Luka Pertama Bastian

2100 Words
“Elo udah nggak waras?!” tanya Chen. “Waras Ko,” sahut Bastian tenang. “Terus?! Kenapa masih mau ikut?! Elo mau nyerahin nyawa gitu aja?! Elo tau kan itu bahaya?!” “Biarin kalo dia mau ikut,” sela Aliong. Mendengar jawaban Aliong, Chen langsung diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi hingga mereka tiba di gudang. Aliong langsung berjalan menuju ke ruang besar yang dijadikan tempat berlatih yang berada di belakang ruangan. “Semua udah kumpul?!” tanya Aliong tegas. “Udah Ko,” sahut King. “Kalian udah tau apa yang terjadi sama Xiao Wen?” “Sedikit Ko,” sahut King. “Terus kita mau gimana Ko?” tanya Alung. “Elo udah tau jawabannya!” “Kapan?” tanya King. “Dua malam lagi,” sahut Aliong. “Kenapa nggak malam ini?” tanya King sedikit emosi. “Mereka pasti udah bersiap-siap. Kalo ke sana sekarang, namanya nyerahin nyawa secara konyol!” “Lung, elo siapin semuanya!”  “Siap Ko.” “King, elo awasin pergerakan mereka!” “Siap Ko.” “Chen, pilih yang akan kita bawa, sekalian bawa orang-orangnya Xiao Wen.” “Siap.” Chen, Alung, dan juga King langsung bergerak melakukan instruksi Aliong. Sementara itu, Bastian yang sejak tadi mengamati Aliong, semakin kagum akan cara Aliong saat sedang memberi perintah. Nada suaranya tetap terdengar tenang, datar, akan tetapi sekaligus dingin dan mengintimidasi. Setelah ruangan kosong, Bastian menghampiri Aliong. “Ko,” panggil Bastian. “Hm.” “Apa nggak bisa pake cara yang lebih baik?” tanya Bastian hati-hati. “Untuk hal ini, nggak ada cara baik-baik. Ada aturan nggak tertulis di antara kami semua, selama nggak usik lawan, mereka pun nggak akan usik kita. Begitu juga sebaliknya.” “Terus Koko bakal ngapain?” “Berkunjung. Seperti yang dilakukan Max.” “Kata Koko dua malam lagi, berarti Tian nggak bisa ikut.” “Emang beneran elo mau ikut? Nggak takut luka? Karena jujur aja ini riskan banget.” “Yakin Ko,” sahut Bastian mantap. “Baiklah. Tapi inget, saat di sana, elo harus jaga diri lo sendiri! Nggak akan ada yang ngawasin dan nolongin. Elo harus bisa bertahan.” “Siap.” “Gua mau keluar. Elo mau ikut atau diem di sini?” tanya Aliong. “Ikut.” “Ayo!” Bastian mengikuti Aliong keluar menuju mobil. Sekilas, Bastian melihat Chen yang sedang berbicara dengan para pria yang ada di sini.  “Elo yang nyetir,” ujar Aliong sambil melemparkan kunci mobil pada Bastian. Bastian menangkap lemparan Aliong, membuka pintu, dan bersiap di belakang kemudi. “Kita mau ke mana?” tanya Bastian setelah mobil meninggalkan daerah gudang. “Ke Pecinan bagian Barat,” sahut Aliong. “Oke.” Saat Bastian berusia enam belas tahun, tanpa sepengetahuan Jimmy, Aliong mengajari Bastian mengendarai mobil, sehingga sekarang anak itu sudah mahir mengemudi, serta cukup andal. Aliong juga sudah membuatkan Bastian SIM, sehingga tidak akan jadi masalah saat ada pemeriksaan. “Tian, elo parkir mobil di sana,” ujar Aliong sambil menunjuk ke arah sebuah mini market. “Oke.” Bastian memarkir mobil di tempat yang ditunjuk Aliong.  “Nggak turun Ko?” tanya Bastian. “Ntar.” Bastian yang sudah bersiap membuka pintu, terdiam sebentar, kemudian menyandarkan kembali tubuhnya di kursi dengan nyaman. “Mau ngapain ke sini Ko?” “Elo liat toko jam di depan?” tanya Aliong. “Hm.” “Depannya memang toko jam, tapi di bagian belakang, itu jadi tempat istirahat Max.” “Kayaknya Koko kenal banget sama yang namanya Max.” “Hm, bisa dibilang demikian,” sahut Aliong. “Cerita Ko,” pinta Bastian. Aliong mengambil sebatang rokok, menyalakan, dan mengisap panjang sebelum bercerita. “Dulu Max itu adalah salah satu anggota nya Jack. Dari awal, dia memang selalu bersaing sama Xiao Wen memperebutkan posisi Ketua Kecil. Perseteruan mereka makin menjadi setelah Jack memilih Xiao Wen. Akhirnya, Max membuat masalah yang menyebabkan Jack murka, dan mengusir dia.” “Terus?” tanya Bastian karena Aliong diam. Aliong mengembuskan napas sebelum melanjutkan ceritanya. “Max mulai mendekati beberapa orang di kelompok yang kebetulan dekat dengannya. Max mempengaruhi mereka dan membuat mereka berkhianat. Setelah mengumpulkan orang, Max akhirnya membuat kelompok sendiri di daerah ini.” “Ko Jack nggak marah?” tanya Bastian. Karena setahu Bastian, tidak boleh ada perkumpulan lain di dalam satu wilayah. Sedangkan Jack, menguasai daerah, Selatan, dan Barat. Xiao Wen memegang daerah Barat, sedangkan Max berada di daerah yang sama. “Marah, sangat marah. Tapi dia masih menghargai semua yang pernah dilakukan Max selama berada di perkumpulan. Karena itu, Jack akhirnya memutuskan Max boleh berada di daerah ini, berdampingan dengan Xiao Wen, tentunya dengan sebuah perjanjian.” “Ko, itu ada yang keluar,” ujar Bastian sambil menatap lurus ke arah toko jam. “Itu yang namanya Max.” Seorang pria tinggi besar, terlihat berjalan meninggalkan toko dan masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah menyala. Pria itu tampak dikawal oleh tiga orang pria.  “Mereka mau ke mana?” gumam Bastian. “Perlu diikuti?” “Nggak usah. Ada King dan orang-orangnya.” “Terus kita ngapain ke sini?” “Bentar lagi elo juga tau.” Bastian tidak mengerti dengan maksud  perkataan Aliong, akan tetapi dia diam saja dan menunggu dengan sabar.  “Tian, elo sekarang pergi ke toko jam,” ujar Aliong setelah menunggu sekitar sepuluh menit. “Mau ngapain?” tanya Bastian. Aliong berbalik ke jok belakang dan mengambil sebuah jam dinding berbentuk pohon ek, dan memberikannya pada Bastian. “Elo bawa ini, dan bilang minta dibetulin.” Bastian mengambil jam dari tangan Aliong dan memperhatikannya sejenak.  “Terus?” “Usahakan elo buat penjual di sana lengah, terus elo pasang ini,” ujar Aliong sambil menyerahkan dua buah penyadap.  “Terus?” “Usahakan yang satu elo pasang di bagian belakang ruangan.” “Kenapa harus Tian?” “Karena Max belum pernah ngeliat elo, begitu juga orang-orangnya. Jadi lebih mudah buat elo ngelakuin semuanya.” “Oke.” Bastian turun dari mobil dan berjalan menuju toko jam. Setelah Bastian masuk, Aliong langsung menghubungi King. “King.” “Ya?” “Adik gua baru masuk ke toko. Elo awasin baik-baik. Sepuluh menit dia nggak keluar, elo masuk!” “Siap Ko.” Aliong kembali menyalakan sebatang rokok dan duduk menunggu Bastian keluar. Tidak sampai sepuluh menit, Bastian keluar dari toko dan berjalan santai menuju ke mobil. Melihat BAstian, Aliong merebahkan sandaran kursi, dan membuat dirinya tidak terlihat dari