Kalila mengayun kaki dan keluar dari mobil, dia terkesiap karena pemilik resto sudah berada di depan pintu mobilnya. “Astaga!” Dia mengelus dad*nya pelan. “Kenapa Bapak ngagetin saya?” “Selamat siang, Cantik.” Arsenio tersenyum sembari menganjurkan bunga mawar merah muda pada kalila. Wanita itu malah menatapnya heran. “Terimalah, anggap saja dari fansmu,” pinta Arsenio. Kalila tak ingin melukai hati para fans, tanpa mereka dia tidak akan bisa sejauh ini dalam dunia permodelan. Perlahan tangannya meraih buket bunga itu. “Terima kasih, Pak Arsen.” “Jangan panggil, Pak. Kan saya fansmu.” Arsenio tersenyum. “Apa Anda ngefans pada pelayan resto seperti saya?” Kalila menunjukkan bajunya, jelas di d*da kiri Kalila tertulis, Vegasus Resto. Aresnio tersenyum. “Saya tidak peduli.” Dia berb

