Melihat tamu yang datang sangat membuat Fatan tak bersemangat. Jika tadi tubuhnya sudah mulai baikan, maka sekarang bisa kambuh lagi.
Di hadapannya berdiri seorang gadis dengan rambut sebahu warna hitam pekat. Siapa lagi jika bukan Zea. Padahal Fatan sudah bersyukur tidak syuting hari ini bisa istirahat di rumah dan tidak bertemu gadis itu, akan tetapi sekarang ....
"Fatan. Kamu, kok, pucat? Kamu pasti sakit, kan?"
Zea pun hendak menyentuh dahi Fatan, akan tetapi langsung dielakkan oleh cowok itu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Fatan datar.
"Disuruh Tante Audi."
"Hah?" tanya Fatan tak percaya. Apakah benar, tantenyalah yang menyuruh gadis seperti ini datang ke rumahnya? Lalu, untuk apa disuruh ke sini segala?
"Fatan, siapa tamunya ... eh, Zea? Akhirnya kamu datang." Audi yang baru muncul pun langsung menarik Zea masuk.
Fatan hanya diam mematung. Jadi, benar? Apa maksudnya Audi membawa gadis itu ke rumah?
"Tan, bukannya tadi Tante ...."
"Tante emang mau keluar. Nah, Tante gak tega ninggalin kamu sendirian di rumah, jadi Tante undang Zea ke sini, untuk nemenin kamu. Zea udah kelar syuting juga, kan, Sayang?"
"Iya, udah, kok, Tante."
"Syukurlah. Ya udah, Tante mau siap-siap dulu, ya. Fatan ... bisa tolong buatin air, kan, untuk Zea?"
"Eh, nggak usah, Tante. Zea nggak haus, kok."
Fatan hanya diam dengan tatapan datarnya. Masa Audi meninggalkannya berduaan dengan gadia seperti Zea.
Setelah Audi beranjak dari situ. Ruang tamu mendadak senyap. Tidak ada yang memulai percakapan. Baik Fatan maupun Zea, sama-sama diam, berkutik dengan pikiran masing-masing.
"Hm ... Fatan?"
"Ya."
"Bisa, nggak, kita lebih santai gitu? Aku mau kita berteman."
"Ya," jawab Fatan singkat.
"Atau kamu benci denganku, ya, Fatan?" tanya Zea dengan nada kecewa.
"Sedikit."
"Karena apa?"
"Suka buat gosip sembarangan."
"Heum, masalah itu aku minta maaf." Zea menundukkan kepalanya, mengakui kesalahannya. "Aku melakukan itu biar chemistry kita jalan terus, walaupun di luar syuting."
"Lo pikir gue bakal cinlok sama lo?"
Cinlok yang berarti cinta lokasi. Umumnya terjadi pada pasangan artis di berbagai film.
"Emangnya nggak, ya?"
"Nggak."
Zea pun hanya bisa mengelos pasrah. Ternyata benar, Fatan susah sekali ditaklukkan. Selama ini Fatak tak pernah baper dengan lawan mainnya. Mereka beradegan romantis hanya menunjukkan profesionalitas pekerjaan. Untuk real life, tentunya berbeda.
Tak lama kemudian, Audi muncul sembari menggandeng tas tangannya.
"Fatan, Tante pamit keluar bentar, ya. Nggak lama, kok."
"Iya, Tan."
"Zea. Tante pamit, ya." Audi pun mengedipkan sebelah matanya menggoda Zea.
"Oke, Tante," jawab Zea dengan kedipan pula.
Fatan menyadari itu, tetapi ia diam saja. Tak penting. Sekarang yang harus dipikirkannya adalah, bagaimana caranya mengusir Zea dari rumahnya.
Mobil Audi pun terdengar keluar dari perkarangan rumah. Saatnya beraksi.
"Pulang," suruh Fatan.
"Ha, pulang? Nggak mau."
"Pulang, kata gue."
"Nggak mau Fatan, aku harus nemenin kamu."
"Gue bukan anak kecil lagi."
"Tap--tapi, kan ...."
"Pulang."
Zea menghela napas pelan. "Oks, aku pulang, dengan satu syarat."
"Gue nggak nawarin persyaratan."
"Ya udah, aku nggak mau pulang."
"Lo minta diusir?"
"Fatan ... aku itu suka sama kamu. Kenapa nggak peka, sih?"
EH??? Apa-apaan itu. Apakah barusan Zea mengutarakan perasaannya? Benarkah? Ia seberani itu?
"Ze, lo cuma bercanda, kan?"
"Aku serius, Fatan." Zea lalu mendekat ke arah cowok itu, lalu menyentuh punggung tangan Fatan.
"Apa yang lo suka dari gue?"
"Aku nggak tau, tapi aku baper setiap kita beradegan. Aku deg-degan setiap syuting tatap-tatapan sama kamu."
"Ze ... jangan pernah suka sama gue."
Zea terkejut mendengarnya. Apakah itu bahasa halus jika Fatan baru saja menolaknya?
"Kenapa?" tanya Zea terbata.
"Karena gue nggak akan suka lo balik."
Ada yang remuk, tetapi tak terdengar. Hati Zea seperti terkena sengatan listrik.
"Fatan, kamu ...." Air mata Zea lolos begitu saja dia pelupuk matanya.
"Kamu jahat, Fatan."
Cowok itu pun hanya bisa mendengarkan kata-kata tak terima dari Zea.
"Mending lo buang kata-kata itu sekarang. Gue nggak mau kasig harapan."
"Tapi kenapa? Kenapa kamu nggak suka sama aku?
"Karena gue udah suka sama seseorang."
"Hah? Sejak kapan? Kamu nggak pernah terlihat dekat dengan seseorang."
"Gue nggak mau nyeburin namanya."
"Ayolah, aku ingin tau namanya."
"Nggak akan."
"Aku janji akan pergi dari sini setelah kamu kasih tau nama cewek yang kamu suka," ujar Zea memberi penawaran.
Sepertinya ini adalah jalan yang tepat untuk Fatan mengusir gadis itu dari rumahnya. Ia ingin beristirahat dan waktu sendiri, tanpa adanya siapa pun.
"Oke."
"Siapa namanya? Artis atau nggak?"
"Bukan artis."
"Terus, siapa?"
Namanya .... Fatan menghela napas sebentar lalu bersiap mengucapkan nama yang terpikir di otaknya.
"Namanya adalah A.z.e.l.a ...." Fatan terdiam sebentar, entah kenapa mulutnya tiba-tiba refleks. "Mak--maksudnya Azila." Fatan merasakan jika ia sudah salah sebut. Lagipula siapa yang bernama Azela? Fatan tak kenal.
"Oh, Azila, ya ...." Zea pun tersenyum sinis. "Oke, thank you, Fatan."
Zea benar-benar bangkit lalu segera pergi dari sana tanpa mengucapkan apa pun. Fatan akhirnya bisa me time.
"Kenapa mulut gue tiba-tiba nyebut Azela, ya? Padahal di otak gue udah terukir jelas, nama Azila yang akan disebut."
Fatan pun hanya bisa menghela napas. Tak ingin memperpanjang tentang itu. Apakah ia benar-benar salah sebut? Atau memang nama itu yang tergambar di hatinya?
***