luar. “Beres?” tanya Aliong saat Bastian masuk ke mobil. “Hm.” “Kalo gitu sekarang kita pulang.” “Oke.” *** Aliong sudah memberitahu Jimmy jika Bastian akan menginap di apartemennya hingga minggu depan. Jimmy tidak keberatan dengan hal itu, bahkan membiarkan Bastian jika ingin tinggal lebih lama lagi bersama Aliong. Aliong sengaja meminta ijin seminggu lagi, untuk berjaga-jaga seandainya anak itu terluka dan membutuhkan perawatan, Dia tidak ingin Meylan marah dan menjadi khawatir. “Udah siap?” tanya Aliong pada Bastian dan Chen. “Udah.” “Ayo jalan.” Malam ini mereka akan mendatangi Max di toko jam. Selama dua hari, mereka menyadap seluruh pembicaraan yang ada di toko jam, dan mendapati jika malam ini Max akan berada di sana. “Kita ke gudang dulu Ko?” ujar Chen. “Hm.” Chen mengendarai mobil ke markas Aliong dengan santai. Mereka masih memiliki banyak waktu sebelum pergi ke tempat Max. Tiba di markas, bersama Chen, Aliong memeriksa semua hal yang diperlukan sebelum berangkat, supaya tidak ada kesalahan yang terjadi di sana. Saat jam berdentang sepuluh kali, Aliong dan yang lainnya berangkat menuju ke tempat Max. Selain mobil Aliong, masih ada empat mobil besar yang juga turut serta. Begitu tiba, orang-orang yang berada di mobil besar langsung turun dan berlari memasuki toko jam. Aliong, Chen, dan Bastian turun dan memasuki toko dan langsung menuju ke bagian belakang. Dari jauh, mereka sudah mendengar suara teriakan yang menandakan adanya perkelahian di sana. “Tian! Inget pesen gua!” ujar Aliong tegas. “Iya Ko.” “hati-hati,” ujar Chen pada Bastian. “Siap.” Begitu masuk, mereka bertiga langsung disambut oleh orang-orang dari pihak Max yang sudah memegang senjata. Aliong dan Chen langsung berpencar untuk membantu rekan-rekan mereka. Bastian juga hendak berlari untuk menolong, tapi langkahnya terhenti ketika ada seorang pria mengayunkan golok ke arah kepalanya. Bastian mengelak dengan gesit dan mengayunkan tangan kanan yang memegang pisau ke lengan pria itu. “ARGH!” teriak pria itu sambil memegangi lengannya yang berdarah terkena pisau Bastian. Sebelum pergi, Bastian masih sempat menendang punggung pria itu hingga jatuh tersungkur. Bastian mendekati Aliong yang sedang menghadapi tiga orang sekaligus.  Bastian membantu Aliong mengalahkan ketiga orang yang menyerang kakaknya. Saat itulah, dia melihat dari arah samping kiri Aliong ada yang datang mengayunkan golok. Bastian berniat menghadang, akan tetapi pria penyerang itu melihat dan membalikkan serangan ke arah Bastian yang tidak siap sehingga dia hanya sempat membalikkan badan supaya golok itu tidak mengenai wajahnya. “Argh!” desis Bastian yang merasakan sakit luar biasa di punggungnya. Aliong yang melihat hal itu, langsung bergerak maju dan menebas pria itu tepat di perutnya. Chen juga melihat kejadian yang menimpa Bastian. Dengan cepat, Chen menjatuhkan dua orang sekaligus dan berlari ke arah Aliong. “Ko, gua bawa Tian keluar! Elo cari Max!” “Oke!” “King!” teriak Chen. “Lindungi Ko Aliong!” King yang memang berada dekat dengan mereka, langsung berlari dan mengawal Aliong mencari Max. Sementara Chen memapah Bastian keluar dari sana. Alung yang melihat hal itu langsung mendekati mereka dan membuka jalan bagi Chen untuk keluar dari sana. Tiba di mobil, Chen langsung mengendarai mobil menuju ke apartemen. Di tengah perjalanan, dia menghubungi Leony untuk membawa dokter ke apartemen Aliong. Chen membawa Bastian ke apartemen dan meletakkan Bastian dengan posisi berbaring miring. Kemudian Chen ke dapur, mengambil air bersih dan juga handuk bersih, kemudian menyeka darah yang keluar dari punggung Bastian. Tidak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Chen membuka pintu dan mempersilakan dokter, dan Fei yang mengantar masuk ke dalam. Dokter langsung bertindak cepat membersihkan luka Bastian, menyuntikkan obat anestesi. Setelah obat bekerja, dokter menjahit luka Bastian. “Ko,” bisik Fei saat dokter sedang menjahit luka Bastian. “Hm?” “Kenapa Bastian bisa terluka?” bisik Fei lagi. “Gua juga belum tau,” sahut Chen. “Sudah selesai,” ujar dokter memberitahu. “Gimana lukanya?” tanya Chen. “Untung nggak dalam, tapi tetap memerlukan perawatan yang benar. Gua akan kasih resep, dan bisa elo beli besok pagi. Untuk saat ini, gua udah siapin penghilang rasa sakit.” “Oke.” “Kalo gitu gua pergi dulu.” “Gua antar ke depan,” ujar Chen. Setelah dokter pergi, Chen kembali ke sofa dan memeriksa keadaan Bastian yang masih tertidur karena pengaruh obat bius. Chen melirik jam tangannya, kemudian memandang Fei yang tengah berdiri di dekatnya. “Fei, tolong temani Tian. Gua mau liat Aliong dulu.” “Iya Ko.” “Gua pergi dulu.” Chen keluar dari apartemen dan bergegas menuju mobil. Chen mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi untuk segera tiba di tempat Max. Saat tiba, Chen melihat Aliong sedang berdiri di luar toko. Chen keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Aliong. “Elo gapapa Ko?” tanya Chen. “Seperti yang elo liat,” sahut Aliong santai. Chen memeriksa tubuh bagian depan dan belakang Aliong dengan teliti. Setelah yakin kalau Aliong baik-baik saja, Chen mengembuskan napas lega. “Udah beres? Mana Max?” tanya Chen. “Gimana Tian?” Aliong balik bertanya. “Tian udah ditangani dokter, dan sekarang ditemenin sama Fei.” “Lukanya?” tanya Aliong yang tidak dapat menutupi rasa khawatir. “Nggak parah.” “Syukurlah,” desah Aliong lega. “Max mana?” Chen mengulang pertanyaannya. “Udah dibawa King ke markas besar.” “Pulang sekarang?” tanya Chen. “Tunggu bentar.” Aliong berjalan menghampiri Alung dan Asen yang masih berdiri di dekat pintu masuk toko. “Bawa yang lain pulang,” ujar Aliong. “Iya Ko.” “Langsung obatin yang luka, dan minta beberapa orang untuk jaga di sekitar sini.” “Siap.” Setelah memberikan perintah, Aliong berjalan ke mobil. Tubuhnya terasa lelah, begitu juga pikirannya yang sejak tadi memikirkan Bastian. Saat melihat anak itu terluka, ingin rasanya Aliong menghabisi orang yang sudah melakukan hal itu pada Bastian. Beruntung, ada Alung yang berhasil mencegahnya, sehingga tidak terjadi masalah yang akan membuat dirinya kesulitan. Tiba di apartemen, Aliong terlebih dahulu mandi, membersihkan semua kotoran dan noda di tubuhnya. Setelah itu barulah dia duduk di lantai, di dekat Bastian dan menemani anak itu yang belum sepenuhnya sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD