Pagi kembali menyambut. Seorang gadis masih meringkup di dalam selimutnya. Matahari tampak malu-malu menampakkan wujudnya. Ya, sejak subuh tadi, hujan tak berhenti jatuh sampai sekarang. Dinginnya suasana membuat Azila semakin tak ingin bangkit dari tidurnya.
"Azila, bangun!" Teriakan Azela di luar daritadi pun tak diindahkan olehnya.
"Lima menit ... lima menit!" teriak Azila masih memejamkan matanya.
"Sekarang, Zila. Nggak ada lima menit-lima menitan. Kalau lo nggak mau ketemu papa, sih, terserah."
Mata Azila langsung terbuka lebar. "Pa--Papa?" tanyanya berbinar-binar. Buru-buru Azila bangkit dari kasur, lalu masuk ke kamar mandi.
Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Daniel. Ah, akhirnya papanya itu pulang juga.
"Papa! Zila kangen ...."
***
Azela kembali duduk di meja makan. Tadi Daniel-lah yang menyuruhnya untuk membangunkan Azila, karena saudarinya itu tak keluar kamar sejak kemarin malam.
"Azila udah bangun?" tanya Daniel.
"Udah," jawab Azela singkat, tanpa menatap Daniel.
"Kemarin kalian pulang dari acara promnightnya jam berapa?"
"Jam dua belas."
"Maaf, ya, Papa nggak jadi datang lihat Azila tampil," ucap Daniel dengan nada kecewa.
"Nggak pa-pa."
"PAPAAA!" Sebuah teriakan dari ujung tangga pun menggema. Azila tampak di sana dengan memakai kaos oblong dan celana pendek. Rambutnya pun masih basah. Buru-buru gadis itu berlari menghambur ke pelukan Daniel.
"Aaaa ... Papa pulang, kok, nggak ngabarin. Tau gitu Zila bangun cepat," ucap Azila dengan manjanya. Azela memutar bola matanya melihat kembarannya itu yang masih seperti balita saja.
Di antaranya, memang Azila yang paling manja dengan Daniel. Bukannya Azela tak menyayangi Daniel, tetapi ia tak selebay Azila.
"Hai, Sayang. Gimana kemarin acara promnight-nya? Seru, nggak?"
"Seru dong, Pa. Azila terpilih jadi Queen-nya."
"Wah, pintar. Putri Papa memang hebat."
Perut Azela tiba-tiba terasa berputar dan ia merasa mual. Tak suka melihat kemanjaan Azila dengan Daniel.
"Lebay," komentar Azela.
"Azel iri bilang, dong," ledek Azila.
"Dih, nggak iri."
"Azel nggak sayang Papa, kan? Papa pulang biasa aja, nggak peluk Papa, nggak tanyain kabar Papa," oceh Azila.
Azela hanya bisa mengembuskan napas pelan. Daniel terkekeh singkat, melihat dua putrinya itu bertengkar kecil. Selalu begitu, tetapi mereka saling menyayangi.
"Zila," panggil Daniel.
"Iya, Pa?" tanya Azila menatap papa kesayangannya itu.
"Papa kangen sama teh buatan Zila. Boleh buatin untuk Papa?"
"Siap, Pa!" Azila memberikan hormat pada Daniel.
"Ya udah, yang manis, ya."
"Oke, Pa."
Azila langsung berlalu ke dapur, untuk membuatkan Daniel secangkir teh.
Azela menatap aneh. Bukannya Daniel sudah menghabiskan tehnya tadi. Sepertinya Daniel sengaja menyuruh Azila pergi. Apa ada hal yang ingin dibicarakannya?
"Azela."
"Iya."
Sepertinya dugaan Azela benar. Daniel mungkin hanya ingin berbicara dengannya, tanpa sepengetahuan Azila.
"Belakangan ini Azila sempat kambuh lagi, nggak?"
"Nggak, Pa. Aman."
Daniel mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
Azela tersenyum singkat. "Papa tenang aja. Azila aman sama Azela."
Daniel lalu bangkit, berjalan mendekati Azela yang tadi duduk di hadapannya. Daniel tiba-tiba mengusap rambut putrinya itu. "Papa mengandalkan kamu."
Azela tersenyum singkat. "Sudah kewajibanku, Pa."
"Yah. Papa tahu, kamu sudah tau semuanya. Papa harap kamu bisa merahasiakannya sampai waktu yang tepat untuk membongkarnya."
"Iya, Pa."
"Terima kasih, Azela."
Azela kembali tersenyum singkat. Daniel pun tersenyum, lalu duduk kembali si kursinya.
Tak lama kemudian Azila datang, membawa secangkir teh hangat untuk Daniel.
"Ini, Pa! Udah jadi, yey!"
Daniel tersenyum. "Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, Pa."
Daniel pun menyeruput teh itu, walaupun perutnya sudah kenyang, tetapi ia tak ingin mengecewakan putrinya itu yang sudah susah-susah membuatkannya teh.
***
"Azel! Azel ... dengerin gue, nggak, sih, ah!"
Azila melemparkan bantalnya ke arah Azela, yang mengenai gadis itu.
"Iya, Azila," jawab Azela malas.
"Terus ya ... Hannan natap gue kayak tatapan cinta gitu. Aaa ... nggak bisa dibayangin! Gue melting!"
"Terus?"
"Ya, terus kami dance bareng. Kan kami pemenangnya. Pasti Azel nggak lihat, kan? Jahat banget!" Muka Azila mengembung kesal.
"Lihat kok, dari jauh."
"Kenapa Azel nggak samperin gue?"
"Ya--karena, gue udah lihat, juga, kan."
"Azel nggak ke mana-mana, kan, pas acara?"
Mampus. Jangan sampai ketahuan. Tiba-tiba Azela teringat sesuatu. Ia menatap gelang yang terpasang di pergelangan tangannya.
Kemarin, Fatan memberikannya gelang itu. Entah apa maksudnya, tetapi Azela menerima saja.
"Sebagi tanda malam ini," ucap Fatan memasangkan gelang itu di tangan Azela.
Azela lalu membuka gelang itu dan memberikan pada Azila.
"Apa ini, Azel?" tanya Azila bingung.
"Gelang."
"Ish, gue juga tau ini gelang. Maksudnya, untuk apa Azel ngasih ke gue?"
"Ambil aja. Jangan lupa pakai! Awas aja kalau dilepas," ancam Azela.
Azila lalu mengambil gelang itu dan memasangkan di pergelangan tangannya. Gelang berwarna hitam polos.
"Makasih, Azel!"
"Ya. Itu gelang tanda malam kemarin."
"Tanda?"
"Iya. Kan lo menang, tuh."
"Wah ... Azel pengertian banget!"
Azila lalu menghambur ke pelukan Azela.
Azela hanya diam sembari mengangguk. Bagaimanapun gelang itu memang diperuntukkan untuk Azila, karena dirinya kemarin hanyalah menyamar. Jadi, jika esok Fatan bertemu dengan Azila, pasti ia teringat dengan malam itu.
Tak disangka, nyanyian mereka malam kemarin mendapat apreasiasi lebih dari tamu yang hadir, bahkan tak sedikit yang memuji suara Azela. Ia memang pandai bernyanyi, tetapi Azela saja yang tak ingin menunjukkannya.
Azela adalah tipikal yang bakatnya selalu dipendam. Ada bakat lainnya yang masih disembunyikan oleh Azela.
"Bentar ya, Azel. Gue mau nunjukin ini dulu ke papa," ucap Azila bangkit, lalu keluar kamar. Azela hanya melengos pasrah. Saudara kembarnya memang selebay itu.
Bunyi notifikasi pesan masuk berdering dari HP Azila. Tak sengaja Azela membaca sang pengirim pesan yang muncul di layar. Mata Azela melotot melihat Fatan yang mengirimkan pesan.
Tanpa pikir panjang Azela segera membuka dan membaca pesan itu.
|| Kak Fatan Love You So Much ||
{Azila, terima kasih untuk malam kemarin. Semoga menjadi sesuatu yang tak terlupakan bagi kita. Aku bahagia dan semoga kamu juga bahagia. Aku berharap kita bisa ketemu lagi, ya.}
Mata Azela semakin melebar. Buru-buru ia menghapus pesan itu, lalu Azela membalas.
{Terima kasih kembali, Kak, setiap hari HP-ku dicek Papa. Jadi, jangan kirim pesan kayak gitu lagi ya, Kak. Nanti ketahuan, papaku marah, karena aku dilarang dekat sama cowok.}
Entah apalah yang dibalas Azela, yang pasti itulah yang terpikirkan olehnya sekarang. Setelah pesan itu dibaca Fatan, karena ada tanda dua ceklis biru. Buru-buru Azela kembali menghapus pesan itu.
Balasan Fatan pun hanya stiker dan Azela juga sudah menghapusnya. Bisa bahaya jika Azila yang membaca pesan itu tadi, ia kan tak tahu apa-apa.
Untung saja pesan itu masuk saat HP Azila berada di dekat Azela dan sang pemilik HP sedang pergi.
Sepertinya Azela harus lebih waspada.
***