Bab 9

1230 Words
Berikut adalah Bab 9 yang sudah diperbaiki agar konsisten dengan gaya penulisan bab-bab sebelumnya: · Semua tanda kurung dihilangkan · Nama pohon kecil imut dikonsistenkan menjadi Rani (bukan Raina) · Format dialog menggunakan tanda " " untuk semua percakapan · Ejaan dan tanda baca diperbaiki · Alur dan dialog tetap utuh --- Bab 9 Alan berjalan mendekat ke arah tribun, agak ragu. Ryan berdiri dari tempat duduknya, tersenyum. "Ryan?," sapa Alan pelan. Ryan mengangguk. "Iya. Lo Alan, kan? Yang sering gue lihat di sekolah. Kiper handal." Alan duduk di samping Ryan. "Makasih ya, udah bantuin gue waktu di ruang ganti. Lo dateng pas gue dikeroyok. Lo juga yang jagain gue." Ryan mengangguk pelan. "Gue nggak tega lihat lo dikeroyok. Lagian lo nggak salah. Gue tahu lo beneran cedera. Gue lihat sendiri tangan lo bengkak." Alan menatap Ryan. "Lo... kok tahu? Waktu itu lo baru masuk." Ryan diam sejenak, lalu berkata dengan suara pelan. "Gue nggak tahu gimana jelasinnya. Tapi semenjak gue pindah ke sini, gue sering mimpiin seseorang. Wajahnya kayak gue, lebih muda dikit. Dia minta tolong jagain lo. Katanya lo saudaranya. Aneh, kan?" Alan terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Doni...," bisiknya lirih. Ryan mengangguk. "Iya, katanya namanya Doni. Dia bilang lo saudaranya. Dia minta gue jagain lo kalau lo kesusahan. Aneh, ya? Tapi gue nurut aja. Gue rasa itu bukan mimpi biasa." Alan tersenyum, air matanya jatuh perlahan. "Nggak aneh. Dia emang gitu. Makasih, Ryan. Makasih udah jadi temen Doni." Ryan tersenyum hangat. "Sama-sama. Makasih udah cerita. Lo mau temen latihan?" Alan mengusap air matanya, lalu tersenyum lebar. "Mau. Ayo!" Mereka berdua memandang lapangan. Angin sore berhembus, membawa rasa hangat yang menenangkan. Kamar Alan - Malam Alan berbaring di kamar. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia tersenyum mengingat semua yang terjadi seminggu terakhir. Ayah yang lebih lembut, teman-teman yang kembali akrab, tangan yang sembuh total, dan Doni yang pamit pergi untuk selamanya. Perlahan, dalam mimpi menjemputnya. Tebing Curam - Dalam Mimpi Alan membuka mata. Ia kembali berada di tebing curam. Aurora masih menari indah di langit, lebih indah dari sebelumnya. Rumput berkilauan. Bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni. Dan pohon-pohon kecil berlarian menyambutnya dengan riang. Rani melompat-lompat, memeluk kaki Alan dengan dahan-dahannya yang lentik. "Hei, Alan! Main ke sini lagi! Kangen! Kok lama sekali ke sini?" Alan tertawa, lalu menggendong Rani. "Iya, kangen juga sama kalian. Maaf baru balik." Zai tersenyum, melambai dari kejauhan. "Bagaimana kabarmu, Alan?" Alan duduk di rerumputan yang lembut. "Baik banget. Tangan udah sembuh total. Ayah udah baikan, nggak marah-marah lagi. Teman-teman udah minta maaf. Dan... aku sudah ikhlas Doni pergi. Meskipun sedih." Zai mengangguk puas. "Bagus. Itu yang kami harapkan. Penyembuhan sejati bukan hanya fisik, tapi juga hati. Kamu sudah sembuh, Alan." Rani melompat-lompat di pangkuan Alan. "Alan, Doni titip pesan!" Alan menatap Rani penasaran. "Pesan apa?" Rani mengangguk semangat. "Dia bilang, 'Makasih udah jadi saudara yang baik. Jaga ayah. Jaga diri. Dan jangan lupa, gue selalu bangga sama lo.' Terus dia nitip ini." Pohon kecil itu mengeluarkan sesuatu dari balik daunnya. Sebuah gelang sederhana dari anyaman rumput bercahaya, berkilau lembut di bawah sinar aurora. "Ini buat lo. Biar lo ingat sama kami." Alan tersenyum, air mata haru mengalir di pipinya. Ia memakai gelang itu ke pergelangan tangan kirinya. Gelang itu terasa hangat, seperti pelukan. "Makasih, Don. Makasih semuanya. Kalian baik banget." Zai tersenyum bijak. "Kapan-kapan main lagi. Tapi jangan lupa, dunia nyata menunggumu. Hidupmu di sana. Banyak hal yang bisa lo lakuin." Alan mengangguk mantap. "Iya. Aku janji bakal jadi lebih baik. Aku mau banggain ayah, banggain Doni, banggain kalian semua." Rani melambai-lambaikan dahannya. "Dadah, Alan! Jangan lupa kami!" Semua pohon kecil berseru bersamaan. "Dadah, Alan!" Alan melambai, tersenyum bahagia. "Dadah! Sampai jumpa!" Perlahan, tebing curam memudar, berganti dengan langit-langit kamar Alan. Kamar Alan - Pagi Hari Alan membuka mata. Cahaya matahari masuk melalui jendela, hangat menyinari wajahnya. Ia tersenyum, merasakan tangannya yang kuat, hatinya yang ringan. Ia melihat pergelangan tangannya masih ada gelang rumput bercahaya itu. Nyata. Bukan mimpi. Alan bergumam pelan sambil memegang gelang itu. "Makasih, Don. Makasih, pohon-pohon kecil. Makasih, semuanya. Aku akan baik-baik saja." Lapangan Sepak Bola - Turnamen Bulan Depan Alan berdiri di bawah mistar, mengenakan sarung tangan kiper baru. Timnya unggul 2-1 di menit akhir. Lawan mendapatkan tendangan bebas di depan kotak penalti, hanya dua puluh meter dari gawang. Suasana tegang. Ribuan pasang mata tertuju padanya. Bagas berteriak dari depan. "Alan! Ini tendangan terakhir! Fokus!" Alan mengangguk. Ia melihat ke tribun. Ayah duduk di sana, tersenyum bangga, melambai ke arahnya. Di samping Ayah, Ryan ikut bertepuk tangan, bersorak riuh. Alan tersenyum. Ia menatap bola, lalu untuk sesaat, ia melihat samar-samar di belakang gawang. Doni tersenyum, mengacungkan jempol, lalu perlahan menghilang. Tendangan lawan melesat keras ke pojok kanan atas. Alan melompat setinggi mungkin, tangannya meraih bola. Thok! Bola diamankan. Ditangkap sempurna. Peluit panjang berbunyi. Kemenangan! Rekan setim berlari memeluk Alan, mengangkatnya ke udara. Sorak sorai menggema memenuhi stadion. Ayah turun ke lapangan, memeluknya erat, menangis bahagia. Ryan ikut memeluk dari samping. Ayah terisak di bahu Alan. "Anak ayah juara! Alan juara!" Alan tersenyum, memeluk balik ayahnya erat-erat. "Ini buat ayah. Buat Doni." Ryan menepuk pundak Alan. "Selamat, Lan! Kiper terbaik!" Di kejauhan, di balik kerumunan, di bawah sinar matahari sore, sesosok transparan tersenyum. Doni melambai tipis, lalu perlahan memudar, bercampur dengan cahaya keemasan senja. Doni pergi untuk selamanya, dengan damai. Pemandangan Tebing Curam Kamera beralih ke tebing curam. Aurora masih menari di langit. Pohon-pohon kecil melambai ke arah kamera, tersenyum. Rani melambai. "Selamat, Alan. Kami bangga sama lo." Zai mengangguk puas. "Dia sudah sembuh. Tugas kita selesai." Mereka tersenyum, lalu kembali ke aktivitas mereka, berlarian riang di rerumputan berkilau. Kembali ke Lapangan Alan melepas pelukan, menatap langit sore yang indah. Awan berlapis emas dan jingga. Ia berbisik pelan. "Makasih, Don. Makasih, semuanya. Aku akan baik-baik saja. Janji." Angin berhembus, terasa hangat, seolah membawa jawaban dari tempat yang tak terlihat. Penutup Kadang, luka yang paling dalam bukan yang terlihat di tubuh. Tapi yang tersembunyi di hati. Alan belajar bahwa penyembuhan sejati datang saat ia berani membuka hati, menerima masa lalu, dan percaya bahwa ia tidak sendiri. Doni mungkin telah pergi, tapi cintanya akan selalu ada di setiap kemenangan, di setiap air mata, di setiap doa. Dan di balik tebing curam yang indah seperti surga itu, selalu ada harapan baru yang menanti untuk mereka yang percaya. Untuk Doni, saudara, sahabat, dan malaikat pelindung. Yang selalu ada, walau tak terlihat. Suatu sore Alan berjalan tanpa arah, tapi dengan kesenangan di hatinya. Ia mengambil sebuah batu kecil dari pinggir jalan lalu melemparnya ke depan dengan santai. Namun lemparan itu sangat dahsyat. Batu itu melesat cepat dan menghancurkan beberapa pohon di depannya. Alan panik. Ia melihat ke kanan dan kiri, lalu lari jauh dari tempat kejadian. Di bawah bukit, ia melihat ada lapangan yang sangat luas. Merasa aneh dengan kejadian tadi, ia mencoba mengambil batu lain dan melemparkannya ke arah bukit itu. Seketika, bukit itu hancur sebelah. Alan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap gelang di pergelangan kirinya. "Mengapa saat pertandingan kemarin tidak seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin gelang yang diberikan Doni?" Alan sedih kembali mengingat Doni. Ia duduk di tanah, memegang gelang itu erat-erat. "Kekuatan itu terpicu karena gelang yang diberikan Doni. Seberapa kuat kekuatan itu? Masih tanda tanya." Ia menatap langit sore yang mulai jingga, lalu tersenyum tipis. Masih banyak yang harus ia pelajari. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ia tidak sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD