bc

Pelukan Nyaman Sang Perwira

book_age18+
36
FOLLOW
1K
READ
HE
age gap
police
sweet
bxg
serious
witty
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Memiliki masa lalu yang buruk dalam berumah tangga, membuat Ziva memutuskan untuk menjadi janda selamanya dan menekuni profesinya sebagai Agen Intelijen. Hidupnya terasa lebih nyaman, tidak ada yang melarang, mengatur, malah didukung oleh keluarga. Namun siapa sangka, justru saat dia bertemu dengan Andra, seorang perwira muda yang kebetulan saat itu menangani kasus yang sama dengannya, malah memberikan pelukan nyaman untuknya, tanpa henti mengejar cintanya. Ziva yang tegas dan awalnya menolak saat dikejar brondong tengil itu, pada akhirnya berhasil diluluhkan. Kedekatan mereka dalam pekerjaan membuat Ziva diam-diam jatuh cinta dan akhirnya berani membuka hati kembali untuk seorang pria, meskipun awalnya dia ragu. Lalu, bagaimanakah kisah cinta mereka berdua? Apakah ada penghalang bagi Ziva seperti pada pernikahannya yang pertama? Yuk ikuti kisah mereka.

chap-preview
Free preview
Bab 01. Kembali Ke Medan Perang
"Kamu harus ekstra hati-hati dan teliti, Ziva. Karena kasus yang akan kamu tangani kali ini bukan sekadar mengungkap pabrik narkoba biasa, ini melibatkan kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Mereka bukan hanya orang biasa, tapi para penguasa yang bersembunyi di baliknya. Tapi seperti biasa, tugasmu tetap di balik layar. Polisi akan turun langsung ke lapangan, sedangkan kamu, sebagai intelijen, harus mengumpulkan semua bukti dan informasi penting tanpa terendus." Hermawan, Kasat Intelkam yang memberikan tugas itu, menatap salah satu intel wanita yang cukup profesional, dengan tajam dan penuh harap. "Kamu sudah siap?" Ziva Azalea Darwin mengangguk mantap, matanya dipenuhi tekad, pengalaman dalam menangani berbagai kasus selama ini tak membuatnya goyah, meski yang harus ditanganinya kali ini adalah kasus yang berat. Setelah setahun vakum hingga akhirnya beban berat dalam hidupnya menghilang, ini adalah panggilan pertamanya kembali ke medan perang. "Baik, Pak. Saya sudah siap. Ini tugas pertama saya setelah lama vakum. Saya berjanji akan menuntaskan semuanya dengan baik," jawab wanita yang akrab dipanggil Ziva itu, dengan suara yang tegas, penuh keyakinan yang tak terbantahkan. Hermawan mengangguk. "Saya juga yakin, kamu bisa melakukannya dengan baik. Jujur saja, saya sangat senang karena kamu akhirnya bergabung kembali. Karena sejauh ini, kamu adalah intel yang selalu bisa diandalkan," ungkapnya. "Terima kasih, Pak, sudah memberi kepercayaan ini kepada saya. Saya berjanji akan berjuang sekuat tenaga agar tidak mengecewakan," ucap Ziva, dalam dadanya sebuah api semangat baru mulai menyala. Hermawan menatap Ziva dengan mata penuh harap. "Baiklah, hari ini juga kamu harus mulai menyelidiki. Kasus ini sangat mendesak." Ziva mengangguk mantap, d**a berdegup kencang sekaligus tenang. Ia tahu risikonya, tapi sudah terbiasa menghadapi beban berat seperti itu. Ini bukan pertama kali dia menangani kasus sekompleks itu. Dengan langkah pasti, Ziva keluar dari ruangan Hermawan. Di pintu, Samuel sudah menunggunya, wajah tampan dan tatapan penuh rasa ingin tahu terpancar dari pria bermata tajam itu. Dia merupakan anak dari Hermawan sekaligus rekan intelijen Ziva. "Jadi, bagaimana? Kasus apa yang harus kamu ungkap kali ini?" tanya Samuel dengan nada serius. Ziva menatap lurus ke depan, suaranya tenang tapi penuh tekad, "Aku akan menyelidiki pabrik narkoba di Kota X. Ini misi yang cukup berat, tapi aku sudah siap." Mendengar hal itu, Samuel tersentak, dadanya sesak bagai tertindih beban berat. "Sudah aku duga, ayah pasti akan memberikan kasus ini padamu," ucapnya dengan suara serak, penuh kekhawatiran. "Padahal aku yang seharus menangani kasus ini. Kasus ini terlalu berat dan berbahaya, Zi." Matanya menatap Ziva penuh peringatan, seolah ingin menahan langkah yang tergesa. Akan tetapi, Ziva menjawab dengan keyakinan menggelora, "Tenang saja, Sam. Ini bukan pertama kalinya aku menghadapi kasus yang sama." Senyumnya tipis, namun tatapannya tajam. "Memang, aku baru kembali bergabung setelah vakum cukup lama dan ini kasus yang cukup berat. Tapi aku yakin, aku bisa menanganinya." Samuel menatap Ziva penuh gelisah. "Bagaimana kalau aku ikut membantumu?" tawarnya tanpa ragu. Ziva tersenyum tipis, seolah mengerti kekhawatiran sekaligus mencoba meredam kegelisahan rekan yang sudah cukup dekat dengannya itu. "Kamu sudah punya pekerjaanmu sendiri dan aku juga sudah punya tim untuk membantu. Jadi jangan khawatir, Sam. Aku bisa menjalaninya. Percaya padaku." Namun Samuel belum menyerah, suaranya berat mengandung rasa belum puas, "Bukan soal aku tidak percaya padamu, Zi. Tapi, aku-" Ziva langsung memotong, matanya menyala tajam, membakar kesabaran yang tersisa. "Sudahlah," katanya singkat, penuh tekad yang tak bisa diganggu. "Waktuku terbatas. Aku harus bergerak sekarang." Dengan kalimat itu, ia berlalu tanpa menoleh ke belakang lagi, meninggalkan Samuel yang hanya mampu terdiam, tenggelam dalam kegamangan. "Aku hanya mengkhawatirkan kamu, Ziva. Sekarang kamu sudah sendiri, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus bisa mendapatkan hatimu dan melindungimu selalu," batin Samuel, tekad dalam hatinya sekuat baja. *** "Perkenalkan, saya Ipda Andra Lucas Xazier." Suara seorang perwira muda bergema tegas, penuh kharisma yang tak terbantahkan. Di usianya yang baru menginjak 27 tahun, tatapan Andra tajam dan penuh percaya diri, seperti singa muda siap menerkam setiap tantangan yang menghadang. Namun, saat matanya bertemu dengan Ziva, dia merasakan tembok dingin yang tak tergerus sedikit pun. Ziva menatap Andra dingin, tanpa sedikit pun rasa tertarik. Baginya, semua pria sama saja, tak peduli jabatan maupun gelarnya. "Saya Ziva Azalea Darwin. Kedekatan kita hanya karena satu hal, menangani kasus bersama. Selebihnya, saya tidak akan pernah meladeni," ujarnya singkat, sambil terus mengamati gerak-gerik Andra dengan kecurigaan yang semakin dalam. Andra tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Baiklah, Kak Ziva. Walaupun ini pertama kalinya kita bekerja sama, tapi aku sudah sering mendengar namamu. Kompetensi dan kecepatanmu dalam menyelesaikan kasus membuatku yakin, pekerjaan kita akan selesai sebelum waktu habis." Lagi-lagi, Ziva membalas dengan dingin, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah, "Maaf, Ipda Andra, Anda tidak perlu sok akrab seperti itu. Mari kita fokus pada kasus ini. Itu saja!" Andra mengangguk pelan. "Oh ya, baiklah." Yang keluar dari bibirnya tak lebih dari formalitas, karena dalam hatinya bergemuruh. "Wanita ini walaupun jutek, tapi dia sangat menarik. Aku harus bisa mendapatkan hatinya," bisiknya dalam diam. Seringnya mereka bertemu karena menangani kasus yang sama, membuat Andra semakin terpikat pada sosok Ziva meski berkarakter keras, jutek dan kerap kali berbicara dengan suara datar. Justru di balik ketegasan wanita itu, ada pesona yang sulit dijelaskan, sesuatu yang tak pernah ia temukan pada wanita lain. "Kak Ziva, setelah kasus ini selesai, bagaimana kalau kita ... berkencan?" ucap Andra dengan keberanian yang tiba-tiba mencuat dari bibirnya, matanya mengerling jahil. Permintaan itu ibarat bom waktu yang meledak di hadapan Ziva. Matanya melebar, tubuhnya kaku. "Maaf, Ipda Andra, saya sudah mengatakannya berkali-kali, kita harus profesional. Jangan bawa hal-hal lain, apalagi bermain-main seperti ini. Saya benar-benar tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu," balasnya dengan nada ketus, membuat udara seakan membeku. Tapi Andra tersenyum kecil, mencoba menepis kekakuan itu. "Ayolah, apa salahnya rileks sebentar? Jangan terus serius dalam pekerjaan. Hidup juga butuh warna, Kak," rayunya, berharap bisa meluluhkan benteng hati Ziva yang keras. Namun, di balik kata-kata santainya, gairah yang membara terus menggelora dalam d**a, berjuang meraih secercah kesempatan yang mungkin bisa menghentikan jarak di antara mereka. Bukannya mencair seperti harapan Andra, suasana justru semakin menegangkan. Ziva melotot tajam, suaranya dingin menusuk, "Stop! Jangan menganggu saya. Kalau kamu terus seperti ini, saya akan melaporkan kamu kepada pimpinan. Saya akan minta ganti perwira lain, supaya saya bisa bekerja dengan tenang!" Tekadnya seperti benteng baja, tak sedikit pun goyah. Tapi Andra? Dia justru membalas dengan senyum tipis yang penuh tantangan, "Ah, jangan dong, Kak. Kalau kamu terus seperti ini, bagaimana aku bisa mendapat kesempatan untuk mendekatimu?" Suaranya ringan, mengandung candaan sekaligus harapan. "Kalau kamu menolak ajakanku untuk berkencan, bagaimana kalau malam ini kita makan malam romantis?" godanya tanpa ragu, mengguncang ketenangan di antara mereka yang seharusnya penuh profesionalisme. Tiba-tiba, langkah berat seseorang mengganggu percakapan mereka. Suara pintu terbuka dan bayangan sosok masuk menyelimuti ruang itu. "Apa maksudmu dengan mengajak Ziva untuk berkencan dan makan malam romantis?" Bersambung ...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Kali kedua

read
219.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook