Gamon

717 Words
"Geko?" sapa Azila benar-benar tak percaya. Cowok yang merasa terpanggil itu pun segera menoleh ke samping. Ia pun tak kalah terkejutnya. Buru-buru cowok itu bangkit, tetapi tangannya langsung ditahan oleh Azila. "Lepasin, Kak! Gue nggak ada hubungannya sama lo!" ucap cowok yang setahun lebih muda daripada Azila. "Geko, please. Jangan lari! Aku butuh kamu sekarang." "Nggak! Gue nggak mau." Cowok itu terus berontak. Azila pun melepaskan tangannya pelan. Sepertinya memang tidak ada harapan. "Gitu, ya," lirih Azila. "Silakan pergi." Geko terdiam sebentar. Ia tak berkutik. Matanya pun melirik ke arah Azila yang sudah kembali duduk. Dengan terpaksa, cowok itu ikut duduk kembali di samping Azila. "Sorry," ucap Geko singkat. Azila pun tersenyum. "Gimana kabar semuanya?" tanya Azila basa-basi. "Gak penting." Azila tersenyum kecil. Geko masih saja dingin dengannya. "Lama nggak jumpa, Geko. Syukurlah kamu baik-baik aja." Tangan Geko terkepal. Siapa bilang ia baik-baik saja? Selama ini hidup Geko sudah tak ada artinya. Namun, bayangan seseorang itu seketika muncul di kepalanya. Geko pun membuka kepalan tangannya lagi. "Aku boleh tanya?" "Nanya apa?" tanya balik Geko. "Ke mana kalian menghilang?" Sudah diduga. Digaan Geko tak meleset. Pastinya Azila menanyakan hal itu. Terakhir kali mereka bertemu, Azila juga mengejarnya, tetapi Geko berhasil kabur. Akan tetapi untuk sekarang, entah kenapa Geko tak tega meninggalkan Azila sendirian. Apalagi melihat gadis itu tampak usai menangis. "Gak penting," ucap Geko lagi. "Aku ingin tau, Geko. Emang salah kalau aku nanya itu?" "Ya." "Selama ini aku butuh jawaban, Geko. Tolong, kasih aku jawab--" "Nggak bisa. Sampai kapan pun nggak akan." "Kenapa?" lirih Azila. "Gak penting." "Tapi itu penting bagi gue!" teriak Azila kembali terisak. "Ke mana Zeko, ha? Di mana dia sekarang? Kenapa dia menghilang? Apa alasannya, ha? Bisa jawab? Bisa jelaskan?" Azila pun semakin terisak. Geko hanya diam. "Gak penting." "Berhenti ngomong nggak penting! Karena itu sangat penting bagi gue!" kesal Azila. Ia yang biasanya lembut pun tak tampak lagi. Azila kembali seperti waktu ia SMP lagi. "Lo nggak akan tau, Kak. Pastinya dari dulu lo hanya benci kakak gue." "Ya. Gue emang benci banget sama kakak lo! Benci banget! Benci ...." Geko tersenyum miris. "Ya, sesuka hati lo aja benci dia." "Gue akan terus benci Zeko, sampai gue tau alasan dia menghilang," ucap Azila mutlak. Kata-kata itu selalu diucapkannya sejak empat tahun yang lalu. "Wajar. Lo bebas mau benci dia, sebelum lo tau apa yang sebenarnya terjadi." Geko tiba-tiba bangkit, ia berdiri memunggungi Azila, tanpa menoleh ke arah gadis itu. "Setelah empat tahun yang lalu, akhirnya keluarga gue kembali ke sini. Kita semua kembali. Tapi, jangan harap keluarga gue kenal lo lagi." Setelah mengucapkan itu, Geko pun melangkah pergi meninggalkan Azila. Sebuah kebetulan, ya, mereka bisa bertemu di sini. Azila hanya diam tak berkutik. Kenapa ... kenapa sekarang mereka muncul lagi, setelah Azila mati-matian melupakan? Azila tak ingin terbayang masa lalunya itu. "Gue harus pulang!" *** Setibanya di rumah. Ternyata Azela belum pulang. Azila jadi merasa bersalah, karena pasti saudari kembarnya itu masih sibuk mencarinya yang kehilangan jejak. Azila pun menyuruh Daniel untuk menjemput Azela ke sekolah. Saat Azela sampai rumah. Ia sama sekali tak berbicara dengan Azila. Muka gadis itu tampak marah dan khawatir yang bercampur aduk. Azila sudah yakin jika Azela pasti marah, karena sudah membuatnya panik. Akan tetapi, Azila mencoba mengikuti alur kemarahan saudarinya itu. Nanti jika sudah reda, barulah ia meminta maaf. "Zila, besok jangan menghilang lagi," ucap Daniel menasihati. Azila pun hanya bisa mengangguk patuh. Banyak hal terjadi hari ini. Azila pun banyak kehilangan energi. Ia akan todur cepat malam ini, agar bisa mengisi ulang energinya yang terkuras. Pertemuannya dengan Geko tadi selalu terbayang saat ia hendak memejamkan mata. Ah, tidak. Ia tak boleh memikirkan keluarga itu lagi! Cukup sudah. "Pink Biru!" panggil seseorang. Kedua orang yang dipanggil itu pun menoleh. "Haha, nama itu memang melekat bagi kalian berdua." "Pink ...." "Iya, Biru?" "Selalu jadi Pink buat Biru, ya." "Oke." Azila tersentak. Oh, no. Mimpi apakah ini! Kenapa baru saja terlelap bayangan itu kembali muncul walau sekejap. "Please, gue udah move on!!!" Apakah Azila benar-benar sudah move on? Jika memang sudah, maka sekarang ia akan mengalami gagal move on! Kira-kira sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu Azila? Siapa Geko? Lalu, siapa Zeko? Keluarga apa yang dimaksud? Semua itu biarlah waktu yang menjawab. Sekarang, Azila sedang mengalami gamon. Alias gagal move on. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD