Bab 02. Kekasih Baru

1149 Words
Ziva dan Andra serentak dan menoleh, terpaku pada sosok pria yang melangkah mendekat dari kejauhan. Bukan orang asing, mereka sama-sama mengenalinya. "Pak Samuel, sudah lama kita tidak bertemu. Tapi saya yakin, Anda tidak terlibat dalam kasus yang sedang saya dan Kak Ziva tangani saat ini. Jadi, apa urusan Anda datang ke sini?" Suara Andra mengandung nada dingin, penuh curiga dan penolakan. Samuel membalas dengan tatapan tajam, suaranya kaku dan penuh ketegasan, "Urusan saya? Itu bukan urusanmu. Saya tidak punya kewajiban menjelaskan apapun di hadapanmu." "Sam, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Ziva, mencairkan suasana yang terasa mulai menegang. Tiba-tiba, senyum tipis namun penuh arti menghiasi bibir Samuel. Wajah dinginnya berubah menjadi lembut. "Kebetulan saja aku lewat. Aku ingat, tadi kamu bilang akan ke sini. Jadi aku pikir, aku bisa menjemputmu. Kamu nggak bawa mobil, 'kan?" Matanya tak lepas dari pandangan Ziva, suara bergetar menahan harap. "Lagi pula, bukankah masalah pekerjaan sudah selesai dibahas? Yang aku dengar, pembicaraan kalian bisa sampai bergeser ke hal-hal lain. Kencan, makan malam romantis," ujarnya. Ziva menghela napas pelan, menepis anggapan itu. "Ya, pembahasan mengenai pekerjaan untuk hari ini memang sudah selesai. Untuk apa yang kamu dengar tadi, kamu nggak perlu pikirkan. Aku juga nggak peduli," ucapnya datar, menegaskan jika kata-kata Andra memang sama sekali tak ditanggapinya. Akan tetapi, Andra tak mau menyerah begitu saja. Tak peduli jika harus ditolak berkali-kali oleh Ziva. "Kak, jangan seperti itu lah." Ia menguatkan suaranya, tatapannya penuh tekad menantang Samuel. "Kalau kamu menolak ajakan makan malam romantisku malam ini, berarti kamu setuju kalau kita akan berkencan setelah kasus ini selesai." Kata-kata Andra meluncur tanpa rasa takut, seolah api keberanian mengobarkan hatinya walau terlihat wajah Samuel mengeras penuh kemarahan, justru itu tujuannya. "Kamu—" Samuel membuka mulut ingin membalas dengan suara yang tajam karena amarah. Namun, sebelum kalimat itu keluar, Ziva dengan sigap meraih tangan Samuel, menatap pria itu dengan tegas tapi menenangkan. "Sudah, Sam. Kamu nggak perlu meladeninya. kita pergi sekarang. Pembahasan hari ini memang sudah selesai," ucapnya, menutup kesempatan Samuel untuk membalas. Pelan tapi pasti, Samuel mengalah dan mengikuti Ziva yang melangkah pergi, meninggalkan Andra sendirian di sana. Pandangan Andra terkunci pada punggung keduanya yang menjauh. Senyum tipis namun penuh keyakinan terukir di bibirnya. "Aku nggak percaya, aku kalah begitu saja. Samuel jelas-jelas menyukai Ziva, tapi lihat saja nanti, pasti aku yang akan mendapatkan hatinya," gumamnya pelan, penuh semangat membara yang tak bisa padam. *** Saat matahari sudah tenggelam, Ziva baru saja tiba di rumahnya. Tubuhnya nyaris tak bertenaga, dipenuhi rasa lelah yang menggerogoti setiap langkah. Rasanya, ingin sekali dia cepat-cepat merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang menanti di dalam kamar, tempat paling aman dan nyaman dari segala keramaian. Namun, kenyataan berkata lain. Sosok yang sama sekali tak ia inginkan kehadirannya, ibarat tamu tak diundang, malah muncul tiba-tiba, menghadirkan gelombang amarah yang sulit ditahan. Ziva berjalan santai, hendak mengabaikan kehadiran orang tersebut tanpa menoleh sedikitpun. Tapi mantan suaminya itu, Kevin, menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat. Tatapan Kevin lembut, namun penuh luka menembus mata Ziva. "Kita perlu bicara, Zi," bisiknya, seakan berharap kata-kata bisa membangun hubungan yang sudah hancur. Ziva menggeleng keras, napasnya naik turun, penuh penolakan. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita. Semuanya sudah selesai!" Namun pria itu tak menyerah. Suaranya pecah, menyayat, mengalir dari lubuh hati yang paling dalam. "Urusan kita belum selesai. Aku masih sangat mencintai kamu, Zi, sampai kapanpun. Bahkan perceraian kita terjadi itu karena kemauanmu, aku terpaksa. Tapi, aku tidak pernah berhenti mencintai kamu. Tolong, kita harus coba lagi. Aku tidak sanggup kehilangan kamu, Zi." Kata-kata Kevin menggema, meyakinkan Ziva jika dirinya benar-benar sangat serius. Akan tetapi, Ziva sama sekali tak gentar. Dia menghentakkan tangannya dengan penuh kemarahan, membebaskan diri dari genggaman Kevin. Matanya membara, setiap kata yang keluar terasa seperti pisau yang mengiris malam yang sunyi, "Dengar, Kevin! Hubungan kita benar-benar sudah berakhir. Ibarat seperti kaca yang sudah hancur berkeping-keping, tidak peduli bagaimanapun kita berusaha mencoba menyatukannya, pecahan itu tidak akan pernah utuh lagi!" Suaranya bergemuruh, menyingkap luka lama yang tak pernah sembuh. "Kamu tidak pernah berpihak padaku. Kamu dan orang tuamu selalu menyudutkanku, melarangku melakukan apa yang aku inginkan, bahkan dalam hal profesiku! Kalau dari awal kamu keberatan, kenapa kita harus menikah?" Napasnya memburu, wajahnya dipenuhi amarah sekaligus kepedihan. "Syukurlah pernikahan itu hanya bertahan setahun, tanpa anak. Sekarang, aku benar-benar bebas dari keluargamu yang toxic itu!" Kevin terdiam, pandangannya menunduk, terselip penyesalan yang dalam. "Maafkan aku, Ziva. Aku yang terlalu bodoh. Aku gagal mendukung kamu, malah memilih memihak kedua orang tuaku. Aku hanya bingung, mereka tetaplah kedua orang tuaku. Tapi aku sadar sekarang, mereka tidak punya hak untuk mengendalikan hidup kita. Aku menyesal, sungguh. Tolong, maafkan aku." Suaranya pecah, penuh kesedihan yang merobek hati. "Menyesal? Sayangnya semua sudah terlambat!" Ziva menarik napas panjang, menatap tajam ke arah Kevin. "Aku sudah nyaman dengan hidupku sekarang. Lebih baik kamu pergi saja dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku capek dan butuh istirahat." Kata-kata Ziva mengalir tajam seperti pisau, menusuk hati Kevin. Dengan gerakan yang hampir terseret emosi, ia membalikkan badan, hendak meninggalkan pria itu. Namun, lagi-lagi Kevin merengkuh tangannya, menariknya seolah takut kehilangan satu-satunya harapan. "Lepaskan aku!" Suara Ziva bergetar. Tapi Kevin malah menggenggam lebih erat, mata membara penuh penyesalan dan harapan. "Aku tidak akan melepaskan kamu, Zi. Sebelum kamu setuju rujuk denganku,” ucapnya penuh tekad. "Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku janji, aku tidak akan lagi melarang apa pun yang kamu mau. Aku akan jadi orang yang pertama mendukungmu, bahkan kalau harus dianggap anak durhaka oleh orangtuaku. Yang penting, aku bisa bersama kamu lagi." Kevin menatap dalam-dalam, yakin kalau cinta mereka belum mati. "Aku tahu, kamu juga masih mencintaiku, 'kan? Jangan bohongi perasaanmu sendiri." "Eh, lagi ada tamu, ya? Maaf mengganggu. Aku datang ke sini mau mengantar barang Kak Ziva yang ketinggalan." Saat suasana mulai memanas, tiba-tiba Andra muncul di sana, membawa sebuah paper bag yang misterius. Dia melangkah ke arah mereka dengan senyum tipis di bibirnya, seakan menambah bara dalam api yang sudah menyala. Kevin melepaskan cengkeramannya dari tangan Ziva, lalu tatapannya berubah menjadi tajam menusuk ke arah Andra. "Siapa kamu? Kenapa datang ke sini malam-malam seperti ini? Apa maksudmu dengan barang Ziva yang ketinggalan?" Suaranya dingin, penuh curiga dan ancaman. Ziva buru-buru menghampiri Andra, mencegah saat pria itu hendak angkat bicara. "Memangnya kenapa kalau dia ada di sini? Justru kamu, Kevin, kamu sudah tidak punya hak lagi untuk datang ke sini." Kevin memicingkan mata, penasaran dan sedikit geram. "Apa maksudmu, Zi? Dia siapa sampai lebih berhak ada sini daripada aku?" Dengan tenang tapi penuh keyakinan, Ziva menggenggam tangan Andra erat. "Dia kekasih baruku," ucapnya dingin seperti es yang menembus jiwa Kevin. "Jadi, kalau kamu pikir aku masih menyimpan perasaan untukmu, kamu salah besar. Aku sudah move on, lebih dari yang kamu pikirkan." Andra terdiam, tatapannya terpaku pada Ziva dengan campuran keterkejutan dan kepuasan yang samar. Senyum tipis mengembang di bibirnya, walau hatinya tahu, saat ini dirinya hanya sedang dimanfaatkan. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD