Bab 03. Seorang Janda

1204 Words
Kevin berdiri terpaku, hatinya bergejolak antara keterkejutan dan ketidakpercayaan yang mendalam. "Tidak mungkin! Aku tidak percaya dia kekasihmu! Kamu hanya bercanda 'kan, Zi?" Suaranya bergetar, hampir tak bisa menerima kenyataan itu. Ziva menatap tajam, nada suaranya dingin sekaligus penuh keyakinan, "Percaya atau tidak, itu urusanmu. Tapi kenyataannya, dia memang kekasih baruku. Namanya Andra, seorang Polisi Perwira yang saat ini sedang menangani kasus yang sama denganku. Ya, kami terlibat cinta lokasi." Ia lalu tersenyum tipis, penuh makna, seakan ingin menancapkan kenyataan itu ke dalam d**a Kevin. Kevin hendak membantah, membuka suara, namun Ziva tak memberinya kesempatan. Ia menggenggam tangan Andra lebih erat, lalu memandangi pria itu dalam-dalam. "Bukannya begitu, Sayang?" Kevin merasa terkejut, namun dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan. "Iya, Sayang. Kalau dia nggak percaya, kita mungkin bisa memberikan bukti yang lebih kuat," bisiknya, ada makna terselubung di balik kata-katanya itu. Mata Ziva melebar, namun dia mengerti apa yang dimaksud Andra dan tahu apa yang harus dilakukannya. Ziva tak punya pilihan lain, sehingga tanpa ragu ia mendekatkan wajahnya, hendak mencium pipi Andra. Namun tak disangka pria itu justru menoleh, membuat bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang tak terduga. Jantung Ziva berdegup lebih kencang, kemarahan dan keterkejutan membakar dadanya dalam sebuah pertempuran yang sulit dia menangkan. Sebab ia tahu, saat ini dia tak berdaya. Satu hal yang harus dia lakukan, meyakinkan Kevin bahwa hatinya sudah benar-benar tertutup untuk mantan suaminya itu dan sekarang ia sudah memiliki seseorang yang baru dalam hidupnya. Seketika itu juga, segala keraguan Kevin melebur menjadi sebuah luka yang begitu dalam, menyisakan getir dan kepedihan yang tak terperi. Dengan napas tersengal, Ziva buru-buru memalingkan wajah, menahan amarah yang hampir meledak, berusaha memusatkan perhatian sepenuhnya pada Kevin kembali. "Sekarang sudah jelas, 'kan?" Suaranya keluar dengan getir, penuh kepastian. Kevin mengepal erat kedua tangannya sampai kukunya nyaris memutih, dadanya bergemuruh dengan ledakan emosi yang tak terduga. Dia tidak pernah menyangka bahwa Ziva, wanita yang ia percaya masih mencintainya, kini sudah berpindah hati pada laki-laki lain dengan mudahnya. Rasa kecewa menusuk begitu dalam hingga perlahan membuat langkahnya mundur. Tanpa sepatah kata lagi, dia pergi meninggalkan kediaman Ziva, membawa luka yang berat dan rasa kecewa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sementara Ziva hanya mampu menatap kepergian Kevin dengan perasaan campur aduk. Begitu mobil pria itu menghilang dari pandangan matanya, tiba-tiba ... PLAK! Ia melayangkan tangannya tepat di pipi kanan Andra, cukup kuat, bahkan bunyinya terdengar nyaring. Andra terkesiap, memegangi pipinya yang terasa sedikit perih. Tapi alih-alih marah, senyum tipis justru merekah di bibirnya. "Jadi, ini balasannya atas bantuanku tadi, Kak Ziva? Sebuah hadiah yang … menarik," ujarnya dengan nada yang santai tapi menusuk. Ziva menatap Andra dengan sorot mata yang sulit diartikan, dia sendiri merasa bingung kenapa tangannya begitu ringan. Suaranya bergetar, "Kamu memang membantuku, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya bersikap kurang ajar!" "Kurang ajar?" Andra tertawa kecil, dingin. "Kurang ajar bagaimana? Bukankah tadi kamu yang mau menciumku duluan? Aku cuma membantumu menyempurnakan sandiwara, supaya lebih meyakinkan." Ziva terdiam, marah dan bingung bercampur jadi satu. "Aku tahu, kamu sedang memanfaatkanku. Tapi aku tidak marah, justru aku senang. Apalagi, kalau itu kenyataan. Tapi walaupun sekarang laki-laki itu sudah pergi, bukan berarti dia akan hilang begitu saja. Aku yakin, dia akan datang lagi. Mungkin dengan cara yang lebih memaksa, karena dia masih meragukan hubungan kita yang hanya sandiwara ini," ujar Andra, tersenyum penuh arti terselubung. "Apa maksudmu?" Ziva bertanya dengan nada penuh kebingungan dan kelelahan. "Kalau sudah memulai sandiwara seperti ini, kamu harus terus memainkannya. Tidak ada ruang untuk berhenti, karena tidak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti," kata Andra pelan, namun penuh peringatan. Ziva menatap tajam. "Tidak usah berbelit-belit. Katakan saja apa maksudmu?" desaknya. "Santai, Kak. Kalau aku boleh tahu, siapa dia? Penggemar rahasiamu? Atau laki-laki yang sudah lama menyimpan perasaan padamu tapi terus ditolak?" tanya Andra penasaran. "Bukan urusanmu!" Ziva melemparkan kata itu dengan nada dingin, tatapannya menusuk penuh kejengkelan. Namun, Andra lagi-lagi menanggapi dengan tersenyum, tenang tapi penuh tekad. "Kalau memang kamu tidak mau bilang, aku akan cari tahu sendiri." Lalu, dengan santai ia menyerahkan paper bag yang sedari tadi digenggamnya. "Ini untukmu, Kak Ziva." Itu alasan sebenarnya mengapa ia datang ke rumah wanita tersebut. Ziva menatap paper bag itu sejenak, lalu mengernyit bingung. "Oh ya, aku sampai lupa soal ini. Bagaimana kamu bisa ada di sini? Dan apa maksudmu dengan barang milikku yang ketinggalan?" Andra melangkah semakin mendekat, suara dan sikapnya penuh keyakinan, "Kebetulan aku memang mau ke sini mengantarkan sesuatu untuk Kak Ziva. Tapi, aku melihat kalian berdebat tadi. Sepertinya kamu butuh bantuan, jadi aku langsung mendekat. Eh, tidak disangka aku malah dimanfaatkan. Kamu pura-pura jadi kekasihku supaya laki-laki itu menjauh, 'kan?" Andra tertawa ringan, tapi matanya tak lepas dari sosok Ziva. "Kenapa harus bersandiwara, sih? Kenapa kita tidak pacaran sungguhan saja?" Ziva melotot, tegas menangkis harapan yang tak diundang. "Jangan mimpi!" Akan tetapi, Andra kembali menatap Ziva dengan penuh tantangan, suaranya rendah namun menggoda, "Oke, fine. Tapi kalau kamu mau, aku bisa jadi pacar pura-pura, kapanpun kamu butuhkan. Supaya laki-laki itu tidak akan pernah mengganggumu lagi." "Lebih baik kamu pergi dari sini, sekarang. Jangan lupa bawa barangmu!" Ziva melontarkan kata-katanya dengan nada dingin, tatapannya tajam seolah menebar peringatan membakar. Ziva menolak keras pemberian Andra, takut jika pria itu malah salah paham dan menaruh harapan lebih. Tanpa menunggu jawaban, ia segera melangkah menjauh dari Andra, masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu dengan rapat. Sedangkan Andra berdiri terpaku, membiarkan sosok Ziva menghilang dari pandangannya tanpa setitik usaha untuk mencegah. Namun di balik diamnya, tekad membara membuncah dalam d**a. "Ternyata, sainganku bukan hanya Samuel. Tapi, aku tidak peduli. Aku harus mendapatkan Ziva. Walaupun dia menolak berkali-kali, aku tidak akan pernah menyerah!" Andra bermonolog di dalam hatinya, menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu, ia melangkah menuju ke mobil dengan langkah berat tapi penuh niat. Saat sudah duduk di dalam, Andra merogoh ponsel dari saku celana, lalu dengan jari-jari yang sedikit bergetar, dia menghubungi seseorang. "Tolong bantu aku cari tahu tentang masa lalu seseorang. Aku akan kirimkan foto dan identitasnya saat ini." Suaranya dingin namun penuh tekad. Di ujung telepon, setelah terdengar jawaban yang memahami perintahnya, Andra bergegas mengakhiri panggilan tanpa basa-basi lagi. Lalu tak menunggu lama, ia mengirimkan sesuatu terkait informasi yang ingin didapatkannya. Wajah Ziva tersorot di layar, menjadi awal dari sebuah penyelidikan seseorang yang selalu membuatnya penasaran. *** Sepanjang malam, pikiran Andra terjebak dalam bayang-bayang Ziva, wajah cantik dengan sorotan mata yang tajam, sikap dingin dan jutek, tapi malah membuatnya semakin hari semakin cinta terhadap wanita itu. Meskipun Andra terbilang sempurna di mata dunia, tampan, kaya dan memiliki karir yang sangat bagus di usianya yang masih tergolong muda, tetapi tak satu pun wanita mampu menembus benteng hatinya yang selama ini tertutup rapat oleh ambisi. Namun kehadiran Ziva seolah menghancurkan semua pertahanan itu, seolah-olah dia menemukan tambatan hati yang selama ini dicari dalam kesendiriannya. Tiba-tiba, ponselnya berdering, memecah lamunannya saat ini. Dengan jantung berdegup kencang, ia menjawab telepon tersebut tanpa ragu. Suara di ujung sana terdengar tegas, "Informasi yang Bapak minta akan segera saya kirim." "Baik. Langsung kirimkan saja," sahut Andra, sebelum telepon berakhir. Saat informasi yang ia butuhkan sudah didapatkan, detik itu juga, sesuatu yang tak terduga menghantam pikirannya. Sebuah kenyataan mengejutkan yang membuat dunianya seolah berguncang hebat. "Jadi, laki-laki itu mantan suami Ziva? Dia seorang janda?" Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD