Sejak tadi, tetesan air mata itu tak kunjung berhenti menetes. Sang empunya pun hanya diam sambil duduk.
Sudah pukul 17.00 WIB artinya, lima jam sudah ia habiskan untuk duduk melamun di sini. Siapa lagi jika bukan Azila. HP-nya pun sudah kehabisan batrai. Sekarang, yang dilakukan Azila hanyalah menunggu sampai matahari terbenam.
Perlakuan Hannan pada adik kelas yang dilihatnya tadi tak bisa diterima begitu saja oleh Azila. Bagaimana pun, ia sudah diperlakukan manis belakang ini, lalu dengan sekejap mata saja, kenangan manis itu bercampur dengan garam.
Kedua kalinya. Ya, ini sudah terjadi kedua kalinya bagi Azila. Ia sebenarnya terlalu takut mencintai seseorang. Ia lebih memilih mencintai artis idolanya—Fatan. Karena bagaimanapun juga, Fatan tak akan menyakitinya. Azila tak pernah berharap lebih, selama ini ia memposisikan diri sebagai fans. Walaupun tak tahu ke depannya bagaimana, karena mereka sudah saling mengenal.
Akan tetapi, mencintai Fatan adalah sebagai bentuk pelarian agar Azila tak mengingat masa lalunya.
Seorang cowok yang ia cintai kelas tiga SMP dahulu masih membekas di lubuk hati Azila yang paling dalam. Ya, tak akan semudah itu melupakan pria yang benar-benar mencintainya dan juga menyakitinya itu.
Sekilas bayangan masa lalu itu terlintas di otak Azila.
"Kamu suka yang warna apa?"
"Aku suka warna pink."
"Oke ... wah, artinya adalah cewek cantik."
Kikikan Azila bersama cowok itu pun masih terngiang-ngiang sampai sekarang.
Saat masuk SMA. Azila memang mengagumi Hannan, karena cowok itu pintar dan berprestasi. Ia pun menyebutkan jika Hannan adalah first lovenya. Namun, selama ini mereka tak seakrab sekarang, karena Hannan tak terlalu memedulikan sekitarnya. Cowok itu hanya tampak fokus belajar, belajar, dan belajar. Sehingga tak ada waktu untuk melirik seorang cewek.
Entah kenapa sejak kelas dua belas. Hannan mulai membuka mata terhadap lingkungan sekitar, yang dulunya sangat dingin perlahan mulai menghangat dengan sendirinya.
Azila tak tahu apa yang terjadi pada Hannan dan sekarang, kenapa ia kembali memikirkan cowok yang baru saja melukai hatinya itu?
Mata Azila pun terasa sudah membengkak. Hidungnya memerah. Ah, kacau. Azila tak memedulikan lagi seperti apa wajahnya.
Ia sekarang tengah duduk di halte. Namun, halte kedua dari sekolahnya, yang artinya lebih jauh dari gerbang sekolah. Halte kedua ini adalah halte lama yang sudah tak dilintasi bus atau angkutan umum, karena tempatnya terpencil susah dijangkau. Maka dari itu, sejak ada halte yang baru, halte lama ini pun dijadikan halte kedua, atau disebut juga halte cadangan.
Daritadi Azila di sini hanya sendirian. Walau ada satu orang kakek-kakek tadi yang duduk sebentar, tetapi sekarang ia sudah pergi.
Kenapa Azila tak pulang saja? Tidak. Daniel sedang berada di rumah. Ia tak ingin Daniel atau pun Azila tahu jika ia menangis.
Azila juga tahu, jika saudari kembarnya itu pasti sudah panik mencarinya ke mana-mana.
"Maaf ya, Azel. Zila selalu buat Azel susah," ucap Azila pelan.
Isakannya mulai mereda. "Bodoh sekali, ya? Nangisin cowok. Haha." Azila menertawakan dirinya sendiri.
"Buat yang nggak tau masa laluku, sih, boleh bilang ini lebay, tapi apa akan ada kata lebay lagi jika aku ceritakan?"
Entah kepada siapa Azila berbicara, yang pasti berbicara sendiri ternyata sangat melegakan hati.
"Sayangnya aku nggak mau menceritakannya sekarang," ucap Azila mengoceh sendiri.
***
"Zel, tenang dulu, Zel. Jangan kayak gitu, dong!" ucap Agil panik, karena Azela malah membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
"Dasar nggak guna! Gue nggak guna! Gue nggak ada gunanya! Gue nggak bisa jagain Azila!"
Reyhan dengan sekuat tenaga pun menarik Azela agar tak membenturkan kepalanya lagi ke dinding.
"Buat apa lo kek gitu? Lagian Azila udah gede, dia nggak mungkin tersesat juga, kan? Ini bukan di hutan. Lo tenang aja. Paling si Azila udah pulang dan tidur di kamarnya. Lo jangan lebay ginilah."
PLAK!
Tamparan itu menutup mulut Reyhan rapat-rapat. Cowok itu meringis pelan, tangannya pun terkepal, tetapi ia berusaha menahannya.
"Lo nggak tau apa-apa mending diem," ucap Azela dingin.
Agil hanya diam. Tak membela atau memihak siapa pun. Ia tahu Reyhan mengkhawatirkan Azila juga, tetapi lebih khawatir melihat Azela yang frustrasi.
"Gue nggak akan berhenti sebelum temuin Azila."
Azela pun melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Dia marah, ya?" tanya Reyhan menatap punggung Azela yang semakin menjauh.
"Lagian lo nggak lihat sikon, Rey."
"Gue udah muak lihat dia frustrasi gitu, Gil. Kembarannya emang selalu buat sahabat kita susah."
"Lo keknya pengen digampar Azela lagi, dah, ngomong gitu."
"Hahaha. Tapi emang benar, kan?"
"Udahlah, jangan mancing." Agil tak ingin melebarkan ke mana-mana. Lagipula mereka tak tahu apa-apa mengenai Azila dan Azela. Kedua saudari kembar itu memakai topeng yang sangat tebal.
***
Sudah pukul 17.26 tidak ada tanda-tanda Azela menghampirinya. Wajar saja. Azela jarang mengelilingi perkarangan sekolah. Azela pasti tidak tahu halte ini. Sepertinya ia benar-benar tidak akan ditemukan.
Azila memandangi langit. Biru. Warna itu pun mengingatkan Azila pada seseorang itu lagi.
"Kalau kamu sukanya warna apa?"
"Biru."
"Kenapa biru?"
"Karena biru artinya cowok ganteng."
"Hahaha."
Azila menunduk. Tidak! Kenapa bayangan masa lalu itu kembali terbayang olehnya, setelah melupakan bertahun-tahun.
Azila sudah move on. Ya, sejak mengidolakan Fatan ia pasti sudah move on. Namun, kenapa ....
"Permisi. Numpang duduk bentar."
Kepala Azila langsung terangkat. Matanya pun melebar. Suara itu ... suara. Suara yang sangat ia hapal. Buru-buru Azila menoleh ke sampingnya.
Mata Azila semakin melebar saat melihat siapa yang duduk di sampingnya sekarang.
***