Bab 04.Tak Mau Mundur

1133 Words
Bukan sekadar mengetahui fakta bahwa Ziva kini sudah berstatus janda, perceraian yang terjadi pada enam bulan lalu, Andra juga tahu betul apa yang menjadi penyebab perpisahan mereka. Tak heran jika sikap Ziva kini dingin, hampir anti pada laki-laki. Apakah dia terluka? Trauma? Pikiran Andra berkecamuk. "Karena sudah seperti ini, aku tidak boleh mengecewakannya," gumam Andra, tekadnya mengeras. "Walaupun usiaku lima tahun lebih muda dan status Ziva adalah janda, siapa yang peduli soal itu? Lagi pula, bukankah zaman sekarang berondong mengejar janda sudah jadi trend?" Dia tersenyum tipis, mencibir hatinya sendiri yang memberontak. Andra tak mau mundur. Baginya, Ziva bukan sembarang wanita, satu-satunya orang yang pernah berhasil mengaduk-aduk perasaannya, membuat hatinya bergejolak tak karuan. Dan lebih dari itu, meski janda tapi Ziva belum membuka hati untuk pria lain lagi. Hal itu membuatnya yakin, tidak ada yang bisa menghalangi langkahnya kali ini. "Oke, aku akan pelan-pelan mendekati Ziva, walaupun harus sedikit terang-terangan. Aku tidak akan memaksanya menerima cintaku, tapi aku janji, aku akan selalu berusaha melindunginya, siap sedia kapan pun dia butuh." Andra menelan napas panjang, hatinya bergejolak dengan tekad yang membara. Perlahan ia merebahkan tubuhnya, memejamkan mata, mencoba menenggelamkan diri dalam lelap agar rasa gelisah itu mereda. *** Di sisi lain, Ziva masih mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur. Matanya sulit terpejam, dipenuhi beban pikiran. Baru saja dia merasakan kebebasan itu kembali, menjadi dirinya sendiri. Akhirnya, ia bisa kembali bekerja sebagai intel, tanpa belenggu yang dulu mengekangnya selama pernikahan dengan Kevin. Di awal, baik Kevin maupun keluarga pria itu tak pernah mempermasalahkan soal pekerjaannya. Tapi hanya dalam beberapa bulan, kedua orang tua Kevin justru menyatakan keberatannya, mereka menolak memiliki menantu seorang Intel. Kemarahan, kekecewaan dan kebingungan bercampur jadi satu dalam d**a Ziva tapi tak bisa membantah. Larangan kedua orang tua Kevin bukan tanpa alasan. Mereka menentang keras pekerjaan Ziva yang dianggap berbahaya, terlalu banyak mencampuri urusan orang lain, membawa risiko yang berat. Namun, alasan sebenarnya jauh lebih dalam. Mereka tak ingin ikut terjerat masalah, apalagi sebagai wanita, seharusnya ia hanya diam di rumah, menjadi istri yang setia mengurus suami. Karena cinta dan rasa hormat yang dalam pada suaminya, Ziva memilih untuk menurut. Namun, siapa sangka di balik itu semua tersimpan rahasia menyakitkan. Kedua mantan mertuanya sebenarnya tak menyukai Ziva. Mereka menolak keberadaannya dan mencoba untuk menyingkirkannya dengan cara licik. Karena sebenarnya, mereka sudah memilih wanita karier dari keluarga pejabat, yang dianggap lebih layak mendampingi Kevin. Mereka sengaja mengguncang mental Ziva, mematahkan mimpi yang telah lama ia rajut sebagai agen intelijen, profesi yang ia impikan sejak dulu. Terperangkap di antara pengkhianatan dan kepedihan, Ziva akhirnya memilih untuk berpisah, meninggalkan masa lalu yang penuh luka. Namun berkat dukungan keluarganya, ia bangkit dalam waktu singkat, lebih kuat dan lebih tegar dari sebelumnya. Namun dalam hatinya, dia bertekad jika tidak akan pernah lagi untuk menjalin hubungan, apalagi sampai menikah, karena rasa traumanya itu. Saat ini, sesuatu tiba-tiba saja mengusik benaknya. Bukan karena mantan suaminya yang muncul tiba-tiba dan meminta rujuk, melainkan karena sikapnya pada Andra tadi. "Apa aku sudah keterlaluan? Memang dia datang tepat waktu dan membantuku, tapi ... aku malah menamparnya," bisiknya dengan sedikit rasa bersalah, suaranya hampir tenggelam dalam kesunyian. "Dia memang menyebalkan, tapi apa aku harus terus bersikap seperti itu? Besok aku akan bertemu dengannya lagi untuk membahas kelanjutan kasus ini. Mungkin, aku harus minta maaf." * Pagi menyapa dengan hening saat Ziva, yang sudah mengenakan pakaian rapi, melangkah ke ruang makan, menghampiri keluarganya. "Pagi, Ma, Pa," sapa Ziva lembut, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang masih menghantuinya. Andini Azalea, ibu Ziva, membalas hangat, "Pagi, Sayang. Ayo kita sarapan." Mengangguk. Ziva lalu duduk di antara ayah dan ibunya itu. Andreas Darwin, ayah Ziva, menatap serius. "Ziva, bagaimana perkembangan kasusmu kali ini? Apakah berat?" Ziva menghela napas panjang, sebelum menjawab, "Lumayan berat, Pa. Tapi jangan khawatir, sudah separuh jalan. Aku yakin bisa menangani kasus ini." Ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya dan dirinya sendiri. "Papa pasti percaya padamu, Ziva. Tapi ingat, kamu harus selalu waspada, ya," ucap Andreas dengan suara berat, seolah menanamkan beban yang tak terlihat di hati putrinya. "Iya, Pa," sahut Ziva diiringi anggukan kepala, lalu ia bertanya, "Oh ya, Papa sendiri, bagaimana keadaan di rumah sakit? Akhir-akhir ini Papa sering pulang larut malam, bahkan kadang menginap. Apa nggak ada yang bisa gantikan Papa?" Andreas menghela napas panjang, matanya seolah tenggelam dalam lautan tugas yang tak berujung. "Ya, memang akhir-akhir ini banyak pasien yang harus ditangani dan Papa sampai harus turun tangan sendiri. Tapi syukurlah, hari ini Papa masih bisa duduk bersama kalian, menikmati sarapan. Momen seperti ini, walaupun singkat, terasa sangat berharga." Ziva menatap ayahnya penuh kekhawatiran, suara lembutnya bergetar, "Syukurlah, Pa. Tapi Papa harus jaga kesehatan juga, ya. Walaupun Papa seorang dokter, bahkan kepala sekaligus pemilik rumah sakit, Papa tetap manusia biasa, bukan robot. Jangan menanggung semuanya sendiri, 'kan ada dokter lain yang bisa membantu." Andreas tersenyum tipis, tapi matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam. "Tenang saja, Sayang. Setiap pekerjaan punya risikonya masing-masing. Sama seperti pekerjaan kamu sekarang. Kita semua bertarung dalam medan yang penuh tantangan." Seketika, kata-kata itu menggema di ruangan itu, mengikat mereka dalam pergulatan sunyi antara cinta, tanggung jawab dan kelelahan yang tak bertepi. "Ya sudah, karena jarang sekali kita bisa berkumpul seperti ini, kita harus menikmati momennya. Sekarang cepat sarapan, setelah itu kita pergi. Mama juga hari ini harus ke butik, tadi karyawan Mama telepon Mama harus ke sana," kata Andini lembut. "Ya, Ma. Mama juga jangan kecapean, ya. Ingat kesehatan Mama. Kalau bisa ditangani karyawan, Mama nggak perlu ke butik," kata Ziva dengan penuh perhatian. Andini mengangguk. "Iya, Sayang. Mama juga sudah seminggu tidak ke butik, jadi hari ini tidak ada salahnya kalau Mama ke sana," ujar Andini, lalu keluarga itu pun menikmati sarapan dengan hangat dan penuh cinta. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB ketika Ziva dan Andra akhirnya bertemu di tempat yang telah mereka sepakati. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Ziva sudah datang lebih dulu, duduk di hadapan sebuah kotak bekal yang sengaja ia letakkan di atas meja. Matanya menatap tajam pada pintu ketika Andra muncul, senyum tipis mengembang dari kejauhan. "Maaf, aku terlambat. Tadi ada sedikit masalah di jalan." Suara Andra bergetar sedikit saat ia sudah berdiri tepat di depan Ziva. Ziva mengangguk tenang, tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Silakan duduk," ucapnya dengan suara lembut tapi penuh makna. Andra membungkuk sedikit, merasakan ada aura berbeda dari Ziva yang kini tampak lebih hangat dan juga berat. Dengan perlahan, Ziva mengulurkan kotak bekal itu. "Ini ... untukmu. Sebagai permintaan maafku. Aku menyesal sudah menampar dan mengusirmu tadi malam, padahal kamu sudah membantuku." Suaranya bergetar halus, mencerminkan rasa bersalahnya. Andra memandang kotak itu, hatinya berdesir. Ziva yang ada di depannya saat ini bukanlah sosok dingin seperti biasanya, wanita itu kini adalah Ziva yang rentan, penuh penyesalan dan kehangatan yang tak terduga. "Ada apa dengan Ziva? Apa yang sebenarnya terjadi?" Andra bertanya-tanya di dalam hatinya, tanpa jawaban. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD