Jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Seketika, dengan kilatan cahaya lembut berwarna keemasan, tempat itu berubah total. Lapangan kosong dan pohon tua lenyap. Kini Alan dan Doni berdiri di tepi tebing curam yang menghadap ke lembah luas tak berujung. Di bawah, jurang dalam dengan kabut tipis yang berkilauan. Di kejauhan, pegunungan menjulang dengan puncak tertutup salju abadi, pemandangan yang mustahil ada di Indonesia, bahkan di dunia.
Namun yang paling menakjubkan ada di langit.
Aurora borealis menari-nari dengan megahnya. Warna hijau neon, ungu tua, biru elektrik, dan semburat merah jambu bergerak lembut seperti tirai sutra raksasa yang ditiup angin kosmik. Cahaya-cahaya itu bergerak mengikuti irama yang tak terdengar, menciptakan pola-pola indah. Bintang-bintang bertaburan lebih terang dari biasanya, beberapa tampak sebesar bola tenis, berkelap-kelip dengan warna-warni seperti permata. Bulan purnama raksasa menggantung rendah, tampak tiga kali lebih besar dari biasanya, dengan permukaan yang terlihat jelas.
Rumput di sekitar mereka berkilauan seperti ditaburi embun berlian, setiap helai memancarkan cahaya lembut. Bunga-bunga aneh bermekaran dengan kelopak bercahaya dalam berbagai warna. Udara terasa sejuk tapi tidak dingin, wangi seperti kemenyan campur melati dan sesuatu yang manis. Angin berhembus lembut, membawa suara seperti nyanyian jauh.
Alan dan Doni terpaku, mulut terbuka lebar, mata membelalak tak percaya. Mereka tak bisa berkata-kata.
Alan berbisik, suaranya bergetar.
"Ini... di mana kita? Don... ini di mana? Apakah kita mati?"
Doni tercengang, matanya tak lepas dari langit.
"Nggak mungkin... ini kayak... kayak surga, Lan. Ini surga? Kita mati?"
Suara gemerisik terdengar dari semak-semak. Dari balik rerumputan yang berkilau, muncul makhluk-makhluk kecil. Pohon-pohon kecil berjalan! Tingginya sekitar setengah meter, dengan dahan-dahan lentik seperti tangan, mata bundar besar di batang pohon, dan daun-daun di kepala seperti rambut yang tertata rapi. Mereka berjalan dengan akar-akar kecil seperti kaki, beberapa melompat-lompat. Jumlahnya puluhan.
Seekor pohon kecil dengan suara cempreng melompat-lompat.
"Hore! Ada tamu! Ada tamu! Manusia datang!"
Pohon kecil lainnya ikut berseru.
"Udah lama nggak ada manusia datang ke sini! Puluhan tahun!"
Pohon kecil ketiga menunjuk ke Alan.
"Yang paling depan... dia sakit! Tangannya! Aku lihat bengkak!"
Pohon kecil keempat mengangguk cepat.
"Kasihan! Mari kita tolong!"
Alan dan Doni hanya bisa terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilihat. Doni mencubit lengannya sendiri.
"Aduh, sakit. Berarti bukan mimpi. Lan, ini bukan mimpi!"
Pohon kecil pemimpin melangkah maju. Tubuhnya sedikit lebih besar dari yang lain, dengan mahkota daun emas dan tampak sangat menggemaskan.
"Salam kenal, manusia. Aku Kepala Penjaga Tebing. Namaku Zai. Kami sudah menunggumu, Alan."
Alan tergagap, lututnya gemetar.
"Ka... ka... kalian tahu nama gue? Gimana caranya? Kok bisa tahu kalian?"
Zai menjawab dengan tenang.
"Tentu. Kami tahu semuanya. Tentang pertandinganmu kemarin, tentang cederamu, tentang tuduhan teman-temanmu yang tidak adil, tentang ayahmu yang marah tapi sebenarnya sayang, tentang... saudara tirimu yang baik hati."
Doni tersenyum canggung dan melambai kecil.
Alan masih bingung.
"Tapi kenapa... kenapa gue dipanggil ke sini? Apa gue punya salah?"
Zai menggeleng pelan.
"Karena kau butuh penyembuhan. Bukan hanya tanganmu."
Salah satu pohon kecil yang paling imut, dengan daun keriting dan mata paling besar dan indah, mendekati Alan dengan langkah malu-malu. Ia meraih tangan Alan dengan dahan-dahannya yang lembut.
"Sakit ya? Sini, aku bantu. Aku bisa. Namaku Rani."
Pohon kecil bernama Rani itu memegang bahu Alan. Keluar cahaya hijau lembut dari telapak dahannya, seperti jutaan kunang-kunang. Rasa hangat menjalar ke seluruh lengan Alan, masuk ke tulang, ke otot, ke sendi. Dalam hitungan detik, mungkin sepuluh detik, sakitnya lenyap seketika.
Alan terkejut, menggerakkan tangannya ke segala arah.
"Sudah... sudah sembuh? Nggak sakit sama sekali! Kok bisa?"
Rani tersenyum senang, menunjukkan daun-daunnya.
"Aku kan pintar! Aku spesialis penyembuhan!"
Alan menggerak-gerakkan tangannya lagi. Bebas. Tanpa rasa sakit. Lebih kuat dari sebelumnya. Ia tersenyum lebar, tertawa bahagia.
"Don! Gue sembuh! Beneran sembuh! Nggak sakit! Lihat!"
Doni tersenyum lega, hampir menangis.
"Syukurlah, Lan. Syukurlah."
Alan melihat sekeliling, masih tak percaya.
"Tapi ini di mana? Kok bisa ada tempat kayak gini? Siapa kalian sebenarnya?"
Zai melangkah mendekat.
"Ini adalah Tempat di Antara. Antara dunia manusia dan dunia lain. Kami adalah penjaga tebing ini, sudah ribuan tahun. Kadang-kadang, kami memanggil manusia yang butuh pertolongan. Manusia dengan hati yang murni tapi terluka."
Doni mengernyit.
"Tempat di Antara? Jadi ini bukan surga?"
Zai menggeleng.
"Bukan surga, tapi pintu ke sana. Hanya yang terpilih yang bisa ke sini."
Alan masih bingung.
"Jadi ini... bukan mimpi?"
Zai menjawab tegas.
"Bukan. Ini nyata. Tapi kau tak bisa tinggal lama. Kau harus kembali sebelum fajar. Atau kau akan terjebak di sini selamanya, menjadi bagian dari tebing ini."
Alan termenung, melihat keindahan sekitar.
"Tapi di sini indah banget... tenang... nggak ada yang marah-marah... nggak ada yang nuduh gue pengecut... nggak ada tekanan."
Dalam pikirannya, ia ingin selamanya di sini.
Doni duduk di samping Alan.
"Lan, lo mau tinggal di sini? Meninggalkan ayah?"
Alan menunduk.
"Gue capek, Don. Capek sama semuanya. Di sana gue selalu salah. Di sini gue diterima."
Doni diam. Ia seolah-olah tak percaya dengan perkataan Alan. Pohon-pohon kecil ikut diam, ikut merasakan kesedihan Alan.
Zai duduk di depan Alan.
"Kami mengerti perasaanmu. Tapi lari bukan jawaban. Ayahmu menunggumu. Hidupmu di sana, bukan di sini. Ingat itu!"
Alan berbaring di rerumputan, menatap aurora.
"Ini mimpi ya? Pasti ini mimpi. Nggak mungkin ada tempat seindah ini. Jangan dulu gue bangun. Gue butuh waktu bersenang-senang sebentar di sini."
Rani ikut berbaring di samping Alan.
"Bukan mimpi, kok. Tapi kalau kamu mau tidur, tidurlah. Nanti kalau kamu tertidur pulas, kami akan bangunkan kamu. Kami jagain kamu. Apakah kamu sudah ingin pulang?"
Alan menguap, matanya mulai berat. Ia tidak menjawab perkataan Rani.
"Gue... ngantuk banget... udah malem..."
Mata Alan mulai terpejam. Doni duduk di sampingnya, mengelus rambut Alan pelan, menyanyikan lagu yang dulu sering dinyanyikan ibu mereka.
Doni berbisik, menyanyi pelan.
"Tidurlah, saudaraku
Di pelukan malam yang setia
Esok hari kan tiba
Bawa cerita yang nyata..."
Pohon-pohon kecil ikut bernyanyi dengan suara kecil mereka.
"Tidurlah, anak manusia
Di pelukan malam yang setia
Esok hari kan tiba
Bawa cerita yang nyata..."
Aurora di langit semakin indah, menari lebih cepat. Pohon besar tidak ikut menari, hanya berkata pelan.
"Na... nana... na... nana..."
Bintang-bintang berkelip seolah-olah ikut bernyanyi. Pemandangan indah itu perlahan memburam.