat dewasa. “Terserah lo aja!” Hanya kata itu yang mampu Aliong ucapkan. “Ini gua bawain obat herbal, buat ngeringin luka lo dari dalam,” ujar Jack yang mencoba mencairkan suasana. “Makasih Ko,” sahut Bastian. “Kalo ada apa-apa, bilang gua. Kalo pun elo mau ke Rumah Sakit, biar semua biayanya gua yang tanggung.” “Iya.” “Baiknya gua pulang dulu,” ujar Jack sambil bangkit berdiri. “Oh iya, Max belum gua sentuh. Biar itu jadi urusan lo sama Xiao Wen.” *** Selama Bastian dalam masa pemulihan, Fei rutin datang ke apartemen Aliong untuk membantu merawat Bastian. Hubungan mereka yang awalnya kaku, perlahan mulai mencair. Bastian sudah mulai bisa berbicara santai dengan Fei. Usia Fei dua tahun lebih tua dari Bastian, sehingga Bastian merasa memiliki seorang kakak perempuan.  Fei juga adalah gadis yang menyenangkan, juga senang bergurau, sehingga saat mengobrol, mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Jumat ini pun, Fei yang kebetulan tidak kuliah, sejak pukul sembilan pagi sudah tiba di apartemen Aliong, dan membawakan sarapan untuk Bastian, Aliong, dan juga Chen. Selesai sarapan, Aliong dan Chen pergi ke markas kecil untuk mengurus pekerjaan, sedangkan Bastian tetap tinggal di apartemen, karena jahitan lukanya belum dicabut, sehingga Aliong tidak ingin mengambil resiko membiarkan adiknya keluar rumah. Karena itu, Bastian menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Fei, dan saling bercerita tentang kehidupan mereka untuk bisa mengenal lebih baik satu dengan yang lain. “Kamu beneran pengen jadi chef?’ tanya Fei. “Hm.” “Alasannya?” “Entahlah, saya juga nggak tau pasti. Cuma sejak kecil, suka aja kalo liat ibu memasak. Sejak itu, saya selalu curi-curi kesempatan untuk ke dapur, minta tolong Mbok Sum buat ngajarin mulai dari cara menyiapkan bahan hingga cara memasaknya.” “Wah …, keren,” ujar Fei. “Tapi tunggu, boleh saya tanya sesuatu?” “Tanya aja,” sahut Bastian. “Siapa itu Mbok Sum?”  “Oh …, itu. Dia adalah orang yang membantu di rumah, sekaligus yang selalu menjaga dan mengurus saya.” “Oh …, begitu rupanya.” “Fei, gimana kalo kita makan? Saya lapar.” “Boleh juga. Kamu yang masak?” “Oke. Kamu mau makan apa?” tanya Bastian. “Apa saja. Saya pasti suka semua masakan yang kamu buat.” “Baiklah,” ujar Bastian sambil bangkit berdiri dari sofa. “Mari kita lihat bahan apa yang ada di lemari es.” Fei juga ikut berdiri dan mengikuti Bastian ke dapur yang sedang membuka lemari es untuk melihat bahan makanan. “Fei, nggak ada apapun di sini, kecuali minuman,” ujar Bastian sambil membalikkan badan dan menatap Fei. “Kalo gitu, saya keluar dulu untuk belanja,” sahut Fei. “Jangan!” cegah Bastian spontan. “Kenapa?” “Saya nggak bisa biarin kamu pergi sendiri,” “Tapi kamu kan belum boleh keluar,” sela Fei cepat. “Saya rasa nggak masalah kalo cuma ke pasar,” ujar Bastian. “Tapi kan,” “Tenang saja Fei. Saya ke kamar dulu untuk ganti baju.” Bastian meninggalkan dapur dan berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Tidak lama kemudian, Bastian keluar kamar sudah mengganti pakaian dan mengenakan jaket. “Ayo,” ujar Bastian. “Baiklah,” sahut Fei pasrah. Setelah membeli bahan makanan di pasar, Bastian langsung mengolahnya menjadi masakan sederhana untuk Fei dan dirinya. Selain itu, dia juga menyiapkan adonan untuk dibuat cemilan yang akan dinikmati menjelang sore. “Fei, ayo kita makan,” panggil Bastian dari dapur. “Tunggu! Sebentar lagi saya selesai!” sahut Fei yang sedang membersihkan ruang tamu. “Baiklah,” gumam Bastian. Sambil menunggu Fei menyelesaikan pekerjaannya, Bastian meletakkan masakan dan menatanya di meja.  “Ayo kita makan,” ujar Fei yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. “Oke.” “Mm …, ini enak banget,” ujar Fei. “Masa sih?” tanya Bastian sedikit malu. “Beneran enak. Dan saya pikir, kamu memang cocok jadi chef.” “Makasih.” *** “Fei, ini sudah malam, sebaiknya kamu saya antar pulang sekarang,” ujar Bastian. “Saya bisa pulang sendiri, Tian.” “Jangan! Ini udah malam, dan saya nggak akan ijinin kamu pulang sendirian!” sahut Bastian tegas. “Tapi Tian,” “Pilihannya cuma dua Fei,” ujar Bastian tenang. “Pulang sama saya, atau tetap di sini sampe Ko Aliong datang!” Fei urung membalas perkataan Bastian dan memilih untuk diam. Apapun pilihannya, sama-sama tidak menguntungkan. “Baiklah, saya pilih pulang sama kamu,” sahut Fei mengalah. “Oke. Kalo gitu mari.” Bastian dan Fei berjalan menyusuri trotoar menuju apartemen Fei yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Aliong. “Mau jajan?” tanya Bastian saat melihat gerobak yang menjual baso goreng. “Boleh,” sahut Fei. “Tunggu sebentar,” ujar Bastian. Bastian menghampiri penjual dan membeli baso goreng untuk dinikmati bersama dalam perjalanan. Setelah membayar, Bastian kembali ke tempat Fei sambil membawa dua bungkus jajanan dan memberikan satu bungkus pada gadis itu. “Mau masuk dulu?” tanya Fei setelah tiba di depan apartemennya. “Makasih, tapi sebaiknya saya langsung pulang.” “Baiklah. Hati-hati di jalan.” “Ngomong-ngomong, apa gapapa kamu sendirian di rumah?” “Jangan khawatir. Saya sudah terbiasa seperti ini sejak kecil.” “Baiklah,” ujar Bastian. “Jika perlu sesuatu, atau ada apa-apa, langsung hubungi saya, mengerti?!” “Baiklah.” “Kalo gitu, kamu masuk dulu, baru saya pulang.” Bastian menunggu sampai Fei masuk, barulah dia pergi meninggalkan apartemen gadis itu untuk kembali ke tempat Aliong. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD