Tamu

775 Words
"Fatan, kamu nggak syuting hari ini?" Suara Audi terdengar samar oleh Fatan yang masih meringkuk di dalam selimut. Audi masuk ke kamar putranya itu, karena Fatan tak kunjung turun untuk sarapan. "Fatan ... bangun, Sayang. Kamu nggak syuting? Nggak kuliah?" "Nggak, Tan." "Kenapa? Lagi cuti, ya?" "Hm." Tak biasanya putranya itu cuti. Audi pun menarik selimut yang membungkus badan Fatan. Tangan Audi pun langsung menyentuh kening putranya itu. Terasa sangat panas. "Fatan, kamu demam, ya." "Nggak, Tan. Cuma capek aja." Audi memilih duduk di tepi kasur. Menatap Fatan yang masih memejamkan mata. "Kamu izin karena sakit, ya?" "Nggak, Tan. Hari ini aku nggak ada scene, karena kemarin udah aku seleseikan semua, termasuk scene hari ini," ujar Fatan mencoba menjelaskan. "Jangan dipaksakan, dong, Sayang. Pantesan sekarang kamu demam." Audi pun mengusap-usap rambut lembut Fatan, membuat cowok itu merasakan kehangatan kasih sayang. Sebenarnya Audi tak tega melihat Fatan yany terlalu sibuk, ia mengkhawatirkan kondisi putranya itu, karena terlalu banyak kegiatan. Akan tetapi, Fatan pun menikmati pekerjaannya. Ia sudah tertarik dengan dunia Entertain sejak dulu, karena terinspirasi dari Audi yang menjadi artis. Fatan pun naik daun akhir-akhir ini sejak bermain film dan disukai penonton. Fatan tak hanya pandai berakting, tetapi juga menguasai dunia musik. Suaranya bagus dan keahliannya memainkan berbagai alat musik selalu menjadi pusat perhatian. Selain itu, Fatan sangat pintar dan ia masih bisa membagi waktu bekerja dengan kuliah. Fatan adalah sosok pekerja keras. Audi terbayang saat Fatan masih kecil dan diasuh oleh neneknya. Fatan yang selalu merengek meminta kasih sayang orang tua, karena iri melihat teman-temannya. Saat itu Audi hanya bisa memperhatikan dari jauh. Audi sangat kasihan dengan Fatan. Kakaknya pun tak bertanggung jawab sebagai ayah. Audi ingin marah, tetapi ia tak bisa. Sampai akhirnya ia kehilangan jejak. Audi tak tahu sampai sekarang di mana keberadaan kakaknya itu. Apakah masih hidup atau tidak. Namun, Audi tidak peduli itu. Ia sudah cukup berbahagia hidup bersama Fatan selama ini. Jadi, Audi tak peduli yang lain lagi. "Tan ...," panggil Fatan terkejut menatap Audi yang sudah berlinang air mata. "Tante nangis?" "Eh?" Audi mengusap pipinya yang basah. Ternyata ia menangis tanpa sadar, saat melamun tadi. "Nggak, kok, ini cuma ketiup angin." "Tante lagi mikirin apa?" tanya Fatan. "Nggak ada, kok, Sayang. Tante baik-baik aja." "Tante ada masalah? Cerita aja sama Fatan." Audi terkekeh. Ia mengusap pundak cowok itu pelan. "Anak Tante udah besar, ya." "Apa, sih, Tan." Pipi Fatan bersemu malu. "Kamu makin tampan." "Udah, Tan. Jangan gombalin Fatan terus, dong!" Audi semakin terkekeh. Menggoda Fatan adalah hobinya sejak dulu. "Cuci muka, gih, habis itu sarapan. Tante beliin obat dulu ke apotik." "Iya, Tan," jawab Fatan patuh. Ia pun segera bangkit, lalu mengambil handuk. "Cuci muka aja, Fatan, jangan mandi dulu. Badan kamu, kan, kurang sehat." "Nggak seru kalau nggak mandi, Tan." Audi hanya bisa menggeleng. Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang ia membelikan obat untuk Fatan. Untung saja Apotik di sini tak terlalu jauh. "Siap mandi, jangan lupa sarapan, ya!" teriak Audi sebelum keluar dari kamar Fatan. *** Setelah mandi, seperti yang diperintahkan Audi tadi, Fatan pun menuju ruang makan untuk sarapan. Sudah tersedia satu gelas s**u panas dan dua potong roti tawar. Setelah selesai menghabiskan roti itu, Audi pun datang. Ia langsung menghampiri Fatan. "Nih, obatnya, diminum dulu." "Makasih, Tan." "Iya. Cepat sembuh." Audi lalu duduk di hadapan putranya itu. "Tante mau ke Semarang besok," ujarnya. "Syuting, Tan?" "Nggak, sih." "Terus?" "Hmm ... ada, deh." Kening Fatan mengkerut. Tak biasanya Audi main rahasia-rahasiaan dengannya. "Tante pergi sama siapa?" "Ada, deh." "Tan ...." Audi pun tertawa menatap gemas pada Fatan yang sudah kesal. "Tante liburan, sama teman." "Temannya cewek atau cowok?" "Cewek cowok." "Serius, Tan." "Iya, Fatanku Sayang. Tante pergi sama rekan kerja, sebenarnya bukan sekadar liburan doang, ada kerjaan dikit. Tapi, nggak banyak, jadi Tante mau habisin waktu sekalian liburan." "Oh." Singkat, padat, dan pastinya Fatan sedang kesal. "Ada apa, sih, Nak? Kamu mau ikut juga?" "Nggak, thanks." "Fatan, kamu lucu, loh, kalau lagi kesal gitu." "Tante ... udah, ah." "Hahaha." Audi malah semakin tertawa, membuat Fatan mendengkus. "Btw, abis ini Tante mau pergi, nih. Kamu tidur lagi aja, ya. Istirahat." "Iya, Tan." "Cakep banget, patuh sama Emak." Fatan memang tak pernah membantah omongan Audi. Tiba-tiba ketukan pintu mengubah perhatian mereka. Audi hendak melangkah untuk membuka pintu, tetapi Fatan lebih dulu. "Biar aku aja, Tan." "Oke, deh. Kalau tamunya nyari Tante bilang aja Tante lagi di kamar bentar, ya." "Oke, Tan." Fatan pun berjalan ke ruang tamu. Tidak hanya mengetuk pintu. Tamu yang datang itu pun membunyikan bel rumahnya bekali-kali. Apakah tidak bisa sabar sedikit? "Hallo-ha! Bukain, dong." "Sebentar," teriak Fatan. Ia lalu membuka pintu. Mata Fatan melebar menatap siapa tamu yang datang. Siapakah tamu itu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD