Bab 8

1192 Words
Setelah tangis mereda, mereka duduk lagi. Alan mengambil napas dalam-dalam, berusaha tenang. Ayah menyodorkan tisu. Alan menatap ayahnya."Berarti... di sekolah... waktu Alan dikeroyok... tiba-tiba Doni masuk... terus bantuin Alan... itu bukan Doni asli?" Ayah menghela napas, mengusap air mata di pipinya."Mungkin itu anak yang mirip Doni. Ada siswa pindahan beberapa bulan lalu, namanya Ryan. Wajahnya mirip banget sama Doni. Waktu pertama ayah lihat dia di pasar, ayah kaget, hampir jatuh." Alan bergumam pelan. "Ryan... jadi selama ini... Ryan yang nolongin Alan... dan Doni... Doni masuk ke tubuh dia?" Ayah mengangguk pelan. "Mungkin. Atau mungkin... Doni memang selalu di samping kamu. Cuma kamu yang bisa lihat. Dan Ryan, dengan wajahnya, jadi perantara." Alan menangis lagi. "Berarti selama ini... Doni... Dia selalu jagain Alan... dari tempat lain... Alan nggak sendiri." Ayah tersenyum haru. "Lo nggak pernah sendiri, Nak. Ada ayah. Ada Doni." Alan masih terisak. "Tapi kenapa Alan bisa lihat Doni? Kenapa cuma Alan?" Ayah mengelus rambut Alan. "Mungkin karena lo yang paling dekat sama dia. Atau mungkin karena lo yang paling sedih pas dia pergi. Kadang, orang yang kita sayang banget, mereka nggak bisa pergi sebelum kita ikhlas." Alan menggeleng. "Alan belum ikhlas, Yah. Alan kangen." Ayah mengangguk pelan. "Ayah juga kangen. Tapi sekarang ayah ikhlas. Doni udah tenang di sana." Alan menghela napas panjang. "Tadi malam, Doni ngajak Alan ke tempat indah. Ada tebing, ada cahaya warna-warni di langit—aurora, katanya. Ada pohon-pohon kecil yang bisa jalan, baik banget. Mereka yang nyembuhin tangan Alan." Ayah terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Mungkin itu tempat Doni sekarang. Tempat yang indah. Mungkin dia di surga." Alan mengangguk. "Iya, Yah. Mungkin. Mereka baik banget. Nyembuhin Alan tanpa minta apa-apa. Mereka bilang Alan dipanggil karena butuh penyembuhan. Bukan cuma tangan, tapi hati." Ayah mengusap kepala Alan. "Kadang pertolongan datang dari arah yang nggak kita duga, Nak. Dan kadang, orang yang kita sayang selalu ada, cuma kita nggak bisa lihat." Pijaran Cahaya Tiba-tiba, di sudut ruangan, muncul pijaran cahaya lembut. Warnanya putih keemasan, hangat, menenangkan. Perlahan membentuk sosok Doni, tersenyum dengan wajah tenang dan bahagia. Kali ini ia terlihat lebih nyata, bercahaya, hampir transparan tapi jelas. Alan dan Ayah terpaku, tak percaya. Ayah menggenggam tangan Alan erat-erat. Doni tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca. "Yah... Lan... Jangan nangis terus dong. Udah subuh, waktunya sholat." Ayah gemetar, suaranya serak, bangkit dari duduknya. "Do... Doni? Beneran kamu, Nak? Anak ayah?" Doni mengangguk. "Iya, Yah. Ini aku. Cuma sebentar. Aku mau pamit." Alan berdiri, ingin memeluk tapi tangannya menembus tubuh Doni. "Pamit? Don, lo mau ke mana? Jangan tinggalin gue!" Doni tersenyum sabar. "Udah waktunya aku pergi, Lan. Selama ini aku jagain lo karena lo sedih terus. Lo nggak bisa move on, lo pendam semuanya. Tapi sekarang lo udah baik-baik aja. Tangan lo sembuh. Lo udah cerita ke ayah. Lo udah lega." Ayah menangis. "Doni... maafin ayah... ayah nggak bisa jagain kamu... ayah nggak bisa..." Doni menggeleng lembut. "Nggak ada yang perlu dimaafin, Yah. Ayah ayah terbaik buat aku dan Alan. Ayah udah ngelakuin yang terbaik, kerja keras, nggak pernah ngeluh. Jaga Alan ya, Yah. Jangan terlalu keras sama dia. Dia sayang ayah, cuma kadang bingung ngomongnya." Ayah mengangguk, air mata terus mengalir. "Ayah janji. Ayah janji, Nak. Ayah sayang kalian berdua." Doni menatap Alan. "Lan, lo jangan ngerasa sendiri. Gue selalu ada, walaupun nggak kelihatan. Tapi lo harus jalan sendiri sekarang. Main bola yang bener. Jagain gawangnya. Lo kiper terbaik yang pernah gue kenal." Alan menangis tersedu-sedu. "Makasih, Don... makasih udah jadi saudara terbaik... gue sayang lo... gue kangen..." Doni tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Gue juga sayang lo, Lan. Jaga ayah. Jaga diri. Jangan lupa sama pohon-pohon kecil." Cahaya semakin terang, memenuhi seluruh ruangan. Doni melambai perlahan, lalu perlahan memudar. Cahaya meredup, dan Doni menghilang, meninggalkan rasa hangat yang menetap di hati mereka. Ayah dan Alan bersamaan berbisik. "Makasih, Doni... Selamat jalan, Nak." Di luar, azan subuh berkumandang, merdu menembus sunyi. Hari baru dimulai. Matahari mulai terbit, menyinari desa dengan cahaya keemasan yang hangat. Burung-burung berkicau riang. Ayam berkokok bersahutan. Alan dan Ayah duduk di teras rumah, minum kopi dan teh, menikmati udara pagi yang sejuk. Suasana damai, berbeda dengan malam sebelumnya. Ayah menatap Alan. "Nak, ayah mau minta maaf. Serius. Bukan main-main." Alan menggeleng. "Yah, udah nggak usah... mana ada ayah meminta maaf kepada anaknya..." Ayah memotong dengan lembut. "Biarkan ayah bicara. Ayah udah pikirin semalaman. Selama ini ayah keras sama kamu. Ayah selalu banding-bandingin kamu sama Doni. Ayah pikir dengan begitu kamu bakal jadi lebih baik, jadi lebih hati-hati. Tapi ayah salah besar." Alan diam, mendengarkan dengan saksama. Ayah menghela napas panjang. "Ayah cuma... ayah cuma nggak bisa nerima kepergian Doni. Ayah marah ke diri sendiri, marah karena nggak bisa jagain dia. Tapi ayah lampiasin ke kamu. Itu nggak adil. Maaf, Nak." Alan tersenyum, memegang tangan ayah. "Alan juga minta maaf, Yah. Alan pendam semuanya. Alan nggak pernah cerita kalau Alan masih lihat Doni. Takut dibilang gila, takut ayah tambah sedih." Ayah tertawa kecil. "Tapi ternyata beneran lihat. Jadi lo nggak gila." Dalam hati ayah berkata, ayah juga sama seperti kamu, Alan. Alan tersenyum. "Iya. Dan Doni baik banget, Yah. Dia selalu jagain Alan. Dari kecil sampai sekarang." Ayah mengangguk. "Doni memang anak baik. Dari kecil. Nggak pernah ngerepotin." Mereka diam sejenak, menikmati pagi. Seekor burung berkicau di pohon depan rumah. Ayah menoleh. "Oh iya, kamu mau kenalan sama Ryan? Anak yang mirip Doni itu?" Alan berpikir sejenak. "Iya, Yah. Alan pengen bilang makasih. Katanya dia sering bantu Alan pas keroyokan, pas di sekolah. Dia yang masuk ke ruang ganti, yang nolongin." Ayah mengangguk. "Besok ayah antar ke sekolah, kenalin. Mungkin kalian bisa berteman." Alan tersenyum. "Iya, Yah." Alan kemudian menatap ayahnya. "Yah, Alan minta libur satu minggu. Tangannya biar benar-benar pulih." Ayah mengangguk. "Iya, Nak. Istirahat dulu." Lapangan Sepak Bola - Siang, Seminggu Kemudian Suasana latihan. Matahari bersinar cerah. Alan berdiri di bawah mistar gawang, kini dengan semangat baru. Sarung tangan kiper baru menempel di tangannya. Bagas, Andi, dan teman-teman lain datang menghampiri. Wajah mereka menyesal, tertunduk. Bagas menatap Alan. "Lan... maafin kita ya. Kemarin kita salah. Kita nggak percaya lo, malah nuduh lo. Kita denger cerita dari Ryan." Andi menunduk dalam. "Gue yang paling salah. Maaf udah mukul lo, maaf udah dorong lo. Gue nggak tau kalau lo beneran cedera. Kata Ryan, lo sempat pingsan di ruang ganti, tangannya bengkak biru." Alan tersenyum lega. "Udah, nggak apa-apa. Gue juga maaf kalau bikin kalian kecewa karena pertandingan kemarin. Gue cuma bisa janji, ke depan gue akan lebih baik." Bagas masih penasaran. "Tangan lo udah sembuh total?" Alan menggerakkan tangan bebas, memutar-mutar, lalu melempar bola ke udara. "Udah. Malah lebih kuat sekarang. Coba teken." Andi menekan tangan Alan dengan kuat. Alan tersenyum, tak merasakan sakit sama sekali. Andi terkejut. "Kok kuat banget? Sembuh total? Ini kayak keajaiban." Alan mengangguk. "Iya. Ada yang nyembuhin. Tempat yang indah." Bagas penasaran. "Siapa? Dokter siapa?" Alan tersenyum misterius. "Rahasia. Tapi yang pasti, gue bersyukur." Mereka tertawa bersama, terbahak-bahak. Andi menepuk pundak Alan."Latihan yuk? Kita butuh kiper kayak lo buat turnamen bulan depan. Yang bener-bener jagain gawang." Alan mengangguk mantap."Siap!" Di pinggir lapangan, seorang remaja duduk sendirian di tribun. Wajahnya sangat mirip Doni. Ryan. Ia tersenyum melihat Alan, lalu melambai kecil. Alan melambai balik, tersenyum lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD