Taksi yang ditumpangi oleh Azela pun berhenti di salah satu kawasan dekat hutan yang sepi tanpa ada perumahan. Ah, akhirnya sampai! Setelah membayar, Azela segera keluar. Mobil taksi itu pun melaju meninggalkan tempat.
Azela menghela napas pelan. Sudah lama sekali ia tak bermain ke sini.
Kawasan lapang ini sudah dibeli oleh Daniel. Tanah ini miliknya, lebih tepatnya diberikan kepada Azela.
Nama tempatnya adalah kawasan Yumika. Nama itu diberikan oleh Azela. Tanah lapang yang di depannya ada sungai. Di sini juga ada pondok kecil untuk berteduh.
Di sini adalah tempat pribadi Azela untuk bermain dan menyendiri. Suasananya tenang, dikelilingu pohon sangat membuat udara terasa segar dan menenangkan. Azela dulunya sering ke sini setelah pulang sekolah. Kebetulan SMP-nya tak jaug dari kawasan ini.
Akan tetapi, hanya Azela dan Daniel saja yang tahu tempat ini. Azila sama sekali tidak tahu, karena Azela tak mengizinkan Azila datang ke sini. Menurutnya terlalu bahaya jika Azila tahu tempat ini, bisa-bisanya ia akan menjadikan kawasan ini pelarian, lalu Azila menginap di sini malam-malam tidak mau pulang. Bagaimana jika ada binatang buas atau orang jahat? Azila, kan, tidak pandai bela diri.
Lalu, ketika Azela mengkhawatirkan saudarinya. Kenapa ia tak menghkawatirkan diri sendiri?
Azela juga sama-sama perempuan, kan? Bagaimana jika ada orang jahat, binatang buas, dan sebagainya?
Oh, tidak kawan. Sepertinya kalian harus mengenal siapa itu seseorang bernama Azela Fathia.
Dilahirkan sebagai kakak pertama, membuat Azela harus tumbuh menjadi kuat untuk melindungi adiknya—Azila, yang sangat lemah.
Sejak berumur tujuh tahun, Azela sudah belajar ilmu bela diri. Gurunya pun tak sembarang orang. Azela dilatih oleh Raman Suwari.
Raman adalah seorang kakek tua, yang hidup sebatang kara. Istri Raman meninggal muda dan Raman pun menduda sampai akhir hayatnya.
Ya, sekarang Raman hanyalah tinggal nama. Setelah selesai melatih Azela, saat gadis itu berumur lima belas tahun, Raman mengembuskan napas terakhirnya. Ia mengaku bahagia memiliki cucu angkat seperti Azela yang kuat.
Kuburan Raman berada di kawasan ini. Azela meminta Daniel untuk mengizinkan Raman dimakamkan di sini.
Kaki Azela pun melangkah mendekati makam itu. Ah, sudah lama ia tak berkunjung ke sini.
"Salam, Kek. Ini Azela. Maaf udah lama nggak ke sini."
Azela menunduk hormat pada makam tersebut. Ia lalu mencabut rumput yang mengganggu.
Bagaimana asal-usul Azela bisa bertemu Raman?
Tepat pada saat umur tujuh tahun. Azela mengunjungi makam ibunya. Kali ini ia datang bersama Daniel saja, karena Azila sedang sakit. Azela memaksa ingin ke makam ibunya dan Daniel pun menuruti saja.
"Maa ... Azila sakit terus. Azel takut dia ninggalin Azel juga." Gadis kecil itu terisak, sembari mengelus keramik yang bertuliskan nama ibunya itu.
"Mama jangan bawa Azila dulu, ya. Azel masih ingin terus sama-sama dengan Azila, Ma."
"Azel, nggak boleh ngomong gitu," tegur Daniel, mengusap bahu putrinya itu.
"Suatu saat Papa nggak akan ninggalin Azel juga, kan?" lirih Azela.
"Nggak, dong, Sayang. Papa akan nemenin kalian terus sampai besar."
"Papa nggak akan cari mama baru, kan?"
"Nggak, Sayang."
Azela pun memeluk Daniel. "Makasih, Papa."
"Ya udah, kita pulang, yuk!" ajak Daniel. Ia sebenarnya sangat pusing, tetapi tak ingin memperlihatkan pada Azela.
Sudah dua hari Daniel tidak tidur, karena harus menemani Azila di rumah sakit dan juga kerja tanpa henti. Daniel benar-benar memaksa dirinya.
"Pa, Papa nggak pa-pa, kan?"
"Eh, iya. Nggak pa-pa, kok."
Baru berjalan dua langkah, tiba-tiba badan Daniel ambruk di sana, membuat Azela terkejut dan mencoba menahan badan Daniel.
"Pa, Papa!" teriak Azela. Di sini tidak ada yang dikenalnya dan juga pengunjung makam tak terlalu ramai, sudah banyak yang pergi.
"Sini, saya bantu," ucap sebuah suara. Azela pun menoleh, menatap pria paruh baya itu membantunya merangkul badan Daniel.
"Mari ikut Kakek!" suruhnya. Ia pun dengan telaten menggendong badan Daniel si punggungnya. Walaupun sudah tua, tetapi sangat kuat, batin Azela kagum.
"Kakek walaupun tua, tapi tenaganya kuat banget, ya," puji Azela.
"Hahaha. Kamu jangan memuji saya."
Azela pun hanya tersenyum, lalu mengekori kakek itu dari belakang.
"Rumah saya dekat sini. Kita ke rumah saya aja, ya."
"Hm, oke, Kek."
Ternyata benar. Rumah kakek itu pun tak jauh dari sini. Hanya ada gubuk kecil. Jadi, di sinilah kakek itu tinggal? batin Azela sedikit prihatin.
"Nggak usah kasihani saya begitu. Rumah ini sudah terlalu besar buat saya yang tinggal sendiri," ujarnya seolah bisa membaca pikiran Azela.
"Haha. Kakek bisa baca pikiran, ya. Wah, Kakek hebat!"
"Sudah saya bilang, jangan memuji saya."
Kakek yang tak lain adalah Raman itu pun membaringkan Daniel di nipan tempatnya tidur.
"Dia ayah kamu?" tanya Raman.
"Iya, Kek. Papaku ganteng, kan?"
"Hm. Biasa saja."
Azela pun mendengkus pelan. Raman sebenarnya merasa aneh, kenapa anak itu tak takut melihatnya? Kenapa malah seperti biasa saja dan tidak ada tatapan menakutkan ditunjukannya?
"Hei, anak muda."
"Kakek manggil aku?"
"Hm. Siapa namamu?"
"Azela, Kek."
"Berapa umurmu?"
"Tujuh tahun, Kek."
"Kenapa kamu tidak takut pada saya?"
"Ha? Takut? Kenapa aku harus takut sama Kakek?" tanya balik Azela.
Raman sedikit tertegun. Baru kali ini ada anak kecil yang masih sempat-sempatnya bersikap tenang di hadapannya. Bahkan anak itu berkali-kali menatap ke arahnya.
Raman memiliki luka parah di sebelah mukanya. Sebelah mtanya pun bolong, karena bagian kelopak mata dan alisnya hancur. Ya, Raman hanya melihat dengan satu mata kirinya.
Biasanya, orang-orang akan takut dan ngeri menatap wajahnya, karena dianggap menyeramkan. Akan tetapi, baru kali ini ada anak kecil yang menatapnya seolah tak peduli dengan sehancur apa mukanya itu.
"Kamu tidak takut melihat wajah saya?"
"Emang kenapa dengan wajah Kakek? Masih sama kayak biasanya, kok."
"Kamu ... hebat."
"Heh? Jangan memuji aku, Kek," ujar Azela membalikkan kata-kata Raman tadi.
"Oh, ya. Nama Kakek siapa?"
"Raman."
"Oh, oke. Kakek Raman. Salam kenal, Kek. Terima kasih sudah menolong Papa aku."
"Ya. Papa kamu hanya kelelahan dan butuh istirahat sebentar."
"Hm, ya, Kek. Sembari nunggu Papa. Boleh aku lihat ke belakang? Sepertinya aku melihat ada suatu taman di sana," ucap Azela menujuk arah dapur Raman.
"Kamu yakin mau ke sana?"
"Iya, Kek."
"Ya sudah, ayo!"
Raman menutup pintu rumahnya, lalu mengajak Azela ke belakang. Memang ada halaman belakang di rumahnya.
Hanya lapangan kecil yang berlantai tanah langsung. Akan tetapi, ada yang menarik perhatian Azela. Di tanah tersebut, tergeletak bermacam-maca s*****a.
"Sudah kuduga, Kakek orang hebat," ucap Azela. Ia pun mengambil piisau yang berada di situ.
"Kakek. Bisa ajarin aku bermain pisauu?"
***