Senin. Hari yang paling menyenangkan, bukan? Hari baru untuk memulai segala aktivitas. Akan tetapi, hari senin adalah hari menyebalkan bagi setengah siswa SMA Harapan Bangsa, atau mungkin hampir semuanya, karena harus berbaris upacara mendengarkan celotehan kepala sekolah yang sangat panjang lebar membuat lutut terasa goyah, ingin berjongkok.
"Sebentar lagi akan diadakan pemilihan ketua osis baru dan perengkrutan anggota osis yang baru. Untuk itu, diharapkan kepada pengurus osis saat ini mengadakan seleksi dan siswa kelas sepuluh, sebelas, diharapkan berpartisipasi."
Itulah pengumuman penting pagi ini. Azila mengetuk-ngetukan jarinya ke meja.
"Azila, bisa minta tolong?" tanya Hana. Anak kelas 12 jurusan IPS.
"Iya?"
"Bisa tolong panggilin Hannan ke sini? Zen tadi bilang ada yang perlu dibicarakan."
"Oke."
Azila lalu bangkit. Saat ini ia sedang berada di ruang osis. Ya, Azila adalah salah satu anggota osis di bagian kesenian. Sejak istirahat kedua tadi ia diizinkan tidak masuk kelas mengikuti pembelajaran, karena mengurus osis. Nanti Azila bisa menyalin catatan Azela saja. Lagipula hanya ketinggalan satu mata pelajaran saja.
Kaki Azila pun melangkah meninggalkan ruang osis dan berjalan ke ruang UKS. Memang sedikit jauh. Akan tetapi, Azila tak mempermasalahkan itu. Ia juga ingin bertemu dengan Hannan.
Akhirnya, kaki Azila pun sampai di depan pintu ruang UKS. Tangannya pun hendak mengetuk pintu, tetapi saat sebuah suara terdengar dari dalam, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
"Aku udah lama suka sama Kak Hannan. Please, terima cinta aku, ya. Aku janji bikin Kak Hannan bahagia."
Azila melototkan matanya. Apakah ada siswi yang sedang menembak Hannan?
Azila tak berkutik, ia bersiap untuk mendengarkan jawaban Hannan.
"Yui. Gue--"
"Please, Kak Hannan. Ak--aku."
Terdengar suara berdentum membuat Azila segera membuka pintu yang ternyata tak terkunci.
Hal pertama yang dilihat oleh Azila adalah, gadis yang diyakini adik kelasnya tak sadarkan diri—berada di pelukan Hannan.
"Azila ...," panggil Hannan.
"Ya ampun!"
Azila pun segera menghampiri Hannan.
"Di--dia kenapa?" tanya Azila.
"Nggak tahu."
Hannan pun segera mengangkat badan gadis itu, lalu membaringkannya di kasur UKS.
Ada sesuatu berkobar dalam hati Azila. Ia termakan api cemburu. Namun, sekuat mungkin ia menahan, tidak ... ia tak boleh cemburu pada hal sepele seperti ini, lagipula wajar saja Hannan menolong gadis itu.
Perasaan Azila berkecamuk, tanpa sadar ia malah menepuk kaki gadis itu keras.
Bola mata Hannan melebar. Apa yang tengah dilakukan Azila? Kenapa Azila malah memukul Yui yang sedang pingsan?
"Azila! Kamu ngapain, sih?" tanya Hannan segera menggeser Azila agar menjauhi tempat tidur. Notasinya masih sama, tak keras tak juga pelan, tetapi entah kenapa malah membuat hati Azila sakit saat melihat tindakan Hannan.
Sekarang pria itu sibuk memeriksa keadaan adik kelas itu dan mengabaikan Azila yang masih berdiri di belakang.
"Yui ... Yui, kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Hannan dengan nada khawatir yang sangat jelas.
Mata Yui pun mengerjap pelan. Saat tersadar, ia segera memeluk Hannan. Membuat Azila benar-benar tak habis pikir. Apa yang sedang dilakukan adik kelas itu?
"Ak--aku nggak mau kehilangan Kak Hannan. Aku udah sayang Kak Hannan dari lama."
Hannan hanya diam, tak menyangkal apa pun dan tampak tangannya pun membalas pelukan Yui.
Hal itu membuat air mata Azila tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya.
"Yui ... jangan memaksakan diri lagi, ya. Aku khawatir."
Satu hal lagi yang membuat Azila tak bisa menerimanya. Hannan berbicara aku-kamu begitu lembut pada gadis di hadapannya ini. Bersama dirinya saja Hannan tetap dengan sapaan lo-gue.
"Aku nggak mau kehilangan Kak Hannan."
"Iya, aku nggak akan pergi, Yui."
Sudah. Cukup! Azila tak tahan lagi. Kaki Azila pun terasa goyah untuk berbalik. Namun, ia tak ingin lama-lama lagi menatap pemandangan di depannya itu.
Azila berbalik, lalu segera keluar dari ruangan dan berlari menjauh, sejauh-jauhnya tempat di mana orang-orang tak dapat melihatnya.
"Kenapa, ha? Kenapa Hannan sejahat itu? Kenapa ...."
Azila terus berlari, tak terasa ia sudah keluar dari perkarangan sekolah, menyelinap menggunakan jalan belakang yang tak berpagar.
***
Sudah pukul 15.15 WIB. Azela sejak tadi menatap pergelangan tangannya.
"Azila mana, sih? Katanya rapat cuma sampai jam 3."
Azela bersandar di dinding depan kelasnya. Mulut yang masih terus mengunyah permen karet dan headphone yang terpasang di telinganya.
"Woy, Zel!"
Tepat sekali! Reyhan dan Agil pun muncul. Mereka segera menghampiri Azela.
"Gue kira lo udah pulang," ucap Agil.
"Belumlah. Azila ada rapat osis. Ini gue lagi nungguin."
"Lah, gue tadi barusan lewat ruang osis, udah sepi tuh," ucap Agil yakin tak mungkin salah lihat.
"Ah, masa?"
"Eh, iya. Tadi gue juga lihat udah sepi, keknya cuma ada dua orang," sahut Reyhan.
"Dua orang, di antaranya ada Azila, kan?" tanya Azela.
"Nggak."
Azela segera bangkit. Ia pun langsung berjalan menuju ruang osis, untuk melihat sendiri. Reyhan dan Agil pun menyusul.
Saat tiba di ruanh osis ternyata benar. Hanya ada dua orang yang masih berada di dalam ruangan itu. Azela tak melihat tanda-tanda keberadaan Azila.
"Azila, mana?" tanya Azela tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Azela ...."
Hana segera menghampiri saudara kembar temannya itu.
"Azila menghilang nggak tau ke mana," ucap Hana. Netra Azela melebar.
"Sejak kapan?" tanya Azela.
"Dua jam yang lalu."
"Kenapa kalian nggak kasih tau gue!" bentak Azela, membuat Hana dan Zen—sang ketua osis—terdiam dan hanya bisa menunduk.
"Terakhir kali dia ada di mana?"
"Gue tadi suruh Azila ke ruang UKS, abis itu nggak balik-balik. Kami juga sudah cari ke mana-mana, tapi Azila nggak ketemu," jawab Zen mengambil alih, karena Hana sudah terlihat menciut. Aura Azela memang menakutkan.
Tanpa mengucapkan apa pun, Azela segera pergi dari situ dan melangkah untuk mencari saudari kembarnya itu ke sepenjuru sekolah.
Reyhan dan Agil pun ikut membantu. Mereka berpencar, mencari keberadaan Azila yang mungkin saja masih di sekitar sini.
"Azila lo di mana?" Azela tampak sangat khawatir dan frustrasi.
Ke manakah Azila pergi? Apakah Azela dapat menemukannya?
***