Bab 6

1029 Words
Beralih ke rumah Alan.Ayah duduk di ruang tamu, menonton TV sambil sesekali melihat jam dinding. Acara TV sudah usai, layar hanya menampilkan saluran kosong dengan semutan. Ia mengganti saluran, tapi tak ada yang menarik. Pikirannya melayang. Wajahnya mulai gelisah. Ayah bergumam sambil melihat jam. "Jam sebelas... kok belum pulang? Main ke mana, sih?" Ia berdiri, berjalan ke kamar Alan. Membuka pintu. Kosong. Ranjang rapi, tak ada siapa-siapa. Ke kamar Doni juga kosong. Kamar berdebu, tak ada tanda-tanda dihuni. Ayah mulai panik. Jantungnya berdebar kencang. Ayah memanggil dengan suara mulai cemas. "Alan! Doni! Kalian di mana?!" Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dari luar. Ayah mengambil ponsel, menelpon Alan. Tak diangkat. Menelpon Doni, tidak aktif. Suara operator meminta meninggalkan pesan. Dicoba lagi. Lagi. Lagi. Tak ada jawaban. Ayah cemas, suaranya bergetar, kakinya gemetar. "Ke mana mereka?! Jam segini! Jangan-jangan... aduh, jangan pikir nggak-nggak. Coba cari dulu ke luar." Ia keluar rumah, berjalan ke tetangga, mengetuk pintu dengan keras. Lampu tetangga menyala. Seorang pria paruh baya membuka pintu, matanya masih sayu. "Ada apa, Pak? Jam segini?" Ayah menjawab dengan napas memburu. "Maaf mengganggu, Pak. Anak saya belum pulang. Alan sama Doni. Apa Bapak lihat mereka?" Pak Sarial mengerutkan kening. "Nggak lihat, Pak. Coba cek ke warung-warung. Mungkin mereka main ke sana." Ayah mengangguk cepat. "Terima kasih, Pak. Maaf mengganggu." Di rumah sebelah, Buk Aminah berdiri di balik jendela. Ia berjalan perlahan sambil membuka gorden sedikit, lalu mengintip ke luar. Ia melihat Ayah Alan mondar-mandir di depan rumah. Buk Aminah menoleh ke belakang dan memperhatikan anaknya, Bagas, yang sedang bermain ponsel di sofa. Buk Aminah berbisik. "Gas... Bagas... Ayah Alan pergi ke mana itu. Lu kan sering main sama anaknya. Coba lu bantuin ke sana, atau tanya sesuatu." Bagas menunjukkan ekspresi malas dan ngeles. "Apaan sih, Buk. Nggak mau. Bagas tidak mau. Hari sekarang hujan tuh, masa disuruh? Anaknya hujan-hujan ntar sakit, ibu juga yang repot." Buk Aminah sedikit kesal. "Iss... kamu ini... hmm, tapi iya juga sih." Ia berjalan menuju ke dalam kamar. Bagas tersenyum tipis sambil memperhatikan ibunya pergi. "Udah... dah... ibu dah pergi. Penasaran juga gue." Bagas mengendap-endap ke jendela, membuka gorden sedikit dan hanya matanya saja yang kelihatan. "Ngapain pak tua itu cari Alan jam segini? Bukannya dia tidur di rumah? Dan juga tadi siang tangannya kesakitan hampir pingsan lagi. Apa dia pura-pura sakit lagi?" Rintik hujan mulai deras. Air di halaman mulai bergenang. Suara kodok semakin keras terdengar. Kilatan dari langit mulai bermunculan, seperti sesuatu yang aneh akan muncul atau yang akan turun dari langit. Bagas berpikir kebingungan sambil berbisik. "Tapi gue lihat tadi siang, beneran parah tangan si Alan. Bentar... bentar... bukankah tadi sekitar jam delapan ada keributan di rumah Alan? Apa mungkin dia kabur ya? Kalau Alan kabur dan tidak ketemu terus gue yang jadi sasaran di sekolah besok. Waduh, bagaimana ini?" Bagas mulai panik. "Hujan deras lagi, berangin juga. Waduh... waduh... kenapa jadi begini. Gue anjir..." Buk Aminah berdiri di belakang pintu yang hanya terbuka sedikit saja, memperhatikan Bagas dari balik celah. "Bagas ini udah aneh. Pasti ada yang salah dengan kejadian ini. Apa mungkin Bagas dalang... eh... eh... eh... gue berpikir kotor kenapa ke anak sendiri." Ia menutup pintu kamar pelan-pelan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ayah tiba di warung tempat Doni melihat payung tadi. Warung sudah hampir tutup, lampu diredupkan, kursi-kursi ditumpuk. Penjaga warung adalah seorang ibu paruh baya dengan jilbab. Ia sedang membereskan dagangan, memasukkan gorengan ke dalam etalase. Ayah terengah-engah, napasnya memburu. "Bu, maaf. Apa Ibu lihat anak saya? Dua orang, remaja. Yang satu lumayan tinggi, yang satu agak pendek, pakai kaus putih." Bu Wati mengerutkan kening mengingat. "Oh, iya, Pak. Tadi ada anak muda lewat di sana. Saya lihat dia sambil mengobrol tapi nggak tahu sama siapa. Oya, ada anak muda agak pendek pakai kaus putih. Dia sekilas melirik ke toko ini. Saya rasa anak itu tidak asing, tapi dia tidak terlihat setelah itu. Lalu yang tinggi saya panggil, tapi mereka terus jalan ke arah sana. Jalannya cuma setapak. Intinya orang jarang lewat ke sana. Kayaknya buru-buru. Mau hujan-hujanan atau mau ke rumah teman." Ayah cemas, wajahnya pucat. "Jalan setapak? Ke hutan? Hutan larangan?" Bu Wati mengangguk. "Iya, Pak. Saya pikir mereka mau main ke rumah teman. Tapi kok jam segini belum balik? Itu hutan angker, Pak. Banyak cerita." Ayah berlari ke arah jalan setapak. Wajahnya pucat pasi, jantungnya berdebar kencang, hampir copot. Ayah berteriak. "Alan! Doni! Kalian di mana?!" Hutan - Jam 00.00 Ayah masuk ke hutan dengan senter ponsel. Gelap gulita. Pepohonan lebat, jalan setapak licin karena hujan. Akar-akar pohon melintang. Ia terus berteriak memanggil, suaranya menggema di antara batang-batang pohon, tapi tak ada jawaban. Ayah berteriak semakin keras. "Alan! Doni! Ayah di sini! Jawab! Jangan bercanda! Ayah takut!" Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang dingin. Dingin yang menusuk tulang. Ayah terus berjalan hingga tiba di sebuah lapangan kosong. Tempat yang sama yang didatangi Alan dan Doni. Tapi sekarang hanya lapangan biasa, dengan pohon tua beringin di tengah. Angker di malam hari. Ayah terengah-engah, berteriak putus asa, suaranya pecah. "Alan! Doni! Di mana kalian?! Ayah minta maaf! Ayah janji nggak akan marah-marah lagi! Pulang, Nak! Ayah sayang kalian! Ayo pulang!" Tak ada jawaban. Hanya suara angin yang berembus, seolah membawa teriakannya pergi ke kegelapan. Ayah jatuh berlutut di tanah basah. Air matanya tumpah. Tangisnya pecah. Tangannya menggenggam tanah lumpur lalu melempar. Kepalanya tertunduk. Bahunya terisak. Ayah terisak, suaranya pecah, bicara pada Tuhan. "Jangan apa-apain anak-anakku... tolong... jangan ambil mereka... Mereka satu-satunya yang ayah punya... istri pergi... Doni sudah tiada... jangan ambil Alan... tolong... apa pun mau kalian ayah kasih... asal mereka selamat..." Hujan mulai turun lagi. Kilatan gemuruh bergema ke sana kemari. Air hujan membasahi tubuh ayah yang tak bergerak. Ia tetap berlutut di sana, berdoa dalam isak tangis, basah kuyup, kedinginan. Di sekelilingnya, pepohonan seolah ikut bersedih. Burung hantu berseru di kejauhan. Ular kecil berdesis di semak-semak. Ayah masih berdoa dengan suara parau. "Alan... Doni... maafin ayah... ayah sayang kalian... pulang..." Di lapangan itu, di tengah hujan, ayah terus berdoa dan menangis. Tak tahu bahwa anak-anaknya berada di tempat yang tak pernah ia bayangkan. Ayah terisak pelan. "Ayah bingung mau melakukan apa lagi... di tempat yang tak pernah terbayangkan..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD